Monday, January 02, 2012

Berbuat Baik

Kami bertemu di sebuah tempat terapi alternatif untuk penyakit-penyakit yang tak kunjung sembuh dengan pendekatan ilmu kesehatan standar. Sebuah rumah sangat sederhana yang dijadikan tempat praktek. Kami duduk di teras sebuah rumah


Saat tiba, di ruang dalam nampak penuh tak ada kursi tersisa. Di teras, seorang Ibu yang tak dapat dikatakan muda, dengan pakaian yang agak norak kaos hitam ketat tanpa lengan, duduk di bangku yang tak terlalu panjang. Melihatku kebingungan mencari tempat duduk si Ibu berbaik hati menawarkan berbagi. Namanya Bu Yayuk. Dengan alis yang digambar dan pulasan kosmetik yang memudar karena keringat, si Ibu nampak bukan orang baik-baik, menurut persepsi manusia kebanyakan. Kami mengobrol. Si Ibu mengantarkan seorang temannya yang sedang sakit dan tak kunjung sembuh setelah bertahun-tahun.

“Saya bekerja apa saja Mas. Kalau siang mengumpulkan rosok, kadang saya mengamen, kalau malam saya memijat tetangga,” begitulah si Ibu memulai ceritanya, setelah kami berbasa-basi saling bertanya.

“Suami saya kerja sebagai tukang parkir di Terminal Jombor”, katanya lebih lanjut. “Usianya sudah lebih dari 70 tahun, tetapi suami saya orang yang baik hati. Seluruh penghasilannya selalu diberikan pada saya. Beginilah saya, kalau sudah bercerita saya sulit untuk berhenti. Tapi, saya hanya bercerita pada orang-orang yang mau mendengarkan. Saya tahu, Bapak dengan tulus mendengarkan cerita saya. Kalau Bapak hanya berbasa-basi, saya bisa merasakannya, dan saya tak akan banyak cerita.”

Dia bercerita banyak, saya mendengarkan dengan terheran-heran. Antrian saya nomor empat belas, seroang pasien di terapi sekitar 15 – 20 menit. Bukan waktu yang singkat.

“Saya terimakasih sekali Pak, ada yang mau bicara dengan saya. Kebanyakan mereka hanya memberikan uang dari balik teralis pagar. Ada seorang ibu yang saya lihat jalan terpincang-pincang, saat ngamen, kemudian saya tawarkan diri untuk memijat. Hanya di teras rumah Pak, saya tak ingin masuk, khawatir kalau ada barang-barang hilang dan juga khawatir dianggap tak tahu diri. Saya pijat 2 jam Pak. Selesai pijat, si Ibu merasa baikan, dan meminta alamat saya untuk pijak lagi. Dua jam itu, Pak, saya hanya diberi uang lima ribu rupiah. Tapi, saya ikhlas Pak, meskipun rasanya sedih.”

“Saya muslim Pak, tapi saya belum shalat. Tiap malam saya berdoa. Saya hafal Al Fatihah, hanya itu yang saya hafal. Setiap hari saya berdoa pada Gusti Allah, menyebut namanya sepanjang jalan. Saya juga mengikuti ajaran kejawen Pak. Kadang malam saya tak tidur dan duduk di makam-makam tua.”

“Dulu, payudara saya pernah besar membengkak Pak, sangat besar. Saya hanya bisa merintih kesakitan. Tak ada biaya untuk berobat, saya hanya pasrah pada Tuhan yang memberi saya hidup. Berbulan-bulan merintih Pak, tak bisa apa-apa. Kemudian saya bertemu seorang kyai dari Banten. Katanya, saya hamil dan yang menghamili saya adalah bangsa jin.”

“Ini benar-benar terjadi Pak, Bapak pasti tak percaya cerita saya”, tegas perempuan itu ketika pikiran normal saya mulai bereaksi atas cerita yang seperti ini.

“Suatu hari, oleh kyai dari Banten itu, saya disuruh berbaring dan diberi tahu, jin yang saya kandung akan segera lahir, tepat jam 12 malam. Saya menurut saja Pak. Rasanya saat itu saya sudah tak hidup lagi. Para santri membaca berbagai doa yang saya tidak tahu. Kemudian kesadaran saya hilang, seperti tertidur yang lelap. Saya merasa seperti mimpi berpisah dengan seseorang. Perpisahan yang sangat berat. Kami berpegangan tangan seperti tak ingin saling melepaskan. Kalau Bapak muda dulu ingin berpisah dengan pacar, seperti itulah, tangan seolah tak ingin lepas sampai lepasnya sentuhan ujung jari. Kemudian tangan saya menggapai-gapai ingin meraih tangannya kembali. Dalam mimpi itu, sang laki-laki seperti pamit pada saya, dan meninggalkan sesuatu agar saya gunakan untuk membantu setiap orang yang memerlukan.”

“Saya tersadar Pak, dikelilingi para santri. Seorang murid Pak Kyai berteriak ketika melihat saya sudah sadar. Rasanya aneh sekali Pak. Saya pikir saya sudah meniggal, karena sekian bulan menahan sakit yang tak terhingga. Payudara saya tiba-tiba mengempis, hanya tersisa bekas goresan sedikit. Rasa sakit menghilang dalam beberapa hari.”

“Ini kejadian benar Pak, saya mengalaminya, memang aneh. Sejak itu, saya selalu ingin menolong orang. Mungkin saya hanya punya sedikit harta, tapi saya dikaruniai kelebihan, niat untuk selalu menolong orang. Ada tetangga kelaparan belum makan, saya hanya punya beras sedikit, saya bagi setengahnya untuk tetangga. Ada orang kelelahan, saya pijat dengan tanpa mengharap bayaran. Ada orang sakit, saya coba sembuhkan. Kalau saya tidak mampu sembuhkan, saya bawa ke tempat lain yang bisa membantu kesembuhannya. Kalau tidak mampu membayar, saya berikan harta saya untuk membayarnya. Tentu saja, saya hanya mampu mengantarkan ke tempat seperti ini Pak, yang tidak menentapkan tarif bagi pasiennya. Di sini, setiap pasien bebas untuk berderma.”

“Hidup saya penuh kotoran Pak, saya bukan orang yang bersih, tapi saya selalu ingin menolong orang. “

“Saya muslim Pak, meskipun saya tidak shalat.” Kalimat itu diulanginya lagi.
“Maaf, mengapa Ibu tidak shalat?”
“Mungkin saya belum sadar ya Pak...”. Suaranya mulai bergetar, dan makin lirih.
“Apa saja yang saya minta pada Gusti Allah, selalu dikabulkan, tetapi saya belum shalat Pak. Terimakasih Pak, mengingatkan saya .Saya janji, akan shalat Pak, Kalau ada yang memberi saya rukuh, saya segera shalat...”..

Giliran pasien yang diantar Ibu tersebut untuk terapi. Obrolan kami terhenti. Kemudian giliran saya tiba.

Keluar dari ruang terapi, si Ibu dan pasien yang diantarnya masih duduk di pinggir jalan, menunggu taksi katanya. Aku pamit mendahului. Mendoakannya semoga pasiennya segera sembuh dan si Ibu selalu mendapat kasih sayangNya...

Begitu saja. Kemudian angan-anganku berkecamuk di benakku. Mengapa tak membelikannya rukuh? Sempat terpikirkan tadi, saat dia mengatakannya. Mengapa pula membiarkan mereka berdua duduk menderita di pinggir jalan dan tak mengantarkan mereka pulang? Lihat, mereka mungkin menjalani kehidupan yang sangat termarginalkan, tapi, tak sedikitpun mereka mengeluh dan meminta bantuan orang. Apakah susahnya bagiku untuk meminta supirku membelikan rukuh dan mengantar mereka pulang? Mengapa sering muncul pikiran jahat dan ketidakpedulian pada hatiku? Mungkin dia diutus oleh Sang Kuasa untuk mengingatkanku, bahwa ibadahku masih sebatas upacara, belum menjadi bagian dari kehidupanku.....

Thursday, June 16, 2011

Reda

Bukti Cinta

Suaminya bilang itu tanda cinta:
Pipi biru legam, hidung retak, bibir sobek.
Suaminya bilang, itu harus dilakukan:
supaya ia tahu diri, tidak besar kepala dan sombong.
Malam ini, di tangannya ada sebilah pisau,
berkilat terkena sinar televisi.
Kepada suaminya, yang lelap tidur,
ia ingin menunjukkan cintanya.
Yang amat sangat


Cerita di atas adalah salah satu cerita yang di tulis Reda dalam bukunya "Pengantin Baru dan cerita pengantar tidur lainnya".
Buku yang sangat menarik dan penuh dengan cerita keseharian yang kadang terlewatkan begitu saja oleh kita. Saya menganggapnya serupa daun yang jatuh, yang kita semua tak pernah peduli pada kejadian tersebut, tetapi, ketika kita pikirkan lebih dalam, betapa daun jatuh merupakan sebuah proses yang sangat luar biasa. Daun yang selalu tulus ikhlas menerima hadirnya generasi baru [tersingkirkan], kemudian menggugurkan diri dan memberi pupuk bagi tanaman untuk hadirnya daun-daun baru....

Begitulah Reda, menuliskan hal-hal yang luput dari perhatian kita, padahal itu merupakan peristiwa besar, dan memberikan pencerahan, asal saja kita mau merenungkannya. Reda seperti menyadarkan kita, bagi mereka yang berpikir, sekalipun itu sebuah daun yang gugur seolah tak berarti, tapi itu adalah sebuah peristiwa penting.

Pada bagian sampul belakang, Reda menulis: "..... dengan harapan bisa jadi bahan mimpi dan membawa manfaat ketika bangun esok pagi." Jelas sekali, sebuah pesan agar kita merenungkan setiap cerita yang ditulis dari kisah nyata yang sehari-hari terjadi di sekitar kita.

Bagi teman-teman yang ingin membaca cerita-cerita lainnya, buku ini diterbitkan oleh Editum atau bisa dipesan lewat: www.inibuku.com telp 021-4212057 atau 4229857

Tuesday, June 07, 2011

Matahariku.....

Kadang kita memang terlalu sentimentil memandang kepada yang muda merasakan detik yang lewat.
Lihatlah mereka yang berpegangan erat dengan sepeda motor, mungkin hendak berangkat kuliah sambil merencanakan kegiatan nanti sore, mungkin juga membayangkan sepiring nasi goreng di depan Purna Budaya, ketika pulang dari perpustakaan.

Bukankah sudah aku katakan, nasi goreng di depan Purna Budaya itu sekarang sudah tak ada lagi. Tapi racikan bumbu bawang putih yang keras dan udang-udang kecil yang lembut serta potongan bakso di sela-sela nasi itu masih ada dalam ingatanku, begitu jawabmu
Dulu, jalan itu begitu senyap. Hanya beberapa pedagang hingga kau temukan selokan yang lebar itu. Ada hutan, yang ketika engkau melaluinya di malam hari, akan kau rasakan beda temperatur yang jelas sekali. Engkau akan menarik kerah jaketmu lebih ke atas dan menyilangkan tangan di dada, hendak mengusir dingin. Bukan dingin yang sedih tentu saja, karena sekalipun itu ada gerimis dan bahkan hujanpun, engkau akan tetap tertawa meriah.

Kemudian, pada suatu ketika yang kita masing-masing tak saling tahu, engkau memutuskan jalanmu, dan akupun memutuskan jalanku. Membatasi hati kita pada sebuah ikatan yang kita buat. Untuk masa depan yang lebih baik, begitulah kata mereka menasehati kita.

Monday, June 06, 2011

Marginal Utility

Salah satu konsep penting yang diajarkan pada mahasiswa jurusan ekonomi adalah “marginal utility”. Secara sederhana, ini berarti penurunan nilai manfaat, karena terpenuhinya kebutuhan. Contoh yang paling mudah adalah rasa haus atau lapar. Ketika tenggorokan berasa kering dahaga, tegukkan pertama minuman terasa sangat bermanfaat. Pada tegukan kedua, manfaatnya mulai kurang, ketika rasa haus sudah terobati, orang tak lagi mau minum, karena akan menimbulkan rasa tak nyaman pada perut.
Orang-orang ekonomi mempelajari tentang kebutuhan, bukan keinginan. Ada perbedaan yang sangat besar dalam pemahamannya. Kebutuhan manusia berbatas, tetapi keinginan manusia tak ada habisnya. Tuhan menyebutkan, bila kau jadikan seluruh samudra sebagai tinta untuk menulis nikmat yang Aku berikan pada manusia, tinta itu tak akan cukup. Itu kalau manusia berbicara tentang kebutuhan. Namun, yang muncul adalah keinginan, maka berlakulah yang sebaliknya, jika seluruh samudra dijadikan tinta tak akan cukup untuk menulis seluruh keinginan manusia...
Orang ekonomi juga memperkenalkan konsep kelangkaan. Semua barang dan jasa menjadi berharga karena kelangkaannya. Konsep kelangkaan mengubah nilai barang menjadi berharga secara ekonomi. Puluhan tahun yang lalu, air tidak termasuk barang yang langka, maka dalam pelajaran ekonomi di sekolah, air dan udara merupakan contoh barang bebas. Tapi, orang-orang dari disiplin ilmu manajemen memanfaatkan konsepsi kelangkaan ini untuk meraih keuntungan yang di atas normal. Bagaimana caranya? Ahli manajemen pemasaran mengubah pola pikir manusia dari fase kebutuhan meningkat menjadi keinginan. Penambahan merk tertentu dan kemasan tertentu telah mengubah fungsi air minum dari kebutuhan menjadi keinginan. Obat-obat generik sama baiknya dengan obat bermerk, namun, orang lebih percaya pada obat dengan merk tertentu dan bersedia membayar mahal untuk itu.
Manusia membutuhkan mobil untuk sarana transportasi agar tidak kehujanan atau kepanasan, agar dapat mengangkut seluruh keluarga dengan satu kali perjalanan. Tetapi kebutuhan akan mobil telah diubah menjadi keinginan akan merk dan jenis mobil tertentu. Kemasan mobil dan merknya telah menjadikan konsepsi marginal utility tak berlaku lagi. Selalu ingin mobil yang terbaru dengan berbagai tambahan fitur mewahnya sejalan dengan peningkatan penghasilan. Banyak orang menjadi bangga dengan koleksi mobil yang dimilikinya.
Manusia membutuhkan tas kerja untuk mengangkat berkas-berkas pekerjaan, tetapi, bagi sebagian banyak orang, tas kerja harus memiliki merk tertentu. Tak mudah membayangkan seorang eksekutif sebuah bank akan membawa ransel seharga seratus ribuan untuk membawa berkas pekerjaan, notebook, serta beberapa potong pakaian ganti ketika bertugas keluar kota. Mereka mungkin memakai ransel, tetapi ada sepotong merk dagang yang menunjukkan asal ransel itu dari sebuah rumah mode terkenal dan pastilah mahal.
Wakil rakyat kita butuh sarana komunikasi, tetapi, apakah kebutuhan biaya komunikasi itu mencapai belasan juta rupiah per bulan? Apakah ini kebutuhan atau hanya sebuah keinginan? Demikian pula dengan gedung ruang kerja mereka. Apakah kolam renang merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan?
Di tempat kerja, kadang-kadang kita mengajukan anggaran berbasis keinginan bukan kebutuhan. Bagian kehumasan dan dokumentasi mengajukan anggaran pembelian kamera mengacu pada kamera canggih keluaran terakhir yang mahal. Padahal keperluan dokumentasi tersebut dapat terpenuhi hanya dengan kamera saku digital. Keinginan mendominasi penyusunan belanja perusahaan, bukan kebutuhan.
Orang-orang periklanan yang biasanya berlatar belakang ilmu manajemen, komunikasi, dan psikologi sangat paham bagaimana menggeser kebutuhan menjadi keinginan, atau lebih tepatnya, menghilangkan kesadaran dalam diri sehingga keinginan seolah-olah menjadi sebuah kebutuhan. Para jenius pembuat iklan telah menyihir kita. "Anda membutuhkan Prada, atau Louis Vuitton, karena begitulah seharusnya Anda", demikian bahasa iklan yang mereka pakai.
Ilmu ekonomi dan manajemen telah disalahgunakan untuk meraup laba sebesar-besarnya. Banyak orang terjebak dalam perangkap hutang karena mengkonsumsi “kebutuhan” yang tak ada habisnya dengan kemudahan fasilitas kartu kredit. Pada wajah yang lain, kita melihat masyarakat yang mengais sampah, yang tidur di rumah kardus, yang mengkonsumsi makanan tak layak, yang tak mendapat kesempatan bersekolah, bahkan yang sama sekali tak punya harapan hari esok. Seperti inikah yang dibayangkan para pemikir ekonomi? Rasanya tidak. Konsep marginal utility jelas-jelas mengajarkan kita untuk memenuhi kebutuhan, bukan keinginan. Ada makna keadilan dalam konsep tersebut. Dalam agama, bukankah kita juga selau diajarkan untuk “tidak berlebih-lebihan”.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Stiglitz, kutipan yang selalu saya pakai ketika bicara tentang pembangunan yang berkeadilan. Begini: “Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan.”

Monday, May 23, 2011

Berbuat Besar

Ada sebuah monolog menarik dari seoang seniman yang saya lupa namanya. Sambil bermain gitar ia bercerita tentang diskusinya dengan salah seorang sahabat tentang perbuatan besar dari orang-orang besar.
Ada orang-orang besar yg telah berbuat besar kepada negaranya, mereka adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk perbuatan yang besar. Soekarno telah berbuat besar untuk membakar semangat kemerdekaan. Ada RA Kartini, yang telah berbuat besar dengan memberi pencerahan luar biasa akan pentingnya pendidikan bagi kaum wanita. Ada Ki Hadjar Dewantara, yang berbuat besar bagi pendidikan bangsa melalui pendirian Taman Siswa. Ada sederet nama lain. Lantas, bagaimana orang-orang kecil yang tertindas dan tidak memiliki kesempatan dapat bermanfaat bagi masyarakat?

Seniman ini sambil tetap bernyanyi menjawab:
“Tak perlu berkecil hati, karena tidaklah Yang Maha Kuasa menciptakan manusia hanya untuk kesia-siaan. Kita bisa berbuat, dari yang mungkin paling kecil yang dilihat orang, tetapi luar biasa besar nilainya. Setidaknya kita bisa berkata jujur dan mengajarkan tentang kejujuran...”

Pertanyaan yang tersisa pada saya adalah apakah artinya berbuat besar? Memimpin negara, memimpin perusahaan besar, memberikan kontribusi pada kekayaan negara? Cukupkah itu?
Beberapa tahun yang lalu saya pernah memiliki pengalaman luar biasa dengan seorang perempuan tua (mungkin di atas 70 tahun), yang berjualan rokok dan korek api di sebuah pinggiran jalan. Ibu ini, dengan sebuah kotak kayu kusam, hanya membawa tak lebih dari 10 bungkus rokok dan beberapa korek api (ditambah cahaya malam yang gelap menjadikan suasan yang makin muram). Dengan rasa iba, saya membeli sebuah korek api seharga seratus rupiah dan memberinya uang seribu rupiah dan agar uang kembalian disimpan saja untuknya. Niat saya memang ingin memberinya sesuatu. Apa yang terjadi sungguh diluar dugaan saya. Si Ibu tampak tak senang dan mengatakan dirinya berjualan bukan pengemis. Saya terenyuh dan menyadari betapa angkuhnya diri saya.
Inilah perbuatan besar. Menjaga harga diri. Menjaga kehormatan. Menjaga agar tangan kita tidak tengadah memohon balas kasihan orang lain. Inilah kejujuran hati nurani, ketika seseorang tidak menghiba-hiba dengan menjual perasaan sedih yang dihadapinya.

Monday, February 15, 2010

Buah Karet [catatan masa kecil]

Ada permainan musiman yang sering kami lakukan, yaitu mengadu buah para, buah pohon karet. Secara bergantian buah para di letakkan saling menindih kemudian dipukul dengan bagian bawah telapak tangan sebelah dalam sekeras-kerasnya. Yang tidak pecah adalah pemenangnya. Bila musimnya telah tiba, sepanjang pagar luar halaman sekolah akan dipenuhi penjual para. Harganya bervariasi tergantung pada kualitas. Ada yang dinamakan para kancil, dengan lima rupiah kami bisa meperoleh 5 buah. Ada yang namanya macan, warnanya loreng-loreng kuning coklat, harganya 5 rupiah untuk 2 biji. Yang terbaik dan paling keras dinamakan kingkong, harganya bisa 5 rupiah per biji. Selain itu, ada lagi yang paling murah yang bisa diperoleh 10 sampai 15 biji dengan harga 5 rupiah. Uang lima rupiah rasanya sangat banyak, sehingga aku hampir tak pernah membeli kingkong. Paling sering aku membeli kancil atau macan. Pernah juga aku membeli kingkong. Dan ketika diadu dengan milik teman lain, kingkongku pecah. Sejak itu aku tak mau lagi membeli kingkong, karena waktu bermainku menjadi sangat singkat.
Suatu hari Jeffrey memberitahu sebuah rahasia, katanya ada buah para yang sangat kuat, tetapi kami harus memetiknya sendiri. Jefrey yang tahu tempatnya, dan seperti biasa, tugas panjat memanjat adalah bagianku. Berdua, aku dengan sepeda jengki tua dan Jefrey dengan sepeda mininya yang bagus, menelusuri jalan Bukit Besar, menuju daerah Padang Selasa, dan terus masuk ke arah Lorok Pakjo, menuju ladang karet. Tak ada jalan aspal, hanyalah jalan stapak dan tanah tanah merah. Kami tiba di sana saat mendung sangat tebal, tapi belum hujan.
Memanjat pohon karet tidaklah mudah. Pohon bagian bawah biasanya lurus sepanjang tiga sampai lima meter. Cabang pohonnya getas dan mudah patah, jadi harus hati-hati. Buahnyapun berada di ujung-ujung pohon. Aku berhasil meraih beberapa gerombol buah. Menjatuhkannya, dan Jefrey menunggu di bawah, mengupas kulitnya yang keras dengan batu.
Buah-buah karet itu sangat memukau. Warnanya coklat dengan sedikit gores kuning keemasan. Bentuknyapun menarik, bagian punggung buah agak meruncing, tidak datar sebagaimana yang dijual di depan sekolah. Kami penuh keyakinan, buah ini istimewa dan sangat kuat. Punggungnya yang runcing tentu saja akan menyulitkan lawan pada saat diadu. Aku membayangkan keramaian yang akan terjadi ketika teman-teman besok melihat buah para yang kami miliki.
Hujan mulai turun. Bergegas kami bereskan buah-buah itu, menyimpannya sebaik mungkin agar tidak tercecer di jalan. Semakin deras. Jalan mulai berlumpur. Kayuhan sepeda menjadi sangat berat. Berkali-kali aku terperosok dalam kubangan lumpur. Berkali-kali tanah lempung melekat di ban sepeda, sehingga tak dapat dikayuh. Susah payah kami saling membersihkan sepeda.
Setiba di rumah, sepeda langsung aku tuntun ke sumur di halaman belakang. Kubersihkan sepeda dan juga baju yang penuh lumpur. Tak boleh ada bekasnya. Bermain sepedaku terlalu jauh, lumpur-lumpur akan menjadi pertanyaan. Dan, yang pasti aku tak akan pernah bisa berbohong ataupun mengarang alasan.
Aku yang pertama tiba di sekolah esok paginya. Rasanya tak sabar ingin memamerkan buah para terbaik yang kami miliki. Tak sabar ingin melihat dan mendengar decak kagum. Sekolah mulai ramai. Teman-teman bermain mulai datang. Aku memperlihatkan buah paraku, dan beberapa decak kagum sempat terdengar. Mereka belum pernah melihat yang seperti ini.
Permainan dimulai. Dan..., dalam sekejap decak kagum hilang, buah para kebanggaan satu demi satu pecah setiap kali di adu. Tak bersisa......


Catatan: kebun karet itu sekarang mungkin berada di sekitar istana gubernur Sumatera Selatan, Jalan Demang Lebar Daun. Dulu hanya ada jalan tanah menuju lokasi tersebut, setelah belokan dari jalan Bukit Besar dekat SMEA Negeri.

Friday, February 12, 2010

Bankir

Apa yang nampak dari pertemuan sekelompok bankir? Jas mahal, pastilah itu. Ada lagi, jam tangan dan perangkat tulis bermerk kelas atas.
Suara apa yang terdengar dalam pertemuan sekelompok bankir? Yang sangat jelas adalah tawa yang lepas. Ha..ha...ha... dan hi...hi....hi... akan mendominasi gelombang suara yang dapat ditangkap telinga. Ada lagi, prospek bisnis dan tukar informasi mengenai nasabah kakap dan isu transaksi derivatif, tapi, itu tak begitu pentinglah, nanti saja dibahas di ruang rapat sambil sedikit mengantuk dan bisa juga sambil memantau email laporan dari bawahan di masing-masing kantor. Terus apa yang penting? Lapangan golf tentu saja. Sudah coba lapangan golf sana belum? Rumputnya tak rata. Lapangan golf yang di situ, luar biasa sulit dipahami. Dimana main golf? Kalau itu bankir lokal, yang terdengan mungkin sekedar Nusa Dua atau tempat golf lainnya di dalam negeri. Kalau yang kumpul bankir nasional papan atas, suara yang terdengar adalah lapangan golf di suatu negeri di seberang benua....
Kapan mereka bekerja? Oh, jangan naif begitu. Mereka dibayar mahal karena kemampuannya untuk memandang jauh ke depan. Coba bayangkan tarif kita untuk bertransaksi dengan peramal terkenal, mahal sekali bukan. Apalagi ini, para futurist yang menentukan masa depan perekonomian bangsa. Kalau pekerjaan teknis rutin, itu bukan cakupan tugas mereka.
Aroma apa yang tercium dalam pertemuan para bankir? Parfum lembut dan mahal, itu pastilah. Apalagi kalau di antara para bankir itu ada kaum per-empu-an. Tapi, yang lebih pasti lagi, di situ bisa dirasakan aroma makanan yang maha lezat. Tentu saja bukan makanan angkringan yang seratus ribu bisa untuk makan 15 orang. Kalau mereka bankir papan atas, setidaknya tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah perorang, tapi kalau hanya bankir kelas lokal, mungkin berkisar seratus sampai tiga ratus ribu rupiah, untuk sekali makan.
Pakai jas di negara tropis, apakah tidak panas dan gerah? Panas dan gerah, itu di luar sana. Di dalam ruang pertemuan, tentu saja sangat dingin. Dalam kendaraan, mobil sedan itu dilengkapi dengan pengatur suhu udara yang terbaik. Bankir lokal maupun nasional, tak akan mampu memikirkan masa depan keuangan perusahaan apalagi keuangan negara apabila udara panas dan gerah.
Jadi, nyaman sekali hidup bankir? Oh.. itu hanya kelihatannya saja. Orang bilang rumput tetangga lebih hijau. Coba, lihat, kadang mereka iri melihat para buruh tani dan buruh bangunan yang bisa dengan lelapnya tidur siang antara saat istirahat mereka. Kadang mereka makan di angkringan pinggir jalan, karena iri dengan kenikmatan makan sambil berkeringat dan sambal yang pedas, bumbu masak yang bertumpuk, dan tempat makan yang kumuh.
Dan, mungkin di antara mereka ada yang menangis, membaca berita seseorang yang diadili karena dituduh mencuri kaos yang telah dibuang di pinggir jalan. Atau menangis saat membaca berita anak sekolah mengakhiri hidupnya karena malu menunggak uang sekolah. Atau mungkin mereka menangis, melihat satu keluarga suami istri dan dua anak kecil berboncengan penuh tawa dengan sebuah vespa tua, sambil membawa kail.
Yang pasti, ada diantara mereka yang kerap menangis, melihat kenyataan ketidakadilan ekonomi di negaranya, tapi hanya mampu merasakan, tanpa mampu berbuat apapun.