<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215</id><updated>2012-01-06T07:10:39.204+07:00</updated><title type='text'>Tempat Jiwa Diasah</title><subtitle type='html'>Kehidupan telah melupakan sejuknya angin dan dinginnya air hujan. Lampu-lampu telah menggantikan kesenduan malam. Tetapi jiwa semakin kosong, karena, tak ada yang peduli, mengapa malam harus gelap dan hujan harus turun. Di rumah ini, tempat jiwa diasah kembali</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-8704105439968506103</id><published>2012-01-02T16:21:00.000+07:00</published><updated>2012-01-02T16:23:29.102+07:00</updated><title type='text'>Berbuat Baik</title><content type='html'>Kami bertemu di sebuah tempat  terapi alternatif untuk penyakit-penyakit yang tak kunjung sembuh dengan pendekatan ilmu kesehatan standar.  Sebuah rumah sangat sederhana yang dijadikan tempat praktek. Kami duduk di teras sebuah rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba, di ruang dalam nampak  penuh tak ada kursi tersisa. Di teras, seorang Ibu yang tak dapat dikatakan muda, dengan pakaian yang agak norak kaos hitam ketat tanpa lengan, duduk di bangku yang tak terlalu panjang. Melihatku kebingungan mencari tempat duduk si Ibu berbaik hati menawarkan berbagi. Namanya Bu Yayuk. Dengan alis yang digambar dan pulasan kosmetik yang memudar karena keringat, si Ibu nampak bukan orang  baik-baik, menurut persepsi manusia  kebanyakan. Kami mengobrol. Si Ibu mengantarkan seorang temannya yang sedang sakit dan tak kunjung sembuh setelah bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bekerja apa saja Mas. Kalau siang mengumpulkan rosok, kadang saya mengamen, kalau malam saya memijat tetangga,” begitulah si Ibu memulai ceritanya, setelah kami berbasa-basi saling bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suami saya kerja sebagai tukang parkir di Terminal Jombor”, katanya lebih lanjut. “Usianya sudah lebih dari 70 tahun, tetapi suami saya orang yang baik hati. Seluruh penghasilannya selalu diberikan pada saya. Beginilah saya, kalau sudah bercerita saya sulit untuk berhenti. Tapi, saya hanya bercerita pada orang-orang yang mau mendengarkan. Saya tahu, Bapak dengan tulus mendengarkan cerita saya. Kalau Bapak hanya berbasa-basi, saya bisa merasakannya, dan saya tak akan banyak cerita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bercerita banyak, saya mendengarkan dengan terheran-heran. Antrian saya nomor empat belas, seroang pasien di terapi sekitar 15 – 20 menit. Bukan waktu yang singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya terimakasih sekali Pak, ada yang mau bicara dengan saya. Kebanyakan mereka hanya memberikan uang dari balik teralis pagar. Ada seorang ibu yang saya lihat jalan terpincang-pincang, saat ngamen, kemudian saya tawarkan diri untuk memijat. Hanya di teras rumah Pak, saya tak ingin masuk, khawatir kalau ada barang-barang hilang dan juga khawatir dianggap tak tahu diri. Saya pijat 2 jam Pak. Selesai pijat, si Ibu merasa baikan, dan meminta alamat saya untuk pijak lagi. Dua jam itu, Pak, saya hanya diberi uang  lima ribu rupiah.  Tapi, saya ikhlas Pak, meskipun rasanya sedih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya muslim Pak, tapi saya belum shalat. Tiap malam saya berdoa. Saya hafal Al Fatihah, hanya itu yang saya hafal. Setiap hari saya berdoa pada Gusti Allah, menyebut namanya sepanjang jalan. Saya juga mengikuti ajaran kejawen Pak. Kadang malam saya tak tidur dan duduk di makam-makam tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, payudara saya pernah besar  membengkak Pak, sangat besar. Saya hanya bisa merintih kesakitan. Tak ada biaya untuk berobat, saya hanya pasrah pada Tuhan yang memberi saya hidup. Berbulan-bulan merintih Pak, tak bisa apa-apa. Kemudian saya bertemu seorang kyai dari Banten.  Katanya, saya hamil dan yang menghamili saya adalah bangsa jin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini benar-benar terjadi Pak, Bapak pasti tak percaya cerita saya”, tegas perempuan itu ketika pikiran normal saya mulai bereaksi atas cerita yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu hari, oleh kyai dari Banten itu, saya disuruh berbaring dan diberi tahu, jin yang saya kandung akan segera lahir, tepat jam 12 malam. Saya menurut saja Pak. Rasanya saat itu saya sudah tak hidup lagi. Para santri membaca berbagai doa yang saya tidak tahu. Kemudian kesadaran saya hilang, seperti tertidur yang lelap. Saya merasa seperti mimpi berpisah dengan seseorang. Perpisahan yang sangat berat. Kami berpegangan tangan seperti tak ingin saling melepaskan. Kalau Bapak muda dulu ingin berpisah dengan pacar, seperti itulah, tangan seolah tak ingin lepas sampai lepasnya sentuhan ujung jari.  Kemudian tangan saya menggapai-gapai ingin meraih tangannya kembali. Dalam mimpi itu, sang laki-laki seperti pamit pada saya, dan meninggalkan sesuatu agar saya gunakan untuk membantu setiap orang yang memerlukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tersadar Pak, dikelilingi para santri. Seorang murid Pak Kyai berteriak ketika  melihat saya sudah sadar. Rasanya aneh sekali Pak. Saya pikir saya sudah meniggal, karena sekian bulan menahan sakit yang tak terhingga. Payudara saya tiba-tiba mengempis, hanya tersisa bekas goresan sedikit. Rasa sakit menghilang dalam beberapa hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kejadian benar Pak, saya mengalaminya, memang aneh. Sejak itu, saya selalu ingin menolong orang. Mungkin saya hanya punya sedikit harta, tapi saya dikaruniai kelebihan, niat untuk selalu menolong orang.  Ada tetangga kelaparan belum makan, saya hanya punya beras sedikit, saya bagi setengahnya untuk tetangga. Ada orang kelelahan, saya pijat dengan tanpa mengharap bayaran. Ada orang sakit, saya coba sembuhkan. Kalau saya tidak mampu sembuhkan, saya bawa ke tempat lain yang bisa membantu kesembuhannya. Kalau tidak mampu membayar, saya berikan harta saya untuk membayarnya. Tentu saja, saya hanya mampu mengantarkan ke tempat seperti ini Pak, yang tidak menentapkan tarif bagi pasiennya. Di sini, setiap pasien bebas untuk berderma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup saya penuh kotoran Pak, saya bukan orang yang bersih, tapi saya selalu ingin menolong orang. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya muslim Pak, meskipun saya tidak shalat.” Kalimat itu diulanginya lagi.&lt;br /&gt;“Maaf, mengapa Ibu tidak shalat?”&lt;br /&gt;“Mungkin saya belum sadar ya Pak...”.  Suaranya mulai bergetar, dan makin lirih.&lt;br /&gt;“Apa saja yang saya minta pada Gusti Allah, selalu dikabulkan, tetapi saya belum shalat Pak. Terimakasih Pak, mengingatkan saya .Saya janji, akan shalat Pak, Kalau ada yang memberi saya rukuh, saya segera shalat...”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran pasien yang diantar Ibu tersebut untuk terapi. Obrolan kami terhenti. Kemudian  giliran saya tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari ruang terapi, si Ibu dan pasien yang diantarnya masih duduk di pinggir jalan, menunggu taksi katanya. Aku pamit mendahului. Mendoakannya semoga pasiennya segera sembuh dan si Ibu selalu mendapat kasih sayangNya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saja. Kemudian angan-anganku berkecamuk di benakku. Mengapa tak membelikannya rukuh? Sempat terpikirkan tadi, saat dia mengatakannya.  Mengapa pula membiarkan mereka  berdua duduk menderita di pinggir jalan dan tak mengantarkan mereka pulang?  Lihat, mereka mungkin menjalani kehidupan yang sangat termarginalkan, tapi, tak sedikitpun mereka mengeluh dan meminta bantuan orang.  Apakah susahnya bagiku untuk meminta supirku membelikan rukuh  dan mengantar mereka pulang?  Mengapa sering muncul pikiran jahat dan ketidakpedulian pada hatiku?  Mungkin  dia diutus oleh Sang Kuasa untuk mengingatkanku, bahwa ibadahku masih sebatas upacara, belum menjadi bagian dari kehidupanku.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-8704105439968506103?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/8704105439968506103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=8704105439968506103&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8704105439968506103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8704105439968506103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2012/01/berbuat-baik.html' title='Berbuat Baik'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-7848464343898453903</id><published>2011-06-16T11:25:00.003+07:00</published><updated>2011-06-16T11:37:24.365+07:00</updated><title type='text'>Reda</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bukti Cinta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suaminya bilang itu tanda cinta:&lt;br /&gt;Pipi biru legam, hidung retak, bibir sobek.&lt;br /&gt;Suaminya bilang, itu harus dilakukan:&lt;br /&gt;supaya ia tahu diri, tidak besar kepala dan sombong.&lt;br /&gt;Malam ini, di tangannya ada sebilah pisau,&lt;br /&gt;berkilat terkena sinar televisi.&lt;br /&gt;Kepada suaminya, yang lelap tidur,&lt;br /&gt;ia ingin menunjukkan cintanya.&lt;br /&gt;Yang amat sangat&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas adalah salah satu cerita yang di tulis Reda  dalam bukunya "Pengantin Baru dan cerita pengantar tidur lainnya".&lt;br /&gt;Buku yang sangat menarik dan penuh dengan cerita keseharian yang kadang terlewatkan begitu saja oleh kita. Saya menganggapnya serupa  daun yang jatuh, yang kita semua tak pernah peduli pada kejadian tersebut, tetapi, ketika kita pikirkan lebih dalam, betapa daun jatuh merupakan sebuah proses yang sangat luar biasa. Daun yang selalu tulus ikhlas menerima hadirnya generasi baru [tersingkirkan], kemudian menggugurkan diri dan memberi pupuk bagi tanaman untuk hadirnya daun-daun baru....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Reda, menuliskan hal-hal yang luput dari perhatian kita, padahal itu merupakan peristiwa besar, dan memberikan pencerahan, asal saja kita mau merenungkannya. Reda seperti menyadarkan kita, bagi mereka yang berpikir,  sekalipun itu sebuah daun yang gugur seolah tak berarti, tapi itu adalah sebuah peristiwa penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian sampul belakang, Reda menulis: "..... dengan harapan bisa jadi bahan mimpi dan membawa manfaat ketika bangun esok pagi." Jelas sekali, sebuah pesan agar kita merenungkan setiap cerita yang ditulis dari kisah nyata yang sehari-hari terjadi di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi teman-teman yang ingin membaca cerita-cerita lainnya, buku ini diterbitkan oleh  Editum  atau bisa dipesan lewat: www.inibuku.com telp 021-4212057 atau 4229857&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-7848464343898453903?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/7848464343898453903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=7848464343898453903&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7848464343898453903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7848464343898453903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2011/06/reda.html' title='Reda'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-140339426064818717</id><published>2011-06-07T11:14:00.001+07:00</published><updated>2011-06-07T11:16:21.125+07:00</updated><title type='text'>Matahariku.....</title><content type='html'>Kadang kita memang terlalu sentimentil memandang kepada yang muda  merasakan detik yang lewat. &lt;br /&gt;Lihatlah mereka yang berpegangan erat dengan sepeda motor, mungkin hendak berangkat kuliah sambil merencanakan kegiatan nanti sore, mungkin juga membayangkan sepiring nasi goreng di depan Purna Budaya, ketika pulang dari perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sudah aku katakan, nasi goreng di depan Purna Budaya itu sekarang sudah tak ada lagi.  Tapi racikan bumbu bawang putih yang keras dan udang-udang kecil yang lembut serta potongan bakso di sela-sela nasi itu masih ada dalam ingatanku, begitu jawabmu&lt;br /&gt;Dulu, jalan itu begitu senyap. Hanya beberapa pedagang hingga kau temukan selokan yang lebar itu. Ada hutan, yang ketika engkau melaluinya di malam hari, akan kau rasakan beda temperatur yang jelas sekali. Engkau akan menarik kerah jaketmu lebih ke atas dan menyilangkan tangan di dada, hendak mengusir dingin. Bukan dingin yang sedih tentu saja, karena sekalipun itu ada gerimis dan bahkan hujanpun, engkau akan tetap tertawa meriah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pada suatu ketika yang kita masing-masing tak saling tahu, engkau memutuskan jalanmu, dan akupun memutuskan jalanku. Membatasi hati kita pada sebuah ikatan yang kita buat. Untuk masa depan yang lebih baik, begitulah kata mereka menasehati kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-140339426064818717?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/140339426064818717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=140339426064818717&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/140339426064818717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/140339426064818717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2011/06/matahariku.html' title='Matahariku.....'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-7755103018989133254</id><published>2011-06-06T15:40:00.002+07:00</published><updated>2011-06-06T15:46:48.571+07:00</updated><title type='text'>Marginal Utility</title><content type='html'>Salah satu konsep penting yang diajarkan pada mahasiswa jurusan ekonomi adalah “marginal utility”.  Secara sederhana, ini berarti penurunan nilai manfaat,  karena terpenuhinya kebutuhan. Contoh yang paling mudah adalah rasa haus atau lapar. Ketika tenggorokan berasa kering dahaga,  tegukkan pertama minuman terasa sangat bermanfaat. Pada tegukan kedua, manfaatnya mulai kurang, ketika rasa haus sudah terobati, orang tak lagi mau  minum, karena akan menimbulkan rasa tak nyaman pada perut.&lt;br /&gt;Orang-orang ekonomi mempelajari tentang kebutuhan, bukan keinginan.  Ada perbedaan yang sangat besar dalam pemahamannya. Kebutuhan manusia berbatas, tetapi keinginan manusia tak ada habisnya. Tuhan menyebutkan, bila kau jadikan seluruh samudra sebagai tinta untuk menulis nikmat yang Aku berikan pada manusia, tinta itu tak akan cukup.  Itu kalau manusia berbicara tentang kebutuhan. Namun, yang muncul adalah keinginan, maka berlakulah yang sebaliknya, jika seluruh samudra dijadikan tinta tak akan cukup untuk menulis seluruh keinginan manusia...&lt;br /&gt;Orang ekonomi juga memperkenalkan konsep kelangkaan. Semua barang dan jasa menjadi berharga karena kelangkaannya. Konsep kelangkaan mengubah nilai barang menjadi berharga secara ekonomi. Puluhan tahun yang lalu, air tidak termasuk barang yang langka, maka dalam pelajaran ekonomi di sekolah, air dan udara merupakan contoh  barang bebas. Tapi, orang-orang dari disiplin ilmu manajemen memanfaatkan konsepsi kelangkaan ini untuk meraih keuntungan  yang di atas normal.  Bagaimana caranya? Ahli manajemen pemasaran mengubah pola pikir manusia dari fase kebutuhan meningkat menjadi keinginan. Penambahan merk tertentu dan kemasan tertentu telah mengubah fungsi air minum dari kebutuhan menjadi keinginan. Obat-obat generik sama baiknya dengan obat bermerk, namun, orang lebih percaya pada obat dengan merk tertentu dan bersedia membayar mahal untuk itu.&lt;br /&gt;Manusia membutuhkan mobil untuk sarana transportasi agar tidak kehujanan atau kepanasan, agar dapat mengangkut seluruh keluarga dengan satu kali perjalanan. Tetapi kebutuhan akan mobil telah diubah menjadi keinginan akan merk dan jenis mobil tertentu. Kemasan mobil dan merknya telah menjadikan konsepsi marginal utility tak berlaku lagi. Selalu ingin mobil yang terbaru dengan berbagai tambahan fitur mewahnya sejalan dengan peningkatan penghasilan.  Banyak orang menjadi bangga dengan koleksi mobil yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Manusia membutuhkan tas kerja untuk mengangkat berkas-berkas pekerjaan, tetapi, bagi sebagian banyak orang, tas kerja harus memiliki merk tertentu. Tak mudah membayangkan seorang eksekutif sebuah bank akan membawa ransel seharga seratus ribuan  untuk membawa berkas pekerjaan, notebook, serta beberapa potong pakaian ganti ketika bertugas keluar kota. Mereka mungkin memakai ransel, tetapi ada sepotong merk dagang yang menunjukkan asal ransel itu dari sebuah rumah mode terkenal dan pastilah mahal.&lt;br /&gt;Wakil rakyat kita butuh sarana komunikasi, tetapi, apakah kebutuhan biaya komunikasi itu  mencapai belasan juta rupiah per bulan? Apakah ini kebutuhan atau hanya sebuah keinginan? Demikian pula dengan gedung ruang kerja mereka. Apakah kolam renang merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan? &lt;br /&gt;Di tempat kerja, kadang-kadang kita mengajukan anggaran berbasis keinginan bukan kebutuhan. Bagian kehumasan dan dokumentasi mengajukan anggaran pembelian kamera mengacu pada kamera canggih keluaran terakhir yang mahal. Padahal keperluan dokumentasi tersebut dapat terpenuhi hanya dengan kamera saku digital. Keinginan mendominasi penyusunan belanja perusahaan, bukan kebutuhan.&lt;br /&gt;Orang-orang periklanan  yang biasanya berlatar belakang ilmu manajemen, komunikasi,  dan psikologi sangat paham bagaimana menggeser kebutuhan menjadi keinginan, atau lebih tepatnya, menghilangkan kesadaran dalam diri sehingga keinginan seolah-olah menjadi sebuah kebutuhan.  Para jenius pembuat iklan telah menyihir kita. "Anda membutuhkan Prada,  atau Louis Vuitton, karena begitulah seharusnya Anda", demikian bahasa iklan yang mereka pakai.  &lt;br /&gt;Ilmu ekonomi dan manajemen telah disalahgunakan untuk meraup laba sebesar-besarnya. Banyak orang terjebak dalam perangkap hutang karena mengkonsumsi “kebutuhan” yang tak ada habisnya dengan kemudahan fasilitas kartu kredit. Pada wajah yang lain, kita melihat masyarakat yang mengais sampah, yang tidur di rumah kardus, yang mengkonsumsi makanan tak layak, yang tak mendapat kesempatan bersekolah, bahkan yang sama sekali tak punya harapan hari esok. Seperti inikah yang dibayangkan para pemikir ekonomi? Rasanya tidak. Konsep marginal utility jelas-jelas mengajarkan kita untuk memenuhi kebutuhan, bukan keinginan. Ada makna keadilan dalam konsep tersebut. Dalam agama, bukankah kita juga selau diajarkan untuk “tidak berlebih-lebihan”. &lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya ingin mengutip Stiglitz, kutipan yang selalu saya pakai ketika bicara tentang pembangunan yang berkeadilan. Begini:  “Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-7755103018989133254?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/7755103018989133254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=7755103018989133254&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7755103018989133254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7755103018989133254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2011/06/marginal-utility.html' title='Marginal Utility'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-8499457233251430940</id><published>2011-05-23T09:04:00.000+07:00</published><updated>2011-05-23T09:05:37.649+07:00</updated><title type='text'>Berbuat Besar</title><content type='html'>Ada sebuah monolog menarik dari seoang seniman yang saya lupa namanya. Sambil bermain gitar ia bercerita tentang diskusinya dengan salah seorang sahabat tentang perbuatan besar dari orang-orang besar. &lt;br /&gt;Ada orang-orang besar yg telah berbuat besar kepada negaranya, mereka adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk perbuatan yang besar. Soekarno telah berbuat besar untuk membakar semangat kemerdekaan. Ada RA Kartini, yang telah berbuat besar dengan memberi pencerahan luar biasa akan pentingnya pendidikan bagi kaum wanita. Ada Ki Hadjar Dewantara, yang berbuat besar bagi pendidikan bangsa melalui pendirian Taman Siswa. Ada sederet nama lain. Lantas, bagaimana orang-orang kecil yang tertindas dan tidak memiliki kesempatan dapat bermanfaat bagi masyarakat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman ini sambil tetap bernyanyi menjawab:&lt;br /&gt;“Tak perlu berkecil hati, karena tidaklah Yang Maha Kuasa menciptakan manusia hanya untuk kesia-siaan. Kita bisa berbuat, dari yang mungkin paling kecil yang dilihat orang, tetapi luar biasa besar nilainya. Setidaknya kita bisa berkata jujur dan mengajarkan tentang kejujuran...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang tersisa pada saya adalah apakah artinya berbuat besar? Memimpin negara, memimpin perusahaan besar, memberikan kontribusi pada kekayaan negara? Cukupkah itu? &lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu saya pernah memiliki pengalaman luar biasa dengan seorang perempuan tua (mungkin di atas 70 tahun), yang berjualan rokok dan korek api di sebuah pinggiran jalan. Ibu ini, dengan sebuah kotak kayu  kusam,  hanya membawa tak lebih dari 10 bungkus rokok dan beberapa korek api (ditambah cahaya malam yang gelap menjadikan suasan yang makin muram). Dengan rasa iba, saya membeli sebuah korek api seharga seratus rupiah dan memberinya uang seribu rupiah dan agar uang kembalian disimpan saja untuknya.  Niat saya memang ingin memberinya sesuatu. Apa yang terjadi sungguh diluar dugaan saya. Si Ibu tampak tak senang dan mengatakan dirinya berjualan bukan pengemis. Saya terenyuh dan menyadari betapa angkuhnya diri saya. &lt;br /&gt;Inilah perbuatan besar. Menjaga harga diri. Menjaga kehormatan. Menjaga agar tangan kita tidak tengadah memohon balas kasihan orang lain. Inilah kejujuran hati nurani, ketika seseorang tidak menghiba-hiba dengan menjual perasaan sedih yang dihadapinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-8499457233251430940?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/8499457233251430940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=8499457233251430940&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8499457233251430940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8499457233251430940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2011/05/berbuat-besar.html' title='Berbuat Besar'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2762754798971433850</id><published>2010-02-15T13:47:00.004+07:00</published><updated>2010-02-15T13:57:23.336+07:00</updated><title type='text'>Buah Karet  [catatan masa kecil]</title><content type='html'>Ada permainan musiman yang sering kami lakukan, yaitu mengadu buah para,  buah pohon karet.  Secara bergantian buah para di letakkan saling menindih kemudian dipukul dengan bagian bawah telapak tangan sebelah dalam sekeras-kerasnya. Yang tidak pecah adalah pemenangnya. Bila musimnya telah tiba, sepanjang pagar luar halaman sekolah akan dipenuhi penjual para. Harganya bervariasi tergantung pada kualitas. Ada yang dinamakan para kancil, dengan lima rupiah kami bisa meperoleh 5 buah.   Ada yang namanya macan, warnanya loreng-loreng kuning coklat, harganya 5 rupiah untuk 2 biji. Yang terbaik dan paling keras dinamakan kingkong, harganya bisa 5 rupiah per biji. Selain itu, ada lagi yang paling murah yang bisa diperoleh 10 sampai 15 biji dengan harga 5 rupiah.  Uang lima rupiah rasanya sangat banyak, sehingga aku hampir tak pernah membeli kingkong. Paling sering aku membeli kancil atau macan. Pernah juga aku membeli kingkong. Dan ketika diadu dengan milik teman lain, kingkongku pecah. Sejak itu aku tak mau lagi membeli kingkong, karena waktu bermainku menjadi sangat singkat. &lt;br /&gt;Suatu hari Jeffrey memberitahu sebuah rahasia, katanya ada buah para yang sangat kuat, tetapi kami harus memetiknya sendiri. Jefrey yang tahu tempatnya, dan seperti biasa, tugas panjat memanjat adalah bagianku. Berdua, aku dengan sepeda jengki tua dan Jefrey dengan sepeda mininya yang bagus, menelusuri jalan Bukit Besar, menuju daerah Padang Selasa, dan terus masuk ke arah Lorok Pakjo,  menuju ladang karet. Tak ada jalan aspal, hanyalah jalan stapak dan tanah tanah merah. Kami tiba di sana saat mendung sangat tebal, tapi belum hujan. &lt;br /&gt;Memanjat pohon karet tidaklah mudah. Pohon bagian bawah biasanya lurus sepanjang tiga sampai lima meter. Cabang pohonnya getas dan mudah patah, jadi harus hati-hati. Buahnyapun berada di ujung-ujung pohon. Aku berhasil meraih beberapa gerombol buah. Menjatuhkannya, dan Jefrey menunggu di bawah, mengupas kulitnya yang keras dengan batu. &lt;br /&gt;Buah-buah karet  itu sangat memukau. Warnanya coklat dengan sedikit gores kuning keemasan. Bentuknyapun menarik, bagian punggung buah agak meruncing, tidak datar sebagaimana yang dijual di depan sekolah. Kami penuh keyakinan, buah ini istimewa dan sangat kuat. Punggungnya yang runcing tentu saja akan menyulitkan lawan pada saat diadu. Aku membayangkan keramaian yang akan terjadi ketika teman-teman besok melihat buah para yang kami miliki.&lt;br /&gt;Hujan mulai turun. Bergegas kami bereskan buah-buah itu, menyimpannya sebaik mungkin agar tidak tercecer di jalan. Semakin deras. Jalan mulai berlumpur. Kayuhan sepeda menjadi sangat berat. Berkali-kali aku terperosok dalam kubangan lumpur. Berkali-kali tanah lempung melekat di ban sepeda, sehingga tak dapat dikayuh. Susah payah kami saling membersihkan sepeda.&lt;br /&gt;Setiba di rumah, sepeda langsung aku tuntun ke sumur di halaman  belakang. Kubersihkan sepeda dan juga baju yang penuh lumpur. Tak boleh ada bekasnya. Bermain sepedaku terlalu jauh, lumpur-lumpur akan menjadi pertanyaan. Dan, yang pasti aku tak akan pernah bisa berbohong ataupun mengarang alasan.&lt;br /&gt;Aku yang pertama tiba di sekolah esok paginya.  Rasanya tak sabar ingin memamerkan buah para terbaik yang kami miliki. Tak sabar ingin melihat dan mendengar decak kagum. Sekolah mulai ramai. Teman-teman bermain mulai datang. Aku memperlihatkan buah paraku, dan beberapa decak kagum sempat terdengar. Mereka belum pernah melihat yang seperti ini. &lt;br /&gt;Permainan dimulai. Dan..., dalam sekejap decak kagum hilang, buah para kebanggaan satu demi satu pecah setiap kali di adu. Tak bersisa......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: kebun karet  itu sekarang mungkin berada di sekitar istana gubernur Sumatera Selatan, Jalan Demang Lebar Daun. Dulu hanya ada jalan tanah menuju lokasi tersebut, setelah belokan  dari jalan Bukit Besar dekat SMEA Negeri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2762754798971433850?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2762754798971433850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2762754798971433850&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2762754798971433850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2762754798971433850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2010/02/buah-karet-ada-permainan-musiman-yang.html' title='Buah Karet  [catatan masa kecil]'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-1888955058862806586</id><published>2010-02-12T10:22:00.001+07:00</published><updated>2010-02-12T10:25:56.886+07:00</updated><title type='text'>Bankir</title><content type='html'>Apa yang nampak dari pertemuan sekelompok bankir? Jas mahal, pastilah itu. Ada lagi, jam tangan dan perangkat tulis bermerk kelas atas. &lt;br /&gt;Suara apa yang terdengar dalam pertemuan sekelompok bankir? Yang sangat jelas adalah tawa yang lepas. Ha..ha...ha... dan hi...hi....hi... akan mendominasi gelombang suara yang dapat ditangkap telinga. Ada lagi, prospek bisnis dan tukar informasi mengenai nasabah kakap dan isu transaksi derivatif, tapi, itu tak begitu pentinglah, nanti saja dibahas di ruang rapat sambil sedikit mengantuk dan bisa juga sambil memantau email laporan dari bawahan di masing-masing kantor. Terus apa yang penting? Lapangan golf tentu saja. Sudah coba lapangan golf sana belum? Rumputnya tak rata. Lapangan golf yang di situ, luar biasa sulit dipahami. Dimana main golf? Kalau itu bankir lokal, yang terdengan mungkin sekedar Nusa Dua atau tempat golf lainnya di dalam negeri. Kalau yang kumpul bankir nasional papan atas, suara yang terdengar adalah lapangan golf di suatu negeri di seberang benua....&lt;br /&gt;Kapan mereka bekerja? Oh, jangan naif begitu. Mereka dibayar mahal karena kemampuannya untuk memandang jauh ke depan. Coba bayangkan tarif kita untuk bertransaksi dengan peramal terkenal, mahal sekali bukan. Apalagi ini, para futurist yang menentukan masa depan perekonomian bangsa. Kalau pekerjaan teknis rutin, itu bukan cakupan tugas mereka. &lt;br /&gt;Aroma apa yang tercium dalam pertemuan para bankir? Parfum lembut dan mahal, itu pastilah. Apalagi kalau di antara para bankir itu ada kaum per-empu-an. Tapi, yang lebih pasti lagi, di situ bisa dirasakan aroma makanan yang maha lezat. Tentu saja bukan makanan angkringan yang seratus ribu bisa untuk makan 15 orang. Kalau mereka bankir papan atas, setidaknya tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah perorang, tapi kalau hanya bankir kelas lokal, mungkin berkisar seratus sampai tiga ratus  ribu rupiah,  untuk sekali makan.&lt;br /&gt;Pakai jas di negara tropis, apakah tidak panas dan gerah? Panas dan gerah, itu di luar sana. Di dalam ruang pertemuan, tentu saja sangat dingin. Dalam kendaraan, mobil sedan itu dilengkapi dengan pengatur suhu udara yang terbaik. Bankir lokal maupun nasional, tak akan mampu memikirkan masa depan keuangan perusahaan apalagi keuangan negara apabila udara panas dan gerah.&lt;br /&gt;Jadi, nyaman sekali hidup bankir?   Oh.. itu hanya kelihatannya saja. Orang bilang rumput tetangga lebih hijau. Coba, lihat, kadang mereka iri melihat para buruh tani dan buruh bangunan yang bisa dengan lelapnya tidur siang antara saat istirahat mereka. Kadang mereka makan di angkringan pinggir jalan, karena iri dengan kenikmatan makan sambil berkeringat dan sambal yang pedas, bumbu masak yang bertumpuk, dan tempat makan yang kumuh. &lt;br /&gt;Dan, mungkin di antara mereka ada yang menangis, membaca berita seseorang yang diadili karena dituduh mencuri kaos yang telah dibuang di pinggir jalan. Atau menangis saat membaca  berita anak sekolah mengakhiri hidupnya karena malu menunggak uang sekolah. Atau mungkin mereka menangis, melihat satu keluarga suami istri dan dua  anak kecil berboncengan penuh tawa dengan sebuah vespa tua, sambil membawa kail.&lt;br /&gt;Yang pasti, ada diantara mereka yang kerap menangis, melihat kenyataan ketidakadilan ekonomi di negaranya, tapi hanya mampu merasakan, tanpa mampu berbuat apapun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-1888955058862806586?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/1888955058862806586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=1888955058862806586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1888955058862806586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1888955058862806586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2010/02/bankir.html' title='Bankir'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-4575908989040664810</id><published>2009-12-14T15:43:00.002+07:00</published><updated>2009-12-14T15:48:43.640+07:00</updated><title type='text'>Pohon Rahasia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/SyX7ZfRn7yI/AAAAAAAAAC4/RZRnyZn80LU/s1600-h/kemuningkecil4.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/SyX7ZfRn7yI/AAAAAAAAAC4/RZRnyZn80LU/s320/kemuningkecil4.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415010542293610274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Crachmadi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Sungguh, dia telah menanti lebih dari 30 tahun untuk bertemu dan mengatakan yang seharusnya dia katakan. Tapi, itu tak mudah. Tiga puluh tahun, bukan waktu yang singkat memang, karena itu dimulainya sejak pertama kali mengeja nama itu, mengenali wajah dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rambut lurus sebahu dengan sedikit poni di atas matanya. Dia masih sangat ingat, ada beberapa waktu ketika perempuan yang dikenalinya sejak kecil itu mengubah tampilannya dengan sedikit mengombakkan rambut. Sebenarnya itu sangat tak indah. Tapi tak dikatakannya, tak pernah berani untuk berkata-kata ketika itu, selain menatap mata. Pernah juga dia melihatnya memotong rambutnya sangat pendek. Kelihatan sangat lebih cantik. Kelihatan sangat cerdas. Dia sangat menyukai perempuan yang cerdas dengan rambut terpotong pendek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dia telah menantikan lebih dari 30 tahun sejak pertama kali menyebutkan nama perempuan itu dengan keraguan yang luar biasa, dan akhirnya dibatalkannya memanggil nama itu, menunggu besok hari, yang mungkin datang membawa keberanian lebih banyak. Tiga puluh tahun lebih, itu dulu, ketika dia bersekolah masih bercelana pendek dan baju dekil yang penuh bekas getah buah hutan dan debu halaman sekolah berbaur bau keringat menempel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Tiga puluh tahun lebih, dia biarkan tumbuh, mengakar, berdaun, tumbuh rindang di padang hatinya, karena setiap hari disiraminya dengan kata yang tak pernah terucapkan itu. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menyampaikan kabar itu kepadanya suatu hari kelak nanti, entah kapan dan dimana, tetapi dia yakin pasti akan bertemu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Ternyata hari ini datang sama saja dengan kemarin dan lebih dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tigapuluh kali tiga ratus enam puluh lima hari yang terlalui, dia tak juga berani mengabarkan berita tentang pohon rindang itu, dan sekarang diapun menjadi ragu-ragu untuk mengabarkan berita itu. Karena apapun juga, masihkah ada gunanya?. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-4575908989040664810?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/4575908989040664810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=4575908989040664810&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4575908989040664810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4575908989040664810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/12/pohon-rahasia.html' title='Pohon Rahasia'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/SyX7ZfRn7yI/AAAAAAAAAC4/RZRnyZn80LU/s72-c/kemuningkecil4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-8159087305820749064</id><published>2009-10-12T10:03:00.004+07:00</published><updated>2009-10-12T10:35:32.299+07:00</updated><title type='text'>Reuni</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/StKfV9scU6I/AAAAAAAAACo/t1sOlFfB31Y/s1600-h/DSCN4704.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/StKfV9scU6I/AAAAAAAAACo/t1sOlFfB31Y/s320/DSCN4704.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391546903602942882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/StKfVc4RxRI/AAAAAAAAACg/p05-RdFYu-8/s1600-h/DSCN4708.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/StKfVc4RxRI/AAAAAAAAACg/p05-RdFYu-8/s320/DSCN4708.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391546894794212626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Idul fitri, saling memaafkan, saling berkunjung. Bagian dari tradisi hidup. Sangat menarik, apalagi ketika teman-teman lama  saling berjanji untuk ketemu. Ada yang sudah menjadi guru besar. Ada yang meninggalkan negara tercinta mencari kehidupan di negeri yang jauh. Ada yang sukses besar, ada yang menikmati hidup yang mengalir begitu saja.  Setiap orang memliki takdirnya sendiri-sendiri, seperti garis tangan, tak ada yang pernah sama. Tetapi ada yang selalu sama sejak dulu, kekawanan.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-8159087305820749064?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/8159087305820749064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=8159087305820749064&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8159087305820749064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8159087305820749064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/10/reuni.html' title='Reuni'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/StKfV9scU6I/AAAAAAAAACo/t1sOlFfB31Y/s72-c/DSCN4704.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-6165228394086324643</id><published>2009-06-23T11:44:00.002+07:00</published><updated>2009-06-23T11:57:26.516+07:00</updated><title type='text'>GOLF</title><content type='html'>Ada surat  dari asosiasi. Terbungkus amplop dan ketikan  tipe huruf resmi. Ditutup rapat dengan perekat yang tak mudah di buka pula. Saya berpikir ini acara formal yang serius. Ternyata konfirmasi kesertaan pada  turnamen golf.&lt;br /&gt;Mengapa golf? Mengapa bukan bedah buku, atau klub fotografi, atau acara sosial lainnya? &lt;br /&gt;Entah bagaimana sejarahnya, tetapi golf saat ini adalah sebuah status sosial. Kata para golfer juga, tidak ada kontrak bisnis tanpa lapangan golf. Untuk status sosial, saya akan sepakat, tetapi untuk ”tak ada kontrak bisnis tanpa golf”, saya akan berpikir kembali.&lt;br /&gt;Mari sedikit berhitung, berapakah nilai investasi untuk sebuah lapangan golf? Bukan jumlah yang sedikit, dan tentu saja investasi lapangan golf bukan milik UMKM sebagaimana membangun lapangan futsal. Karenanya, untuk bermain golfpun kita harus membayar mahal. Bukankah itu prestisius?  Tentu saja, harga sarana pendukung golf tak boleh murah. Kalau murah, pasti tak laku. Setidaknya membutuhkan 7 digit angka untuk mendapatkan tongkat pemukul yang termurah. Di lapangan? Jangan berharap teh panas seharga dua ribu rupiah seperti di lapangan bulutungkis di balai RT. Belum lagi kalau dilihat merk yang melekat di tubuh, mulai dari kepala (topi, kacamata), turun ke badan (pakaian, sarung tangan), kemudian bagian kaki (kaos kaki dan sepatu). Golf adalah sebuah aktualisasi diri sukses finansial.&lt;br /&gt;Bandingkan dengan ucapan seorang teman di facebook, ”Lumayan, bulutangkis di depan rumah setengah jam...”&lt;br /&gt;Bulutangkis di depan rumah, berkeringat, bersosial, cukup dengan raket seratus atau dua ratus ribu rupiah bahkan ada yang hanya puluhan ribu rupiah. Asal ada sedikit tanah kosong, buat garis tali plastik atau pakai kapur putih. Kalau kas RT/RW sedikit berlebih atau kalau ada warga yang sedikit berkelebihan, buat tiang bambu dan belikan net.  Beli sedikit kabel dan lampu. Maka semua orang bisa berolah raga. Pagi hari diisi oleh para ibu, sore hari anak-anak. Malam hari para bapak. Tapi, itu murah meriah, dan yang murah tentu saja tidak meningkatkan status sosial....&lt;br /&gt;Sepakat, golf adalah simbol status, silahkan saja bagi yang berminat dan dapat menikmatinya...&lt;br /&gt;Apakah golf tempat memperoleh kontrak bisnis?  Benar. Lapangan golf adalah tempat kumpulnya kelompok masyarakat yang secara ekonomi telah mapan.  Tentu saja berkumpul dengan mereka membuka peluang untuk memperoleh kontrak bisnis. Tapi, akan berbeda ceritanya apabila kontrak bisnis baru didapat setelah menjamu bermain golf. Bisa lihat perbedaannya? Bertemu dan bersosial dengan banyak orang sukses (ekonomi), tentu saja membuka peluang untuk saling berinteraksi dan membuka peluang untuk bisnis baru. Tapi, menjamu pejabat tertentu bermain golf dengan harapan mendapatkan kontrak bisnis, nampaknya bukanlah hal yang bijaksana. Selain mengeluarkan uang perusahaan yang tidak sedikit, cara ini hanya akan menimbulkan lomba perjamuan. Kompetitor tentu saja akan memberi jamuan di lapangan lain, yang lebih prestisius. Pada ujungnya, yang terjadi adalah biaya proyek menjadi mahal, karena apapun juga, uang perusahaan yang telah dikeluarkan harus bisa diperoleh kembali. Kalaupun harga kontrak tidak dinaikkan, mungkin standar kualitas yang diturunkan.&lt;br /&gt;Selamat menikmati golf bagi mereka yang menikmatinya.  Saya sangat yakin, golf seperti juga setiap olahraga yang bertujuan mengalahkan diri sendiri, akan menimbulkan kecanduan. Jadi, saya meskipun tidak bermain golf, sangat bisa memahami adanya orang yang sangat mencintai permainan ini. Seperti pemancing yang selalu melamunkan ikan besar pada saat melempar kailnya, golfer pun pasti memimpikan keajaiban hole in one.&lt;br /&gt;Bagi mereka,  para eksekutif  yang tidak bermain golf, tidak perlu cemas bila ingin menunjukkan sukses ekonominya. Ada banyak cara lain. Menjadi penyantun tetap di sekolah-sekolah pinggiran, menjadi ayah asuh bagi anak-anak yang kecerdasan dan kemampuan ekonominya terbatas, atau memberikan waktu dan sumberdaya yang dimilikinya  untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan ekonomi kelompok yang termarginalkan,  mungkin bisa menjadi alternatif.  Melihat mata anak-anak yang kembali berbinar menatap masa depannya  mungkin akan terasa lebih indah daripada memandang hijaunya lapangan golf. Mungkin.  Saya tidak tahu, karena saya tidak bermain golf.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-6165228394086324643?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/6165228394086324643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=6165228394086324643&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6165228394086324643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6165228394086324643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/06/golf.html' title='GOLF'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-6725567727777644871</id><published>2009-06-19T09:43:00.001+07:00</published><updated>2009-06-19T09:44:53.241+07:00</updated><title type='text'>Jejak</title><content type='html'>Seperti jejak-jejak air di pasir itu yang coba dihapuskan oleh angin atau terkadang jejak angin di air yang coba dihapuskan&lt;br /&gt;tak akan hilang.&lt;br /&gt;Itu juga setiap garis yang dibuat oleh kaki kaki kita&lt;br /&gt;atau tangan-tangan kita&lt;br /&gt;atau mata-mata kita&lt;br /&gt;atau telinga-telinga kita&lt;br /&gt;atau hidung-hidung kita&lt;br /&gt;atau bibir-bibir kita&lt;br /&gt;atau lidah-lidah kita.&lt;br /&gt;Dan kita coba hapus dengan hati yang kita miliki. Tak akan pudar, karena setiap hapusannya telah menjadikan jejak baru yang makin dalam&lt;br /&gt;Tak ada yang pernah tahu mengapa dan dimana atau akan kemana. Semuanya seperti telah digariskan dalam setiap angin yang melaluinya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-6725567727777644871?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/6725567727777644871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=6725567727777644871&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6725567727777644871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6725567727777644871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/06/jejak.html' title='Jejak'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-4901656515056573171</id><published>2009-03-27T10:27:00.002+07:00</published><updated>2009-03-27T10:42:46.171+07:00</updated><title type='text'>Taman Kasih</title><content type='html'>Ada sebuah taman, kata penutur cerita itu memulai. Taman itu sangat indah, didalamnya mengalir sungai-sungai yang jernih.&lt;br /&gt;“Itu surga”, seorang pendengar memecah keheningan.&lt;br /&gt;“Bukan, itu Indonesia” orang  lain menimpali. “Tapi itu Indonesia yang dulu, waktu manusianya tidak sebanyak dan serakus sekarang.”&lt;br /&gt;“Sstt, diamlah, biarkan ceritanya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taman itu adalah taman yang sangat indah. Di dalamnya mengalir sungai yang jernih. Bukan itu saja, ada satu perahu yang selalu lewat. Perahu Kertas”.&lt;br /&gt;Tukang cerita itu kemudian melantunkan sebuah puisi:&lt;br /&gt;“Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.....” &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu itu setiap pagi menelusuri tepian sungai. Di dalamnya, pemilik taman, mengemudikan sendiri perahu itu. Pemilik taman itu sesungguhnya adalah wanita yang tidak terlalu cantik. Tidak, tak ada bintang film cantik di ceritaku ini, karena ini hanyalah cerita tentang taman kasih.”&lt;br /&gt;“Teruskan saja ceritamu kami juga tak peduli apakah ada perempuan cantik atau tidak..,” sebuah suara menyela.&lt;br /&gt;“Sshh, diamlah, biarkan dia bercerita,” yang lain menimpali.&lt;br /&gt;“Pemilik taman itu selalu mengemudi sendiri perahu kertasnya. Dia akan menghampiri siapa saja yang ada ditepian sungai, menyapa mereka penuh semangat dan tentu saja memberikan senyum yang hangat. Sesungguhnya pemilik taman itu bukan seorang perempuan yang cantik dan tak pernah muncul di layar televisi dalam cerita selebritis. Dia hanya perempuan biasa saja, yang memiliki taman yang didalamnya mengalir sungai-sungai yang jernih. Dia hanya perempuan yang ingin berbagi kebahagiaan kecil setiap hari dengan siapa saja yang dia temui di pinggiran sungai yang mengalir di tamannya.”&lt;br /&gt;“Mengapa dia membangun taman seperti itu?”. Sebuah suara bertanya.&lt;br /&gt;“Sshh, diamlah, biarkan ceritanya mengalir.” Suara lain memotongnya.&lt;br /&gt;“Benar,” jawab si pencerita. “Aku pernah bertemu dengannya dan bertanya mengapa dia membangun taman seperti itu. Aku dulu juga belum paham mengapa harus membangun taman dan menyapa setiap orang dan berbagi kebahagiaan kecil di setiap pagi. Tapi, sungguh, tak mudah untuk melupakan jawabannya. Perempuan yang tidak cantik itu hanya ingin melakukannya begitu saja, tanpa harus memiliki alasan apapun. Inilah yang kira-kira dikatakannya – karena aku tak mampu mengingat dengan pasti kata demi kata:"&lt;br /&gt;“Mengapa harus ada alasan? Bukankah lebih banyak kehadiran kita yang tanpa alasan dan ada begitu saja. Mengapa sekedar untuk berbagi kebahagiaan kita harus memiliki alasan? Mungkin aku bisa membuat berbagai alasan yang menarik, yang membuat decak kagum orang banyak atau mungkin aku bisa beralasan yang berbau politis, sehingga ada petinggi partai yang akan membacanya kemudian tertarik untuk mengikutkan aku sebagai calon anggota legislatif di partainya. Bila itu yang aku lakukan, berarti tujuanku membuat taman bukanlah berbagi kebahagiaan, tetapi mencari jalur untuk meningkatkan derajat kehidupanku. Jadi, aku pikir, tak perlu ada alasan. Biarkan segalanya menjadi ada atau tak ada tanpa harus bertanya apa dan mengapa. Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kesombongan,” bisik sebuah suara, “Dia menunjukkan kesombongannya dengan merendahkan diri, seperti sombongnya pohon padi yang buahnya penuh, badannya seolah membungkuk, tapi yang ditampakkan bukanlah kerendahan melainkan pamer bulir-bulir yang padat berisi” lanjut bisikan suara tadi.&lt;br /&gt;“Shhh, diamlah, aku ingin mendengar ceritanya”, orang lain disampingnya menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tukang cerita itu berkisah tentang sebuah taman yang terindah dengan pemiliknya yang setiap pagi berkunjung dengan perahu kertas ke rumah-rumah tetangganya dan menyapa siapa saja yang ditemui sepanjang sungai itu, sekedar menyampaikan salam dengan kebahagiaan kecil di hari itu.&lt;br /&gt;Tukang cerita itu sangat memukau, sehingga semua orang menjadi terpesona dan tak ingin memalingkan dirinya sejenakpun dari rangkaian kisah yang disampaikan. Pagi berubah menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam menjadi pagi lagi, tukang cerita itu tak juga menghentikan kisahnya. Tak ada yang beringsut, Semua mendengar takjub. Anak-anak kecil sekalipun larut&lt;br /&gt;Seisi perkampungan itupun tak ada yang ingat dengan ladang dan ternak miliknya. Anak-anak lupa dengan sekolahnya. Perut mereka serasa telah terisi penuh tanpa perlu makanan lagi. Demikian pula meraka tak perlu memikirkan bagaimana membuang ampas makanan yang ada dalam perut, karena ampas itu hilang sirna dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah siang yang mendung dan lembab dengan udara yang tak nyaman, akhirnya cerita itu diselesaikan.&lt;br /&gt;“Dulu, aku termasuk sering beristirahat di sana, tetapi sekarang tak lagi. Taman itu tetap terbuka, tetapi perempuan itu tak pernah lagi hadir dengan perahu kertasnya. Entah kemana. Mungkin juga terlalu lelah untuk selalu berbagi. Mungkin juga sekarang harus mengurusi anak-anaknya yang semakin besar dan  menuntut banyak perhatian. Tapi, yang jelas pemilik taman itu tak pernah lagi menyapa  pengunjungnya. Mungkin juga pemilik taman itu sekarang masih sering mengunjungi tetangganya, tetapi memasang sihir agar aku tak dapat memandangnya dan memasuki taman itu, entahlah." Wajah tukang cerita itupun tiba-tiba berubah menjadi murung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cerita ditutup, pendudukpun bubar, memasuki ke dunia yang pengap dan sesak. Bau selokan tercium kembali. Lapar mulai terasa. Teriakan penjaja makanan berwarna-warni terdengar nyaring, bersahutan dengan teriakan penjual sayur dan air minum. Umpatan dan kata kotor mulai terdengar di tengah suara serak teriakan tangis anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Perahu Kertas, Puisinya Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa,  diambil dari puisinya Goenawan Mohamad berjudul “Pada Sebuah Pantai: Interlude&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-4901656515056573171?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/4901656515056573171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=4901656515056573171&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4901656515056573171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4901656515056573171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/03/taman-kasih.html' title='Taman Kasih'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-5267840106557054292</id><published>2009-01-28T16:58:00.005+07:00</published><updated>2009-01-28T17:06:57.984+07:00</updated><title type='text'>Bulan</title><content type='html'>Tadi malam mendung tipis, mungkin bukan mendung, hanya sekedar kabut yang agak tebal. Menyelimuti sawah-sawah. Menutupi cahaya bintang. Tapi, ada rembulan yang mencoba bertahan. Mungkin ingin memberikan sedikit kecerahan kepada manusia yang hari-hari belakangan ini kehidupannya semakin susah. Cahaya kuningnya memudar pucat, tapi masih mampu menembus tirai kabut itu. Dia seperti malu-malu untuk menampakkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Mungkinkah Bulan malu untuk menampakkan diri? Bukankah dia bersama bintang kemilau selalu menjadikan sumber cahaya dan petunjuk arah dalam kegelapan?&lt;br /&gt;Bulan memang  terkadang aneh. Pernah suatu pagi yang cerah, dia bertahan tak mau hengkang, padahal matahari sudah datang. Seolah dia hendak menantang matahari.&lt;br /&gt;”Oh.. itu bukan bulan yang tahu diri,” bisikku dalam hati. Bukankah Bulan selalu hadir sebagai bayangan matahari, karena sesungguhnya kuningmu itu hanyalah milik matahari semata? Tapi Bulan kadang memang keterlaluan. Pernah suatu ketika dia mengelabui anak-anak kecil dengan logika aneh yang dibuat jungkir balik, tetapi banyak yang mempercayainya. Mungkin itu karena keindahan yang selalu ditampilkan Bulan – yang selalu membius para penikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Suatu ketika Bulan bertanya pada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumput mereka&lt;br /&gt;”Hai.. selamat pagi anak-anak, pagi ini aku punya pertanyaan untuk kalian,” sapa Rembulan (nama lengkapnya Bulan).&lt;br /&gt;”Seellaammaaaattt Paaaaggiiiiii Bulannnnn...., pertanyaan apakah itu?” teriak anak-anak sambil kegirangan. Anak-anak memang tak pernah sedih.&lt;br /&gt;”Tahukah kalian, manakah yang lebih bermanfaat, Matahari atau dirikukah?” tanya Bulan.&lt;br /&gt;Anak-anak tak mampu menjawab, sebaliknya mereka terpesona pada kemilau kuning Bulan.&lt;br /&gt;Melihat hal tersebut, Bulan dengan lantang (dan ehm.. tentu saja sedikit kesombongan – jangan terlalu ditampakkan, agar tetap nampak mempesona), berkata&lt;br /&gt;”Siapakah yang datang ketika kalian menghadapi gelap?”&lt;br /&gt;”Siapakah yang hadir ketika bintang tak cukup menerangi kalian?”&lt;br /&gt;”Siapakah yang selalu diminta hadir untuk menemani tidur kalian yang lelap di malam gelap?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kalian tidak melihat, aku selalu datang di malam hari saat kegelapan hadir, sedangkan matahari hadir ketika siang saat terang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan memang aneh, dia akan membius anak-anak dengan logika anehnya , dan membius orang dewasa dengan sihir indahnya. Bahkan, seorang penyair pernah menuliskan lagu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Juwita malam, siapakah gerangan tuan&lt;br /&gt;Juwita malam, dari bulankah tuan&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;em&gt;[&lt;/em&gt;2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini bulan itu muncul dengan malu-malu, dari balik kabut tipis. Seperti selapis sutera menjadi cadar juwita malam. Sungguh mempesona. Dan, manusiapun seperti terbius, kehilangan nalar pikiran, kehilangan akal budi, kehilangan jati dirinya, kecuali mereka yang memandanginya dengan hati yang bersih, dan memikirkan sumber cahaya yang sesungguhnya. Mereka yang benar-benar memahami bahasa rembulan, yang sering berteka-teki dan menyesatkan hati yang tak bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Ambilkan Bulan,  sebuah lagu anak-anak&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Juwita Malam, Ismail Marzuki&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-5267840106557054292?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/5267840106557054292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=5267840106557054292&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5267840106557054292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5267840106557054292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/01/bulan.html' title='Bulan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2518781103216850345</id><published>2009-01-20T09:49:00.002+07:00</published><updated>2009-01-20T09:52:42.562+07:00</updated><title type='text'>Kesendirian dan Kesedihan</title><content type='html'>Ada kalanya, hidup rasanya begitu sepi. Teman-teman seolah lenyap begitu saja dari hati kita. keberadaan teman di sekitar kita tak lagi terasakan. Sepi yang seperti itu rasanya seperti memasuki ruang kosong yang senyap – tapi dipenuhi kegelisahan.  Di tengah hiruk pikuk pekerjaan yang mengalir, di tengah arus lalu lalang pegawai lain, dan mungkin di tengah tumpukan pekerjaan yang tak terjamah, dan di tengah kompetisi untuk jenjang karir yang lebih tinggi kita,  merasakan kesendirian, karena ditinggal oleh teman-teman lain.&lt;br /&gt;Ada orang-orang yang begitu mudah mengusir kesendirian ini dan menemukan banyak aktivitas dan kekawanan baru. Tapi, mungkin lebih banyak yang tidak menyukai kesendirian, karena sepi yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada tulisan ringkas ini, saya ingin menyampaikan pesan yang pernah ditulis oleh Gede Prama, ”&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;bila masih ada orang yang bisa membuat kita bahagia atau menderita, itu tandanya saklar kebahagiaan masih dipegang oleh orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menafsirkan kalimat di atas dalam konteks kesendirian, bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kesendirian dan merasakan sepinya ruang hati yang kosong, tetapi, tidak perlu mengalami kesengsaraan karenanya, sebab, dia sendirilah pemegang kunci kebahagiaan itu, bukan orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2518781103216850345?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2518781103216850345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2518781103216850345&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2518781103216850345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2518781103216850345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/01/kesendirian-dan-kesedihan.html' title='Kesendirian dan Kesedihan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-7808008980710526167</id><published>2009-01-12T17:06:00.004+07:00</published><updated>2009-01-15T10:16:34.855+07:00</updated><title type='text'>Menyalip di Tikungan</title><content type='html'>Menyalip di tikungan merupakan atraksi yang sangat menarik pada sebuah balapan, entah itu untuk roda dua maupun roda empat. Tetapi tentu saja atraksi itu menarik di arena balap, bukan di jalan raya. Di jalan raya biasanya antrian lampu lalu lintas untuk berbelok lebih panjang dari pada mereka yang harus jalan lurus. Dan, kesempatan ini sering dimanfaatkan oleh pengemudi yang tidak sabar dalam antrian panjang untuk mengambil jalur lurus dan ketika lampu menyala hijau, tiba-tiba membelokan kendaraannya. Tentu saja mereka menutup antrian kendaraan lain yang hendak berbelok. Ini juga menyalip di tikungan, tapi, maaf, ini bukan atraksi yang menarik, tapi ini, sekali lagi maaf, adalah bentuk ketidak sopanan di jalanan.&lt;br /&gt;Di lingkungan kerjapun kadang kita temukan hal seperti ini. Ketika harus bersaing dengan kandidat lain, kadang kita terlupa dengan berbagai etika perilaku. Kadang ambisi membutakan kita dengan menutup jalur orang lain untuk menampakkan kinerjanya. Bahkan, kadang kita terlupa dan mengangkat diri kita sendiri dengan berdiri di atas kepala orang lain. Sebenarnya mungkin kita tidak bermaksud untuk menjatuhkan atau merendahkan kandidat lain, tetapi karena keinginan untuk dilihat oleh pengambil keputusan, maka kita berupaya menonjolkan diri, dan cara yang paling mudah untuk menonjol adalah dengan membuat yang lain terlihat merunduk. Menyampaikan ide cemerlang atau jejak sejarah keberhasilan pada atasan kadang memang perlu dilakukan. Tetapi, menambah bumbu laporan dengan kisah kegagalan pihak lain bukanlah sesuatu yang bijaksana.&lt;br /&gt;Seperti katak yang berenang, selalu menjejakkan kaki untuk menekan air. Semoga kita tidak menjadi serupa dengan katak, menjejak kepala teman kita hanya karena sebuah ambisi untuk berkarir lebih tinggi.&lt;br /&gt;Di arena balapan, menyalip di tikungan menjadi daya tarik. Di jalanan, menyalip di tikungan dan menutup jalur kendaraan lain akan membahayakan dan tentu saja mungkin menimbulkan sumpah serapah. Di tempat kerja, menyalip di tikungan dan menutup akses orang lain bukanlah gambaran calon pemimpin yang baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-7808008980710526167?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/7808008980710526167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=7808008980710526167&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7808008980710526167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7808008980710526167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2009/01/menyalip-di-tikungan.html' title='Menyalip di Tikungan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-4764051264847911248</id><published>2008-12-09T15:26:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T15:31:24.574+07:00</updated><title type='text'>Gerimis</title><content type='html'>Kesibukan seringkali membutakan kita pada keindahan kecil yang dianugrahkan Tuhan melalui alam. Ruang kerja yang kebanyakan tak lagi terhubungkan dengan dunia luar menyebabkan kita tak dapat  menikmati bagaimana indahnya jarum-jarum gerimis menyeruak di biasan sinar matahari pagi.&lt;br /&gt;Dulu, ada sebuah blog yang seringkali menulis keindahan-keindahan kecil seperti ini dan aku selalu menikmatinya. Tetapi, sahabat maya ini seperti menghilang entah kemana. Hari ini aku mencoba untuk menggambarkan keindahan seperti itu, dengan bahasa ala kadarnya – setidaknya aku mencoba.&lt;br /&gt;Di gerimis pagi, ada jarum-jarum kecil menyeruak biasan sinar matahari. Mendung putih terkadang menyilaukan mata, tetapi ketika kita lelapkan hati kita ke dalamnya, ada ketenangan yang luar biasa, yang membawa rasa tentram. Terkadang muncul pula pelangi melengkung di kaki langit. Hadirnya seolah mewartakan surgawi yang kekal di atas sana. Saat kecil sering diceritakan, pelangi  adalah tangga menuju surga, dan malaikat yang penuh kasih  turun menyampaikan kebahagiaan tentang sebuah tempat di langit yang berisikan keindahan. Dengan nalar anak berusia empat tahun, aku sangat mempercayainya dan beberapa kali aku bertanya, dimanakah tempat asal pelangi itu? Aku ingin sekali mendakinya.&lt;br /&gt;Setelah gerimis reda, biasanya beberapa serangga mulai aktif. Capung mulai menjelajahi kawat-kawat pagar. Kupu-kupu kecil berwarna kuning akan bergerombol terbang bersama. Burung-burung mulai menampakkan dirinya sambil meregangkan sayap mengibaskan bulunya. Mungkin sekedar menghadirkan kehangatan. Daun-daun meneteskan sisa hujan, satu demi satu, jatuh. Manakala suasana sedang senyap kita bisa mendengarkan suara dan irama tetesan air dari dedaunan yang menyihirkan keabadian. Waktu seolah berhenti.&lt;br /&gt;Pagi ini gerimis. Aku menyempatkan diri menghampiri jendela, memandangi gerimis dan melarutkan diriku menjadi bagian dari kegerimisan itu. Meskipun kali ini pelangi tak hadir, tetapi, sungguh gerimis itu memberi kenyamanan bagi jiwaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-4764051264847911248?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/4764051264847911248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=4764051264847911248&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4764051264847911248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4764051264847911248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/12/gerimis.html' title='Gerimis'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-3828459314123890143</id><published>2008-12-01T11:36:00.002+07:00</published><updated>2008-12-01T11:39:57.758+07:00</updated><title type='text'>Lalu Desember...</title><content type='html'>Berapa Desember yang lalu dalam ingatan? Tak membekas keharuman bumi yang terhiaskan bunga-bunga putih, itu layu tanpa pernah sempat terengkuhkan&lt;br /&gt;Mungkin itu bukan bunga yang putih, karena seandainya putih datang, bukankah kita bisa memandangnya dalam sunyi  yang suci?&lt;br /&gt;Hanya sepotong bunga hutan yang dipetik oleh sekumpulan peri di tengah malam, yang kemudian meninggalkannya begitu saja, tanpa pernah berpikir untuk apa dan mengapa.&lt;br /&gt;Lalu Adampun datanglah bersama perempuannya, melihat potongan bunga hutan – apapun namanya, itu lebih suci dari pada tebaran melati yang telah dipegang oleh tangan-tangan kotor dibungkus mantera para dewa.&lt;br /&gt;Ada yang melengkingkan kalimat yang  tak henti memukuli  gendang di telinga, ”Januari mengeras di tembok itu juga, lalu Desember..”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa Desember lagi, mungkin peri itu akan datang nanti malam, mengambil kembali bunga hutannya yang tergeletak – maka ambillah sekarang.&lt;br /&gt;Sembunyikanlah di dalam jiwamu yang paling dalam, karena bunga itu mungkin kelak akan menjadi lebih putih dari kuntuman melati yang ditebar dan diinjak-injak oleh para tamu. Tak akan ada yang pernah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Sapardi Djoko Damono&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Buat Ning&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, musikalisasi puisi oleh &lt;em&gt;Dua Ibu&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-3828459314123890143?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/3828459314123890143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=3828459314123890143&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3828459314123890143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3828459314123890143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/12/lalu-desember.html' title='Lalu Desember...'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-6785186945214122571</id><published>2008-11-29T09:07:00.002+07:00</published><updated>2008-11-29T09:13:49.191+07:00</updated><title type='text'>Hanya Ada Yang Tak Ada</title><content type='html'>&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;em&gt;Luka  itu bukan milik siapa-siapa karena tak ada siapapun yang pernah memiliki apapun&lt;br /&gt;Ini sisa kemarin sore yang tak hengkang meskipun separuh samudera telah menorehkan jejaknya yang baru di atas pasir dan meskipun kita juga telah menghapusnya dengan seribu bunga yang kita beli dalam tidur kita yang tak nyenyak itu.&lt;br /&gt;Percuma saja, karena kita memang tak ingin ada jejak yang terhapus,&lt;br /&gt;Karena pada akhirnya, setiap hidup menyajikan kisahnya sendiri entah itu berharga ataupun sekedarnya. Itupun hanya permainan kata-kata, apakah itu bermakna atau tidak bukanlah karena memiliki atau tidak, karena, tak ada siapapun yang pernah memiliki apapun&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-6785186945214122571?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/6785186945214122571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=6785186945214122571&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6785186945214122571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6785186945214122571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/11/hanya-ada-yang-tak-ada.html' title='Hanya Ada Yang Tak Ada'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-5960892013617400500</id><published>2008-11-29T08:33:00.003+07:00</published><updated>2008-11-29T08:49:23.738+07:00</updated><title type='text'>Statistik</title><content type='html'>Mempelajari statistik bukanlah perkara mudah, apalagi bagi mereka yang terlahir dengan bakat seadanya di bidang angka-angka. Tetapi, mari kita lihat dari sudut pandang yang lain. Bukankah statistik tak lebih dari sebuah sejarah? Tak ada bedanya angka-angka statistik yang bisu dan dingin itu dengan sebuah batu candi yang teronggok di panas dan hujan. Mereka sama dingin dan bisunya. Mereka sama tak berartinya tanpa kita mencoba memahaminya. Mereka bahkan tak peduli pada apapun yang terjadi dengan atau tanpa kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka-angka statistik adalah kumpulan masa lalu yang dibawa ke masa kini, dan kita mencoba memahami apa yang terjadi di masa terjadinya peristiwa itu. Bukankah sejarah juga demikian?&lt;br /&gt;Statistik menunjukkan angka kematian ibu melahirkan di negara ini masih tinggi. Apalah arti angka ini bagi mereka yang tak paham akan makna kematian seorang ibu? Statistik kematian ibu menggambarkan pada kita sebuah kepedihan, ketakutan, ketidakjelasan masa depan bahkan mungkin sekali sebuah keluarga yang di dalamnya tanpa kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka statistik tentang pengangguran menunjukkan peningkatan. Kita tak akan mampu memahami angka ini apabila kita tak mampu memaknai (dengan jiwa kita) arti sebuah pengangguran. Statistik angka pengangguran membukakan hati kita tentang sebuah keterpurukan ekonomi, ketidakberdayaan hidup, anak-anak yang tidak cukup gizi dan pendidikan, rasa lapar, kedinginan, kesuraman masa depan, bahkan punahnya suatu generasi karena kemorosotan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, cobalah untuk memandang statistik dan sejarah adalah suatu disiplin kembar, yang membantu kita memahami peristiwa. Seperti kita mencoba memaknai setiap peristiwa sejarah sebagai sebuah proses dan peristiwa budaya, seperti itulah juga kita harus memaknai angka statistik. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tanpa pemaknaan tersebut, angka statistik dan sebuah batu candi, tak lebih dari kebisuan tanpa makna, dan sudah pasti, kita tak akan pernah peduli. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-5960892013617400500?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/5960892013617400500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=5960892013617400500&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5960892013617400500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5960892013617400500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/11/statistik.html' title='Statistik'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-144093306920132160</id><published>2008-11-26T15:41:00.003+07:00</published><updated>2008-11-26T16:17:33.058+07:00</updated><title type='text'>Tersisih</title><content type='html'>Tersisih menjadi kata yang tidak baik bagi perasaan, karena menimbulkan ketidaknyamanan, memunculkan kesedihan, menjadikan debar jantung meningkat, telinga menjadi merah, dan terkadang tanpa sadar mata mengeluarkan airnya. Tak ada yang menyukai menjadi pihak yang tersisih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kehidupan tak akan lepas dari ketersisihan ini. Pohon-pohon muda yang lebih kokoh tumbuh baru, dan waktunya bagi pohon yang lebih tua untuk dipangkas.&lt;br /&gt;Soekarno, pahlawan proklamasi bangsa ini, merupakan contoh bagaimana sebuah ketersisihan harus dihadapi, demikian pula Soeharto. Mereka adalah orang-orang yang disisihkan, mungkin meradang, mungkin menerima dengan lapang, mungkin menangis. Tersisih, karena harus berhenti pada waktu yang seharusnya belum berhenti. Terlepas dari berbagai kesalahan yang diperbuatnya, Soekarno tersisihkan bahkan menjadi tahanan di rumahnya sendiri tanpa komunikasi, tanpa boleh bertemu dengan sahabat-sahabatnya, bahkan yang paling ironis, tanpa dapat bertemu dengan rakyat yang sangat dicintainya. &lt;br /&gt;Demikian pula dengan Soeharto. Bagaimana rasa tersisih itu muncul ketika orang-orang yang selama ini dekat dengan dirinya atas nama rakyat, tiba-tiba berpaling dengan juga mengatasnamakan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, mungkin sekali kita menghadapi ketersisihan. Ketika jalan kita mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan jalan yang diinginkan atasan, biasanya kita tersisih dengan jalan minoritas yang kita yakini kebenarannya. Atau, ketika terjadi persaingan untuk meraih tangga yang lebih tinggi, dan kita disingkirkan oleh kelompok lain yang lebih kuat, ketersisihan itu akan dirasakan. Mungkin kita menerima dengan lapang. Mungkin juga ada sakit hati. Tetapi bukankah itu bagian dari kehidupan alamiah yang harus dilalui?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah kehidupan. Ada malam-malam yang panjang seolah waktu enggan mengalir dan kita dibuatnya tertekan. Tapi, selalu ada matahari pagi. Di setiap hujan, akan terbit matahari, di setiap kemarau akan hadir hujan. Mereka yang hanya menyukai kemarau akan memancarkan kebencian pada hujan, Tetapi mereka yang menyadari makna kehidupannya bagi orang lain akan menyukai keduanya, karena mereka sadar, tak akan ada siang  kalau tak ada malam.&lt;br /&gt;Seperti  juga daun, satu persatu harus mengalah untuk tumbuhnya tunas baru. Bila daun itu tumbuh bersama-sama dan berdampingan, salah satu harus mengalah untuk sempurnanya daun yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya ingin mengutip &lt;strong&gt;Stan Shih&lt;/strong&gt;, Chairman - CEO Acer, dalam bukunya &lt;strong&gt;Me - Too is Not My Style &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“....Berbagi adalah satu konsep yang sangat penting dalam menajalankan sebuah bisnis..... Barbagi kepemilikan dengan orang lain membuat kami lebih makmur ..... Berbagi membantu kami memperoleh lebih banyak”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tersisih adalah bagian dari laku hidup yang harus dijalani. Kita bisa memandangnya dari dua sudut. Pertama, kita yakini bahwa segala sesuatu memiliki periodenya sendiri, dan menikmati keberhasilan maupun ketersisihan secara seimbang akan menjadikan hidup makin tenang. Kedua ketersisihan dipandang dengan lapang serupa  keihlasan untuk memberikan kesempatan tumbuh yang sempurna bagi daun lainnya. Dan dengan berbagi, bukankah kehidupan kita akan makin kaya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-144093306920132160?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/144093306920132160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=144093306920132160&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/144093306920132160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/144093306920132160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/11/tersisih.html' title='Tersisih'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2035958955897660540</id><published>2008-11-10T15:56:00.003+07:00</published><updated>2008-11-10T16:02:33.216+07:00</updated><title type='text'>Budi Darma</title><content type='html'>Lama sekali saya tidak marasakan kelezatan santapan rohani dari Budi Darma. Terakhir saya membaca novelnya mungkin sekitar tahun 1996, saya lupa persisnya, yaitu Nyonya Talis. Dulu saya selalu menunggu munculnya karya baru beliau, karena selalu menyisakan “rasa” yang tak seketika hilang. Budi Darma selalu menyisakan pertanyaan yang membuat hati kita miris di setiap akhir petualang dengan tulisannya. Biasanya beliau menulis dengan tokoh aku, yang merupakan manusia biasa dan seringkali penuh kekurangan. Inilah yang jarang dimiliki penulis lain. Di Indonesia, tokoh aku yang manusia biasa dan pragmatis sering juga muncul di novelnya Dini (NH Dini). Tapi, agak berbeda dengan Budi Darma, Dini, mungkin karena keperempuanannya (karena sifat empu – nya) sering menyajikan sifat pragmatis dan kelemahan ini dengan sangat halus.&lt;br /&gt;Budi Darma lebih lugas. Disinilah menariknya. Budi berani menampilkan tokoh-tokoh pengecut, serakah, main kayu, lepas tanggung jawab, dan karakter gelap lainnya, yang mengakui setiap kelemahan, kepengecutan, dan keculasan yang dimilikinya. Ini seperti cermin diri kita, tetapi bedanya kita jarang mengakui kepengecutan dan keculasan kita.&lt;br /&gt;Kita yang selama ini menutupi diri dengan kosmetik sopan santun dan tutur bahasa yang lembut, seolah ditelanjangi dan hanya bisa termenung membaca tulisannya.&lt;br /&gt;Bulan September lalu, satu lagi kumpulan cerita pendek Budi Darma diterbitkan. Judulnya Laki-laki Lain Dalam Secarik Surat. Merupakan kumpulan cerita terbaik. Sayang sekali tidak ada pengantar penerbit mengenai pengertian kumpulan cerita terbaik tersebut, atau terbaik menurut siapa dan apa kriteria pemilihannya, siapa saja yang terlibat dalam pemilihan. Tapi itu hanyalah masalah teknis.&lt;br /&gt;Terbitnya kumpulan cerita ini, mengingatkan kembali pada koleksi lama dan perenungan-perenungan lama yang mulai pudar. Seolah mengasah pisau nurani yang mulai tumpul. Coba kita simak salah satu percakapan dalam Secarik Surat berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan sebagai layaknya seorang bawahan yang paling rendah bertemu dengan seorang atasan yang paling tinggi dan sangat dihormati dan dikagumi maka prajurit itupun memberi hormat yang berlebihan-lebihan sehingga untuk sekilas jendral tertinggi yang terlalu sering menerima sanjungan itu merasa kurang senang....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini cerminan kita? Pada saat menghadap atasan, berupaya membuat kesan luar biasa dengan penghormatan yang bahkan berlebihan? Atau sebaliknya, pada saat staf menghadap, kita merasa seolah tak senang dengan penghormatan yang berlebihan, meskipun, dalam hati kita ada kebanggaan sebagai atasan yang terhormat?&lt;br /&gt;Atau coba kutipan berikut, masih dari cerita yang sama:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hai Prajurit, untuk apakah kau ikut perang?” kata jenderal.&lt;br /&gt;“Tidak tahu, Jendral,” kata prajurit. “Saya kira karena dalam keadaan seperti ini mencari pekerjaan yang mudah adalah mencari pekerjaan sebagai prajurit. Lagi pula saya masih muda dan merasa senang mendapat kesempatan untuk memanggul senapan dan sekali tempo menembakkan senapan untuk menunjukkan bahwa saya betul-betul jantan.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Budi Darma menyeruak hati kita dengan pertanyaan seberapa besarkah idealisme serorang manusia? Apakah “prajurit” selalu identik dengan patriotisme membela negara? Ada perut yang memerlukan makanan dan ada ego yang memerlukan pengakuan. Itulah manusia, dan Budi Darma mengingatkan kita akan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2035958955897660540?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2035958955897660540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2035958955897660540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2035958955897660540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2035958955897660540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/11/budi-darma.html' title='Budi Darma'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-4246112849461117331</id><published>2008-10-31T22:27:00.003+07:00</published><updated>2008-10-31T22:35:22.701+07:00</updated><title type='text'>CSR</title><content type='html'>Komunitas Yogya Semesta kembali berdiskusi. Yang diangkat kali ini adalah peran CSR (Corporate Sosial Responsibility) dalam kaitannya dengan pengembangan industri kreatif di Yogyakarta. Semula agak sulit untuk memahami tema diskusi budaya dan peran CSR untuk pengembangan industri kreatif, meskipun berkali-kali dijelaskan oleh host, bahwa budaya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan mencari nafkah adalah bagian dari budaya. Dengan definisi budaya seperti ini, memang tak ada sisi kehidupan yang tidak dapat dikaitkan dengan budaya. Tapi terlepas dari pemahaman itu sendiri, tema diskusi sebenarnya menarik. Dan menjadi lebih menarik, ketika salah satu pembicara merupakan direktur utama sebuah bank milik pemerintah daerah, dimintai tanggapannya mengenai peran perusahaan untuk mengembangkan industri kreatif.&lt;br /&gt;Dr Supriyatno, MBA, Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Prop. DIY, menyampaikan bahwa bank tidak mungkin lepas dari CSR, karena CSR itu sendiri melingkupi semua organisasi bisnis. Pernyataan ini menjadi menarik, bila kita lihat fenomena krisis ekonomi yang berawal dari keserakahan manusia.&lt;br /&gt;Pada tulisan ini saya ingin menggaris bawahi pandangan Dr Supriyatno tersebut. Saya ingin menjelaskannya dengan lebih sederhana melalui kasus susu bermelamin. Produk susu ini jelas sekali tidak dapat diterima. Pabrik susu telah mengabaikan masyarakat (bukan hanya konsumen) tapi satu generasi umat manusia. Bayangkan seandainya peredaran susu tidak terkendali seberapa banyak anak manusia yang tak terselamatkan dari bencana? Bukankah itu sama dengan pemusnahan suatu generasi? Meskipun mungkin perusahaan penghasil susu ini memberikan sumbangan yang luar biasa bagi masyarakat lewat bantuan sosialnya, tidak berarti perusahaan itu telah melaksanakan perannya sebagai perusahaan yang bertanggung jawab kepada lingkungannya.&lt;br /&gt;CSR bukan sekedar berbaik hati membagi-bagikan modal dan membangun saluran air bersih di sebuah desa. CSR tidak dapat diartikan sekedar memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. CSR adalah jiwa dari sebuah bisnis. Karenanya, setiap keputusan, entah itu keputusan strategis, proses bisnis, maupun putusan apapun harus dilandasi dengan pertanyaan, apakah keputusan ini akan memberi manfaat bagi umat manusia, atau sebaliknya menjadikan kehidupan yang lebih kelam. Transaksi short selling di pasar uang yang sekedar mengambil keuntungan (tanpai adanya nilai tambah yang bisa dinikmati konsumen) bukanlah cermin dari kebijakan yang berlandaskan CSR. Penggelembungan harga saham yang tidak didukung dengan aset yang nyata meskipun hasil dari mekanisme pasar adalah contoh diabaikannya CSR dalam perusahaan. Pembuatan produk berbahaya seperti susu dengan melamin atau mainan anak yang mengandung bahan pewarna berbahaya adalah contoh lain lagi dari diabaikannya CSR. Di bidang perbankan, pemberian kredit yang tidak hati-hati dan hanya menuruti keinginan nasabah yang kadang kala tanpa perhitungan matang dapat menjadikan kredit tersebut macet. Ketidak hati-hatian ini juga merupakan contoh pengabaian CSR. Nasabah kredit mengalami kerugian karena salah perhitungan yang dapat berdampak dengan berhentinya kegiatan usaha atau bahkan kehilangan rumah tinggal yang dipakai sebagai agunan. Di sisi yang lain nasabah penabung dirugikan karena bila bank sampai mengalami kesulitan likuiditas, mereka akan sulit menarik kembali depositnya.&lt;br /&gt;CSR pada akhirnya akan membentuk masyarakat madani. Karenanya tanggung jawab CSR bukan hanya di perusahaan, tetapi di masyarakat itu sendiri. Perusahaan hanyalah bagian kecil dari suatu sistem yang akan mengantarkan manusia menuju peradaban baru, yaitu peradaban tanggung jawab sosial. Setiap kita akan menjadi pelaku aktif.&lt;br /&gt;Menurut saya, inilah konteks yang paling tepat, manakala kita membicarakan CSR dan kebudayaan. Entah itu untuk industri kreatif maupun industri apapun juga. CSR menuju masyarakat madani sebagai sebuah budaya baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-4246112849461117331?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/4246112849461117331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=4246112849461117331&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4246112849461117331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/4246112849461117331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/10/csr.html' title='CSR'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-5223752230556022993</id><published>2008-10-31T22:24:00.001+07:00</published><updated>2008-10-31T22:38:33.725+07:00</updated><title type='text'>Ilmu Ekonomi</title><content type='html'>Apakah yang terjadi apabila mereka yang pernah belajar ilmu ekonomi berkumpul dengan latar belakangnya masing-masing dalam sebuah diskusi tentang krisis keuangan saat ini? Berbagai pendapat dan berbagai asumsi. Itulah ilmu ekonomi. Ilmu tentang model dengan asumsi dan faktor error yang tidak dapat diukur oleh model. Namun ada hal yang berbeda ketika ada diskusi internal pengurus ISEI Yogyakarta membicarakan krisis keuangan yang saat ini terjadi. Nampaknya para ekonom semakin menyadari adanya sesuatu yang tidak terjelaskan dalam model (faktor error) dapat berpengaruh besar dalam pembangunan ekonomi. Setidaknya, ekonom yang mengikuti diskusi sekaligus syawalan pengurus ISEI Yogyakarta tersebut sepakat untuk mengatakan bahwa pembangunan ekonomi memerlukan model yang lebih memadai untuk memahami perilaku manusia. Model ekonomi yang selama ini menganggap manusia rasional nampaknya perlu diperbarui.&lt;br /&gt;Saya sendiri sependapat dengan pandangan seperti ini. Ilmu ekonomi pembangunan nampaknya melupakan pendekatan perilaku manusia. Apakah ini berarti ilmu ekonomi harus digabungkan dengan ilmu budaya dan disiplin psikologi? Mungkin sekali. Nampaknya ekonom memiliki pekerjaan rumah baru, yaitu mendefinisikan terminologi manusia rasional. Dulu, saat mempelajari konsep utilitas, mahasiswa ekonomi diberi contoh tentang makan dan minum yang pada suapan atau tegukkan pertama terasa sangat nikmat, sehingga nilai utilitasnya tinggi dan menimbulkan kepuasan yang tinggi. Ketika memasuki tegukkan berikutnya, nilai kepuasan makin turun, karena manusia sudah tidak sehaus sebelumnya. Perbedaan utilias dan dengan demikian berarti perbedaan kepuasan tersebut dinamakan marginal utilitas. Marginal utilitas ini makin menurun bahkan dapat mencapai negatif apabila dahaga telah hilang, tetapi kita terus minum. Yang muncul adalah rasa tidak nyaman di lambung. Puncak kepuasan manusia adalah ketika marginal utilitas mencapai titik nol. Inilah pengertian rasionalitas dalam model ekonomi yang selama ini dipelajari.&lt;br /&gt;Seandainya manusia seperti ini, maka tidak akan ada krisis ekonomi. Masalahnya, manusia tidak sekedar terpuaskan secara fisik. Manusia ternyata bukan sekedar mahluk rasional yang mengkonsumsi secukupnya. Kekayaan serupa air garam, yang tak pernah memuaskan dahaga. Manusia tak pernah cukup. Keserakahan menjadi motif bertransaksi (bukan kekayaan).&lt;br /&gt;Akhirnya, untuk menutup, saya ingin mengutip makalah Edy Suandi yang disajikan dalam diskusi tersebut, “ &lt;em&gt;kondisi ekonomi dunia yang saat ini tengah menghadapi krisis keuangan global telah banyak menyebabkan persoalan bagi ekonomi dunia. Hal ini merupakan akibat dari fondasi dasar dan paradigma keilmuan yang mendasarinya dipraktekkan bersebarangan dengan nilai kemanusiaan dan mengingkari sejumlah ideologi dasarnya ........... Oleh karena itu meluruskan kembali ilmu ekonomi agar sesuai dengan filosofi dan realitas kehidupan manusia menjadi urgen dilakukan.......&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Waktunya untuk melihat realitas keserakahan manusia, dan waktunya untuk mengembangkan pendekatan ekonomi yang mau tidak mau harus membatasi keserakahan tersebut. Itulah tugas ekonom saat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-5223752230556022993?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/5223752230556022993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=5223752230556022993&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5223752230556022993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5223752230556022993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/10/apakah-yang-terjadi-apabila-mereka-yang.html' title='Ilmu Ekonomi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2193139467676807215</id><published>2008-09-27T11:23:00.003+07:00</published><updated>2008-09-27T12:12:47.726+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kadang kala saya ingin menulis sesuatu yang berbeda dengan tulisan-tulisan lain di blog ini. Berikut ini ada contoh sesuatu yang berbeda tersebut. Sebenarnya tidak banyak perbedaannya dengan tulisan-tulisan lain, terutama menyangkut tema yang diangkat. Perbedaan yang pokok adalah menulis tidak dengan aturan bahasa. Mungkin semacan prosa liris atau semacam puisi, apapun itu, saya akan mengabaikannya saja.&lt;br /&gt;Apakah tulisan-tulisan seperti di bawah ini memiliki makna tertentu? Saya tidak mencoba memaknainya secara khusus. Apa yang saya tulis keluar begitu saja. Kalau ada teman-teman yang melihat suatu makna di dalamnya saya akan sangat berterima kasih bila pemaknaan itu dituliskan pada ruang komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hujan yang pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;&lt;em&gt;Hujan yang pertama membawa turun debu-debu dari langit ke atas genting untuk akhirnya jatuh ke bumi.&lt;br /&gt;“Bau debu ini sungguh harum”, bisik sebuah suara, tapi dimanakah ada yang mendengar berita tentang harum debu yang tertitik air hujan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang pertama membasuh daun-daun dan pepohonan serta taman rumput yang merengas.&lt;br /&gt;“Bau rumput basah ini sungguh harum”, bisik sebuah suara, tapi dimanakah ada yang mendengar tentang harum pepohonan dan rerumputan yang tertitik air hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak pernah tahu tentang makna, katamu.&lt;br /&gt;Siapakah yang ingin peduli apakah bermakna atau tidak sebuah harum rerumputan yang terbasuh air hujan yang turun bersama debu-debu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bait suci, yang dinyanyikan dengan oboe, serupa dengan desah burung malam yang memanggil jibril, kepada siapa ia meratap.&lt;br /&gt;Tapi, siapakah yang masih peduli pada sebuah lagu usang yang dinyanyikan oleh burung malam yang kelaparan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hujan yang pertama, hanya ada suara katak berteriak sumbang dan bau lumpur yang tak layak kau sandingkan dengan samsara.&lt;br /&gt;Ini hanya hujan yang pertama, yang besok akan mengantarkan hujan kedua, ketiga dan seterusnya dan mengairi kota ini dengan banjir dan menutupi tanah pertanian dan rumah tinggal degan tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, suara yang berbisik itupun menghilanglah, di sebuah senja menjelang malam yang menggigil gemetar karena hujan yang pertama...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(yogyakarta, 18 – 27 september 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;em&gt;Hari ini Idul Fitri&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;&lt;em&gt;Perempuan itu menyiapkan panganan dengan tangan yang gemetar.&lt;br /&gt;Akankah hadir seorang laki laki dan coletah tiga bocah yang membekas kenangan dalam bilangan puluhan tahun berlalu.&lt;br /&gt;Meja itu&lt;br /&gt;Dulu tempat membelah ketupat dari sisa sisa keringat yang tak pernah sempat kering&lt;br /&gt;Satu perempatnya untuk mereka berdua, satu perempatnya untuk si sulung, satu perempatnya untuk tengah, dan satu perempatnya untuk bungsu.&lt;br /&gt;Tapi pembawa pesan itu tadi malam telah datang&lt;br /&gt;Siapkanlah, karena akan ada banyak tamu yang datang&lt;br /&gt;Siapakah? Bukankah semua telah tak berbekas&lt;br /&gt;Tapi bungsu, tengah, dan sulung berkelabat dalam sebuah rengkuhan&lt;br /&gt;Tangan dan wajah yang tak akan pernah terlupakan&lt;br /&gt;Menyatu&lt;br /&gt;Dingin&lt;br /&gt;Senyum&lt;br /&gt;Di rumah itu tamu yang datang tak pernah sebanyak hari itu&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;(Yogyakarta, 27 September 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2193139467676807215?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2193139467676807215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2193139467676807215&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2193139467676807215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2193139467676807215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/09/kadang-kala-saya-ingin-menulis-sesuatu.html' title=''/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-3176185753673568577</id><published>2008-08-29T23:41:00.000+07:00</published><updated>2008-08-29T23:50:29.898+07:00</updated><title type='text'>Di negeri ini, penduduk harus diyakinkan .....</title><content type='html'>Di negara ini, seorang pemimpin tidak boleh nampak salah, apalagi disalahkan oleh masyarakatnya. Karenanya seribu ilusi disajikan mengenai keberhasilan dan kemilau emas gedung pencakar langit serta ukuran pendapatan percapita. Di negara ini, pemimpin tak boleh salah, karenanya lihatlah di kota-kota besar, harus tersedia pangan yang cukup dengan gerai mewah dan harga yang bahkan dalam khayalan seorang anak dari kelompok yang tersisihkan, tak pernah terbayangkan.&lt;br /&gt;Di negara ini, masyarakat hidup tentram, pangan tersedia cukup, ekonomi pasar bebas menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Lihatlah, apa yang kau cari? Gucci, Prada, Ferari? Semua ada. Bahkan pernah seorang anak bangsa ini memiliki saham di perusahaan mobil mewah di negeri seberang benua.&lt;br /&gt;Lihatlah kota besar di negera yang sentosa dan makmur ini, mobil mewah akan bersimpangan di jalan, mungkin lebih banyak dari pada di negara tempat asalnya sendiri. Bukankah ini bangsa yang makmur? Karenanya, kekuasaan harus stabil. Tak boleh ada pihak yang meragukan pemimpin dan kepemimpinan di negeri  ini&lt;br /&gt;Bangsa ini akan memberontak terhadap kekuasaan ketika penguasa melakukan kesalahan – artinya penguasa telah lemah. Siapa yang mau dipimpin oleh orang yang lemah?&lt;br /&gt;Di negara ini penguasa tak boleh salah, karena dalam dongeng sejarahpun dituturkan bahwa Syeh Siti Jenar harus nampak salah, dan untuk itu, para pemimpin agama di kerajaan Demak berihtiar mengganti mayatnya dengan seekor bangkai binatang.&lt;br /&gt;“Tak ada yang bisa dilakukan, kalau Jenar tidak dihukum mati dan dipersalahkan atas ajaran yang sesat, maka ketentraman masyarakat akan terganggu.&lt;br /&gt;Demi stabilitas dan ketentraman rakyat, pemimpin harus benar, sekalipun itu mungkin harus dengan membuat sebuah kebohongan baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-3176185753673568577?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/3176185753673568577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=3176185753673568577&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3176185753673568577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3176185753673568577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/08/di-negeri-ini-penduduk-harus-diyakinkan.html' title='Di negeri ini, penduduk harus diyakinkan .....'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-8160364541591525998</id><published>2008-08-27T23:13:00.003+07:00</published><updated>2008-08-27T23:18:32.863+07:00</updated><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>Apakah waktu itu nyata, ataukah waktu hanya sekedar ruang  imajiner yang diciptakan manusia? Apakah ruang itu ada? Ataukah ruang hanyalah sebuah imaji manusia tentang tempat keberadaannya? Ataukah waktu adalah dimensi dari ruang yang selalu berubah, tetapi kita tidak mampu memahaminya?&lt;br /&gt;Manusia, mungkin karena belum cukup mampu untuk menyatakan sebuah waktu (menjadikan waktu sebagai sesuatu yang nyata), akhirnya memilih jalan yang sangat sederhana. Dibuatlah satuan-satuan berdasarkan putaran bumi mengelilingi matahari dan putaran bumi terhadap porosnya. Kemudian manusia mendefinisikan hari untuk setiap putaran bumi atas porosnya, dan tahun atas tiap putaran bumi terhadap matahari. Apakah sesungguhnya waktu? Kecuali suatu yang berubah dan tak dapat dikembalikan kembali. Aku yang detik ini menulis, bukan aku yang detik tadi memulai tulisan ini. Ada yang berubah. Secara fisik ada sel-sel yang rusal dan sel-sel tumbuh baru. Pikiranpun berubah. Karena itulah, mungkin saja waktu adalah sekedar suatu imaji tentang perubahan, yang tak mampu ditelaah oleh akal pikiran manusia karena manusia hanya mampu melihat alam dalam wujud fisik.&lt;br /&gt;Waktu ini, aku telah mengalami perubahan dari ketidaksadaran, menjadi aku yg sekarang termasuk di dalamnya mengalami 43 kali putaran bumi mengelilingi matahari. Waktu ini, bangsa Indonesia telah mengalami perubahan dari ketiadaan menjadi sebuah imaji tentang suatu negara.&lt;br /&gt;Maka, karena waktu pula, maka sesungguhnya aku tak akan pernah mendengar bunyi dawai yang sama, karena bunyi biola yang kemarin tentu berbeda dengan bunyi biola yang hari ini. Tak akan ada yang pernah sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-8160364541591525998?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/8160364541591525998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=8160364541591525998&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8160364541591525998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8160364541591525998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/08/apakah-waktu-itu-nyata-ataukah-waktu.html' title='Waktu'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-1024925105349018800</id><published>2008-08-12T13:57:00.005+07:00</published><updated>2008-08-12T16:38:11.897+07:00</updated><title type='text'>Hari Ini Kita Merdeka</title><content type='html'>Hari ini kita merdeka, demikianlah telah diucapkan berkali-kali dalam desah nafas tertahan maupun teriakan lantang, yang dalam buku sejarah dituliskan sebagai hasil perjuangan yang berdarah-darah dan mengorbankan semua yang dimiliki.&lt;br /&gt;Hari ini kita menghitung,  itu telah lalu begitu saja dalam hitungan detak waktu dan enam puluh tiga putaran bumi mengelilingi matahari. Kemarin aku baca di sebuah koran lusuh bekas bungkus nasi untuk makan siangku, berita tentang atap gedung sekolah yang ambruk dan sebuah pernikahan senilai miliaran rupiah.&lt;br /&gt;Hari ini kita merdeka, demikian diucapkan orang-orang sambil berlari, seolah mewartakan bait suci dari mantra-mantra tentang kehidupan yang lebih baik. Tetapi, kemarin aku membaca kisah tentang orang-orang terhormat yang mengambil makanan dari piring orang lain.&lt;br /&gt;Hari ini kita merdeka, hm.... tak beda dengan sebuah slogan iklan rokok. Di hisap, untuk dibuang, dan menyisakan cerita derita..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-1024925105349018800?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/1024925105349018800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=1024925105349018800&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1024925105349018800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1024925105349018800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/08/hari-ini-kita-merdeka.html' title='Hari Ini Kita Merdeka'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-8643004536896915758</id><published>2008-07-07T08:28:00.001+07:00</published><updated>2008-07-07T08:30:27.868+07:00</updated><title type='text'>Reuni</title><content type='html'>Menakjubkan, ketika sebuah pertemuan tidak resmi terjadi  setelah sekian lama  (lebih dari 15 tahun), tidak  bertemu teman-teman lama. Banyak cerita  yang terangkat kembali. Yang paling menakjubkan adalah kemampun manusia untuk melihat kembali setiap kesalahan di masa lalu (termasuk rasa malu yang ada di dalamnya), sebagai sebuah senyuman di masa kini. Tuhan memberi karunia kepada manusia untuk memandang kegetiran masa lalu sebagai cerita indah dan lucu di masa kini.&lt;br /&gt;Takjub yang kedua adalah melihat perubahan fisik yang begitu drastis. Dua puluh tahun lalu, usia masih belum genap seperemat abad. Kini usia telah malampaui empat puluh. Beberapa teman telah meninggalkan dunia hitam dan mulai merambah dunia putih (rambut).&lt;br /&gt;Ada teman yang telah menjadi guru besar di sebuah perguruan tinggi negeri ternama. Ada yang masih terseok-seok menjalani rutinitas hidup. Ada yang mengalir begitu saja seiring dengan putaran roda kehidupan.&lt;br /&gt;Menakjubkan, Tuhan memberkati setiap manusia dengan caranya sendiri yang kita tak pernah mampu memahaminya.Terima kasih kepada teman-teman satu angkatan yang telah bersusah payah untuk sekedar hadir dalam sebuah pertemuan informal yang sangat amat sederhana. Semoga Yang Maha Kuasa memberkati kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-8643004536896915758?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/8643004536896915758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=8643004536896915758&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8643004536896915758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8643004536896915758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/07/reuni.html' title='Reuni'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2964152610667970704</id><published>2008-02-06T14:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T15:37:21.602+07:00</updated><title type='text'>Musim Berlalu</title><content type='html'>Saya belum pernah membaca pemaknaan yang diberikan oleh pendukung lagu (Badai Band) maupun aktris  (Christine Hakim – salah satunya) yang terlibat dalam film Badai Pasti Berlalu (1977).  Ada sebuah lagu yang sangat menarik, bahkan sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc66;"&gt;Musim berlalu, Resah kunanti&lt;br /&gt;matahari pagi, bersinar gelisah. Kini&lt;br /&gt;semua bukan milikku&lt;br /&gt;Musim itu telah berlalu&lt;br /&gt;Matahari segera berganti&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kapan kita pernah memiliki? Memiliki adalah rasa subyektif yang berasal dari dalam diri kita. Setiap ada rasa memiliki, maka kita meminta penegasan dari pihak lain tentang kepemilikan itu. Apabila kepemilikan itu berupa tanah, penegasan kita peroleh dari sebuah lembaga pemerintah bernama Badan Pertanahan Nasional.  Untuk barang-barang lain, legitimasi kepemilikan diwujudkan dalam sebentuk kwitansi pembelian.  Apabila kepemilikan tersebut menyangkut manusia, secara formal penegasan diberikan dalam bentuk  “buku nikah” atau akta perkawinan.  Secara non formal, kepemilikan atas manusia lain ditegaskan dari pernyataan orang  yang kita merasa memilikinya.  (Ah, rumit sekali pemabahasan untuk ini).&lt;br /&gt;Artinya, kepemilikan yang kita akui sebenarnya hanyalah pemaknaan yang subyektif, dan di dalam subyektivitas itu selalu memunculkan keraguan.&lt;br /&gt;Ketika musim berlalu, ketika kita tidak lagi menjadi pemilik dari "pusat grafitasi bumi", ketika kita tak lagi menjadi pemilik matahari atau bintang-bintang, ketika predikat  &lt;em&gt;the raising star&lt;/em&gt;  bukan lagi menjadi milik kita, kita menjadi gelisah. Dan setiap kegelisahan menimbulkan pertanyaan, sampai kapankah aku harus menanti ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2964152610667970704?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2964152610667970704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2964152610667970704&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2964152610667970704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2964152610667970704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/02/musim-berlalu.html' title='Musim Berlalu'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-3138265349524469130</id><published>2008-01-31T11:54:00.000+07:00</published><updated>2008-01-31T12:01:47.880+07:00</updated><title type='text'>Kita memang bersandar pada mungkin</title><content type='html'>Tiba-tiba saja, potongan bait-bait puisi menyeruak ke dalam pikiranku. Entah kenapa, mungkin karena sedang mengalami suatu peristiwa yang menyakitkan dan tidak mampu dikendalikan. Mungkin juga merasa kehilangan teman teman yang menurutku bisa menjadi tempat bersandar pada saat mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,&lt;br /&gt;mungkin pula tak kekal.&lt;br /&gt;Kita memang bersandar pada mungkin.&lt;br /&gt;Kita bersandar pada angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dan tak pernah bertanya: untuk apa?&lt;br /&gt;      Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada&lt;br /&gt;sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,&lt;br /&gt;mungkin akan tetap juga di sana – apa pun maknanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, mengapa kita harus selalu bertanya tentang apa dan mengapa? Bukankah lebih nyaman bila hidup ini diterima sebagai sebuah fungsi linear, yang didalamnya kita hanya larut pada variabel-variabel eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan puisi di atas milik Goenawan Mohamad  berjudul Pada Sebuah Pantai: Interlude. Judul ini sendiri kemudian mengembangkan dalam imajinasi dan mengingatkan pada novel Dini yang aku baca ketika SMP dulu, “Pada Sebuah Kapal”.  Untuk koleksi puisi, masih dapat ditemukan pada buku “Puisi Pilihan Goenawan Mohamad”. Sebuah kumpulan puisi yang dipilih dan diedit oleh Laksmi Pamuntjak.  Sedangkan “Pada Sebuah Kapal”, telah hilang entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;Pada Sebuah Pantai: Interlude&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.&lt;br /&gt;Yakni ketika pasang berakhir, dan aku menggerutu”masih tersisa&lt;br /&gt;harum lehermu”; dan kau tak menyahutku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di pantai, tepi memang tinggal terumbu,&lt;br /&gt;            Hijau (mungkin kelabu)&lt;br /&gt;            Angin amis. Dan&lt;br /&gt;            di laut susut itu, aku tahu,&lt;br /&gt;            tak ada lagi jejakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari sebuah dongeng&lt;br /&gt;tentang jin yang memperkosa putri yang semalam&lt;br /&gt;mungkin kubayangkan untukmu, tanpa tercatat, meskipun pada&lt;br /&gt;pasir gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bukankah matahari telah bersalin dan&lt;br /&gt;      melahirkan kenyataan yang agak lain &lt;br /&gt;      Dan sebuah jadwal lain?&lt;br /&gt;      Dan sebuah ranjang &amp;amp; ruang rutin, yang&lt;br /&gt;      Setia, seperti sebuah gambar keluarga&lt;br /&gt;      (dimana kita, berdua, tak pernah ada)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tidak aneh.&lt;br /&gt;      Tidak ada janji&lt;br /&gt;      pada pantai&lt;br /&gt;      yang kini tawar&lt;br /&gt;      tanpa ombak&lt;br /&gt;      (atau cinta yang bengal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,&lt;br /&gt;berberes dalam sebuah garis dan berkata: “Mungkin tak&lt;br /&gt;ada dosa, tapi yang ada percuma saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil&lt;br /&gt;       Dan itulah soalnya.&lt;br /&gt;       Dimana ada keluh ketika dari pohon itu&lt;br /&gt;       mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan&lt;br /&gt;       ketika kini tinggal panas &amp;amp; pasir yang&lt;br /&gt;       bersetubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,&lt;br /&gt;Dimana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-&lt;br /&gt;kalimat bisa berlarat-larat (setelah&lt;br /&gt;semacam affair singkat), dan kita menelan ludah sembari berkata: “Wah, apa daya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita memang tak taramat berbakat untuk&lt;br /&gt;menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula dalam sebuah sajak sentimentil hanya ada satu&lt;br /&gt;dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah memberi&lt;br /&gt;tanda DILARANG MENANGIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang&lt;br /&gt;padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,&lt;br /&gt;mungkin pula tak kekal.&lt;br /&gt;Kita memang bersandar pada mungkin.&lt;br /&gt;Kita bersandar pada angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak pernah bertanya: untuk apa?&lt;br /&gt;Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada&lt;br /&gt;sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,&lt;br /&gt;mungkin akan tetap juga di sana – apa pun maknanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt; Goenawan Mohamad&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-3138265349524469130?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/3138265349524469130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=3138265349524469130&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3138265349524469130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3138265349524469130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/01/kita-memang-bersandar-pada-mungkin.html' title='Kita memang bersandar pada mungkin'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-1688736566166871876</id><published>2008-01-29T15:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T15:04:07.820+07:00</updated><title type='text'>Memahami Lingkungan</title><content type='html'>Ada kalimat yang sangat menarik dari sebuah buku lama yang terlupakan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Satu kapal berlayar ke timur dan  yang lain ke barat dengan tiupan angin yang sama. Susunan layarlah yang menunjukkan pada mereka arah perjalanan, bukan embusan angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini seperti mengingatkan kita semua untuk kembali memaknai diri sendiri. Bukan lingkungan yang menyebabkan tujuan hidup tercapai, tetapi bagaimana kita mengatur diri sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan boss, ketika tidak diberi peluang untuk memimpin suatu proyek prestisius. Anda tidak  bisa menyalahkan orang tua atau sekolahan anda, ketika gagal untuk mengikuti ujian. Anda tidak bisa menyalahkan guru agama ketika menyadari diri anda semakin jauh dari jalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin yang berhembus, di luar kendali anda, jadi jangan minta angin untuk bertiup ke barat, karena anda ingin berlayar ke barat. Ubahlah posisi layar anda. Setidaknya, sadarkan diri anda bahwa mungkin sasaran untuk berlayar ke barat terlalu berat. Orang Jawa mengatakan “iso rumongso”, bukan “rumongso iso”. Artinya bisa merasa, bukan merasa bisa. Bila angin tidak mendukung rencana perjalanan, cobalah untuk berputar, mengubah haluan, dan mengatur ulang posisi. Hanya orang yang tak pernah berpikir yang meminta arah angin untuk berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja Anda luar biasa cemerlang. Target penjualan tercapai. Tidak ada tunggakan pembayaran yang tak tertagih. Tapi, promosi untuk area manager yang Anda yakini hanya masalah waktu, ternyata jatuh ke rekan lain. Anda frustrasi? Pasti. Tapi jangan salahkan boss Anda. Pasti ada alasan mengapa bukan Anda yang dipilih. Mungkin ada pertimbangan lain. Tanyakan pada boss mengenai kekurangan Anda sehingga tidak dipromosikan. Jangan minta boss untuk mengubah kriteria pengambilan keputusan, tetapi pahami kriterianya, dan refleksikan pada diri sendiri,  kriteria apa yang belum Anda penuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketika promosi tak juga Anda raih, ada dua pilihan, pindah  kerja, atau coba baca nasehat berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;strong&gt;“Kami tidak sempurna (tidak berhasil promosi) bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka (yang kariernya melejit), tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri ...”&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;strong&gt;[&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; What Smart People Do When Dumb Things Happen  at Work, Charles E. Watson&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dikutip dari Rumah kehidupan Penuh Keberuntungan, tulisan Gede Prama. Gede Prama sendiri mengutip dari novelnya Seno Gumira, Biola Tak Berdawai.  Kalimat dalam kurung saya tambahkan untuk menyesuaikan dengan konteks bahasan di tulisan ini, tentang promosi. Aslinya, kalimat tersebut untuk menceritakan pemahaman tentang anak-anak cacat. Mereka tidak sempurna bila dibandingkan manusia lain, tetapi mereka sempurna dengan keberadaannya. Dalam konteks tulisan ini, yang dimaksud sempurna adalah melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-1688736566166871876?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/1688736566166871876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=1688736566166871876&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1688736566166871876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1688736566166871876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/01/memahami-lingkungan.html' title='Memahami Lingkungan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-8378732812208025898</id><published>2008-01-26T09:42:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T10:04:09.046+07:00</updated><title type='text'>Kepemimpinan</title><content type='html'>Setiap hari Selasa Wage (perpaduan antara penanggalan nasional dengan penanggalan jawa), komunitas Budaya Yogya Semesta melakukan dialog budaya dengan berbagai tema. Salah satu menarik adalah diskusi pada hari Selasa Wage 22 Januari lalu yang mengangkat tema kepemimpinan. Sebenarnya tema kepemimpinan selalu mewarnai diskusi, tetapi Selasa lalu, khusus dikupas bagaimana kepemimpinan yang seharusnya di Indonesia. Salah satu simpulan pokok yang sangat mengesankan adalah &lt;em&gt;leadership &lt;/em&gt;di Indonesia telah berubah arah menjadi  &lt;em&gt;dealership. &lt;/em&gt;Ini plesetan khas Yogyakarta. Ketika kepemimpinan tidak lagi ditujukan untuk mensejahterakan umat, tetapi lebih untuk mengumpulkan kekayaan, maka pemimpin adalah pedagang, yang dengan wajah dingin akan menjual apa saja yang dimiliki kekayaan bangsa, untuk kepentingan pribadinya. Pemimpin bukan lagi menjadi leader, tetapi dealer dari aset bangsa.&lt;br /&gt;Selain itu, ada satu hal yang sangat menarik. Dari tiga pembicara, semua mengutip kepemimpinan masa lalu sebagai contoh. Berarti, saat ini manusia memang telah kehilangan panutan. Panutan adalah seseorang yang kita ikuti (bahasa jawa, manut berarti menurut).  Dan yang paling menarik, tak ada satupun dari pembicara yang mengangkat contoh bagaimana seorang pemimpin harus mengahiri kepemimpinannya, menyerahkan tahta kepada orang lain yang lebih sesuai dengan kondisi dan situasi terkini. Bukan berarti pemimpin lama adalah pemimpin yang jelek, tetapi lingkungan yang berubah menuntut perubahan cara pandang serta gagasan baru yang relevan.  Persiapan pemimpin  yang tersulit bukanlah menyiapkan pengganti, tetapi menyiapkan diri sendiri untuk menerima kenyataan bahwa eranya telah lewat. Dirinya sudah waktunya untuk diganti. Inilah inti kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan ini, saya ingin mengutip utuh pengantar diskusi, yang ditulis oleh Hari Dendi. Tulisan yang cukup panjang, tetapi saya tidak berhak untuk meringkasnya, karena, sebagaimana pengantar suatu diskusi, pemotongan satu kalimat dapat merusak keseluruhan pemahaman. Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;Dialog Budaya &amp;amp; Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-9:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan Bangsa yang Kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM wawancara dengan Oriana Fallaci tahun 1972, Henry Kissinger mengatakan bahwa untuk menjadi Kepala Negara tidak perlu keintelektualan, tetapi kekuatan, keberanian, dan kecerdikan. Cerdik membutuhkan kecerdasan pragmatik, selain harus tetap dalam alur paradigmatik (Jakob Sumardjo, Kompas, 29/12/2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan Hadirnya Negara yang Kuat&lt;br /&gt;          Sekarang ini dan ke depan memang Indonesia memerlukan pemimpin dan kepemimpinan yang kuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Pemimpin yang kuat, menurut Pimpinan Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL), adalah pemimpin yang paling rendah resistensinya dalam masyarakat. Pemimpin yang kuat berarti juga memiliki konsistensi –satya wacana: satunya kata dengan perbuatan—tegas dan tidak ambivalen sebagai wujud kontrak sosial dengan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transisi politik dari sebuah negara mengandung berbagai ketidakpastian. Transisi tidak selalu menuju demokrasi, meskipun instrumen demokrasi itulah yang diidealkan dan dipilih. Transisi politik bisa saja malah menimbulkan disintegrasi bangsa, jika para pelakunya gagal mengkonsolidasikan demokrasi. Setelah kekuasaan otoriter ditumbangkan, maka dituntut kemampuan untuk menata kembali negara ini. Dari negara yang sekarang belum efektif –belum memiliki kewibawaan dan kekuatan memadai untuk melakukan penegakan hukum dan melindungi warga negara-- menjadi negara yang kuat dan demokratis.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Konsolidasi negara juga tidak akan berhasil tanpa diikuti konsolidasi lembaga politik dan perubahan kultur politik. Serta juga, konsolidasi civil society yang justru pada masa reformasi mengalami kemandegan. Mencoba merefleksi kondisi saat ini, Indonesia sedang mengalami disfungsi sistemik. Lembaga-lembaga negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Presiden berkali-kali menegaskan perlunya korupsi diberantas, tetapi Kejaksaan Agung atau KPK justru kompromis terhadap koruptor, atau setidaknya masih cenderung “tebang-pilih”.&lt;br /&gt;Kerinduan hadirnya negara yang kuat bukanlah negara otoriter dan totaliter, tetapi sebuah negara yang efektif dalam menjalankan pemerintahannya, mempunyai legitimasi yang kuat, dan akuntabel. Demokrasi hanya bisa tegak dan berkembang baik, jika negara dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik, kredibel, dan akuntabel di mata masyarakat. Termasuk konsolidasi negara adalah konsolidasi sistem dan kelembagaan hukum yang memungkinkan negara berjalan berdasarkan rule of law. Penegakan hukum otomatis harus didukung lembaga penegak hukum yang kredibel, akuntabel, dan profesional pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ide negara kuat bukan berarti civil society harus lemah. Civil society yang kuat akan mampu menjalankan perannya sebagai jembatan antara rakyat dengan negara. Civil society yang mampu mencegah agar otoritas negara tidak memasuki domain society secara berlebihan. Civil society yang mampu menjalankan peran sebagai suplemen dan komplemen dari negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang tampaknya sedang dibutuhkan oleh negara dan bangsa kita saat ini. Agaknya kita telah lupa tentang apa tujuan bersama dalam sebuah negara-bangsa. Kalau pun ingat tujuan bangsa —mewujudkan masyarakat adil dan makmur, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia—itu pun miskin implementasi dengan diiringi kurangnya trust antarsesama kelompok sosial di masyarakat dengan para penyelenggara negara &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca pada Kepemimpinan Negara Lain&lt;br /&gt;          Mencari rujukan tentang Pemimpin yang Kuat kita bisa berkaca pada Margaret Thatcher, “Wanita Besi” yang menjadi Perdana Menteri Wanita Pertama yang paling lama dalam kurun waktu lebih dari 150 tahun sejarah Inggris. Ia tidak pernah putus asa jika tanda-tanda kemenangan belum dilihatnya, ia tidak begitu saja langsung memenangkan pertarungan di dunia politik. Beberapa kali Thatcher menelan kekalahan, tetapi terus maju, hingga dipercaya sebagai Menteri Pendidikan, dan akhirnya menjadi Perdana Menteri sepuluh tahun kemudian. “You may have to fight a battle more than once in order to win it”, adalah pernyataannya yang menunjukkan kemauan kuat Thatcher &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura di bawah Lee Kuan Yew, berkembang dari sebuah pulau kecil yang miskin sumberdaya hingga menjadi negara makmur. Profesor Charles Schell dari Manchester Business School, Singapura, menyebutkan, kunci keberhasilan Lee adalah kepiawaiannya mengelola  Arms of Leadership, yakni “kepanjangan tangan” yang memungkinkan pemimpin secara efektif menjalankan sebuah organisasi.&lt;br /&gt;Tidak peduli sebagus apa pun pemimpinnya, tanpa adanya “arms” atau “lengan” kepemimpinan, organisasi tersebut tidak akan dapat berkembang dengan semestinya. Charles Schell menyebutkan dua alternatif lengan kepemimpinan. Tipe I, yaitu melalui penciptaan pemimpin-pemimpin baru (leader creates leaders) yang mempunyai visi dan kemampuan mendekati pemimpin puncak. Tipe II, menciptakan sistem dan prosedur yang dikontrol ketat dan dikompensasi melalui reward and punishment  yang konsisten. Sebuah organisasi yang efektif biasanya memiliki salah satu atau keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Profesor Schell, yang juga konsultan transformasi perusahaan dalam urusan  pengembangan negara-negara dunia ketiga itu, menyebutkan adanya perbedaan yang mendasar dalam gaya pengelolaan Arms of Leadership model Lee dengan Pak Harto, walaupun mereka sama-sama keras dalam sikap politiknya. Seperti Indonesia pada waktu itu, partai oposisi di Singapura juga relatif lemah. Walaupun orang berani mempertanyakan kebijakan pemerintah, tetapi tetap saja mereka tidak dapat berbuat banyak. Lee sendiri pernah menuntut lawan politiknya sampai bangkrut, karena menyebut dirinya sebagai orang yang korup dan tidak jujur.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Perbedaannya terletak pada bagaimana pemerintahan tangan besi Lee Kuan Yew juga diimbangi dengan sistem yang kuat dan penegakan hukum yang baik. Etika dan cara hidup parlemen ditetapkan dengan standar yang tinggi --anggota parlemen dilarang mengunjungi bar untuk minum atau pun sekadar bersosialisasi, apalagi berani menerima “hadiah” tanpa sepengetahuan Lee. Standar yang sama diberlakukan di jajaran pemerintahan: tanpa ampun bagi mereka yang ketahuan berjudi, korupsi, atau pun main wanita. Selain itu, sistem birokrasi yang ketat tetapi tetap terkontrol, sehingga bagi mereka yang mengikuti prosedur dengan benar akan dapat menyelesaikan kepentingannya secara cepat dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sementara Indonesia, meski banyak kesamaan dalam situasi politik, tetapi berbeda jauh dalam law enforcement dan etos kerja. Selain korupsi yang merajalela, kita juga malah tidak akan mendapatkan apa-apa kalau mengikuti prosedur atau birokrasi yang berlaku! Visi seorang pemimpin yang pintar tidak akan terlaksana berdasarkan imbauan atau arahan semata. Seorang pemimpin juga harus cakap dalam membentangkan lengan kepemimpinan dan keteladanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang Kuat: Konsisten, Tegas &amp;amp; Tidak Ambivalen&lt;br /&gt;          Jikalau saja kita bisa menemukan seorang pemimpin kuat yang akan memimpin bangsa dan negara ini, niscaya ia akan menjadi orang besar, setelah krisis mampu diatasinya. Orang kuat ini berkualitas transenden, menembus dimensi temporal dan spasial, mengatasi karakter-karakter pemimpin yang selama ini kita kenal. Jenis orang kuat ini harus “berjodoh” dengan impian masyarakat Indonesia sekarang.&lt;br /&gt;Kita tidak bisa lagi meniru orang kuat bangsa-bangsa lain. Orang kuat itu kontekstual. Orang kuat kita di masa lampau, belum tentu cocok dengan konteks kebutuhan sekarang. Orang kuat yang kita cari kini, belum tentu akan menjadi kuat sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Apalagi menjiplak orang kuat dalam sejarah bangsa-bangsa lain, karena mereka memiliki orang kuatnya masing-masing. Setiap zaman melahirkan kualitas orang kuatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya rakyat menginginkan pemimpin yang tegas, berani karena benar, benar karena menurut hukum. Rakyat tidak butuh pameran kelicinan berdebat, tetapi buah dari keintelektualan mereka yang menunjukkan kualitas perbuatan nyata. Tidak terlalu peduli tentang IQ, yang penting berani bertindak tegas sesuai kontrak sosial, jujur, tanpa pamrih, mengutamakan kepentingan bersama, jauh dari aji mumpung, berani tidak populer demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter pemimpin yang demikian itu mungkin banyak kita miliki. Tetapi, pemimpin bangsa adalah juga pemimpin transenden. Ia tidak bisa memunculkan dirinya dengan usahanya sendiri, lebih-lebih di masa-masa krisis besar bangsa ini. Orang yang terlalu percaya pada kerja rasionya, bahwa pemimpin itu dapat diperjuangkan, patut dicurigai kejujuran dan otentitas kepemimpinannya. Ia bukan lagi pemimpin transenden. Karena orang kuat adalah orang panggilan. Siapa yang memanggil? Hati nurani dan jeritan kebutuhan rakyat sendiri. Pemimpin sejati tidak berambisi menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kualitas pemimpin yang demikian itu terpilih menjadi orang kuat, maka kebesarannya akan diuji. Kualitas pemimpin yang demikian itu akan ada di tengah-tengah dualisme yang plural ini. Ia akan “terjepit” antara yang kanan dan kiri, antara mayoritas dan minoritas, antara yang keras dan yang lunak. Kreativitas dan kepekaannya diuji. Di saat-saat inilah keberanian dan ketegasannya terhadap kebenaran mendapatkan tantangannya. Krisis-krisis besar kepemimpinan semacam ini, tidak jarang memakan korban dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarik-menarik kepentingan dualistik yang plural inilah ciri khas Indonesia. Orang kuat Amerika mungkin hanya menghadapi dualisme dua partai. Tetapi, di Indonesia masih menggejala bagaikan api dalam sekam, dualisme partai-partai, dualisme kepercayaan, dualisme rasial, dualisme Bagian Barat dan Timur. Sesungguhnya yang dualistik itu bisa menjadi pasangan komplementer. Karena itu, api di bawah sekam ini akan mudah dipadamkan bila tidak datang tiupan. Belajar dari pengalaman sejarah, orang Indonesia dasarnya terbuka, toleran, mudah diatur, mudah patuh, tidak banyak menuntut, suka mengakurkan hal-hal dualistik, siap menerima yang asing, tidak menyukai sesuatu yang ekstrem &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;.&lt;br /&gt;Orang kuat Indonesia adalah pemimpin yang memenuhi kebutuhan “dunia tengah” manusia Indonesia, di tengah-tengah krisis ini. Dunia tengah itu menyeimbangkan kembali gerak ekstremitas ketidaksukaan terhadap karakter pemimpin-pemimpinnya yang sekarang. Gerak pendulum yang terlalu ke kanan ini, harus ditarik kembali ke arah kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pernyataan Kissinger itu ada benarnya, yang didasarkan pengalamannya sebagai tokoh yang dekat dengan beberapa Presiden Amerika. Bahwa keintelektualan tidak diperlukan dalam jabatan Kepala Negara dapat dibuktikan oleh sejarah Indonesia sendiri. Para pemimpin yang memilih hidup intelektual daripada dalam kecerdikan, seperti Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka, tak pernah populer di mata rakyat. Semua itu disapu bersih oleh Bung Karno yang lebih cerdik, populis dan selebriti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, Soeharto lebih kuat, berani, dan cerdik. Semua itu didukung kekuatan, meski bukan massa tetapi bersenjata. Karena kuat, ia lebih berani dan tegas. Untuk mempertahankan itu semua ia perlu kecerdikan. Jika Soeharto tidak cerdas dan cerdik, tentu tidak akan menguasai Indonesia selama 32 tahun. Menyadari kekurangintelektualannya, Soeharto mengangkat kaum intelektual sebagai pembantu-pembantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Indonesia ke depan hanya dapat dilakukan oleh orang kuat, yang berkarakter sederhana, jujur, tulus, memikirkan rakyat kecil, seperti Bung Hatta. Kharismatik dan patriotik seperti Bung Karno. Berani dan blak-blakan seperti Gus Dur. Kosmopolit seperti Bung Sjahrir. Transenden seperti Mangunwijaya atau Nurcholish Madjid &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteladanan Pemimpin&lt;br /&gt;          Segala formula kepemimpinan tidaklah bermakna bila faktor keteladanan diabaikan. Seorang pemimpin wajib mengedepankan keteladanan dengan menjalankan leadership by example. Bukankah saripati kepemimpinan adalah “memandu jalan dan membawa orang lain ke tujuan bersama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah seorang pemimpin dapat memandu, manakala ia sendiri berjalan dalam kegelapan visi, melangkah dengan kelemahan karakter, dan bergerak maju tanpa kacamata strategi yang tepat? Bagaimana membawa orang lain ke tujuan bersama, jika ia sendiri pun tidak mampu memberikan contoh dan keteladanan yang bisa ditiru? Daya keteladanan merupakan kriteria pokok menjadi pemimpin nasional atau bagian dari kepemimpinan nasional.&lt;br /&gt;Agar dapat menjadi Pemimpin-Peneladan, seseorang harus memiliki integritas dan komitmen yang kuat untuk memimpin secara benar, jujur dan arif. Dalam hubungan ini T Richard Chase menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If a leader demonstrates competency, genuine concern for others, and admirable character, people will follow”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Menurut Booker T. Washington, “Karakter adalah kekuasaan“. Kepercayaan dan keterlibatan pengikut pada akhirnya akan paralel dengan level karakter pemimpin. Karakter adalah hasil pembiasaan dari sebuah gagasan dan perbuatan, seperti dikemukakan oleh Stephen R. Covey:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taburlah gagasan, tuailah perbuatan. Taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, tuailah karakter. Taburlah karakter, tuailah nasib“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya T. Richard Chase menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya jika pemimpin menunjukkan kecakapan, perhatian kepada orang lain secara tulus, dan karakter yang terpuji, maka rakyat akan mengikuti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pakar kepemimpinan John C Maxwell mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The most effective leadership is by example, not edict”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, 90 persen manusia belajar secara visual, sembilan persen secara verbal, sisanya satu persen dengan indra lainnya. Orang belajar dan mengikuti dari apa yang dilihatnya, sehingga kata Maxwell lebih lanjut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A leader’s credibility and his right to be followed are based on his life”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi militer dikenal filosofi kepemimpinan yang diringkas-padat dalam formula “Follow me!” Komandan batalyon akan berkata kepada komandan kompi agar mengikutinya, seterusnya ke bawah. Filosofi “follow me!” menuntut sang komandan berperilaku, bersikap dan bertindak benar di mata anak buahnya &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;. Meski keteladanan, kata yang mudah diucapkan, tetapi bukan “cara hidup” yang mudah diwujudkan. Namun, setidaknya hal itu menjadi rambu moral-etis dan acuan bagi setiap pemimpin. Mudah-mudahan kerinduan rakyat Indonesia untuk memperoleh pemimpin yang patut dijadikan suri teladan dapat terwujud melalui Pemilu 2009 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pada akhirnya, “Trilogi Kepemimpinan: keteladanan, kemauan (political will) dan kompetensi” menjadi syarat mutlak bagi kepemimpinan nasional yang kuat dan berwibawa itu, agar mampu menghantarkan bangsa ini menuju pemulihan kehidupan bangsa yang lebih bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog Budaya &amp;amp; Gelar Seni&lt;br /&gt;Dalam kerangka pikir seperti itu, guna membuka lembaran baru tahun 2008, maka Dialog Budaya &amp;amp; Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-9 akan mengangkat tema “Kepemimpinan Bangsa”, yang akan dicermati dan digali oleh para narasumber Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt., Bupati Sleman, Prof. Dr. dr. Sutarjo, SpAK, Ketua Senat Akademik UGM, Drs. Bambang Purwoko, MA, Staf Pengajar Fisipol UGM/Anggota Tim RUUK DIY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog dipandu oleh Drs. Octo Lampito, Pemimpin Redaksi “KR”, bersama Hari Dendi. Gelar Seni berupa dialog &amp;amp; tembang Prajnaparamita-Sang Amurwabumi arahan Bondan Nusantara &amp;amp; Drs. Sumaryono, MA, diiringi “gamelan ringkes” gabungan ISI-SMKI Yogyakarta asuhan Drs. Sunardi. Digelar di Bangsal Kepatihan, pada malam Slasa Wage, 22 Januari 2008, jam 19.00-22.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 10 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Budaya&lt;br /&gt;“YogyaSemesta”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Dendi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt; Sri Sultan HB X, “Sosok Pemimpin Nasional Visioner yang Kuat, Konsisten, Tegas, dan Tidak Ambivalen”, Konvensi Nasional II Tahun 2004, IKAL, Yogyakarta, 31 Januari 2004.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt; Roy Sembel, “Margaret Thatcher, Pemimpin yang Membawa Perubahan”, Sinar Harapan, 2002.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt; Jakob Soemardjo, “Siapa yang Bisa Dipercaya?”, Rubrik Opini Kompas, 23 Januari 1999.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt; Jakob Sumardjo, “Dicari, Orang Kuat Indonesia”, Kompas, 7 September 2002.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt; Kiki Syahnakri, “(Krisis) Kenegarawanan dan Keteladanan”, Rubrik Opini Kompas, 7 Januari 2004.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-8378732812208025898?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/8378732812208025898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=8378732812208025898&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8378732812208025898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/8378732812208025898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2008/01/kepemimpinan.html' title='Kepemimpinan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-3953958644740561007</id><published>2007-12-09T13:30:00.000+07:00</published><updated>2007-12-09T13:40:21.858+07:00</updated><title type='text'>Sajak SDD: untuk seorang sahabat</title><content type='html'>Ini adalah puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, yang saya pilih untuk mengantar perjalanan panjang seorang sahabat. Banyak sekali yang ingin dituliskan di sini. Ada beberapa alasan, pertama untuk menyalurkan apa yang menjadi pemicu “emosi”. Kedua, setidaknya banyak hal yang bisa kita petik dari sebuah perjalanan panjang seorang sahabat, apalagi bila kita sedikit merenungkan apa yang ditulis dalam bait-bait puisinya SDD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Ning, saya pilih sebagai pembuka, untuk mengingatkan kita semua, bahwa betapa segala sesuatu menjadi sangat singkat, datang dan pergi begitu saja tanpa sempat kita menghitungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam itu beberapa teman menghubungi memberi kabar yang menyesakkan dada. Tak ada yang bisa saya katakan, selain pergilah, sudah tiba saatnya, berdukalah...&lt;br /&gt;Menyekap beribu kata di antara karangan bunga. Tak ada yang mampu saya keluarkan, kecuali bercakap denganmu dalam senyap. Sore itu memang mendung, angin mereda. Semua merunduk, melapangkan jalan buatmu&lt;br /&gt;Sebagai penutup saya ingin menyampaikan puisi SDD yang sangat terkenal, aku ingin. Dalam setiap diri kita, pastilah terdapat kecintaan yang melampaui dimensi ruang dan waktu. Kecintaan yang sangat sederhana, tetapi tak berbatas oleh nilai-nilai duniawi. Kecintaan seperti ini, tentu saja tak akan muncul bila kita hanya bicara tentang ukuran dunia. Kecintaan yang dilandasi kerinduan untuk bertemu sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buat Ning&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;Pasti datangkah semua yang ditunggu&lt;br /&gt;Detik-detik berjajar pada mistar yang panjang&lt;br /&gt;Barang kali tanpa salam terlebih dahulu&lt;br /&gt;Januari mengeras di tembok itu juga lalu Desember&lt;br /&gt;Musimpun masak sebelum menyala cakrawala&lt;br /&gt;Tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sajak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;Pergilah kerna malam sudah reda. Kau menolehku&lt;br /&gt;Ke padang mana lagi, ke laut&lt;br /&gt;(mencapai sunyi)&lt;br /&gt;tapi sudah tiba saatnya, berdukalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sebelum berangkat&lt;br /&gt;mengapa kita masih juga bercakap&lt;br /&gt;hari hampir gelap&lt;br /&gt;menyekap beribu kata di antara karangan bunga&lt;br /&gt;di ruang semakin maya, dunia purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai tak ada yang sempat bertanya&lt;br /&gt;mengapa musim tiba-tiba reda&lt;br /&gt;kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini&lt;br /&gt;di luar para penggiring jenazah menanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berjalan di belakang jenazah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;berjalan di belakang jenazah anginpun reda&lt;br /&gt;jam mengerdip&lt;br /&gt;tak terduga betapa lekas&lt;br /&gt;siang menepi, melapangkan jalan dunia&lt;br /&gt;di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala&lt;br /&gt;di atas: matahari kita, matahari itu juga&lt;br /&gt;jam mengembang di antaranya&lt;br /&gt;tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sehabis mengantar jenazah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;masih adakah yang akan kautanyakan&lt;br /&gt;tentang hal itu? Hujanpun belum selesai&lt;br /&gt;sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak ada habisnya&lt;br /&gt;bercakap&lt;br /&gt;di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulanglah dengan payung di tangan, tertutup&lt;br /&gt;anak-anak kemballi bermain di jalanan basah&lt;br /&gt;seperti dalam mimpi kuda meringkik di bukit-bukit jauh&lt;br /&gt;barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih adakah? Alangkah angkuhnya langit&lt;br /&gt;alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita&lt;br /&gt;seluruhnya seluruhnya kecuali kenangan&lt;br /&gt;pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku ingin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan&lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-3953958644740561007?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/3953958644740561007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=3953958644740561007&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3953958644740561007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3953958644740561007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/12/sajak-sdd-untuk-seorang-sahabat.html' title='Sajak SDD: untuk seorang sahabat'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2997971445490029616</id><published>2007-12-03T07:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-03T08:01:10.724+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan</title><content type='html'>Apa yang terasa di hati, ketika seorang yang kita kasihi meneruskan perjalanan panjangnya dengan begitu tiba-tiba? Meninggalkan kita dengan rasa tak percaya.&lt;br /&gt;Datang dan pergi adalah bagian dari “ada”. Seperti juga mendapatkan dan kehilangan. Saat  kita mendapatkan, kita harus siap untuk kehilangan. Saat sesuatu datang, kita harus siap untuk kepergian. Ketiadaan adalah bagian dari ada.&lt;br /&gt;Seorang sahabat yang pernah datang dalam kehidupan kita, suatu saat pasti akan pergi.&lt;br /&gt;Sedih? Setiap orang yang kehilangan pasti bersedih. Tapi, ada satu hal yang harus selalu kita ingat. Ketika kau melambaikan tanganmu pada seseorang yang mengayuh perahunya di tepian danau, tersenyumlah, karena di seberang danau itu pasti ada orang lain yang melambaikan tangan menyambut kedatangannya.&lt;br /&gt;Seorang sahabat mungkin telah pergi dari kita. Bumi yang damai, mendung, sedikit gerimis dan angin yang sejuk mengiringinya. Tapi, bukan untuk menjadikan kita sedih. Sahabat kita tak ingin kita bersedih, karena dia tak pernah pergi, kecuali kita sendiri yang tak menginginkan hadirnya di hati kita masing-masing.&lt;br /&gt;Selamat jalan sahabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2997971445490029616?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2997971445490029616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2997971445490029616&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2997971445490029616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2997971445490029616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/12/selamat-jalan.html' title='Selamat Jalan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-7607332954328455017</id><published>2007-11-23T07:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-23T08:04:07.646+07:00</updated><title type='text'>Promosi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0Ym0HJh80I/AAAAAAAAAAs/CKJ6UieigGA/s1600-h/risiko.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135835101776704322" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0Ym0HJh80I/AAAAAAAAAAs/CKJ6UieigGA/s320/risiko.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekali lagi tentang promosi. Sebenarnya apakah yang dicari kebanyakan kita dalam bekerja? Karir yang meningkat, penghasilan yang layak, dan tentu saja lingkungan kerja yang nyaman. Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda terhadap tiga hal di atas. Beberapa orang lebih menyukai punya banyak teman dengan lingkungan kerja yang nyaman meskipun tidak berlimpah uang. Beberapa orang lagi menyukai uang yang melimpah meskipun kerja kurang nyaman. Tidak ada yang salah, karena ini menyangkut pilihan hidup.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Persoalan biasanya akan muncul justru ketika kita ingin mempromosikan seseorang. Ada orang yang lebih nyaman tidak dipromosikan. Apabila orang-orang yang memilih seperti ini adalah orang dengan kualitas yang standar, tentu saja tidak menjadi masalah bagi perusahaan. Tetapi ketika orang-orang yang memiliki kompetensi, kompatibilitas, dan potensi yang tinggi lebih memilih tidak promosi (karena sudah berada pada zona nyaman kemapanan), perusahaan akan dirugikan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Persoalan lain yang labih pelik adalah adanya beberapa orang yang merasa sangat pantas untuk dipromosikan, padahal berdasarkan penilaian termasuk kelompok mereka yang kompetensinya biasa-biasa saja, kompatibilitas dan potensinya rendah. Kelompok ini seringkali menjadi destruktif dengan membuat gerakan-gerakan menghasut, menyebar isu-isu negatif, tentu saja mengancam keteraturan dalam perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menentukan siapa yang berhak promosi bukan pekerjaan sederhana. Dalam kondisi normal kita akan mengatakan, pilih saja mereka yang senior dan memenuhi persyaratan. Masalahnya, ketika para senior tidak memenuhi persyaratan potensi, komptabilitas, dan kompetensi, akankah suatu posisi jabatan dibiarkan kosong menunggu yang muda menjadi senior, ataukah biarkan yang muda meloncati yang tua? Bila mengacu pada buku teks manajemen, tentu saja tidak ada masalah dengan loncatan-loncatan dalam promosi. Tetapi, buku teks adalah dunia laboratorium. Dalam buku teks tidak akan ada orang yang berdemo, tidak ada surat kaleng. Tidak ada protes. Dalam dunia nyata, ketidak-puasan akan secara sadar atau tidak akan diwujudkan dalam protes, entah itu melalui penurunan etos kerja, surat kaleng, hasutan, pengelompokan pegawai yang tidak konstruktif, dan berbagai hal lain yang pasti membahayakan kelangsungan hidup perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pengambilan keputusan adalah hak prerogatif manajemen. Apakah manajemen akan menurunkan standar yang mungkin dapat berdampak pada makin tersisihnya perusahaan dalam peta bisnis persaingan, atau membiarkan jabatan kosong dengan konsekuensi terjadi ketidakadilan dalam pembebanan tugas dan produktifitas yang mungkin menurun (satu kapasitas harus menarik lebih dari satu beban), atau pilihan lain, mengakomodasi terjadinya loncatan-loncatan promosi dengan konsekuensi berbagai bentuk protes.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apapun pilihan manajemen, tugas pejabata eksekutif adalah mengamankan putusan tersebut, bukan sebaliknya, terlibat dalam kelompok-kelompok pegawai yang tidak puas dan turut merusak stabilitas perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-7607332954328455017?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/7607332954328455017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=7607332954328455017&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7607332954328455017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/7607332954328455017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/11/promosi.html' title='Promosi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0Ym0HJh80I/AAAAAAAAAAs/CKJ6UieigGA/s72-c/risiko.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-2892015374822645682</id><published>2007-11-22T08:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-22T08:34:29.458+07:00</updated><title type='text'>Memandang Dengan Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0TbAnJh8zI/AAAAAAAAAAk/ND34Y17haKg/s1600-h/DSCN2461.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135470278664647474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0TbAnJh8zI/AAAAAAAAAAk/ND34Y17haKg/s320/DSCN2461.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0TZ2HJh8yI/AAAAAAAAAAc/4p1jZRXkyvQ/s1600-h/DSCN2616.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135468998764393250" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0TZ2HJh8yI/AAAAAAAAAAc/4p1jZRXkyvQ/s320/DSCN2616.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keindahan, baik-buruk, bagus-jelek, tidak akan pernah menjadi realitas. Seorang anak umur menjelang 5 tahun memandang dengan caranya sendiri, dan jadilah gambar-gambar di atas. Baguskah gambar-gambar itu? Apakah makna sebuah foto sepatu yang harus parkir sebelum masuk ruang kelas? Apakah arti gambar sebuah sepeda yang diparkir di dalam rumah di depan pintu? Seorang anak memandang dengan caranya sendiri, dan karena kepolosan pikirannya, mungkin sekali dia mendapatkan realitas dalam gambar tersebut. Orang-orang dewasa memandang dengan racun-racun yang sudah mengendap dalam pikirannya, maka kita, yang mengaku sebagai manusia dewasa, tak pernah lagi memperoleh realitas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-2892015374822645682?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/2892015374822645682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=2892015374822645682&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2892015374822645682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/2892015374822645682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/11/memandang-dengan-hati.html' title='Memandang Dengan Hati'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/R0TbAnJh8zI/AAAAAAAAAAk/ND34Y17haKg/s72-c/DSCN2461.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-3840680046772862550</id><published>2007-07-16T15:18:00.000+07:00</published><updated>2007-07-16T15:20:50.441+07:00</updated><title type='text'>Gelas Yang Kosong</title><content type='html'>Manakah yang memberikan manfaat, gelas yang masih kosong, atau gelas yang telah berisi penuh?&lt;br /&gt;Manakala kita bicara tentang manfaat sebuah gelas, sebagai tempat air sebelum diminum, maka kita tak akan dapat menggunakan gelas yang telah terisi penuh. Bis kota yang telah penuh sesak dengan penumpang tidak memberikan manfaat bagi calon penumpang yang antri di halte. Kereta api yang telah penuh sesak tidak memberikan manfaat bagi calon penumpang. Komputer yang memorinya telah penuh tak lagi dapat digunakan untuk menyimpan data.&lt;br /&gt;Demikianlah, sesuatu yang kosong memberikan manfaat untuk digunakan. Ketika kita masuk ke ruang kerja di pagi haru, maka akan terasa lebih nyaman bila pikiran kita serupa dengan gelas yang masih kosong, yang siap untuk diisi dengan minuman apa saja, sesuai dengan kebutuhan hari itu. Bila kita masuk ruang kerja dengan pikiran yang penuh – katakanlah kecurigaan terhadap rekan-rekan kerja, maka dunia kerja hari itu akan sangat tidak nyaman. Otak kita akan segera lelah, karena kita harus menjejalkan berbagai hal ke dalam otak yang telah penuh. Apalagi bila otak telah dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif, seperti buruk sangka, ketakutan, atau amarah. Pikiran negatif seperti tembok keras yang tak dapat disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kekosongan yang bagaimana yang bermanfaat? Kekosongan berbeda dengan ketiadaan. Adanya gelas yang kosong, berbeda dengan tak ada gelas. Tak ada gelas, berarti tak ada yang bisa dimanfaatkan. Pikiran yang kosong bukan berarti kita tidak memiliki kerangka berpikir. Pikiran yang kosong adalah sebuah langkah awal untuk memecahkan suatu masalah atau mengambil suatu keputusan. Pikiran yang kosong ini memungkinkan kita  untuk mendengarkan orang lain, melihat dengan berbagai sudut pandang, dan merumuskan berbagai alternatif yang mungkin untuk memecahkan masalah. Pikiran yang kosong tidak berarti kita menjadi manusia yang hanya mengatakan “ya” kepada setiap manusia lain. Bukan pula berarti kita dapat dibentuk menjadi apa saja oleh orang lain. Pikiran yang kosong adalah kemauan kita untuk diisi berbagai pendapat, dan menetapkan suatu pandangan kita sendiri sesuai dengan idealisme kita. Seperti juga gelas yang kosong, dia bermanfaat untuk diisi air minum, tetapi air yang dituangkan ke dalamnya akan terbentuk serupa dengan gelas, bukan gelasnya yang menyesuaikan diri dengan keinginan air.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-3840680046772862550?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/3840680046772862550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=3840680046772862550&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3840680046772862550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/3840680046772862550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/07/gelas-yang-kosong.html' title='Gelas Yang Kosong'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-1761971921036897950</id><published>2007-07-12T07:18:00.000+07:00</published><updated>2007-07-12T07:45:02.083+07:00</updated><title type='text'>Menuju Puncak Karir dan Kehormatan</title><content type='html'>Siapakah yang tidak ingin karirnya melejit serupa bintang? Anak-anak baru yang memiliki perfromance bagus, biasanya akan segera didekati oleh para penyelian dan manajer, untuk dilihat apakah memiliki potensi dikembangkan lebih lanjut. Mereka akan mendapat tugas-tugas khusus yang di luar pekerjaan utamanya. Bahkan mungkin tugas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kelompok ini akan disebut calon bintang. Para penyelia dan manajer menengah yang kelihatan cemerlang akan diamati satu persatu oleh eksekutif. Terkadang diberi tugas yang nampaknya mustahil diselesaikan. Mereka diarahkan untuk menjadi pejabat-pejabat eksekutif. Kelompok penyelia dan manajer menengah yang cemerlang ini dinamakan "&lt;em&gt;the rising star&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;Situasi ini menyebabkan kelompok &lt;em&gt;rising star &lt;/em&gt;berlomba-lomba untuk memoles wajah, menampakkan kecemerlangan, dan menyembunyikan setiap kerut kecil di wajah yang pasti ada (karena manusia sungguh amat sangat sempurna). Kerut kecil dan jerawat tentu saja (dalam anggapan kelompok ini) akan mengganggu penampilan, menyebabkan sinar tidak terpantulkan dengan baik sehingga mereka tak nampak cemerlang.&lt;br /&gt;Salahkah? Tentu saja tidak. Setiap orang berhak untuk menyajikan yang terbaik menurut mereka dan menyembunyikan yang jelek. Bukankah kita semua berlaku demikian? Lihatlah iklan-iklan yang kita buat untuk perusahaan kita (kecuali iklan rokok - yang dengan jujur mengatakan bahaya merokok, meskipun regulasi yang mengaturnya memang mengharuskan demikian).&lt;br /&gt;Tak ada yang salah, ketika staf ingin menunjukkan pada atasannya bahwa dia pegawai terbaik dan pantas untuk promosi lebih lanjut. Tak ada yang salah, ketika staf mencoba menjalin jaringan emosional dengan teman-teman untuk mendukung penampilannya.&lt;br /&gt;Tetapi, ketika hubungan-hubungan emosional ini digunakan sebagai kosmetik untuk menunjang performance, ketika hubungan-hubungan tersebut dimanfaatkan untuk batu loncatan, atau ketika seseorang menonjolkan kelemahan orang lain bukan menunjukkan kelebihan dirinya (yang mungkin hanya biasa-biasa saja), maka kita memasuki wilayah etika. Etika tidak bicara benar dan salah. Etika bicara tentang kepatutan perbuatan.&lt;br /&gt;Etika kekawanan berbicara tentang perbuatan yang pantas dan tidak pantas kita lakukan pada orang-orang di sekitar kita. Tidak ada yang melarang orang untuk memanfaatkan teman untuk mendorong karir. Tetapi etiskah bila kekawanan hanya ditujukan untuk itu? Etiskah bila hubungan kekawanan segera beralih manakala kepentingan pribadi sudah tak terpenuhi lagi?&lt;br /&gt;Puncak karir adalah kehormatan. Tetapi menjadi orang terhormat adalah sesuatu yang berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-1761971921036897950?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/1761971921036897950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=1761971921036897950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1761971921036897950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1761971921036897950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/07/menuju-puncak-karir-dan-kehormatan.html' title='Menuju Puncak Karir dan Kehormatan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-1721361703665524310</id><published>2007-06-21T11:10:00.000+07:00</published><updated>2007-06-21T11:17:28.274+07:00</updated><title type='text'>Regenerasi</title><content type='html'>Ada yang menggelitik ketika salah satu produk rokok diiklankan dengan tema Yang Muda Yang Tidak Dipercaya. Ketika seseorang yang masih dianggap junior dalam perusahaan dipaksa untuk menggunakan pakaian seorang senior, sekalipun pakaian itu tidak pas, bukankah di situ telah terjadi pemerkosaan hak-hak untuk berpikir dan berkreasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan adalah stimulator untuk berkreasi. Tak ada kreasi ketika seseorang tidak dipercaya. Ketika salah satu dari dua orang yang berinteraksi memaksakan kehendaknya, maka itu tak ubahnya dengan tak ada interaksi. Hasil dari proses ini hanyalah ide tunggal dari satu pihak. Tetapi ketika setiap orang membuka diri untuk menerima orang lain dengan pakaiannya masing-masing, maka interaksi yang seperti ini akan menghasilkan ide dengan berbagai warna.&lt;br /&gt;Seperti juga ketika kita menutup diri terhadap interaksi dunia luar, maka kita menjadi serupa dengan katak, yang hanya tahu luasan tempat tinggalnya. Si Katak tak pernah tahu bahwa ada binatang lain di seberang jalan yang besarnya setara dengan seribu katak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerdilan akan melahirkan kekerdilan, kecuali si kerdil meluaskan pikirannya. Seperti kita selalu berpikir tentang keberadaan empat orang ketika membaca atau mendengar kalimat “dua orang ayah dengan dua orang anaknya.” Dengan pikiran yang sempit ketika bicara dua ditambah dengan dua, maka hasilnya haruslah empat. Pikiran sempit ini ditanamkan oleh lingkungan sejak kecil dan mengendap di benak kita, tanpa sadar membentuk kekerdilan berpikir. Pernahkah terlintas oleh kita bahwa dua orang ayah dengan dua orang anak bisa jadi hanya terdiri dari tiga orang, yaitu kakek, bapak, dan anak?&lt;br /&gt;Kekerdilan berpikir muncul ketika kita sebagai orang yang merasa lebih tua memaksakan pemikiran kita kepada orang lain yang kita anggap lebih muda. Senioritas seringkali memunculkan kesombongan, seolah hanya kita yang senior yang benar. Seseorang tak akan mampu menjadi pemimpin yang baik bila tidak pernah dipercaya untuk memimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan tadi boleh jadi merupakan sindiran bagi kita, yang sering kali menggunakan norma-norma dan ukuran kita untuk menilai orang lain. Mengatakan sesuatu sebagai benar atau salah dengan ukuran yang tidak baku seperti selera. Lagu yang tidak sesuai dengan selera dikatakan salah atau jelek. Staf yang mengetik sambil mendengar musik dianggap tidak bekerja dengan benar tanpa melihat hasil kerjanya.  Staf yang berpikir dengan cara berbeda dianggap tidak dewasa tanpa melihat bagaimana staf ini menyelesaikan tugas-tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas seorang pemimpin adalah menyiapkan pengganti. Masalahnya adalah bukan pada sudah siapkah pengganti kita, tetapi, sudah siapkah kita untuk digantikan. Pikiran yang sempit selalu mengatakan bahwa pengganti kita belum siap, tetapi kita sering lupa dengan pertanyaan apakah kita sudah siap untuk digantikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-1721361703665524310?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/1721361703665524310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=1721361703665524310&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1721361703665524310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1721361703665524310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/06/regenerasi.html' title='Regenerasi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-1227184216496392849</id><published>2007-06-05T16:22:00.000+07:00</published><updated>2007-06-05T16:27:02.688+07:00</updated><title type='text'>Tentang Kebenaran</title><content type='html'>Ketika negeri binatang dilanda bencana, semua mengungsikan diri. Kura-kura adalah mahluk yang paling lambat, sehingga jiwanya menjadi sangat terancam. Beruntung, terdapat burung yang masih ingat akan kasih dan kebaikan.&lt;br /&gt;“Kau akan kubawa terbang, tetapi aku harus menggigitmu dengan paruhku sepanjang perjalanan agar kau tak jatuh.”&lt;br /&gt;“Oh... tidak, aku telah diajari ilmu manajemen risiko. Apa yang bisa memastikan aku bahwa engkau tidak akan membuka paruhmu saat perjalanan? Kalau kau lakukan itu sekali saja, aku pasti jatuh.”&lt;br /&gt;“Well, terserahlah, aku hanya ingin berbuat baik, tapi, memang tidak semua mahluk percaya adanya kebaikan. Bukankah begitu? Nampaknya engkaupun tak percaya pada niat baikku.”&lt;br /&gt;Oh... teman, engkau tak perlu tersinggung, aku hanya menjalankan prinsip kehati-hatian. Aku punya ide, bagaimana kalau aku yang menggigit kakimu selama perjalanan.”&lt;br /&gt;“Tak masalah, meskipun itu mungkin membuat kakiku sakit, tapi aku ingin menolongmu, berbuat kebaikan bagi sesama mahlukNya. Ayo, gigitlah kakiku, Ingat jangan kau lepas gigitan ini selama kita terbang.”&lt;br /&gt;Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan burung lain yang terkagum-kagum dengan ide cemerlang tentang penyelamatan kura-kura.&lt;br /&gt;“Hai burung sahabatku, engkau sungguh mulia. Perbuatanmu menunjukkan kasihmu pada sesama umatNya. Idemu sangat cemerlang. Aku akan mencoba mengikuti jejakmu mencari kura-kura lain.” Sang burung menyapa mereka.&lt;br /&gt;Kura-kura merasa sangat tersinggung, bukankah menggigit kaki burung adalah idenya? Mengapa si burung yang dipuji. Egonya mendorong untuk menyuarakan kebenaran.&lt;br /&gt;“Hai bur........”&lt;br /&gt;Kalimatnya tak terselesaikan, yang ada hanyalah ketakutan melayang dari ketinggian........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala kita menyatakan kebenaran, apakah yang mendorongnya? Ego untuk aktualisasi diri, ataukah murni mewartakan tugas kita sebagai umatNya? Dalam banyak hal, hanya ada batasan yang sangat tipis antara ego dengan tugas hidup kita. Ketika kita meneriakkan tentang betapa buruknya pemerintah menangani tranpostasi dengan lalu lintas kota yang selalu macet, apakah kita bicara tentang puluhan juta jiwa lainnya yang mungkin harus berjalan kaki di tengah jalan setapak yang licin untuk menuju sekolahnya? Atau kita sekedar berteriak betapa tidak nyamannya lalu lintas yang macet ini, meskipun kita duduk di sebuah mobil berpendingin udara dengan musik lembut yang tak berhenti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita bicara tentang pemerintahan yang bersih dan berwibawa, apakah kita berpikir tentang pemimpin dari lebih dari 200 juta umat manusia dengan segala penderitaannya, atau kita bicara tentang peluang pribadi untuk turut merasakan nikmatnya kursi kepemimpinan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita bicara tentang hak-hak masyarakat sipil dan kebebasan berbicara, apakah kita bicara tentang pembungkaman  lebih dari 200 juta jiwa yang tertekan, atau kita bicara tentang peluang bisnis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketika engkau menerangi dunia, apakah karena engkau ingin setiap manusia memperoleh cahayaNya, atau alam bawah sadarmu menginginkan agar setiap orang melihatmu sebagai gembala yang memiliki dan mampu memberikan terang?  Apa bedanya? Yang pertama menggambarkan ilahiah sebagai pusat dari gerakanmu, sedangkan yang kedua menggambarkan engkau memanfaatkan ilahiah sebagai pemuas nafsumu. &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-1227184216496392849?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/1227184216496392849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=1227184216496392849&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1227184216496392849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/1227184216496392849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/06/tentang-kebenaran.html' title='Tentang Kebenaran'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-6638270161690247006</id><published>2007-03-30T08:29:00.000+07:00</published><updated>2007-05-11T07:54:23.361+07:00</updated><title type='text'>Stiglitz</title><content type='html'>Apakah yang ada dalam pikiran Joseph Stiglitz ketika mengatakan bahwa globalisasi tidak berpihak pada kaum miskin? Laporan Bank Dunia menunjukkan, tahun 1990 jumlah penduduk dunia yang hidup hanya dengan uang di bawah $2 per hari sebanyak 2,718 milyar orang dan bertambah menjadi 2,801 milyar orang pada tahun 1998. Angka ini menunjukkan dengan jelas bahwa tata ekonomi kapitalis yang saat ini diagungkan sebagai penyelesaian masalah kesejateraan dengan selogan tentang efisiensi dan efektivitas sebuah pasar yang bebas tidaklah menyelesaikan masalah distribusi pendapatan.&lt;br /&gt;Kalau kita ingin sedikit matematis dan sedikit berupaya mencari data, kita dapat menghitung persentase jumlah penduduk Indonesia yang menikmati 20% pendapatan. Saya akan meletakkan taruhan saya pada angka &lt;strong&gt;di bawah 20% &lt;/strong&gt;[&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;koreksi: harusnya di atas 80% , Mei 2007&lt;/span&gt;]. Artinya, 80% penduduk hanya menikmati 20% dari kue yang ada. Bagaimana kelompok ini dapat bangkit dan bersaing? Bagaimana industri kecil dapat hidup kalau daya beli masyarakat kecil?&lt;br /&gt;Saya ingin mengutip Stiglitz:&lt;br /&gt;"Apa yang dibutuhkan adalah kebijakan-kebijakan untuk pertumbuhan yang terus menerus, merata, dan demokratis. Inilah alasan adanya pembangunan. Pembangunan bukan hanya membantu beberapa orang menjadi kaya atau menciptakan banyak industri tak bermanfaat yang dilindungi yang hanya menguntungkan kalangan elit di negara tersebut. Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan. Bisa membeli tas Gucci di sebuah tempat belanja di Moskow bukan berarti bahwa negara itu telah menjadi suatu ekonomi pasar. Pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil, dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan ......”&lt;br /&gt;Stiglitz sangat benar, dan kita mungkin hanya terperangah ketika melihat keserakahan kita untuk menjadi konsumen barang-barang berkelas dan mahal. Kita menjadi bingung ketika seorang pejabat negara menyimpan uang di dalam ember di kamar mandi. Kita menjadi sedih, ketika melihat anak-anak yang terpinggirkan tanpa kesempatan untuk mewujudkan masa depannya.&lt;br /&gt;Dan akhirnya kita menjadi bingung harus dimulai dari mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-6638270161690247006?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/6638270161690247006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=6638270161690247006&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6638270161690247006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/6638270161690247006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/03/stiglitz.html' title='Stiglitz'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-5036156313038201959</id><published>2007-03-02T14:48:00.000+07:00</published><updated>2007-03-02T14:56:54.799+07:00</updated><title type='text'>Kupu-kupu pagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/RefXblYeBdI/AAAAAAAAAAM/l4rijW1Ollc/s1600-h/DSCN1230.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5037231577128371666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/RefXblYeBdI/AAAAAAAAAAM/l4rijW1Ollc/s320/DSCN1230.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ada yang mengingatkan tentang keindahan kupu-kupu, bila kita cukup beruntung, maka kita akan melihatnya di suatu pagi. Pagi ini aku sangat beruntung, karena bukan hanya melihatnya, tetapi juga sempat mengambil beberapa foto. Kalaupun ada sedikit kurang beruntung, peristiwa ini terjadi justru ketika lensa-lensa kesayangan sedang dibersihkan. Dengan kamera digital seadanya, foto ini diambil.&lt;br /&gt;Keindahan seringkali memang terabaikan begitu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-5036156313038201959?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/5036156313038201959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=5036156313038201959&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5036156313038201959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/5036156313038201959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/03/kupu-kupu-pagi.html' title='Kupu-kupu pagi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UVQwZi8G1tg/RefXblYeBdI/AAAAAAAAAAM/l4rijW1Ollc/s72-c/DSCN1230.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-117108426974433053</id><published>2007-02-10T12:03:00.000+07:00</published><updated>2007-02-10T12:11:09.753+07:00</updated><title type='text'>Tentang Kesepian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari ini sekali lagi seorang teman berkata, bahwa dirinya baru saja merasakan kehilangan. Perasaannya menjadi sangat sensitif.&lt;br /&gt;Ah, mengapa selalu seperti ini? Siapapun pernah kehilangan. Siapapun pernah merasakan sangat sensitif. Kadang kita merasakan kesendirian, yang sangat membuat kita sedih. Rasa tersingkirkan. Perasaan telah menjadi orang yang kalah. Perasaan menjadi orang yang tak berguna.&lt;br /&gt;Akan selalu begitu, selama manusia punya perasaan, cerita seperti ini tak akan pernah hilang. Pada tingkat kehidupan seperti saat ini, ketika hidup manusia sudah tidak lagi sekedar mempertahankan hidup dan kelangsungan generasi, maka yang bicara adalah kebutuhan hati. Maslow mungkin benar ketika menyajikan teori hirarki kebutuhan, tetapi teori itu harus dipahami dalam konteks yang sangat luas. Basic need muncul ketika kehidupan manusia masih dalam tataran mempertahankan generasinya. Ketika manusia berburu hanya untuk makan. Tetapi, pada saat itupun sebenarnya manusia telah berpikir tentang status sosial, siapa yang terkuat, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang boleh menikmati fasilitas yang lebih dibandingkan anggota kelompok. Bahkan pada tataran kehidupan yang lebih rendah lagi, kelompok hewan, merekapun mengenal status sosial. Pada kelompok unggas, pejantan yang memiliki warna bulu terbaik, penjantan yang memenangkan pertarungan dengan pejantan lainnya, pejantan yang mampu membangun sangkar lebih baik dari lainnya berhak untuk memperoleh induk yang paling subur. Semua ini adalah cerita tentang naluri untuk mempertahankan kelangsungan generasi. Yang terbaik, yang terkuat akan bertahan. Bibit yang lemah akan tersingkir.&lt;br /&gt;Arti dari semua ini adalah, kebutuhan sosial tak akan hilang dari kehidupan karena merupakan salah satu naluri mahkluk hidup untuk mempertahankan generasinya. Selama kebutuhan sosial itu ada, maka rasa kalah, kesepian, tersingkirkan dan sebagainya akan selalu ada. Menjadi pihak yang kalah, kesepian, tersingkirkan adalah sebuah keniscayaan, karena itu adalah hukum alam. Masalahnya adalah bagaimana kita mengubah setiap perasaan tidak nyaman tersebut menjadi cambuk untuk memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;color:#ff9900;"&gt;&lt;em&gt;(Untuk seorang teman, yang kali ini sedang bersedih dan merasa sangat sensitif)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-117108426974433053?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/117108426974433053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=117108426974433053&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/117108426974433053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/117108426974433053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2007/02/tentang-kesepian.html' title='Tentang Kesepian'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-116225755099246745</id><published>2006-10-31T07:39:00.000+07:00</published><updated>2006-10-31T08:19:11.016+07:00</updated><title type='text'>Kedatangan dan Kepergian</title><content type='html'>Seorang teman sedang menikmati masa-masa  penuh keajaiban sebagai seorang ibu yang menantikan kelahiran putra kedua.&lt;br /&gt;Kebanyakan kita menyambut setiap kedatangan dengan kebahagiaan dan menangisi setiap perpisahan. Bagaimanapun, kehidupan di dunia tak dapat lepas dari dua sisi yang selalu bertentangan. Kedatangan - kepergian, malam - siang, terang - gelap, susah - senang, panas - dingin dan seterusnya. Secara matematis, apabila seluruh yang ada didunia ini dijumlahkan, maka kita akan mendapatkan angka nol. Itulah titik keseimbangan. Orang-orang ekonomi mengatakan,  manusia akan selalu menambah "kekayaannya" selama tambahan itu masih memberikan manfaat, dengan sedikit bahasa teknis, orang yang haus akan terus minum sampai &lt;em&gt;marginal utility &lt;/em&gt;dari air yang diminum itu sama dengan nol. Artinya dia berhenti minum ketika tidak merasakan tambahan manfaat lagi.&lt;br /&gt;Titik nol adalah hakekat kehidupan. Ketika manusia merasa tidak menjadi apa-apa, ketika manusia menghilangkan "&lt;em&gt;aku&lt;/em&gt;nya" dan menjadikan dirinya sebagai "&lt;em&gt;Aku&lt;/em&gt;", yaitu wujud fisik keberadaan Sang Pencipta di atas dunia, maka disitulah hakekat.&lt;br /&gt;Datang dan pergi tak dapat lepas dari hidup manusia, seperti juga tawa dan tangis serta gembira dan sedih. Tetapi menjadi terlalu gembira menyebabkan kita lupa akan adanya sedih. Menjadi terlalu sedih menyebabkan kita lupa akan kegembiraan.&lt;br /&gt;Sambutlah setiap kedatangan seperti itu pula kita menyiapkan setiap kepergian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-116225755099246745?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/116225755099246745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=116225755099246745&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/116225755099246745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/116225755099246745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/10/kedatangan-dan-kepergian.html' title='Kedatangan dan Kepergian'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-115813413220615239</id><published>2006-09-13T14:25:00.000+07:00</published><updated>2006-09-13T14:55:32.220+07:00</updated><title type='text'>Negeri Angin</title><content type='html'>Ini adalah sebuah cerita tentang negeri angin.  Lebih tepatnya, ini hanyalah sebuah omong kosong yang muncul dari kegelisahan. Tak ada arti apapun dalam cerita ini, kecuali pembaca ingin memberikan arti sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ini bulan ke enam sejak pengembaraannya di negeri angin dimulai. Negeri angin adalah negeri yang tiada terlihat, tapi terasakan. Tiada bunyi yang terdengarkan, kecuali angin yang menembus dari balik sunyi keca jendela hati&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;em&gt;[1]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;. Ini bulan keenam pengembaraannya di negeri angin. Dia jadi ingat negeri-negeri lain tempat dia pernah mengembara. Negeri abu-abu. Tempat semuanya tanpa warna untungnya adalah seorang penyihir si cemerlang yang menemukan kristal kacanya, sehingga cahaya yang selama ini nampak abu-abu berhasil dipendarkan menjadi warna-warna serupa pelangi yang kita kenal saat ini&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;em&gt;[2]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;. Dia pernah juga mengunjungi negeri senja dengan kereta yang berangkat penuh orang, tetapi selalu kembali kosong &lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;em&gt;[3]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;. Dia tidak tahu, bagaimana caranya, ketika tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah tidak lagi berada di negeri senja. Harusnya setelah negeri senja, dia berada di negeri malam, tapi tidak. Saat tertidur di negeri senja, ketika bangun, dia telah berada di negeri asalnya. Sebuah negeri yang aman dan damai, pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa.&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;em&gt;[4]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Ke negeri angin, enam bulan yang lalu dia menguatkan tekadnya. Dia tak perlu berpamitan pada anak-anaknya, karena memang belum memiliki anak. Dia juga tidak perlu berpamitan dengan suaminya, karena memang belum juga memiliki suami. Satu-satunya tempat dia harus pamit adalah pada kehidupannya sendiri. Kehidupan yang sangat mapan, dengan status profesional muda dan karir yang sangat baik. Berpamitan pada kehidupannya yang memberikan gaji tak berhingga dan beberapa mobil mewah dan tentu saja sebuah tempat tinggal yang super asri. Ke negeri Angin. Dia ingin melarikan diri dari kehidupan yang mapan. Seperti juga pada saat dia mengunjungi negeri abu-abu, atau menuju negeri senja. Tadinya dia ingin menuju negeri di awan. Ide negeri di awan muncul ketika dia mendengar sebuah kata-kata puitis dari seorang penyanyi, “Kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan”&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;em&gt;[5]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;. Tapi dia berubah pikiran karena  negeri di awan terlalu dekat dengan tanah yang dipijaknya. Tentu saja teman-temannya akan menemuinya pada saat mereka terbang di pesawat.&lt;br /&gt;“Negeri di awan terlalu dekat”, pikirnya. “Aku memerlukan sesuatu yang baru, sesuatu yang jauh dari kehidupanku saat ini. Nampaknya negeri angin paling cocok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ke enam dia di negeri angin. Tempat yang hanya dapat dirasakan, tetapi  tak dapat dilihat. Tempat yang di dalamnya tanpa bunyi, kecuali desir angin.&lt;br /&gt;“Inikah mimpiku?” Dia merenungi enam bulan yang berlalu.&lt;br /&gt;“Mimpi yang didorong oleh kebosanan dan kemuakan melihat negeri dunia.”&lt;br /&gt;Di negeri angin, dia tidak melihat apapun, tetapi merasakannya. Dia merasakan kehadiran orang-orang  yang tidak dia kenal sebelumnya. Dia merasakan kenyamanan yang tak pernah terasakan sebelumnya.&lt;br /&gt;“Inilah tempatku berlabuh....”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sunyi Kaca Jendela, kalau tidak salah puisi Gunawan Mohamad.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lihat Belgeduel si Cemerlang, sebuah buku dongeng anak-anak yang penuh fantasi dan edukasi..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Seno Gumira, Negeri Senja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Rayuan Pulau Kelapa, masih adakah anak sekolah dasar yang dapat menngingat dengan baik lagu ini? Kalau ada, berarti kita telah mengajarkan kebohongan. Membuai anak bangsa dengan mimpi indah. Bukankah sekarang tak ada lagi pulau kelapa yang subur, karena penggundulan hutan telah memicu banjir. Banjir telah mengikis habis bagian subur  yang ada di permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8106215#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Katon Bagaskara, Negeri di Awan”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-115813413220615239?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/115813413220615239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=115813413220615239&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115813413220615239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115813413220615239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/09/negeri-angin.html' title='Negeri Angin'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-115813016402304567</id><published>2006-09-13T13:04:00.000+07:00</published><updated>2006-09-13T13:49:24.033+07:00</updated><title type='text'>Perubahan</title><content type='html'>Ada nada yang sedih, ketika seseorang mengatakan temannya telah  berubah.&lt;br /&gt;Ah, mengapa kita takut akan perubahan? Bukankah perubahan itu jadi bagian dari keseharian kita. Apakah yang tidak berubah? Bukankah setiap kemajuan yang kita nikmati saat ini merupakan buah dari perubahan (demikian pula dengan kemunduran yang terjadi). Dahulu, manusia tidak mengenal penyakit kanker, tetapi kemajuan ilmu pengetahun mengubah pengetahuan kita tentang penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hati juga mengalami perubahan? Ada waktunya, ketika kita harus membuat jarak untuk melihat sesuatu dengan lebih utuh. Ada waktu lain, ketika kita mendekatkan jarak, untuk melihat detail dengan lebih jelas. Itukah perubahan? Bila memang demikian, bukankah kita akan melihat perubahan itu sebagai sumber pemikiran, sumber inspirasi, dan sumber dalam proses kreatif.&lt;br /&gt;Apakah yang kita takutkan dari perubahan? Banyak hal menakutkan dari perubahan, tetapi semua bermula dari satu titik ketakutan manusia yang paling dasar, takut kehilangan. Perubahan membuat kita taku kehilangan lingkungan yang kita telah sangat menyatu di dalamnya. Perubahan juga membawa ketakutan akan hilangnya teman-teman dan rasa nyaman yang dinikmati selama ini. Perubahan mengharuskan kita menyesuaikan diri untuk hal-hal baru, yang tentu saja tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin (sekali lagi mungkin), hidup akan terasa lebih nyaman bila perubahan berhenti mengalir pada saat kita merasakan keindahannya.&lt;br /&gt;(Tapi bukankah itu akan menimbulkan kebosanan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;(Untuk seorang teman yang sedang merasakan adanya perubahan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-115813016402304567?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/115813016402304567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=115813016402304567&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115813016402304567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115813016402304567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/09/perubahan.html' title='Perubahan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-115646837585501319</id><published>2006-08-25T07:53:00.000+07:00</published><updated>2006-08-25T08:12:55.863+07:00</updated><title type='text'>Pencarian</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/IMG_0467.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/200/IMG_0467.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini gelisah&lt;br /&gt;Mungkin pagi tak hendak memberikan matahari pada kita. Mungkin matahari tak hendak memberikan hangat. Tak ada yang tahu&lt;br /&gt;Keluhan yang membosankan muncul di setiap pagi, "pekerjaan menumpuk, waktu yang segera lalu"&lt;br /&gt;"Selamat Ulang tahun..." serangkaian mawar itu dikirim oleh seorang teman (mungkin juga lawan), yang tak menerakan seberkas jejakpun. Itu hanya sebuah ritual tentang tanggal kelahiran dari jalan kehidupan yang tak pernah jelas.&lt;br /&gt;Ada kebahagiaan , yang hadir dari telepon dan pesan pendek. Setidaknya aku masih punya teman yang peduli&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-115646837585501319?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/115646837585501319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=115646837585501319&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115646837585501319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115646837585501319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/08/pencarian.html' title='Pencarian'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-115448932454754922</id><published>2006-08-02T09:50:00.000+07:00</published><updated>2006-08-02T10:28:44.603+07:00</updated><title type='text'>Orientasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSCN0170.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/320/DSCN0170.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ketika masuk dalam suatu lingkungan baru, seseorang diperkenalkan pada lingkungannya. Seperti orang tua mengenalkan lingkungan pada anaknya yang baru menjadi penghuni dunia. Di tempat kerja, pegawai baru mengalami masa orientasi dengan waktu yang bervariasi mulai dari 3 hari, ada yang sampai 6 bulan bahkan lebih. Memasuki sekolahpun demikian.&lt;br /&gt;Yang paling sering menjadi berita adalah orientasi yang dilakukan untuk memasuk dunia pendidikan lanjutan (SLTA) serta orientasi untuk menjadi siswa yang maha (bukan siswa biasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSCN0168.jpg"&gt;&lt;img style="CURSOR: hand" height="162" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/320/DSCN0168.jpg" width="271" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali jatuh korban, karena "gemblengan" senior. Senior beralasan, seorang yang akan menjasi siswa yang maha, harus berbeda dengan siswa yang biasa. Harus pandai mengambil keputusan dalam kondisi terdesak (sehingga ada tugas yang tidak masuk akal, seperti mencari 7 jenis serangga berikut nama-namanya dalam waktu satu malam ...., sangat luar biasa). Siswa yang tidak mampu dianggap belum memiliki mental siswa yang maha, sehingga harus di"didik" (baca: didikan melalui hukuman yang menimbulkan derita fisik).&lt;br /&gt;Saya sendiri termasuk beruntung, karena satu-satunya orientasi yang menyulitkan hanyalah mencari tanda tangan guru dan senior saat masuk SLTA. Ketika hendak menjadi siswa yang maha, era orientasi diganti dengan kuliah Pancasila dengan pola 100 jam. Tak ada derita fisik, kecuali duduk mengantuk dan bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, apakah orientasi yang hanya beberapa hari tersebut akan mampu membentuk mental seorang siswa yang biasa menjadi siswa yang maha? Kalau seperti itu, bukankah hidup ini menjadi teramat mudah? Ada yang salah dengan kita, yang telah membiarkan pemahaman ini. Ketika  kita dibiasakan dengan sesuatu yang instan dan sekejap, ketika kita tak lagi menilai proses sebagai bagian dari prestasi maka kita telah menjadi manusia yang tidak memiliki kemanusiaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-115448932454754922?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/115448932454754922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=115448932454754922&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115448932454754922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115448932454754922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/08/orientasi.html' title='Orientasi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-115404856550125487</id><published>2006-07-28T07:43:00.000+07:00</published><updated>2006-07-28T08:30:49.500+07:00</updated><title type='text'>Air</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSCN0096.1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/320/DSCN0096.1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masuru Emoto, mungkin termasuk orang yang aneh, ketika beride meneliti air dan pola kristalnya. Apakah air menyembuhkan? Apakah kata-kata dan tulisan mempengaruhi air? Apakah musik mempengaruhi air?&lt;br /&gt;Ketika kita memandang air sebagai pemuas hasrat dahaga, dan ketika biaya yang kita keluarkan untuk tagihan akan air yang berkualitas makin hari makin membengkak, maka kita melihat air sebagai barang ekonomi. Saat pertama kali memahami pelajaran ekonomi puluhan tahun yang lalu, air termasuk kelompok barang bebas, yang dapat diperoleh di mana-mana. Air bersih tersedia dari berbagai sumber, termasuk sumur. Tetapi, tidak untuk saat ini.&lt;br /&gt;Kembali pada Emoto (&lt;em&gt;The True Power of Water&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;The secret life of Water&lt;/em&gt;), saya tidak sepenuhnya percaya, bahwa air dapat dipengaruhi oleh kata-kata atau musik. Tetapi, saya percaya bahwa kehidupan bermula dari air. Kota-kota awal bertumbuh di tepi sungai. Tubuh manusia lebih banyak airnya dari pada unsur lain. Air menyapu kekotoran. Tanaman menjadi layu tanpa air. Sehingga saya percaya bahwa air yang sehat dapat menyembuhkan penyakit. Karena, penyakit manusia, seringkali berasal dari keserakahan, yang menimbulkan kekotoran dalam jiwa (dan tentu saja raga yang ditempatinya). Untuk itu, kita memerlukan "air" yang akan membersihkan jiwa (dan raga)  sebagai penyembuhan dari sumber penyakit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-115404856550125487?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/115404856550125487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=115404856550125487&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115404856550125487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115404856550125487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/07/air.html' title='Air'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-115397654158270419</id><published>2006-07-27T11:36:00.000+07:00</published><updated>2006-07-27T12:02:21.616+07:00</updated><title type='text'>Kuntum</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSCN0117.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/400/DSCN0117.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kuntum ini berkata padaku, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Semoga bencana tak lagi datang, karena aku ingin mekar ............."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-115397654158270419?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/115397654158270419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=115397654158270419&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115397654158270419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/115397654158270419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/07/kuntum.html' title='Kuntum'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-114603486499185630</id><published>2006-04-26T13:37:00.000+07:00</published><updated>2006-04-27T15:27:54.430+07:00</updated><title type='text'>Mpu Djeno</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSC_2499.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/320/DSC_2499.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSC_1390.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 290px; CURSOR: hand; HEIGHT: 188px" height="235" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/320/DSC_1390.jpg" width="391" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Mpu masih berkarya, di usia senjanya. Menempa besi, mempertahankan semangat mencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/1600/DSC_1983.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 189px; CURSOR: hand; HEIGHT: 256px" height="400" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5801/533/320/DSC_1983.jpg" width="309" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setidaknya, kita dapat bercermin pada loyalitas profesi, semangat berkarya, dan semangat menyiapkan generasi pengganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(terima kasih kepada Edial Rusli, yang dengan dedikasinya pula telah menghasilkan foto-foto ini)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-114603486499185630?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/114603486499185630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=114603486499185630&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/114603486499185630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/114603486499185630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/04/mpu-djeno.html' title='Mpu Djeno'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-114144722993008520</id><published>2006-03-04T11:19:00.000+07:00</published><updated>2006-03-04T11:40:29.950+07:00</updated><title type='text'>Daun Berserakan</title><content type='html'>Seorang teman mengirimkan paket "Daun Berserakan", buku yang ditulis oleh Palgunadi T. Setyawan. Teman ini seperti mengingatkan, betapa tidak pedulinya kita dengan apa yang kita alami.&lt;br /&gt;Seperti dalam keseharian hidup kita yang selalu melewati daun-daun berserakan (dan kita tidak pernah peduli dengan daun itu-kecuali untuk segera menyapunya), demikian pula peristiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan sering kali hanya sebagai daun-daun berserakan yang tak pernah kita pedulikan untuk mengambil manfaat darinya.&lt;br /&gt;Seorang ayah menyerahkan anaknya kepada siapa saja yang mau merawatnya karena ayah tak mampu lagi untuk menghidupi anak,  anak sekolah dasar mencoba bunuh diri karena malu belum membayar biaya sekolah, dan seribu informasi menyedihkan lain. Seperti melalui padang yang penuh daun berserakan, semua informasi tersebut masuk dan keluar begitu saja dalam pemikiran kita.&lt;br /&gt;Padahal, bila kita ingin sedikit saja memikirkan segalanya dengan lebih sungguh-sungguh, maka betapa banyak yang dapat hikmah yang kita dapatkan, dan betapa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama manusia. Seperti yang ditulis oleh Palgunadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"daun, daun yang menua akan berguguran. Jatuh di atas tanah. Keindahan yang tadinya menyala takala berada di pohon berubah manfaatnya. Daun yang berserakan di tanah lama kelamaan akan berubah menjadi humus. Ia memberikan manfaat bagi tanah meskipun tidak lagi berupa  keindahan, tapi berupa kesuburan."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, untuk seorang temah yang telah mengingatkan hal-hal yang sering terabaikan begitu saja dalam hidup ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-114144722993008520?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/114144722993008520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=114144722993008520&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/114144722993008520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/114144722993008520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/03/daun-berserakan.html' title='Daun Berserakan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-113781075158254142</id><published>2006-01-21T08:55:00.000+07:00</published><updated>2006-03-04T11:19:00.850+07:00</updated><title type='text'>Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kehidupan manusia semakin sulit untuk dipahami, karena kebanyakan kita pada saat ini mencoba memadukan dua alam yang berbeda kutub. Seorang polisi yang harus menjaga kemanan justru terlibat dalam kejahatan. Ulama yang harusnya memberi contoh keagamaan ternyata memberikan contoh kekacauan pikiran dengan memasukkan "obyek yang tidak jelas" (entah apapun namanya) ke dalam botol. Ilmuwan yang menjaga kesucian ilmu pengetahuan terlibat dalam kasus plagiat. Ijazah derajat kesarjanaan dapat "dibeli" dengan mudah. Para hakim dan jaksa terlibat secara negatif dalam proses peradilan. Pengusaha harus memberi "layanan prima" kepada para pejabat penguasa keuangan negara agar proyek-proyek lancar. Anggota Legislatif melakukan studi banding di luar negeri untuk mencari ilmu tentang perjudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Manusia telah menjadi mahluk yang pandai mengemas, bukan lagi sekedar homo erectus (jenis kera yang berjalan tegak) atau mahluk sosial. Ketika pemberian kepada pejabat negara dilarang, maka pengusaha memasukkan para pejabat negara sebagai bagian dari kegiatan bisnis, entah itu sebagai konsultan, penasehat, bahkan sebagai pemegang saham. Maka organisasi bisnis sekarang perlu dilengkapi dengan "staf ahli", "konsultan", "Dewan Penasehat", dan banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sumbangan sosial dilakukan oleh banyak pihak, baik itu pengusaha maupun individu. Karangan bunga duka cita dikirim, tetapi publikasi atas sumbangan itu mungkin lebih mahal dari nilai sumbangannya sendiri. Sumbangan sosial didasari pemikiran manfaat publikasi yang diperoleh, tidak ada yang tulus). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mengapa demikian ini terjadi? Pertama, kebutuhan manusia makin meningkat. Kebutuhan fisik yang ditunggangi oleh kebutuhan emosi (kebanggaan atas sesuatu pemilikan tertentu), telah dimanfaatkan benar oleh ahli marketing. Mengendarai Suzuki Carry tentu berbeda dengan Toyota Camry. Kenyamanan Camry  tentu juga berbeda dengan S Class, tetapi seberapakah perbedaan itu? Yang paling terasa bedanya adalah kesombongan kita yang muncul pada saat duduk di dalamnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ahli marketing adalah pesulap-pesulap terhebat di dunia. Ilusi yang mereka bangun menyihir seluruh masyarakat dunia. Pesulap terkenal dunia hanya mampu menyihir sejumlah penonton saja. Ahli marketing menyulap umat manusia menjadi kaum hedonis, yang memuja kenikmatan dan kesombongan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada saat ini, kita telah mencapai taraf ketika antrian untuk memperoleh izin mengemudi sebagai sebuah ketidaknikmatan (karena memang dibuat tidak nyaman dengan berbagai alasan yang tidak jelas), karenanya, keluarkan sedikit uang, dan kitapun memperoleh banyak kemudahan yang menyenangkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Materi menjadi tuntutan utama, jiwa-jiwa telah menjadi kosong. Sebuah rumah mewah dibangun dengan taman yang sangat indah, tetapi pemiliknya memandang dengan penuh takut akan kehilangan nikmat dunia tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebagian yang tersadar mungkin hanya mampu berdoa, semoga ini semua tidak menjadi tanda-tanda akhir zaman dari bangsa kita.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-113781075158254142?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/113781075158254142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=113781075158254142&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/113781075158254142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/113781075158254142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2006/01/manusia.html' title='Manusia'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-113478470152991534</id><published>2005-12-17T08:58:00.000+07:00</published><updated>2005-12-17T09:07:31.450+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Dinda Bestari &lt;a target="ext" href="http://picasa.google.com/blogger/"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Picasa" src="http://photos1.blogger.com/pbp.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/hello/55/3744/320/Picture(17).jpg"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: #000000 2px solid; BORDER-TOP: #000000 2px solid; MARGIN: 2px; BORDER-LEFT: #000000 2px solid; BORDER-BOTTOM: #000000 2px solid" src="http://photos1.blogger.com/hello/55/3744/50/Picture%2817%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bestari adalah kematangan jiwa. Ketika engkau menjadikan jalan ilmu pengetahuan dan jalan kebijakan dalam satu langkah. Bestari adalah kematangan berpikir, ketika engkau menyatakan dirimu dalam suatu langkah yang telah engkau tahu pengaruhnya bagi lingkunganmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-113478470152991534?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/113478470152991534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=113478470152991534&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/113478470152991534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/113478470152991534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/12/dinda-bestari-bestari-adalah.html' title=''/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-113297212622841783</id><published>2005-11-26T09:05:00.000+07:00</published><updated>2005-11-26T09:28:46.260+07:00</updated><title type='text'>Pertemuan</title><content type='html'>sebuah pertemuan terjadi tidak begitu saja, meskipun semua bermula dari ketidaksengajaan ketika perjalanan tersesat pada sebuah taman yang terindah. Sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga, dan di dalamnya mengalir sungai yang jernih. Sungai yang bening, dan sebuah perahu layar menyusuri sungai itu, mengalir begitu saja. Perahu layar itu terkadang tetirah sejenak di air yang bening saat lelah kata pemiliknya.&lt;br /&gt;Di tempatku, tetirah memiliki makna yang sangat dalam. Tetirah adalah istirahat ketika hati dan jiwa mengalami kelelahan. Aku berpikir, bagaimana mungkin pemilik taman yang seindah ini mengalami kelelahan. Tetirah adalah menjernihkan hati, membuang kekalutan dan kegelana jiwa, dan memandang jauh ke depan. Karenanya, aku lebih suka mengatakannya tetirah di air yang hening.&lt;br /&gt;Sebuah pertemuan terjadi dengan tidak begitu saja. Banyak cerita yang ingin kudengar, Aku ingin mendengar sejarah perahu layar. Aku ingin mendengar cerita tentang taman yang indah dipenuhi bunga dan sungai bening yang mengalir di dalamnya. Aku ingin mendengar cerita tentang bintang yang kemilau. Aku juga ingin mendengar cerita tentang kebahagiaan kecil yang muncul setiap pagi.&lt;br /&gt;Seribu angan menghilang, ketika kebahagiaan muncul dengan mengejutkan.&lt;br /&gt;Seribu penyesalan muncul, ketika pemilik taman melirik pada jam tangan, waktunya untuk bergegas. Sebuah penyesalan, ketika pertemuan itu hanya diisi dengan omong kosong tentang negara yang carut marut dengan penduduk yang makin kehilangan taman hatinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-113297212622841783?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/113297212622841783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=113297212622841783&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/113297212622841783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/113297212622841783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/11/pertemuan_26.html' title='Pertemuan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-111681122162560160</id><published>2005-05-23T08:20:00.000+07:00</published><updated>2005-05-26T21:09:36.423+07:00</updated><title type='text'>Kuntum dan Mekar</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a target="ext" href="http://www.hello.com/"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Hello" src="http://photos1.blogger.com/pbh.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img class="phostImg" src="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/200/Fil20009.jpg" border="0" /&gt;Mengapa ada mekar? Karena ada kuntum. Mengapa ada kuntum? Karena ada mekar. Merah ada karena hadirnya hijau. Adanya gelap karena ada terang.&lt;br /&gt;Pada saat aku mengatakan keberadannku, maka aku mengatakan keberadaan orang-orang lain.&lt;br /&gt;Tak ada yang mutlak di dunia ini. Kemutlakan hanyalah milik Yang Esa.&lt;br /&gt;Ketika engkau bersuci, menenangkan hatimu, mencari keesaan Yang Esa, engkau harus menyatu denganNya, tetapi bukan berarti engkau adalah Dia.&lt;br /&gt;Karena itu, manusia tidak boleh mengaku sebagai Aku, karena Aku yang mutlak, hanyalah hak Yang Esa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-111681122162560160?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/111681122162560160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=111681122162560160&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681122162560160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681122162560160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/05/kuntum-dan-mekar.html' title='Kuntum dan Mekar'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-111681090745208818</id><published>2005-05-23T08:15:00.000+07:00</published><updated>2005-05-26T21:12:21.090+07:00</updated><title type='text'>Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah ....</title><content type='html'>&lt;a target="ext" href="http://www.hello.com/"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Hello" src="http://photos1.blogger.com/pbh.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/50/kabareyogya0002.jpg"&gt;&lt;img class="phostImg" src="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/200/kabareyogya0002.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah kerinduan pada masa kecil sering muncul, tak mengenal waktu dan tempat. Ada yang terasa hilang, ketika kita dewasa. Namun ada lagi yang hilang dan menimbulkan keprihatinan. Anak-anak sekarang sudah tidak lagi mengenal pendidikan budi pekerti lewat lagu-lagu yang indah. Berapa kali dalam sebulan kita mendengar lagu seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pelukismu agung - siapa gerangan?&lt;br /&gt;- pelangi-pelangi - ciptaan Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dalam setahun hanya dua atau tiga kali, atau bahkan tak pernah.....&lt;br /&gt;Nampaknya kita terjebak, ketika melihat modernisasi kehidupan hanya sebagai sebuah peradaban baru, yang dipenuhi oleh makanan instan atau hiburan kosong lewat film kartun. Anak-anak tak lagi kita beri kesempatan untuk berpikir dan berimajinasi. Alam tak lagi sebagai laboratorium raksasa yang tak pernah selesai untuk dieksplorasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-111681090745208818?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/111681090745208818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=111681090745208818&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681090745208818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681090745208818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/05/berayun-ayun-pada-tangkai-yang-lemah.html' title='Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah ....'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-111681074136820573</id><published>2005-05-23T08:12:00.000+07:00</published><updated>2005-05-23T09:14:31.636+07:00</updated><title type='text'>Menjelang Panen</title><content type='html'>&lt;a target="ext" href="http://www.hello.com/"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Hello" src="http://photos1.blogger.com/pbh.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/50/profile%20bpd0006.jpg"&gt;&lt;img class="phostImg" src="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/200/profile%20bpd0006.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras dan berkarya, itulah takdir manusia. Pernahkah kita merenungkan apa yang kita lakukan? Bekerja, meninggalkan rumah setiap pagi hari, dimulai sejak kita mengenal sekolah. Untuk apa? Sekolah, belajar agar menjadi orang yang terpelajar, agar kelak memperoleh pekerjaan yang layak, agar kelak memperoleh penghasilan yang cukup. Pertanyaannya adalah, seberpa cukup?&lt;br /&gt;Seorang ayah bekerja pagi sampai malam, demikian juga bunda? Apa yang kita cari? Bekal untuk anak kita? Bekal seperti apa? Karena, pada saat yang sama, kita telah merampas bekal yang lain yang harusnya milik mereka. Waktu untuk bercanda, waktu untuk mendampingi, waktu untuk mengajarkan etika dan budi pekerti yang baik, semua itu telah kita (para orang tua) habiskan di tempat kerja, hanya karena kita ketakutan tak mampu membekali anak-anak kita dengan bekal duniawi.&lt;br /&gt;Pekerja yang bijak mengatur jadwal waktunya dengan baik, seperti yang dilakukan petani-petani yang "belum modern". Mereka tahu, kapan harus bekerja, kapan harus beraktivitas sosial. Mereka mengikuti jam alam, bukan dalam satuan 24 jam dalam sehari, tetapi dengan aturan yang sangat fleksibel. Ada subuh, ada tengah hari, ada sore hari, ada malam hari. Tak ada satuan yang eksak, karena mereka tak ingin diperbudak oleh waktu.&lt;br /&gt;Menjelang panen, mereka tersenyum, karena telah memberi bekal yang utuh untuk anak-anak mereka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-111681074136820573?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/111681074136820573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=111681074136820573&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681074136820573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681074136820573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/05/menjelang-panen.html' title='Menjelang Panen'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-111681063436905398</id><published>2005-05-23T08:10:00.000+07:00</published><updated>2005-05-23T08:32:42.643+07:00</updated><title type='text'>Jika musin bunga tiba</title><content type='html'>Jika musim bunga tiba ...... &lt;a target="ext" href="http://www.hello.com/"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Hello" src="http://photos1.blogger.com/pbh.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/50/pohon0001.jpg"&gt;&lt;img class="phostImg" src="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/200/pohon0001.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanti musim, daun-daun luruh ke bumi, kemudian semaian kuntum bunga merekah.&lt;br /&gt;Begitulah kehidupan, semua mengalir, berproses sesuai dengan perannya. Hari ini daun yang gugur dan bunga bermekaran. Hanya sesaat, setelah itu, kelopak mulai layu, bergantikan buah.&lt;br /&gt;Begitu saja, mengalir dan lalu. Seringkali, tanpa sempat kita (manusia) rasakan kehadirannya. Dan pada sebuah akhir senja, dengan rasa sedih, kita mengingat-ingat lagi warna-warna yang hadir di pagi hari.&lt;br /&gt;Hidup mengalir seperti air. Kita terombang ambing dalam perahu. Seorang teman menamakannya sebagai Perahu Kertas ........ yang mengalir begitu saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-111681063436905398?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/111681063436905398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=111681063436905398&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681063436905398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111681063436905398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/05/jika-musin-bunga-tiba.html' title='Jika musin bunga tiba'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-111240572459496694</id><published>2005-04-02T08:17:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T08:35:24.596+07:00</updated><title type='text'>Kekawanan</title><content type='html'>Berapa banyak kawan-kawan di sekitar kita? Jumlahnya sangat bervariasi, tergantung bagaimana kita mendefinisikan kekawanan serta bagaimana penerimaan kita terhadap orang-orang baru di sekitar kita.&lt;br /&gt;Ada orang-orang yang sangat mudah memperoleh kawan-kawan baru, tanpa kehilangan kawan-kawan lama. Orang seperti ini biasanya dianggap sebagai orang yang mudah bergaul.&lt;br /&gt;Ada orang yang memiliki banyak teman, tetapi dalam suasana kekawanan yang terbatas.&lt;br /&gt;Ada orang yang hanya dapat menerima segelintir kawan, tetapi sangat dengan intensitas yang dalam.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bisnis, jumlah kawan yang banyak merupakan keunggulan tersendiri, karena bisnis saat ini tidak dapat dilepaskan dari jaringan pertemanan yang luas. Tetapi, tentu saja bisnis tidak dapat berjalan semata-mata dengan mengandalkan kekawanan. Banyak kasus memberi contoh bisnis yang gagal karena hubungan kekawanan yang terlalu erat, atau sebaliknya, bisnis menyebabkan hubungan kekawanan menjadi rusak.&lt;br /&gt;Di kehidupan sehari-hari, kita membutuhkan teman untuk berbagi. Teman yang akan mendengar keluh kesah serta kegembiraan kita.&lt;br /&gt;Apakah pertemanan memerlukan pertemuan secara fisik? Dunia maya sekarang menjadi begitu populer, kekawanan dapat dengan mudah didapat pada dunia maya. Ruang menjadi tak berbatas. Tetapi, dunia maya saja tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan manusia akan pertemanan. Di dunia maya, manusia dapat hidup dengan kebohongan. Seseorang dapat saja mengaku sebagai orang lain. Ekspresi emosi dapat dibuat sedemikian rupa, sehingga dunia maya serupa dengan panggung drama.  Masing-masing pelaku sekaligus menjadi penonton bagi yang lain. Di dunia nyata, manusia memiliki instink untuk mengetahui apakah sesuatu merupakan kebenaran ataukah kebohongan. Biasanya hati kita  memberi peringatan dengan melihat ekspresi wajah dan, yang paling tak dapat dimanipulasi, adalah ekspresi kejiwaan yang memancar dari wadah fisik (raga) kita. Dunia maya tidak memungkinkan itu.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, apabila kita membutuhkan teman yang intens, maka kita perlu bertemu, berkomunikasi langsung, dan kita akan merasakan kekawanan yang sesungguhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-111240572459496694?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/111240572459496694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=111240572459496694&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111240572459496694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/111240572459496694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/04/kekawanan.html' title='Kekawanan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110915146878106803</id><published>2005-02-23T16:37:00.000+07:00</published><updated>2005-03-30T08:51:35.606+07:00</updated><title type='text'>Nusa Kinasih</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/640/Nusa_kanvas_cat%20air.jpg"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: #000000 1px solid; BORDER-TOP: #000000 1px solid; MARGIN: 2px; BORDER-LEFT: #000000 1px solid; WIDTH: 133px; BORDER-BOTTOM: #000000 1px solid; HEIGHT: 176px" height="236" src="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/320/Nusa_kanvas_cat%20air.jpg" width="180" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Hello" src="http://photos1.blogger.com/pbh.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinasih, adalah yang dikasihi. Apabila engkau menjadi juru mudi sebuah perahu, maka, jadikanlah penumpangmu sebagai orang-orang yang selalu dikasihi. Untuk itu, lebih dulu engkau harus menjadikan orang-orang di sekitarmu sebagai orang-orang yang engkau kasihi. Dan untuk memberikan kasih, kita tidak perlu membelinya lebih dulu. Hati yang lapang adalah sumber kasih yang tak bertepi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110915146878106803?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110915146878106803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110915146878106803&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110915146878106803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110915146878106803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/02/nusa-kinasih.html' title='Nusa Kinasih'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110915070858792654</id><published>2005-02-23T16:25:00.000+07:00</published><updated>2005-02-23T16:34:13.823+07:00</updated><title type='text'>Buah Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/640/bunga0004.jpg"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: #000000 1px solid; BORDER-TOP: #000000 1px solid; MARGIN: 2px; BORDER-LEFT: #000000 1px solid; WIDTH: 145px; BORDER-BOTTOM: #000000 1px solid; HEIGHT: 222px" height="257" src="http://photos1.blogger.com/img/55/3744/320/bunga0004.jpg" width="173" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bunga Pertiwi&lt;/span&gt;, bidadariku, se&lt;span&gt;&lt;/span&gt;berapa jauh engkau akan melangkahkan kakimu? Semua adalah milikmu. Hanya saja, aku ingin, kelak engkau akan menjadi bunga yang mengharumi pertiwi kita. Apakah aku meminta terlalu banyak? Apakah buah hatiku adalah milikku? Seorang teman pernah berkata, kita tidak hanya berdoa  agar buah hati kita menjadi orang yang berbakti, tetapi setidaknya, kita pernah berdoa, agar kita menjadi orang yang berbakti bagi buah hati kita. Menjadi orang tua yang baik, betapa sulitnya itu.&lt;br /&gt;buah hati Bunda &lt;a target="ext" href="http://www.hello.com/"&gt;&lt;img style="BORDER-RIGHT: 0px; PADDING-RIGHT: 0px; BORDER-TOP: 0px; PADDING-LEFT: 0px; BACKGROUND: none transparent scroll repeat 0% 0%; PADDING-BOTTOM: 0px; BORDER-LEFT: 0px; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 0px" alt="Posted by Hello" src="http://photos1.blogger.com/pbh.gif" align="absMiddle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110915070858792654?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110915070858792654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110915070858792654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110915070858792654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110915070858792654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/02/buah-hati.html' title='Buah Hati'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110811136376425363</id><published>2005-02-11T15:36:00.000+07:00</published><updated>2007-10-11T14:27:29.838+07:00</updated><title type='text'>Kehilangan</title><content type='html'>Seorang Bunda merasakan betapa repotnya menjaga anak yang masih di bawah 5 tahun, karena sang Anak yang sehat, akan mengeksplorasi lingkungannya sebagai proses belajar yang alami. Setiap hari Bunda mengeluh, tetapi, tentu saja bahagia dan bangga karena Bunda dan Anak saling mengasihi. Mereka diikat dalam hubungan kejiwaan yang sangat kuat.&lt;br /&gt;Ketika Anak mulai mandiri, kerepotan Bunda berkurang, tetapi, apakah Bunda senang? Mungkin tidak. Ada yang hilang ketika sang Anak mulai menemukan dunianya. Ada yang hilang ketika Anak tidak lagi merasa bagian dari kehidupan Bunda. Ada kesepian di hati Bunda.&lt;br /&gt;Ketika Bunda membutuhkan teman untuk berpergian, ketika Bunda membutuhkan teman untuk berbagi kebahagiaan, ketika Bunda membutuhkan teman untuk berbagi kesedihan, sang Anak sudah bukan lagi bagian dari kehidupannya.Sang Anak telah memiliki dunianya sendiri.&lt;br /&gt;Hidup adalah proses kehilangan. Setiap orang ditakdirkan untuk saling bertemu, saling memperoleh, tetapi tentu juga saling kehilangan. Pada saat kehilangan, kita akan bersedih, betapa beratnya hidup ini.&lt;br /&gt;Bencana alam mendatangkan banyak kehilangan, harta benda, sanak saudara, bahkan yang paling menyedihkan, kehilangan harapan hidup. Apa yang kita miliki sebelumnya, menjadi tiada hanya dalam sesaat.&lt;br /&gt;Seorang pengemudi truk berangkat dengan niat mencari nafkah bagi anak istri dalam keadaan sehat, tetapi pagi hari, keluarga di rumah merasakan kehilangan sang pecari nafkah karena kecelakaan.&lt;br /&gt;Betapa dekatnya kehilangan itu dengan diri kita.&lt;br /&gt;Pada saat kehilangan kita menangis, pada saat memperoleh kita (seringkali) lupa untuk menyiapkan diri menghadapi kehilangan.&lt;br /&gt;Pada saat kehilangan, Bunda, dengan sangat sedih berkata, betapa tak adilnya, ketika dahulu engkau kutimang-timang dan kubesarkan, sekarang bahkan engkau tak memandang pada kesedihan yang aku miliki. Kemudian, Bunda, dengan segala kepasrahannya berkata,&lt;br /&gt;“Anakku, jiwaku sakit, karena aku selalu membutuhkanmu untuk mendampingiku, tetapi nampaknya engkau bahkan sedikitpun tak memerlukan aku”.&lt;br /&gt;Sang Anak berkata:&lt;br /&gt;“Bunda, maafkan aku, tetapi aku sangat sibuk. Bukankah kesibukan ini semua juga berasal dari Bunda? Bukankah Bunda yang menginginkan aku untuk sekolah? Bukankah Bunda yang menginginkan aku untuk selalu menjaga nama baik Bunda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah kehilangan. Mereka yang tidak pernah menyiapkan diri untuk kehilangan, akan merasakan sakit di jiwanya kemudian tenggelam dalam penderitaan serta keputus-asaan.&lt;br /&gt;Mereka yang menyiapkan diri untuk kehilangan, juga akan merasakan sakit yang sama, tetapi, rasa sakit itu adalah bagian dari pengasahan jiwa yang menjadikannya kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sakit hati, aku menerima rasa sakit itu sebagai bagian dari ujian kehidupanku, dan aku berharap menjadikan aku sebagai orang yang makin kuat. Sakit hati adalah bagian dari pengasahan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapardi Djoko Damono menulis kata-kata yang sangat indah untuk memaknai sebuah kehilangan pada hubungan yang penuh kasih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc00;"&gt;&lt;em&gt;Aku ingin mencintaimu, dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan kata-kata yang tak pernah diucapkan kayu kepada api,&lt;br /&gt;yang menjadikannya abu.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110811136376425363?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110811136376425363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110811136376425363&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110811136376425363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110811136376425363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/02/kehilangan.html' title='Kehilangan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110670094281996367</id><published>2005-01-26T07:52:00.000+07:00</published><updated>2005-01-26T07:58:50.150+07:00</updated><title type='text'>Yang Tulus</title><content type='html'>Kekayaan apakah yang terbesar di kehidupan dunia ini? Uang bukanlah ukuran segalanya. Uang dapat membeli apapun yang kita butuhkan dalam hidup ini, bahkan uang dapat membeli senyuman dan keramah tamahan, tetapi, uang tak pernah dapat membeli salam yang tulus.&lt;br /&gt;Ketika kita menjadi supervisor dari seorang staf, maka pegawai akan menghormati kita, tetapi apabila hormat itu muncul dari sebuah kepura-puraan, maka kita akan merasakan sesuatu yang hilang pada saat tidak lagi menjadi supervisor.&lt;br /&gt;Seorang guru, mungkin memiliki kekayaan terbesar, karena, hampir setiap orang akan mengingat kebaikan yang diberikan oleh sang guru.&lt;br /&gt;Tetapi, kekayaan yang terbesar adalah memiliki keluarga yang berbakti, dan teman-teman yang tulus. Di dalamnya, kita tidak akan pernah merasa kehilangan, sekalipun jarak memisahkan, dan kita telah menjadi pensiunan, yang tak lagi memiliki kekuasaan.&lt;br /&gt;Hari ini mungkin aku merasakan kehilangan, Inilah bagian dari hidup yang harus aku lalui, dan jiwaku akan terasah karenanya.&lt;br /&gt;Setidaknya, hari ini aku mencoba untuk belajar mengenali wajah yang tulus, dan membedakannya dengan senyuman cantik yang dibalut kosmetik tebal.&lt;br /&gt;(Meskipun, aku masih selalu berharap bahwa apa yang aku dapatkan selama ini adalah sebuah ketulusan)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110670094281996367?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110670094281996367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110670094281996367&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110670094281996367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110670094281996367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/01/yang-tulus.html' title='Yang Tulus'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110602897119861610</id><published>2005-01-18T13:11:00.000+07:00</published><updated>2005-01-18T13:16:11.196+07:00</updated><title type='text'>Kehilangan Orientasi</title><content type='html'>Beban yang berat terkadang membuat kita kehilangan percaya diri. Ketika rasa percaya diri hilang, maka kita kehilangan fokus. Konsentrasi terhadap permasalahan yang dihadapi menjadi pecah. Hidup menjadi makin rumit.&lt;br /&gt;Mengapa ini terjadi?&lt;br /&gt;Manusia dikarunia sejumlah sistem alarm yang sangat baik. Sinyal-sinyal dikirim untuk memberikan peringatan akan adanya sesuatu yang  tidak semestinya. Ketika menghadapi kenyataan yang sulit, kita merasa tak berdaya. Rasa tak berdaya tersebut menimbulkan kekalutan, karena situasi yang kita hadapi sangat berbeda dengan yang sebelumnya, dan diri kita memberikan peringatan dini, untuk menghindari situasi tersebut. Memaksakan diri untuk menghadapinya hanya menimbulkan ketakutan yang tak berkesudahan dan  kita mulai tidak fokus, bahkan sangat mungkin kehilangan orientasi.&lt;br /&gt;Apakah yang harus dilakukan?&lt;br /&gt;Pada saat mulai kehilangan orientasi, berarti waktunya bagi kita untuk meminta pertolongan orang lain. Menghadapi segala sesuatu dengan sendiri, meskipun kita tahu tak akan mampu, adalah tindakan yang tidak bijaksana. Masalahnya adalah apakah kita selalu ingin meminta bantuan?&lt;br /&gt;Mengasah jiwa, melatih diri untuk kuat, meningkatkan ambang batas kemampuan adalah sesuatu yang dapat dilakukan. Mencoba tetap fokus dimulai dari masalah-masalah kecil, dan menyelesaikan masalah-masalah besar, lama kelamaan akan menjadikan jiwa kita kuat.&lt;br /&gt;Kehilangan staff handal di tempat kerja pada saat beban kerja sangat besar mungkin sebuah masalah besar, tetapi mencoba untuk bertahan, adalah cara lain untuk melatih kekuatan jiwa. Meminta pertolongan orang lain pada saat mulai kehilangan orientasi, bukanlah sesuatu hal yang memalukan tetapi tentu saja ada batasnya, karena setiap orang tentu punya permasalahannya sendiri.&lt;br /&gt;Ketika bangsa dilanda bencana, mencoba untuk berteriak dan bangkit dengan kekuatan sendiri adalah sebuah cara untuk menguatkan jiwa. Tetapi, ketika menyadari kapasitas yang dimiliki tidak sebanding dengan masalah yang dihadapi, dan kita tidak meminta pertolongan, maka itu bukan sebuah keputusan yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110602897119861610?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110602897119861610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110602897119861610&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110602897119861610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110602897119861610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/01/kehilangan-orientasi.html' title='Kehilangan Orientasi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110500177508594999</id><published>2005-01-06T15:30:00.000+07:00</published><updated>2005-01-06T15:56:15.086+07:00</updated><title type='text'>Jiwa Yang  (tak pernah)  Resah</title><content type='html'>Setiap kita, pasti pernah merasakan kegelisahan, keresahan. kegalauan, apapun istilahnya, intinya adalah rasa tak nyaman yang membuat dada terasa penuh sesak. Seorang teman menulis di blognya tentang kegelisahan yang membuat dia tidak fokus. Kegelisahan, rasa yang selalu datang dengan tiba-tiba, tanpa diharapkan.&lt;br /&gt;Mengapa kegelisahan muncul? Mengapa jiwa menjadi resah? Mengapa hidup harus melalui situasi-situasi yang tidak menyenangkan?&lt;br /&gt;Kegelisahan adalah instink mahluk hidup, yang menyatakan adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan yang semestinya, entah itu baik ataupun buruk. Hewan-hewan gelisah ketika bencana alam akan datang, dan kegelisahan tersebut mendorong migrasi hewan secara besar-besaran. Ribuan burung berwarna putih terbang beberapa saat sebelum bencana alam, mereka menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;Kegelisahan muncul dari jiwa-jiwa yang terasah. Jiwa yang dapat merasakan "sakitnya" mahluk lain. Jiwa yang dapat mendengarkan dalam kesenyapan. Jiwa yang dapat melihat dalam kegelapan. Jiwa yang belum dipenuhi dengan keserakahan. Kegelisahan akan mendorong manusia untuk mengenangkan Sang Pencipta, dan mengadahkan tangan untuk, paling tidak, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat.&lt;br /&gt;Kegelisahan akan menghasilkan ketakutan apabila muncul dari jiwa yang kosong, jiwa yang tidak pernah mendengar suara hatinya atau jiwa yang hanya memikirkan kenikmatan sesaat.&lt;br /&gt;Ribuan jiwa menjadi resah karena bencana alam, ribuan hati menangis, tapi apakah kita pernah merasakan kegelisahan itu?&lt;br /&gt;Seorang budayawan menulis dialog imajiner dengan Kyai Sudrun, dan memprotes, mengapa bencana harus diturunkan di tempat orang-orang yang beribadah dengan khusuk, bukan di tengah keserakahan yang tak berhenti. Kyai Sudrun bertutur, "Tuhan memberkati mereka yang menjadi korban, dengan menyelamatkan mereka ke kehidupan kekal yang indah." Apakah ini berarti, kita yang tersisa, adalah manusia yang dimurkai Sang Pencipta? Diberkati usia yang lebih, agar, setidaknya, pernah berdoa untuk mohon ampun, dan sedikit janji untuk tidak mengulangi kenistaan yang selama ini diperbuat.&lt;br /&gt;Tetapi, kenyataan hidup selalu bicara lain. Diberbagai tempat manusia hiruk pikuk memberikan bantuan, dengan pemberitaan yang mencolok. Nothing to loss atau nothing tu - lus. Karena kita hanya memiliki jiwa yang takut, bukan jiwa yang gelisah. Karena kita tak pernah mengasah jiwa. Karena kita belum mampu melihat dalam kegelapan, mendengar dalam kesenyapan, dan merasakan dalam ketiadaan.&lt;br /&gt;Tuhan, berkatilah kami, berikanlah sedikit kepekaan pada kami, jadikanlah kami dengan jiwa yang dipenuhi kegelisahan bukan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110500177508594999?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110500177508594999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110500177508594999&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110500177508594999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110500177508594999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2005/01/jiwa-yang-tak-pernah-resah.html' title='Jiwa Yang  (tak pernah)  Resah'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-110117161759188098</id><published>2004-11-23T07:55:00.000+07:00</published><updated>2004-11-23T08:00:17.590+07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri</title><content type='html'>Apakah yang ada di angan kita, ketika menghadapi Idul Fitri?&lt;br /&gt;Hari raya (apapun agama yang dianut seseorang) adalah kebutuhan manusia untuk sekedar melepaskan beban kehidupan yang kian hari kian terasa menyesakkan. Pada Idul Fitri, kita saling berbagi maaf. Menjadikan kelegaan di dalam batin. Saya tidak tahu, apakah di negara lain terdapat tradisi untuk saling memaafkan pada saat Idul Fitri, tetapi adalah menarik untuk mencerna makna ritual saling saling memaafkan pada saat idul fitri.&lt;br /&gt;Idul fitri adalah waktu untuk saling memaafkan. Bagi orang-orang  yang sangat menjaga harga dirinya (jiwa yang diliputi keangkuhan), idul fitri adalah saat tepat untuk saling meminta maaf, tanpa harus kehilangan harga dirinya, karena setiap orang akan saling memaafkan, entah itu tulus atau tidak. Setelah shalat Idul Fitri, masyarakat akan menjalankan ritual saling bertemu, setiap orang akan tersenyum (sekali lagi entah itu tulus ataupun tidak), dan saling berjabat tangan untuk meminta maaf. Apabila pada hari-hari biasa, keangkuhan telah mengekang seseorang untuk meminta maaf, tapi saat idul fitri, orang tidak perlu merasa malu, karena setiap orang melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;Apakah budaya saling memaafkan saat idul fitri hanya ada di Indonesia? Apabila itu benar, maka, penganjur tradisi untuk saling memaafkan ini pastilah seorang sosiolog yang sangat paham dengan karakter masyarakat kita, sombong dan sulit untuk menerima kesalahan, sehingga sulit untuk meminta maaf.  Pada suku bangsa yang memiliki tradisi permintaan maaf setiap kali seseorang melakukan kesalahan (tanpa perlu merasa malu karena jiwa yang dibungkus keangkuhan), maka ritual saling memaafkan tidak perlu dibuat. Jiwa yang terbuka, hati yang sederhana, akan menerima setiap kesalahan dengan lapang disertai dengan permintaan maaf pada saat itu juga. Kita tidak perlu menunggu datangnya Idul Fitri, hanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan. Bukalah hati, lapangkan jiwa, berikanlah maaf setiap saat, sehingga kepenatan jiwa terlepaskan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-110117161759188098?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/110117161759188098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=110117161759188098&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110117161759188098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/110117161759188098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/11/idul-fitri.html' title='Idul Fitri'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-109696760142207867</id><published>2004-10-05T16:10:00.000+07:00</published><updated>2004-10-05T16:13:21.423+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Pemimpin</title><content type='html'>(&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Mereka yang terpilih untuk menjadi pemimpin pada saat ini adalah orang-orang yang membuat kontrak moral bagi generasi berikutnya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa banyak orang terobsesi untuk menjadi pemimpin? Ada banyak jawaban di situ. Menjadi pemimpin dapat diartikan sebagai upaya kita untuk menerapkan idealisme (subyektif menurut si calon pemimpin). Menjadi pemimpin adalah akses untuk meraih keuntungan (pemikiran kapitalis, mereka yang menguasai sumber daya akan memiliki keunggulan komptitif). Menjadi pemimpin adalah kebanggaan karena akan memanen begitu banyak hormat dari orang yang dipimpin (aktualisasi diri, bagian dari teori motivasi Maslow).&lt;br /&gt;Terlepas dari semua itu, keinginan untuk menjadi pemimpin adalah karunia Yang Kuasa, agar manusia termotivasi untuk maju.&lt;br /&gt;Pada mahluk hidup kelompok yang lebih rendah dari manusia, mereka yang terkuat akan menjadi pemimpin (melalui serangkaian perkelahian). Pemimpin kelompok binatang memperoleh hak untuk mendapatkan pasangan yang juga terbaik. Artinya, yang kuat adalah yang menang. Hukum alam ini membuat mahluk hidup bertahan melalui sistem regenerasi yang tertata untuk menghasilkan mahluk-mahluk yang kuat, yang mampu bertahan dalam kerasnya alam.&lt;br /&gt;Naluri primitif manusia pada dasarnya sama dengan mahluk hidup lain, yaitu mempertahankan kehidupan manusia dengan menciptakan keturunan-keturunan yang terbaik. Tetapi manusia dikaruniai lebih dengan akal budi. Menjadi pemimpin manusia berarti bertanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi siapapun yang ada pada saat ini maupun bagi generasi berikutnya. Mereka yang hanya berpikir tentang kesejahteraan sesaat, dengan menjual hutan, menghabiskan sumber daya alam, meningkatkan kualitas hidup melalui hutang yang tak terkendali, bukanlah seorang pemimpin. Pemimpin yang baik memandang jauh ke depan, menyiapkan penggantinya.&lt;br /&gt;Gajah Mada bukanlah pemimpin yang baik, karena Majapahit mulai runtuh ketika beliau telah tiada.&lt;br /&gt;Banyak CEO perusahaan multinasional sukses sesaat, tetapi perusahaan mengalami penurunan ketika ditinggalkan. Steve Job membawa keberhasilan pada Apple Computer, tetapi perusahaan segera mengalami penurunan ketika Steve mengembangkan Next Computer (yang ternyata juga tidak begitu berhasil).&lt;br /&gt;Gaya manajemen jepang, dengan kepemimpinan kolektif biasanya lebih berhasil dalam meneruskan kepemimpinan. Di Indonesia, PT Astra, yang kental dengan manajemen gaya Toyota, berhasil mempertahankan eksistensinya sekalipun William Suryajaya tidak lagi bergabung. Sony Corp tetap eksis meskipun Akio Morita tidak terlibat langsung. Kondisi ini sangat berbeda dengan perusahaan dengan gaya manajemen barat yang menekankan pada kemampuan individu.&lt;br /&gt;Pelajaran apa yang dapat kita tarik di sini? Pertama, memimpin adalah menyiapkan satu generasi ke depan. Kedua, kepemimpinan individual dapat memberikan hasil sesaat yang sangat mengagumkan, tetapi biasanya akan gagal bertahan pada saat sang pemimpin kehilangan enersinya atau pada saat terjadi pergantian kepemimpinan.&lt;br /&gt;Bagi pribadi kita masing-masing, kesimpualan yang dapat kita ambil adalah  kepemimpinan tidak dapat dinilai dari apa yang didapat pada saat ini, tetapi dari apa yang didapat dari generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-109696760142207867?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/109696760142207867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=109696760142207867&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109696760142207867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109696760142207867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/10/menjadi-pemimpin.html' title='Menjadi Pemimpin'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-109696701894249953</id><published>2004-10-05T16:00:00.000+07:00</published><updated>2004-10-05T16:03:38.943+07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Kapitalis dan Pulau Dewata</title><content type='html'>(Bali adalah tempat tinggal para dewa, karenanya sering dinamakan pulau dewata.........) &lt;br /&gt;Tapi, cobalah untuk melihat Bali saat ini dengan mata hati kita?&lt;br /&gt;Pernahkah kita meresapkan spirit dewata yang mulai pudar, tergantikan oleh keserakahan kapitalis. Mungkin ada yang salah di sana. Ketika keserakahan kapitalis mengajarkan kita untuk mengejar tumpukan uang, ketika hotel-hotel berbintang dibangun, ketika seribu turis mengejar seribu “kenikmatan”, dan ketika itulah sejuta makna kedewataan telah menghilang.&lt;br /&gt;Disebuah kampung yang katanya mempertahankan bentuk asli rumah dan adat Bali, kopi  bubuk dengan kualitas yang sangat diragukan, terbungkus dalam plastik berdebu ukuran 250 gram, ditempatkan lagi dalam sebuah wadah tempurung kelapa dengan buatan yang sangat kasar, dihargai Rp60.000,00 (dari $6?). Siapakah yang mengajarkan ini? &lt;br /&gt;Kapitalisme telah hidup subur di sebuah desa adat. Di mana para dewa tersisa? &lt;br /&gt;Kapitalisme telah mengajarkan masyarakat untuk menjual apa saja, demi setumpukan uang, bahkan harga diri sekalipun.&lt;br /&gt;Suatu saat kelak, kita akan merenungi sebuah kenyataan, kemanakah para dewa berpindah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-109696701894249953?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/109696701894249953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=109696701894249953&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109696701894249953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109696701894249953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/10/ekonomi-kapitalis-dan-pulau-dewata.html' title='Ekonomi Kapitalis dan Pulau Dewata'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-109634368372326196</id><published>2004-09-28T10:46:00.000+07:00</published><updated>2004-09-28T10:54:43.726+07:00</updated><title type='text'>Tentang Karir</title><content type='html'>Ada orang yang karirnya melesat serupa bintang jatuh, mereka adalah orang-orang yang benar-benar memperoleh bintang jatuh. Tapi sebagian orang lain (kebanyakan) karirnya berjalan sangat pelan.&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karir seseorang tergantung pada atasannya. Mereka yang karirnya cepat adalah orang-orang yang sadar bagaimana memasarkan diri. Pasarnya adalah para pengambil keputusan bidang sumber daya manusia. Siapakah mereka? Pertama adalah supervisor kita, kedua, atasan dari supervisor kita, ketiga adalah atasan dari atasan supervisor kita .... dan seterusnya. Karir adalah pekerjaan untuk meyakinkan para pengambil keputusan bahwa memilih kita merupakan keputusan yang tepat.&lt;br /&gt;Bagaimana keputusan tersebut dapat kita pengaruhi?. Terapkan prinsip ABS (Arahkan Boss untuk Senang) dilengkapi dengan EBD (Emang Bossnya Dia). Buat kinerja kita bagus, tunjukkan pada boss, kita bekerja keras untuk meraih kinerja tersebut, dan yakinkan boss bahwa kita akan terus mempertahankan kinerja. Resep ini akan mengangkat kita dari pegawai biasa menjadi first line supervisor. Setelah setahun jadi penyelia, dengan resep yang sama, ditambah kemampuan mengelola staff (termasuk di dalamnya menyiapkan calon penyelia pengganti kita), maka langkah promosi kedua akan segera kita nikmati. Lakukan terus, terus, terus, dan terus ..... Sampai pada satu titik, tanpa disadari kita telah menjadi pejabat eksekutif perusahaan. Langkah terakhir adalah menjadikan diri kita CEO. Pada tahap ini, biarkan waktu yang mengatur segalanya.&lt;br /&gt;Kesulitan terbesar dari resep di atas adalah menjaga konsistensi kinerja. Memotivasi diri sendiri untuk selalu menjadi yang terbaik. Sedikit seminar atau pelatihan motivasi diri mungkin akan membantu ketika kejenuhan mencapai puncaknya.&lt;br /&gt;Kalau kita sudah mengupayakan itu semua, tetapi karir kita tetap tersendat-sendat, berarti waktunya untuk bercermin. Kitakah yang salah, atau Boss yang salah? Bila kita yang salah, cobalah perbaiki diri, tetapi bila boss yang salah, tak perlu kecil hati, emang bossnya dia ......... Tapi tidak perlu khawatir, karena kita masih bisa untuk memilih, pindah ke perusahaan lain.&lt;br /&gt;Di atas segalanya, percayakan diri kita pada Yang Kuasa, karena tak ada manusia yang mampu melawan takdir, dan tak ada takdir yang akan diubah tanpa usaha.&lt;br /&gt;Ketika semua ini telah kita lakukan, maka kita telah melaksanakan langkah untuk menjadi orang besar. Mereka yang telah melangkah dengan sungguh sungguh tetapi tidak berhasil bukanlah orang yang gagal, tetapi kegagalan adalah milik mereka yang tidak pernah mencoba.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-109634368372326196?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/109634368372326196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=109634368372326196&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109634368372326196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109634368372326196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/09/tentang-karir.html' title='Tentang Karir'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-109419127552639584</id><published>2004-09-03T12:39:00.000+07:00</published><updated>2004-09-03T13:01:15.526+07:00</updated><title type='text'>Keberhasilan</title><content type='html'>Apakah Keberhasilan itu?&lt;br /&gt;Mario Teguh, seorang konsultan bisnis, menjawab, orang dikatakan berhasil apabila orang tersebut bertambah kaya. Tetapi tentu saja kekayaan dalam pengertian ini dimaknai secara sangat luas. Bagi orang yang mendambakan uang, keberhasilan adalah apabila dia berhasil mengumpulkan uang sedemikian rupa banyaknya, sehingga dia merasa tidak perlu uang lagi. Bagi seorang guru, keberhasilan ialah bertambahnya pengetahuan yang dimiliki, dan makin banyaknya murid yang dibesarkan. Ukuran kekayaan setiap orang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Dalam teori ekonomi, mungkin, keberhasilan dapat dianalogikan dengan nilai tambahan manfaat yang sama dengan nol atau negatif, apabila seseorang mengkonsumsi sesuatu. Seorang yang haus, akan merasakan manfaat yang sangat besar pada tegukan minum yang pertama, pada tegukan kedua, dia masih merasakan manfaat, ketika dia minum satu gelas, rasa haus mulai hilang. Inilah titik keberhasilan, sebab, ketika dia diminta untuk meminum satu gelas lagi, maka yang didapatnya bukanlah pemuas dahaga, tetapi perut yang mual dan kembung.&lt;br /&gt;Bagaimana kita meraih keberhasilan?&lt;br /&gt;Keberhasilan hanya dapat diraih apabila keserakahan dihilangkan. Orang yang serakah tidak akan berhasil, karena dia tidak akan pernah merasa kaya. Koruptor akan terus korupsi, meskipun jumlah mobil mewah yang dimiliki lebih banyak dari pada jumlah anggota keluarganya. Hutan akan terus ditebang habis, meskipun laba perusahaan telah memenuhi untuk menghidupi negara selama satu tahun, dan pegawai rendahan tak pernah merasakan bonus yang pantas.&lt;br /&gt;Keberhasilan hanya dapat diraih apabila seseorang mengetahui apa yang dicarinya dalam hidup. Kalau manusia belum mengetahui tujuan hidupnya, maka dia tidak dapt mengukur apa yang telah dicapainya.&lt;br /&gt;Keberhasilan hanya dapat dicapai apabila manusia telah menggunakan semua kapasitas yang dimilikinya untuk mencapai tujuan. Karenanya, orang-orang yang tidak mencapai tujuan hidupnya, tetapi telah menggunakan semua kapasitas yang dimilikinya, adalah orang-orang yang berhasil, sebab di atas manusia, masih ada Yang Maha Kuasa, yang mengatur setiap kehidupan di dunia ini. Kita menamakannya takdir.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-109419127552639584?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/109419127552639584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=109419127552639584&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109419127552639584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109419127552639584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/09/keberhasilan.html' title='Keberhasilan'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-109402002715856418</id><published>2004-09-01T13:17:00.000+07:00</published><updated>2004-09-01T13:27:07.156+07:00</updated><title type='text'>Ketika Jiwa Harus Diasah</title><content type='html'>Masyarakat kita sungguh telah menjadi masyarakat yang sakit. Setiap hari kita melihat orang berdoa, yang khusuk, yang menangis, yang berteriak, ..... yang menyesal, yang bertoba..... Tetapi, setiap hari kita melihat di jalan-jalan, orang yang saling memaki, orang yang saling berebut kekuasaan, orang yang saling membunuh, orang yang korupsi, orang yang .........&lt;br /&gt;Siapakah yang bersalah? Apakah agama sudah tidak lagi mampu menjaga perilaku manusia? Ketika orang-orang terhormat berdoa, tetapi tetap menjaga keserakahannya.&lt;br /&gt;Hari ini, banyak proyek atas nama pembangunan diresmikan, tetapi, hari ini juga, sejumlah orang tersisihkan hak-haknya, karena ketidak tahuan, karena ketidak berdayaan.&lt;br /&gt;Di jalan, pemilik mobil mewah memaki pengemudi becak, karena menghambat jalannya. Pernahkan mereka berpikir, betapa panasnya di luar mobil yang dingin itu. Berapa banyak jumlah asap knalpot yang dihisap. Betapa beratnya mengayuh kendaraan yang dinamakan becak.&lt;br /&gt;Ketika hidup makin berat, jiwa kita makin perlu untuk diasah.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-109402002715856418?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/109402002715856418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=109402002715856418&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109402002715856418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109402002715856418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/08/ketika-jiwa-harus-diasah.html' title='Ketika Jiwa Harus Diasah'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8106215.post-109366524517179975</id><published>2004-08-28T10:41:00.000+07:00</published><updated>2004-08-28T10:54:05.170+07:00</updated><title type='text'>Nuansa Pagi</title><content type='html'>Setiap pagi, manusia bangun, dengan sebuah semangat yang baru. Kadangkala semangat itu sangat menggebu, terkadang (mungkin sering) semangat itu begitu lemahnya, sehingga enggan untuk disebut semangat.&lt;br /&gt;Nuansa pagi mewarnai kehidupan seluruh hari yang akan dilalui. Ketika manusia bangun dengan semangat yang menggebu, maka hari itu dia akan menjadi seorang optimis, ketika pagi itu dia bangun dengan semangat yang lemah, maka hari itu dia akan menjadi seorang yang lemah.&lt;br /&gt;Di sekolah, di tempat kerja, bahkan di taman bermain anak-anak, setiap orang memulai kehidupan dengan semangatnya. &lt;br /&gt;Hari ini, atasan di kantor marah besar karena proyek gagal diraih. Hari ini Ibu guru harus menghukum Budi, karena tidak mengerjakan PR nya. Hari ini Budi bersedih, karena dihukum Ibu guru, karena tidak mengerjakan PR, karena tadi malam harus menemani Ibu menunggu Ayah di rumah sakit. Hari ini, sekelompok pelajar berkelahi di atap kereta listrik. Hari ini ....&lt;br /&gt;Nuansa pagi akan mewarnai kehidupan kita hari ini&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemarin dan esok adalah hari ini ...... (&lt;/em&gt;Rendra)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8106215-109366524517179975?l=diditrachmadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/feeds/109366524517179975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8106215&amp;postID=109366524517179975&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109366524517179975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8106215/posts/default/109366524517179975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://diditrachmadi.blogspot.com/2004/08/nuansa-pagi.html' title='Nuansa Pagi'/><author><name>DIDIT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18016570236496635254</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
