Saturday, November 19, 2022

Musim penghujan

hanya gerimis kotapun lirih
kemarin ada yang bercerita tentang mencari sesuatu yang tak ada tetapi, mungkin lebih mudah bila kita tak usah mencari. 
kitapun tak perlu mencari dedaunan yang jatuh di rumput 
seperti gerimis itu datang mengetuk kaca jendelamu, kemudian jatuh, ke dedaunan yang gugur di rerumputan, menyempurnakan persembahan daun untuk bumi. 

hanya gerimis dan kotapun lirih
haruskah aku mencari rembulan, yang sedang bersembunyi? Tak perlu, kata langit. Ini waktunya mendung mengirim hujan, menyempurnakan  pepohonan untuk menjadi tumbuh untuk menjadi gugur

tak usah gelisah, alam tak pernah memerlukan nama jalan ataupun peta untuk mengirimkan  apa yang  dijatahkan untukmu

Saturday, July 29, 2017

Kritik

Penonton biasanya lebih pandai dari pemain. Tapi, mungkin kita lupa bahwa memandang foto yang sudah disajikan dalam bingkai berbeda dengan fotografer memandang obyek foto. Kita memandang masalah harga garam tentu berbeda dengan bagaimana pengelola negara ini memandangnya. Mengapa? Pemandang foto hanya melihat foto itu dalam frame yang sendirian, obyek-obyek lain dihilangkan. Mereka yang memandang harga lombok atau garam sebagai masalah negara hanya melihat  yang ada di frame itu hanyalah garam, tak ada obyek lain.  Tak bisa disalahkan memang, karena memang seperti itulah yang nampak. Seperti anak yang protes karena uang sakunya diturunkan, sang anak tidak melihat bahwa ada banyak hal lain dalam keluarga yang harus dibiayai.

Seperti foto berikut, kita yang memandangnya hanya melihat kuntum bunga, sedangkan fotografer yang membuatnya memandang kuntum yang sangat kecil dengan diameter tak lebih dari satu sentimeter. Banyak semak belukar di sisinya juga dedaunan kering dari pohon lain. Fotografer merasakan terpaan angin atau mungkin sengatan panas matahari. Fotografer mendengar bunyi, bisa jadi suara mendesis mungkin ular yang berbahaya.


Jadi, mari kita belajar memandang sesuatu dengan utuh sebelum mengkritik. Bayangkanlah, kalau kita duduk sebagai  pembuat kebijakan, seribu permasalahan yang dihadapi. Sanggupkah kita? Bisakah kita membuat pilihan-pilihan yang semuanya berdampak positif dan negatif? Saya mendukung pemerintahan yang mencoba berbuat untuk negara kita, barangkali semacam upaya penyehatan. Kita memang prihatin saat ini, tapi, ini adalah terapi untuk hidup yang lebih baik di masa mendatang. Anak cucu kita. 


Tuesday, February 21, 2017

Supply Creates Its Own Demand


Tulisan ini pernah saya muat pada "catatan" di akun  fb pada tanggal 21 Januari 2011 pukul 9:39, saya tuliskan lagi di blog ini. Dulu rasanya semua "catatan" di fb berasal dari blog saya, tapi entah kenapa, saya tak menemukan yang satu ini. Karena itu, saya coba tulis ulang. Mohon maaf kalau ternyata menjadi dua kali entry di blog ini.  


“Bawakan aku seekor kera dewasa, dan aku akan membayarnya  seratus ribu rupiah per ekor, jangan lupa, bawakan sebanyak-banyaknya.”
Begitulah, ketika seorang pengusaha datang ke sebuah pulau kecil dengan penduduk yang miskin. Di pulau itu memang terdapat kera-kera liar yang sering mencuri hasil kebun masyarakat.
Minggu pertama, masyarakat menyetorkan seratus ekor kera. Semua dibeli dengan harga seratus ribu rupiah. Entah itu kera betina, jantan, sehat, ataupun sakit.
“Kemana Bapak kirimkan kera ini?” Tanya seorang petani ingin tahu.
“Pasar kera di luar sana sangat besar. Tak terbatas, berapapun yang engkau bawa”. Kata si pengusaha sambil menunjukkan kapal kecil yang penuh dengan peti-peti di atasnya. Kapal itu tiap sore berangkat dan kembali lagi pagi harinya....

Bulan kedua, populasi kera mulai menurun. Kera makin sulit diperoleh. Petani pencari kera mulai mengeluh.
“Baiklah, aku naikkan harganya menjadi tiga ratus ribu,” begitu kata sipengusaha

Bulan ketiga, makin susah memperoleh kera harga dinaikkan menjadi lima ratus ribu rupiah.
Bula ke enam, tak ada lagi kera bisa diperoleh. Pengusaha marah-marah.
“Kalau seperti ini, bagaimana bisa bisnis?” Teriaknya. Penduduk melongo, tapi tak bisa berbuat apapun. Membeli kera dari luar pulau terlalu jauh dan hitungannya dengan harga lima ratus ribu tak sebanding dengan biaya perjalanannya
“Baiklah, aku mau berlibur dulu. Selama sebulan ini, silahkan cari kera sebanyak-banyaknya. Nanti setelah liburan, aku akan naikkan harga kera menjadi dua juta rupiah perekor.  Ingat, dua juta rupiah ya... “

Pengusaha pergi berlibur. Penduduk makin melongo. Dua juta rupiah untuk satu kera, harga yang menakjubkan. Mereka hitung-hitung biaya perjalanan ke luar pulau, sewa kapal, bekal berburu dan sebagainya.
Tiba-tiba, pembantu si pengusaha datang. Berbisik-bisik tentang kera.
“Bagaimana kalau aku curi kera milik si pengusaha dan aku jual pada kalian 1 juta rupiah?”
Penduduk makin melongo. Dari pada keluar pulau, tawaran ini jauh lebih menarik. Ada keuntungan satu juta rupiah.  Mereka sepakat. Transaksi dilakukan. Ratusan kera berpindah tangan. Si pembantu berpesan ke penduduk, untuk tidak melapor apapun kepada majikannya, dan dia akan melarikan diri.
“Katakan pada majikanku nanti  bahwa aku tenggelam di laut, hilang,” begitu pesannya.
Sejak itu si pengusaha itu tak pernah kembali lagi.......

Friday, November 04, 2016

Penistaan Agama


Agama adalah tentang memahami asal muasal kita  dan menghargai kehidupan. Namun, sayangnya  kosa kata manusia yang terbatas menjadikan kita mengalami kesulitan dalam memahami kitab suci. Karena itulah, tidak seperti ilmu pengetahuan yang dilahirkan dari gagasan  manusia yang batasannya jelas, agama membuka ruang tafsir yang sangat besar. Di situlah akal budi kita berperan dalam proses memahami Tuhan.  Saya ingin mengutip Karen Armstrong, “Pengalaman tentang Tuhan harus diiringi oleh antusiasme lain, termasuk antusiasme akal”. Jelas sekali bahwa Tuhan memberikan kemampuan berpikir pada kita, agar kita pergunakan seluas-luasnya bagi kelangsungan kehidupan manusia yang lebih baik di bumi ini. Misalkan kita sakit, ilmu-ilmu kedokteran yang berkembang karena akal pikiran manusia, merupakan sebuah solusi yang kita ciptakan untuk mencari kesembuhan. Saya rasa, kita termasuk  mengabaikan perintahNYA, bila hanya mengandalkan doa memohon-mohon kesembuhan tanpa berpikir dan berbuat sebagaimana seharusnya dilakukan menurut ilmu pengobatan yang berasal dari akal pikiran manusia.

Tentu saja, Tuhan adalah realitas yang berbeda dari semua yang ada di alam semesta ini, tetapi, Dia bukan saja sekedar realitas yang berbeda. Kita ingin Dia hadir dalam wujud keseharian. Kita bisa menangis kepadanya, kita bisa mengadu, bahkan, kita bisa marah karena merasa Dia dihina. Karena itulah,  pertanyaan-pertanyaan filosofis, kita perlukan untuk mengaitkan keberadaan Tuhan dengan antusiasme lain di kehidupan kita. Inilah yang akan membantu kita memahami keberadaanNYA dalam kehidupan, sehingga bisa kita pahami, bahwa realitas tertinggi itu, tidak berbeda dan tidak terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari.

Sebagai contoh, penciptaan alam semesta. Saya berkeyakinan, adalah sebuah kesalahan, bila risalah tentang penciptaan alam semesta itu, hanya dipahamai sebagaimana adanya seperti tertulis dalam kitab suci. Tuhan bukanlah sebuah wujud seperti yang ada di alam semesta ini, sehingga kita mungkin memahami penciptaan itu seperti manusia membuat sebuah roti dengan proses-prosesnya. Kisah penciptaan alam semesta bukanlah sebuah “kebenaran ilmiah” menurut nalar manusia, melainkan sebuah simbol tentang kemaha-kuasaan, meminjam istilah Karen Armstrong, “ungkapan simbolik tentang kebenaran spiritual dan psikologis”. Bayangkan, seperti seorang anak kecil menggambar rumah, lengkap dengan perabotan dan manusia di dalamnya. Dunia ciptaan Tuhan barangkali seperti itulah. Bagaimana mungkin “gambar” manusia di kertas  tersebut bisa memahami bahasa manusia yang menggambarkannya?  Kecuali bahwa pada saat menggambar, si anak kecil itu memberi warna, maka, di dunia kertas itu mereka akan mengenal warna. Apakah dengan pengenalan warna, katakanlah merah, yang mereka lihat di tubuh masing-masing itu, akan berarti bahwa anak kecil yang menggambar mereka juga berwarna merah.

Saya jadi ingat, di Madilog (Materialisme Dialektika Logika), Tan Malaka menulis  bagaimana kitab suci harus menggambarkan surga sebagai tempat hidup yang sangat indah. ( Fokus saya pada  cuplikan Madilog ini bukanlah pada makna buku itu secara keseluruhan, tetapi, tentang bagaimana sebuah kalimat Tuhan harus diterjemahkan ke dalam teks dengan kosa kata manusia, agar kitab suci dapat  dipahami dengan mudah). Bagi masyarakat yang hidup di padang pasir, surga tentu saja disimbolkan dengan air sungai yang jernih dan ruang hidup yang sejuk. Akan berbeda ceritanya bagi suku bangsa lain, yang memiliki kehidupan berburu, seperti suku indian, bagi mereka surga adalah padang buruan yang luas yang dipenuhi binatang buruan yang gemuk. Tuhan memudahkan manusia mehamami aturan main dengan membahasakan hukum-hukumnya ke dalam tata bahasa manusia. Seperti itulah kita memahami sang pencipta.

Karena “jarak” antara bahasa ketuhanan dan bahasa manusia harus diterjemahkan dalam tafsir, maka, kita tak pernah luput dari distorsi makna. Inilah yang menimbulkan perbedaan suatu kelompok dengan kelompok lainnya, meskipun sama-sama mengikuti kitab suci yang sama.
Seseorang yang mengaku bertuhan atau  beragama, tentu saja harus memenuhi dirinya dengan kehadiran Tuhan. Rasanya, tak ada satupun ajaran berketuhanan ini yang mengajarkan tentang kekerasan dan pemaksaan kehendak. Tuhan selalu membimbing kita untuk menemukan kebenaran, bukan kekerasan. Dan kebenaran itu, bisa berasal dari mana saja.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip salah satu pernyataan ilmuwan muslim yang dikenal  begitu toleran dengan pemikiran rasional terhadap Al Quran.  Adalah  Yaqub Ibn Ishak Al-Kindi, di tahun 800an masehi. Bagi Al Kindi, tugas para filosof adalah untuk mencari kebenaran dalam bungkus budaya atau bahasa apapun.

Kita tak usah malu meyakini kebenaran dan mengambilnya dari sumber manapun ia datang pada kita, bahkan walaupun seandainya ia dihadirkan kepada kita oleh generasi terdahulu dan orang-orang asing. Bagi siapa saja yang mencari kebenaran, tak ada nilai yang lebih tinggi kecuali kebenaran itu sendiri; kebenaran tidak pernah merendahkan atau menghinakan orang-orang yang mencapainya, namun justru mengagungkan dan menghormatinya

Jadi, siapakah yang menistakan agama?


Yogyakarta, 3 dan 4 November 2016, ketika demonstrasi penistaan agama merebak.



Monday, December 29, 2014

Marketing: Menjual Pengalaman


Dalam empat tulisan sebelumnya kita membahas bagaimana rencana bisnis dibuat. Banyak orang mampu membuat rencana dengan baik dan detail, namun, banyak orang yang tidak berani memulai langkah pertama. Pengusaha yang berhasil pasti mengalami jatuh.  Karena itu, kitapun harus siap menghadapinya. Persiapan yang paling aman adalah jangan menghabiskan seluruh tabungan  dalam memulai usaha, jadi bila gagal, masih ada kesempatan lain, masih ada waktu dan sumber daya untuk nmemperbaiki kesalahan.  Dan salah satu kiat untuk mencegah kegagalan, ada baiknya kita memahami tentang marketing mix, atau diterjemahkan menjadi bauran pemasaran.
Memasarkan produk, bukan sekedar menjual.  Kalau di awal-awal tulisan saya sempat mengulas tentang menghitung peluang pasar, sebenarnya itu adalah bagian dari kegiatan pemasaran.  Sebegitu luasnya pengertian pemasaran, bermula jauh sebelum kita membuat produk, bahkan sebelum kita menjalankan usaha hingga proses purna jual. Untuk mempermudah pemahaman dan memudahkan penerapannya pemasaran ini, para ahli  membagi-bagi kegiatan pemasaran tersebut minimal menjadi 4 kelompok, yaitu tentang produk, tentang harga (price), tentang tempat atau saluran distribusi (place), dan tentang promosi. Kesemuanya dalam dimulai dengan huruf “P”,  sehingga dikenal sebagai 4 P dalam pemasaran.
Kita akan bahas masalah tersebut satu persatu, namun sebelum masuk ke sana, perlu dipahami bahwa sukses sebuah usaha itu bukan  sekedar produk yang baik, harga yang murah, mudah diperoleh, dan program promosi yang tepat.  Banyak penjual makanan gagal, padahal  rasa masakannya sama dengan tempat lain. Ada warung makan di plosok yang susah dijangkau tetapi tetap dicari orang. Ada barang murah dengan kualitas memadai tapi tak laku. Lantas, apa yang menyebabkan suatu usaha berkembang dengan baik?
Pengalaman. Itulah kuncinya. Dalam transaksi pembelian, konsumen memperoleh pengalaman. Pengalaman buruk berdampak buruk, pengalaman menyenangkan akan berdampak baik. Makanan enak, harga murah, tempat mudah dijangkau, parkir mudah, tetapi, saat ingin bersantap, konsumen ini bertatap muka dengan kita, yang kebetulan sedang sakit gigi tak sedap dipandang, hilang selera makan pembeli ini. Satu pelanggan memperoleh pengalaman tak indah, berita menyebar ke seluruh dunia, lewat jejaring sosial.
Pengalaman kadang muncul dari hal-hal sederhana yang tak terpikirkan. Misalnya, entah karena kelalaian pegawai, ruang displai kita sedikit basah dan licin. Satu pelanggan datang, dan terpeleset. Berita itu menyebar begitu cepat. Awalnya, mungkin konsumen kita sekedar iseng mengunggah fotonya saat jatuh, karena kita telah meminta maaf dan sudah tak ada masalah lagi, namun, berita akan terreduksi pada setiap turunannya. Dan cerita yang paling seru , yang bisa menyebar “salah paham dengan konsumen, pemilik toko aniaya pembeli..”
Pengalaman, bisa berasal dari mana saja, bukan saja saat transaksi pembelian, bisa juga setelah pembelian, bisa juga hanya dari cerita orang.  Pengalaman bisa berasal dari produk secara fisik itu sendiri misalnya produk cacat. Pengalaman juga bisa berasal dari program promosi, misalnya, saat konsumen akan bertransaksi setelah membaca iklan kita, ternyata ada catatan kecil pada iklan yang dibuat tak mencolok, tak terbaca oleh konsumen, yang menjadi syarat berlakunya program promosi. Ini tentu saja mengecewakan pembeli.
Pengalaman konsumen  menjadi penting bagi pengusaha, karena itu, pengusaha harus memberikan pengalaman yang  “luar biasa” untuk dirasakan pembeli, sehingga mereka bersedia melakukan pembelian ulang, bahkan bersedia  “menjadi tenaga penjual sukarela”. 
Dalam konteks itulah, maka kita akan membahas 4 P dalam pemasaran pada tulisan minggu depan. Tetaplah bersama kami UKM Center Bank BPD DIY.
(dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Senin, 29 Desember 2014)

Wednesday, December 24, 2014

Good Governance: Hukum dan Etika


Saya pernah berseloroh pada sebuah diskusi tentang tata kelola yang baik. Terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika regulator perbankan mengeluarkan berbagai kebijakan tentang tata kelola [Good Corporate Governance]. Saya katakan begini, makin banyak produk hukum di suatu negara, makin rendah peradaban penduduk negara tersebut. Tentu saja sebuah seloroh, tapi rasa-rasanya ini benar juga. Bayangkan, ketika semua harus diatur secara tertulis, bukankah itu dapat diartikan  banyak hal terjadi yang menimbulkan gesekan antar masyarakatnya. Sederhananya begini, menjadi aturan tidak tertulis, ketika ada tetangga yang mengalami musibah, maka kita akan sampaikan belasungkawa kita, bahkan mungkin bila itu sebelah rumah, kita akan batalkan acara perayaan ulang tahun anak kita, atau kalau di lingkungan rumah merangkap toko, kita akan ikut menutup toko. Tak ada aturan tertulisnya, karena, orang-orang menjalankan sesuatu dengan dasar saling menghormati. Derajat hukumnya mungkin lebih tinggi, yaitu etika, meskipun di sana tak ada ancaman kurungan. Mengapa saya katakan lebih tinggi? Karena etika mengatur “jiwa”, Yang dihukum bukan raga kita dengan hukuman kurungan atau denda tapi, jiwa kita, dengan hukuman rasa bersalah.
Etika adalah hukum tertinggi. Berasal dari kehidupan yang penuh peradaban, ketika manusia melakukan hal yang  benar bukan karena tekanan dari luar, tetapi, karena kesadaran jiwanya, bahwa kita harus berbuat benar.
Sekarang saya ingin mengaitkan etika ini dengan ketentuan tata kelola perusahaan yag baik, atau good corporate governance, yang akan saya ringkas saja dengan GCG.  GCG dalam industri perbankan di Indonesia adalah hukum tertulis, ada panduan ada kewajiban untuk melaksanakan, dan ada sanksi. Segala seuatu harus dilakukan dengan transparan, akuntabel [dapat dipertanggung jawabkan], dan adil, begitu saja kita ringkaskan.  Namun di dunia nyata, terutama di Indonesia, praktek-praktek bisnis kadang sulit bahkan dapat berbenturan dengan regulasi GCG ini. Kita tahu, menjamu relasi adalah bagian dari praktek bisnis, dan banyak perusahaan mengalokasikan biaya khusus untuk ini, tetapi menjamu yang seperti apa yang dapat kita anggap sebagai kegiatan yang tak bertentangan dengan praktek GCG?
Eksekutif perusahaan diberi fasilitas khusus untuk mengeluarkan biaya jamuan dengan relasi. Perusahaan menganggap  pejabat eksekutif adalah representasi perusahaan di lingkungannya. Itu sesuatu yang wajar, karena perusahaan yang memiliki reputasi baik, tak ingin wakilnya nampak hidup “menderita”. Bila kesan itu yang muncul, bisa jadi pelanggan membatalkan kontraknya, karena khawatir perusahaan dalam keadaan tak sehat.
Penjelasan bahwa pejabat eksekutif sebagai representasi perusahaan belum bisa menjawab pertanyaan, jamuan seperti apa yang pantas diberikan kepada relasi? Ada banyak diskusi tentang hal ini. Beberapa pengamat yang beraliran “GCG murni” mengatakan, harus dibuat aturan yang jelas agar tidak menimbulkan salah penggunaan. Pejabat eksekutif yang sangat berorientasi pasar, tentu akan berkata sebaliknya, kewenangan pengeluaran biaya representasi itu haruslah sangat fleksibel, karena dalam dunia bisnis ada wilayah abu-abu yang sulit untuk memenuhi persyaratan transparansi dan akuntabel sebagaimana diatur pedoman GCG.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Saya akan kembali ke seloroh di atas, makin banyak aturan tertulis makin tak beradab rasanya kehidupan kita ini. Dari sudut pandang saya, ini adalah masalah etika. Rasanya, cukup dibuat aturan garis besar dengan kalimat singkat, “dana representasi tidak dipergunakan untuk menunjang gaya hidup pejabat eksekutif dalam keseharian yang tidak berhubungan dengan kinerja perusahaan”.  Apakah ukurannya? Etika. Siapa yang mengatur? Suara hati.
Rasanya tidak etis bila kita menjamu relasi atas nama perusahaan, tetapi tujuannya adalah  untuk memperoleh impresi  pada pribadi kita. Sulitkah? Tidak sama sekali, kecuali kita mematikan saluran suara hati.
Saya akan tutup tulisan ini dengan kutipan dari Jakob Oetama, “sukses tidak diraih dari cara-cara yang tidak etis”
Selamat menyambut tahun baru 2015, Allah memberkati setiap langkah kebaikan kita. 

Monday, November 17, 2014

Tentang Hujan Yang Lalu Tadi Malam

Sudah bukan Juni, jadi tiap hari mungkin hujan.
Seandainya saja aku punya waktu untuk memelukmu, dan seandainya saja engkau punya waktu untuk memelukku, mungkin aku tak perlu memandangi bayang-bayangmu yang berjatuhan di rumput-rumput liar.
Engkau lalu, meninggalkan bekas, basah yang dingin.
Perih yang dalam
Aku gagap
Sia-sia memelukmu

Thursday, September 18, 2014

Seandainya

Seandainya hujan turun sebentar saja, mungkin bumi akan lebih dingin, tetapi hujan sudah lama tak hendak datang,  jadi lebih baik tak usah berharap pada hujan.
Seandainya saja kita memesan  avocado float, mungkin kita bisa lebih merasakan manisnya, tetapi, aku memesan ilalang, dan engkau memesan bayang-bayang, jadi mungkin lebih baik kita tak usah berharap pada suatu rasa.
Seandainya saja bintang jatuh di dalam tembok, mungkin bumi akan lebih terang dan mudah untuk memandang, tetapi bintang jatuh di balik tembok, jadi lebih baik tak usah berharap pada terang.
Seandainya saja aku berhenti berharap, mungkin segala sesuatu akan lebih mudah.....

Tuesday, September 16, 2014

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas, Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu, sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada lagi

[goenawan mohamad, 1966]

Monday, June 16, 2014

Juni

Ini sudah Juni dan
tadi sore masih hujan
Kemudian dengan matanya disapunya bekas-bekas hujan
yang menyeruak dari sela-sela rumpun bambu;
daun-daun yang jatuh.
Dengan satu tanya: hujan ini milik siapa?

Tuesday, March 25, 2014

Di Restoran

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput -
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras -

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rapa lapar yang asing itu

[SDD  di restoran]

Wednesday, March 19, 2014

Lagi, Tentang Gie

Gie, menulis puisi-puisi yang sentimentil, seperti ada kesepian, seperti ada sesuatu yang mengusik pikiran, tetapi tak bisa dia sampaikan.  Berikut ini satu puisi lain dari Gie.
Kesepian, mungkin memang membuat orang menjadi sentimentil, dan saat itu, seseorang akan teringat pada orang-orang yang pernah dekat ["kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku"]. Gie menggunakan kata "pernah".  Rasanya dia memang menunggu,  berharap, seseorang yang dulu selalu menghampirinya  untuk kembali datang, bukan sekedar lalu, dan hanya menyisakan kelebat.


ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi

ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu


mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Monday, March 17, 2014

Gie

Hok Gie, tokoh muda yang aku kagumi, meski aku mengenalnya jauh setelah kepergiannya. Aku  membaca tentang Gie pertama kali tahun 83 saat SMA, saat buku hariannya diterbitkan dengan judul "Catatan Harian Seroang Demonstran".  Ada satu puisi yang ditulisnya, menarik sekali. Tiba-tiba aku teringat kembali puisi itu dan mencoba mencarinya. Aku tulis di blog ini. Judulnya "sebuah tanya", . Mungkin pertanyaan bagi dirinya sendiri.

Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”


(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)


“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”


(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”


(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”


Selasa, 1 April 1969

Friday, March 07, 2014

Ada Lagu

"Ada lagu, ada lagu", katamu
"Dimanakah?"
Di dalam waktu saat kubawakan kau secangkir susu. Ini Chopin dan Bach.
"Tidak, terima kasih, aku rindukan hujan dan sepotong mendoan".

Yang belum aku selesaikan

"Ini maret", kata suara
"Ya, kepada siapa aku berkata?"
"kepadaku"
"Lalu kenapa dengan Maret?"
"Mengingatkanmu pada sebait yang dulu belum selesai kau tulis"
Baiklah, ini Maret, mari menyambut  terang

Apa kabar?

Lebih dua belas kali telah disobeknya kalender, dan selama itu pula dia tak lagi menerima kata-kata. Kemudian pada suatu pagi yang hujan tak jadi turun, diambilnya kuas. Pada selembar kertas, ditulisnya dengan hati-hati dan penuh kasih
"Apa kabar...?"
Kerta itu dilipatnya hati hati dan penuh kasih pula, disimpan di ruang hatinya

Pada titik yang sama

tadi pagi saat gelap dipandanginya timur dan diapun mendapatkan terang.
sore ini saat terang dipandangainya barat dan dijumpainya gelap
"matahariku",  didesahkannya nafas panjang

Monday, September 30, 2013

Tentang Waktu


Seandainya bisa memilih, mungkin kita tak ingin menjadi manusia, yang selalu bertanya-tanya apa dan mengapa ada kehidupan. Seandainya bisa memilih, mungkin kita tak ingin menjadi manusia, yang selalu dalam kecemasan, kapan Dia akan datang memanggil. Tapi, begitulah, memang lebih mudah bila tak perlu bertanya apa dan mengapa, membiarkannya mengalir dan menikmati saja setiap detik yang lalu. Bila seperti itu, denting dawai mungkin terasa lebih indah. Memang selalu "mungkin" karena kita  tak pernah bisa memastikan. Dan, terlebih lagi, kita tak bisa memilih. Alangkah nyaman bila kita bisa memilih puncak gunungnya saja tanpa harus merasakan kedalam jurang, seperti memilih panenannya saja tanpa harus memilih keluar keringat.
Seorang guru pernah memberi nasehat, peluklah semuanya. Peluklah setiap senyum yang kau miliki dan peluk pula setiap tetesan air mata yang mengalir. Itulah dunia. Kalau engkau hanya memeluk kehidupan, maka engkau akan takut pada kematian. Tapi, apakah semudah itu, seperti ditulis sang guru dan sering disampaikannya dalam ceramah radio?  Mungkin mudah, bila itu hanya memeluk siang dan malam Siang engkau peluk dengan karyamu, dan malam engkau peluk dengan renunganmu. Saat memeluk siang, engkaupun mendamba malam, ingin tetirah. Saat memeluk malam, engkau mendamba siang, ingin berkarya. Tapi, saat sehat, apakah engkau merindukan sakit? Ah, tentu saja tidak. Tapi, bagaimana kita bisa memeluk kebahagiaan saat sehat tersebut bila kita tak merasakan sakit? Pastilah, tanpa sakit, sehat hanyalah hal yang biasa-biasa saja, yang mungkin kita abaikan adanya.

Tapi, apakah kita bisa memeluk waktu? Belum jelas juga rasanya bagiku untuk memahami waktu. Dia mengalir, tak terbendung. Kita bisa membuat sekat-sekat sementara untuk penanda. Sekedar nama detik, menit, jam, hari,  minggu, bulan, dan tahun, tapi, apa yang kita beri tanda? Lihatlah penanda yang kita buat itu, meskipun namanya sama, tapi tak ada yang berulang. Bahkan denting pianopun tak pernah berulang. Aku yang sekarang menulis ini, pasti bukan aku yang akan membacanya nanti setelah selesai. Tak akan pernah sama. Kitapun tak punya pilihan selain mengikuti saja kehendak waktu.

Waktupun memiliki  rahasianya sendiri. Cobalah renungkan pernjalanan hidup ini. Ruang hidup kita, benda-benda di dalamnya serta makhluk hidup lain yang ada di sekitarnya, termasuk ruang waktu yang di sepanjang hidup ini, rasanya lebih sering menyisakan kecewa dalam diri kita. Lihatlah, berapa banyak orang yang kita keluhkan dibandingkan dengan orang yang kita banggakan? Berapa banyak gagal yang kita rasakan dibandingkan sukses yang datang? Tapi, ada sebuah keajaiban yang diciptakan Dia, cobalah mengingat masa lalu, engkau hanya akan mengingat tak lebih dari sepuluh  peristiwa sedih dan sebaliknya, akan ada banyak hal yang membuatmu tersenyum. Bahkan engkau akan tersenyum saat mengenang hal-hal yang buruk sekalipun. Hanya waktu yang bisa memberikan rasa seperti itu.

Ternyata waktu adalah satu-satunya yang tak memiliki  dualitas di dunia ini. Mungkin engkau akan membantahnya, waktu memiliki dualitasnya juga, ada waktu yang lama, ada yang singkat, begitu. Tapi, siapakah yang bisa mengatakan singkat dan lama itu? Karena, dalam diri kitapun, sesuatu yang singkat akan terasa lama, dan sesuatu yang lama bisa jadi terasa singkat. Terlebih lagi,  waktu tak pernah membelah-belah dirinya menjadi singkat dan lama, manusialah yang mencoba membuat aturan tentang detik dan menit serta bulan dan tahun. Tidak seperti hari yang membagi dirinya mejadi siang dan malam, tidak juga serupa cahaya yang membagi diri dengan gelap dan terang. Waktu tak mengenal dualitas itu. Dan kitab sucipun bertutur tentang waktu, bukan tentang panjang atau lebar.Waktu yang akan membuat kita merasakan kesedihan, waktu yang membuat kita tak pernah paham apa yang akan terjadi, dan waktu pula yang selalu memberi kita rasa bahagia saat mengenang yang telah lalu.

Memang kita tak pernah paham, mengapa ada ulang tahun, mengapa ada tubuh yang berkembang dari ringkih menjadi kuat dan kembali ringkih. Kitapun tak pernah paham mengapa ada kehidupan dan kenapa kehidupan berakhir. Tapi, setidaknya kita memahami, apa yang dilakukan orang bijak cerdik cendikia di masa lalu, yang ingin berbuat baik dan mencoba memilah-milah waktu dalam satuannya. Karena itulah kita bisa mengingat ulang tahun, mengingat masa-masa lalu dalam periodisasi tertentu.

Dan, peluklah waktu, bersama kebaikan, karena, dalam  waktu, kita semua ini hanyalah makhluk tak bermakna kecuali kita selalu memeluknya dalam kebaikan.  Demi Waktu.......

Saturday, September 21, 2013

Bekerja, Bermanfaat, dan Bahagia


Pengantar
Ada sebuah buku yang menarik dan menginspirasi saya dalam bekerja, KEBAHAGIAAN YANG MEMBEBASKAN. Gede Prama yang menulisnya, seorang yang memilih jalan kebahagiaan dari dalam diri sendiri setelah menyadari keberhasilan demi keberhasilan yang diraih dari luar diri tidak mengarahkannya memasuki jalan kebahaagiaan yang “membebaskan”.
Dalam renungan kita kali inipun, saya ingin berbagi sekaligus menguatkan diri sendiri, tentang jalan kebahagiaan ini . Setelah lebih dari 20 tahun bekerja rasanya saya masih belum menemukan jalan kebahagiaan dalam pekerjaan saya.  Ada sesuatu yang belum saya peroleh. Mengapa? Bukankah semua sudah diraih, karir yang tak terlalu jelek, dan penghasilan yang cukup, apa lagi yang  saya cari? Setiap hari saya pulang kerja dengan keluh kesah rasa lelah, bukan hanya lelah fisik, tetapi lelah jiwa. Bahkan pada puncak kelelahan itu, saya mengalami gangguan kesehatan yang sudah memasuki tahun ke empat,  belum pulih seperti sedia kala.
Kalau kita baca buku-buku teks manajemen atau buku teks tentang pengembangan kepribadian,  seseorang harus menuliskan tujuan hidupnya lebih dulu agar bisa meraih kepuasan dalam bekerja. Mengapa bekerja, apa yang ingin diraihnya dengan pekerjaan tersebut, dan sebagainya, seperti itulah yang diajarkan. Dan saya mengikuti anjuran buku-buku itu, menuliskan sasaran-sasaran saya bekerja, membuat evaluasi setiap periode tentang pencapaian angan-angan saya itu. Tapi, ternyata itu belum membahagiakan juga. Pasti ada yang salah dengan diri saya, atau pasti ada yang salah dengan cara saya memahami buku tersebut, karena rasanya tak mungkin  buku itu salah. Kalau salah, tak mungkin menjadi “best seller”.
Saya  akan sedikit menyimpang  lebih dulu dan bicara tentang buku pengembangan kepribadian.  Buku-buku teks semacam itu serta buku manajemen strategik, saat ini membanjiri rak-rak terdepan pada setiap toko buku, dan selalu menjadi best seller. Ketika, suatu saat saya diberi tugas untuk melakukan wawancara awal bagi calon pegawai perusahaan kita, saya bertanya kepada setiap peserta tentang buku yang mereka baca. Sembilan puluh lima persen calon pegawai mengatakan buku-buku tentang pengembangan kepribadian atau buku manajemen strategik sebagai buku favorit. Kebanyakan mereka menyebut “7 kebiasaan yang efektif”, atau “Blue  Ocean Strategy”. Apakah mereka salah menjawab? TIDAK. Apakah mereka sukses dalam bekerja? Kemungkina besar YA. Tapi, apakah mereka bahagia? ENTAHLAH


Kinerja yang Baik, Apakah Bahagia?
Pengembangan kepribadian pegawai melalui buku dan training, maupun pengembangan karir pegawai dengan sistem yang dibuat manajemen, semuanya berbasis kinerja. Tentu saja tak ada yang salah, memang begitulah seharusnya. Bagaimana kita akan maju, kalau kita mengembangkan karir berbasis non kinerja, misalnya basisnya adalah kemampuan melayani atasan, tentu dampaknya akan parah, dan kompetisi para pegawai bukan pada pencapaian target, tetapi bagaimana membawakan tas atasan, membukakan pintu mobil, mengirimi makanan kesukaan  atau mengajak makan siang.  Saya sepakat, ukuran keberhasilan pegawai adalah kinerja, kontribusinya terhadap perusahaan.

Kebanyakan kita sebagai manusia lebih banyak menunggu, bereaksi setelah sesuatu terjadi. Ketika merasa tak nyaman tak bahagia di tempat kerja, kita bereaksi. Reaksi yang paling sederhana, menceritakan ketidaknyamanan ke orang lain, menulis status di jejaring sosial. Reaksi yang agak positif, mencari lahan pekerjaan lain, dan rekasi yang ekstrim, melakukan “mogok “ kerja.  Mogok kerja bukan dalam artian seperti pemogokan buruh dengan berbagai orasinya, tetapi mogok kerja dengan sama sekali tak peduli dengan pekerjaan. Badannya tetap bekerja, tetapi tanpa jiwa. Tubuhnya hadir, tapi hatinya tak pernah bersama-sama dengan yang lain dalam satu tim.  Saya sangat yakin, orang yang mogok kerja seperti ini pastilah tak merasa bahagia.
kemudian aku cuma liwat
dan hari lari
dan kau tak ada lagi.
[Goenawan Mohamad]

Memahami Kebahagiaan

Dengan perilaku proaktif, hampir dapat dipastikan kita akan memperoleh kinerja kerja yang baik. Karena sifat proaktif menjadikan kita selalu siap sebelum segala sesuatu terjadi. Dan disertai keberuntungan, kitapun akan meraih karir yang baik.  Tapi, apakah karir dan penghasilan yang baik juga berarti rasa bahagia kita baik? Kita bersyukur bila hal itu terjadi, tetapi, tak perlu berkecil hati, bila rasa bahagia itu tak sejalan dengan karir dan kekayaan kita, itu sering terjadi.  Dan, yang paling penting, jangan pernah berkecil hati bahkan ketika karir dan kekayaan kita berkorelasi signifikan secara negatif, artinya, sudah hidupnya tak kaya, perasaannyapun tak gembira, itu sudah sangat lazim dalam hidup di dunia ini.

Mengapa? Pencarian kita berfokus pada faktor luar diri. Itu kesalahan terbesar manusia. Ketika saldo tabungan hanya cukup untuk hidup sebulan dan tinggal di rumah sangat sederhana, rasanya hidup penuh dengan kebahagiaan, tetapi selalu ada sesuatu yang kurang. Akal kita mengatakan, kebahagiaan akan meningkat bila  rumah bisa sedikit lebih besar dan tak sepeda motor digantikan mobil.  Namun ketika mimpi tentang kebahagiaan itu menjelma, suami penuh kesibukan di kantor. Pasangan hidup  pulang malam bahkan pagi, tugas luar kota tiap bulan. Rumah menjadi terminal,  sekedar tempat membersihkan diri dan berganti pakaian.  Hidup tak lagi indah. Impian kebahagiaan yang harusnya menjelma, malah menjadi awal dari kesedihan baru.

Kalau begitu, dimana kita mencarinya? Orang-orang bijak yang mengalami manis dan pahit getirnya hidup mengatakan, kebahagiaan ada di dalam diri sendiri.  Mereka yang masih menggantungkan kebahagiaannya pada dunia luar, tak akan meraihnya......


Mengapa Bekerja

Suatu hari, dalam doanya yang khusuk, sahabat kita Nazarudin berdiskusi dengan Tuhannya:

N: Tuhan, mengapa Kau beri aku istri yang cantik?
T: Karena cantiklah engkau memilihnya.
N: Sudah cantik dia baik hati Tuhan
T: Karena itu juga kau memilihnya
N: Tapi, Tuhan, kenapa dia bodoh sekali?
T: [dengan suara sangat lembut], itulah sebabnya dia memilihmu

 
Sederhana saja, setiap manusia bekerja karena ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu itu, pada kebanyakan orang adalah penghasilan [uang].  Beberapa orang memang bekerja bukan untuk uang seperti abdi dalem di Keraton Yogyakarta, atau pekerja sosial. Dalam kehidupan modern, kehidupan tidak dapat berjalan “normal” tanpa uang. Bekerja di industri perbankan sepertinya sangat menarik. Kehidupan yang kelas atas, lapangan golf, makan malam, dan bergaul dengan pemilik modal yang kaya, semuanya menjadikan kita makin kagum dan makin berambisi untuk ikut terlibat dalam hiruk pikuk dunia.  Tapi, menjadi pegawai bank bukanlah jalan yang mudah untuk meraih kebahagiaan, apalagi bila jendela hati jarang mendapat matahari pencerahan yang sebenarnya. Lihatlah kejadian-kejadian  yang memilukan keluarga pegawai. Di lingkungan kita sendiri, beberapa sahabat tergelincir dan keluar tanpa penghormatan dari perusahaan. Di luar sana, lebih banyak lagi. Saudara kita, sebuah bank pembangunan daerah juga, terpaksa mengalami pergantian anggota direksi karena melakukan perbuatan yang tak seharusnya dilakukan. Mereka bukan orang yang tak pandai, tapi, mungkin sekali mereka lupa cara menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka mencari dari luar diri. Dari saldo tabungannya, dari rumah yang dimiliki, bahkan mungkin dari “jumlah” anak pertama mereka yang lebih dari satu.

Jadi, kalau tujuan bekerja adalah mencari kebahagiaan dan kalau definisi kebahagiaan itu  masih berasal dari luar diri, rasanya seperti minum air garam, tak akan pernah sampai tujuan. Makin tinggi  jabatan yang kita raih, makin banyak pundi-pundi finansial yang kita miliki, rasanya makin jauh kita dari pencapaian.


Saldo Rekening Penderitaan

Ketidakpuasan di Tempat Kerja Adalah Sumber Penderitaan
Berapa tahun sahabat-sahabat telah bekerja? Berapa cepat karir kita naik? Ah, tentu saja kalah cepat dengan si Badu. Tiga tahun bekerja Badu telah menjadi penyelia, delapan tahun bekerja Badu menjadi kepala cabang, empat tahun setelah kepala cabang, dia menjadi kepala divisi. Kemudian kita kasak-kusuk cari informasi. Oh.., ternyata si Badu keponakannya Pak Fulan, orang penting di pemerintahan, wajar saja karirnya cepat. Satu cerita kita dapat, rasanya puas memperoleh informasi, tapi, tanpa sadar, kita menambah saldo rekening penderitaan.  Hubungan baik dengan si Badu berubah menjadi hambar. Rasa iri dan cemooh kepada Badu, seperti  deposito  dengan “special rate” bagi rekening ini. Apakah kita makin bahagia?   Pencarian ke luar membuat kita makin mudah membuat simpulan negatif.  Padahal, informasi yang kita dapatkan hanyalah Badu keponakan Pak Fulan. Kita bahkan tak pernah tahu, apakah Pak Fulan memang menitipkan Badu pada manajemen atau tidak, bahkan kita tak pernah tahu, bagaimana Badu bekerja.

Berapa besar bonus tahunan yang kita dapatkan? Luar biasa, setahun  kita bisa menerima gaji lebih dari 15 bulan, begitu kalau kita melihat ke dalam diri. Tapi, “Oh...,sebentar dulu, saya bekerja keras dan mencapai target yang tinggi, mengapa bonusnya sama dengan si Budi, yang hanya duduk manis? Kalau begitu, ini tidak adil”.  Ketika melihat atasan kita dapat kesempatan ke luar negeri, kita berkata, “yang bekerja keras saya, tapi yang dapat bonus jalan-jalan ke luar negeri atasan saya? Oh.. ini keterlaluan, ini lebih tidak adil lagi”.

Begitulah kalau kita kemudian mencari kebahagiaan dari luar.  Alih-alih meraih bahagia, kita telah mengubah peluang kebahagiaan menjadi sebuah neraka kecemburuan. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan ketidak adilan adalah sesuatu yang harus kita terima, bukan seperti itu, tetapi, saya ingin mengatakan, lakukan saja apa yang ada dalam diri kita dan bisa kita lakukan. Kalau kita hanya memiliki kewenangan untuk berdoa, marilah kita doakan saja agar ketidak adilan itu cepat berlalu.

 

Kecemasan dan Ketakutan, Bonus Rekening Penderitaan

Sudah Agustus, posisi penyaluran kredit masih 80%, bahkan untuk target bulan berjalanpun belum tercapai. Atasan tiap bulan mendatangi meja kita, menyakan potensi yang ada sambil menebar pecahan beling, “kalau kira-kira tak sanggup, di luar sana banyak orang yang siap menggantikan anda”. Pecahan beling di jalan bisa melukai kaki. Bila kaki terluka, cuci bersih, beri anti bakteri. Syukur-syukur saat kecil kita telah diberi vaksin anti tetanus. Lakukan hal yang sama, ketika hati kita terkena pecahan beling seperti itu.  Bakteri kecemasan tumbuh subur di ruang yang kotor.  Bersihkan hati, daripada menyebar cerita bahwa boss kita akan merekrut teman-temannya dari luar untuk menguasai perusahaan ini, lebih baik mendiskusikan masalah target dan mencari jalan keluar bersama. Jangan cemas untuk memulai diskusi dengan atasan. Kalau ada teman lain yang mampu dan kita tak berhasil, tentu saja harus melihat ke dalam diri, dimana letak ketidak mampuan kita, bagaimana mengatasinya. Ini lebih membahagiakan, karena kita memperbaiki diri sendiri.

Sikap proaktif membantu menghilangkan kecemasan. Saat ruang tunggu nasabah penuh sesak, kita mungkin cemas, setiap saat atasan kita bisa saja meminta penjelasan atas masalah tersebut. Sebelum kita menjadi gagap karena tak bisa menjawab, lebih baik proaktif mencari permasalahannya, dan mendiskusikan solusinya. Memberi jawaban dengan apa adanya serta solusi yang sedang ditempuh dengan segala keterbatasannya,  jauh lebih baik dari pada melarikan diri ke belakang dan mematikan telepon seluler kita. Dengan cara ini, kita bukan saja mengurangi saldo rekening penderiatan, tapi menambah saldo rekening kebahagiaan bagi diri sendiri, bahkan lebih dari itu,  juga menambah saldo rekening  kebahagiaan atasan kita.


Saldo Rekening Kebahagiaan

Pada malam Nazarudin berdiskusi dengan Tuhan, sang istri yang selalu merasa menderita dan salah memilih suami diam-diam mengintip dan mencuri dengar pembicaraan itu. Saldo rekening penderitaannya makin membengkak. Esok malamnya, saat suami lelap tertidur, dia mengetuk jendela Tuhan.


I :  Tuhan, suamiku wajahnya sangat sederhana
T: Karena itulah engkau memilihnya
I :  Suamiku miskin pula
T: Karena itulah engkau memilihnya
I : Kalau begitu aku orang yang sangat bodoh?
T: [menyerahkan sebuah kaca mata], cobalah pakai ini, besok kita ngobrol lagi.
T: [esok harinya] Apa yang ingin kau keluhkan padaku hari ini?
I : Maafkan, Aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa diriku pintar.....

 
“Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiaran kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan. Pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan”  [Stiglitz, 2002 ]

Bicara tentang peran kita dalam bekerja khususnys di perbankan, saya selalu mengutip pernyataan Joseph Stiglitz yang ditulisnya tahun 2002 pada sebuah buku yang telah diterjemahkan  dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-lembaga Keuangan Internasional.  Kutipan ini menjadi penting, karena peran kita sebagai pegawai sebuah bank pembangunan di daerah. Bagaimana mungkin kita bisa berperan dengan baik dalam perusahaan bila kita tak mengerti makna dari kata “pemabangunan”.  Namun demikian, dalam agenda ini saya tidak ingin mengupas urusan-urusan ekonomi dan pembangunan nasional, saya ingin mengupasnya dalam peran kita di perusahaan agar hidup kita bahagia.

Banyak hal bisa dilakukan untuk kebahagiaan kita dengan melihat potensi kekuatan kita untuk bahagia, serta peluang yang ada untuk meraihnya, apalagi dengan bekerja pada sebuah bank pembangunan. Karir dan kinerja kita memang diukur oleh manajemen berdasar pencapaian target, tapi, untuk menambah saldo rekening kebahagiaan, jangan gunakan ukuran yang sama. Gunakan kacamata yang diberikan kepada Tuhan, yang jarang sekali kita pakai, sehingga kita mampu melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain. Kacamata itu adalah kacamata untuk mata hati.

Dari pada berpikir menghubungkan pencapaian target dengan karir dan bonus yang seringkali tak sejalan, cobalah melihat penyaluran kredit kita itu dinikmati oleh siapa saja. Sebuah hotel mungkin akan menyerap 50 sampai 100 tenaga kerja, bahkan lebih kalau kita lihat efek ikutannya, seperti datangnya turis yang menggunakan becak, berkembangnya industri taksi, meningkatnya penjualan souvenir kerajinan, dan seterusnya. Pikirkan dengan jernih, dan rasakan saldo rekening kebahagiaan kita meningkat.

Sahabat-sahabat saya di unit mikro, peluangnya jauh lebih besar lagi. Rasakan bagaimana nasabah-nasabah kita tumbuh dari usaha yang sangat kecil sampai memiliki kios. Rasakan bagaimana mereka memandang masa depan yang menjadi semakin pasti. Itulah sumber kebahagiaan.

Dari pada menambah saldo rekening penderitaan karena keluh kesah harus membuka ribuan rekening untuk penyaluran bantuan siswa miskin atau beasiswa siswa berprestasi, pinjam kacamata Tuhan untuk melihat mata-mata penuh harapan dari para siswa yang memperoleh beasiswa. Sertakan niat dan doa dalam hati kita untuk mereka, “kelak mereka akan menjadi orang-orang terbaik di negeri ini, yang akan menjadikan negara kita lebih adil, lebih makmur, lebih membahagiakan.

Karena pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan, saya tambahkan, juga akses untuk memperoleh layanan perbankan

Terimakasih...

 Solo, 21 September 2013