Tiba-tiba saja, potongan bait-bait puisi menyeruak ke dalam pikiranku. Entah kenapa, mungkin karena sedang mengalami suatu peristiwa yang menyakitkan dan tidak mampu dikendalikan. Mungkin juga merasa kehilangan teman teman yang menurutku bisa menjadi tempat bersandar pada saat mengalami kesulitan.
Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin.
Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.
Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada
sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,
mungkin akan tetap juga di sana – apa pun maknanya
Sebenarnya, mengapa kita harus selalu bertanya tentang apa dan mengapa? Bukankah lebih nyaman bila hidup ini diterima sebagai sebuah fungsi linear, yang didalamnya kita hanya larut pada variabel-variabel eksternal.
Potongan puisi di atas milik Goenawan Mohamad berjudul Pada Sebuah Pantai: Interlude. Judul ini sendiri kemudian mengembangkan dalam imajinasi dan mengingatkan pada novel Dini yang aku baca ketika SMP dulu, “Pada Sebuah Kapal”. Untuk koleksi puisi, masih dapat ditemukan pada buku “Puisi Pilihan Goenawan Mohamad”. Sebuah kumpulan puisi yang dipilih dan diedit oleh Laksmi Pamuntjak. Sedangkan “Pada Sebuah Kapal”, telah hilang entah kemana.
Pada Sebuah Pantai: Interlude[1]
Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Yakni ketika pasang berakhir, dan aku menggerutu”masih tersisa
harum lehermu”; dan kau tak menyahutku
Di pantai, tepi memang tinggal terumbu,
Hijau (mungkin kelabu)
Angin amis. Dan
di laut susut itu, aku tahu,
tak ada lagi jejakmu
Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari sebuah dongeng
tentang jin yang memperkosa putri yang semalam
mungkin kubayangkan untukmu, tanpa tercatat, meskipun pada
pasir gelap
Bukankah matahari telah bersalin dan
melahirkan kenyataan yang agak lain
Dan sebuah jadwal lain?
Dan sebuah ranjang & ruang rutin, yang
Setia, seperti sebuah gambar keluarga
(dimana kita, berdua, tak pernah ada)?
Tidak aneh.
Tidak ada janji
pada pantai
yang kini tawar
tanpa ombak
(atau cinta yang bengal)
Akupun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis dan berkata: “Mungkin tak
ada dosa, tapi yang ada percuma saja.”
Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil
Dan itulah soalnya.
Dimana ada keluh ketika dari pohon itu
mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
ketika kini tinggal panas & pasir yang
bersetubuh
Dimana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
Dimana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-
kalimat bisa berlarat-larat (setelah
semacam affair singkat), dan kita menelan ludah sembari berkata: “Wah, apa daya.”
Barangkali kita memang tak taramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.
Lagi pula dalam sebuah sajak sentimentil hanya ada satu
dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir.
Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah memberi
tanda DILARANG MENANGIS
Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang
padaku.
Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin.
Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.
Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada
sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,
mungkin akan tetap juga di sana – apa pun maknanya
[1] Goenawan Mohamad
Thursday, January 31, 2008
Tuesday, January 29, 2008
Memahami Lingkungan
Ada kalimat yang sangat menarik dari sebuah buku lama yang terlupakan.[1]
“Satu kapal berlayar ke timur dan yang lain ke barat dengan tiupan angin yang sama. Susunan layarlah yang menunjukkan pada mereka arah perjalanan, bukan embusan angin.”
Kalimat ini seperti mengingatkan kita semua untuk kembali memaknai diri sendiri. Bukan lingkungan yang menyebabkan tujuan hidup tercapai, tetapi bagaimana kita mengatur diri sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan boss, ketika tidak diberi peluang untuk memimpin suatu proyek prestisius. Anda tidak bisa menyalahkan orang tua atau sekolahan anda, ketika gagal untuk mengikuti ujian. Anda tidak bisa menyalahkan guru agama ketika menyadari diri anda semakin jauh dari jalan kebenaran.
Angin yang berhembus, di luar kendali anda, jadi jangan minta angin untuk bertiup ke barat, karena anda ingin berlayar ke barat. Ubahlah posisi layar anda. Setidaknya, sadarkan diri anda bahwa mungkin sasaran untuk berlayar ke barat terlalu berat. Orang Jawa mengatakan “iso rumongso”, bukan “rumongso iso”. Artinya bisa merasa, bukan merasa bisa. Bila angin tidak mendukung rencana perjalanan, cobalah untuk berputar, mengubah haluan, dan mengatur ulang posisi. Hanya orang yang tak pernah berpikir yang meminta arah angin untuk berubah.
Kinerja Anda luar biasa cemerlang. Target penjualan tercapai. Tidak ada tunggakan pembayaran yang tak tertagih. Tapi, promosi untuk area manager yang Anda yakini hanya masalah waktu, ternyata jatuh ke rekan lain. Anda frustrasi? Pasti. Tapi jangan salahkan boss Anda. Pasti ada alasan mengapa bukan Anda yang dipilih. Mungkin ada pertimbangan lain. Tanyakan pada boss mengenai kekurangan Anda sehingga tidak dipromosikan. Jangan minta boss untuk mengubah kriteria pengambilan keputusan, tetapi pahami kriterianya, dan refleksikan pada diri sendiri, kriteria apa yang belum Anda penuhi.
Akhirnya, ketika promosi tak juga Anda raih, ada dua pilihan, pindah kerja, atau coba baca nasehat berikut:
“Kami tidak sempurna (tidak berhasil promosi) bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka (yang kariernya melejit), tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri ...”[2]
[1] What Smart People Do When Dumb Things Happen at Work, Charles E. Watson
[2] Dikutip dari Rumah kehidupan Penuh Keberuntungan, tulisan Gede Prama. Gede Prama sendiri mengutip dari novelnya Seno Gumira, Biola Tak Berdawai. Kalimat dalam kurung saya tambahkan untuk menyesuaikan dengan konteks bahasan di tulisan ini, tentang promosi. Aslinya, kalimat tersebut untuk menceritakan pemahaman tentang anak-anak cacat. Mereka tidak sempurna bila dibandingkan manusia lain, tetapi mereka sempurna dengan keberadaannya. Dalam konteks tulisan ini, yang dimaksud sempurna adalah melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati.
“Satu kapal berlayar ke timur dan yang lain ke barat dengan tiupan angin yang sama. Susunan layarlah yang menunjukkan pada mereka arah perjalanan, bukan embusan angin.”
Kalimat ini seperti mengingatkan kita semua untuk kembali memaknai diri sendiri. Bukan lingkungan yang menyebabkan tujuan hidup tercapai, tetapi bagaimana kita mengatur diri sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan boss, ketika tidak diberi peluang untuk memimpin suatu proyek prestisius. Anda tidak bisa menyalahkan orang tua atau sekolahan anda, ketika gagal untuk mengikuti ujian. Anda tidak bisa menyalahkan guru agama ketika menyadari diri anda semakin jauh dari jalan kebenaran.
Angin yang berhembus, di luar kendali anda, jadi jangan minta angin untuk bertiup ke barat, karena anda ingin berlayar ke barat. Ubahlah posisi layar anda. Setidaknya, sadarkan diri anda bahwa mungkin sasaran untuk berlayar ke barat terlalu berat. Orang Jawa mengatakan “iso rumongso”, bukan “rumongso iso”. Artinya bisa merasa, bukan merasa bisa. Bila angin tidak mendukung rencana perjalanan, cobalah untuk berputar, mengubah haluan, dan mengatur ulang posisi. Hanya orang yang tak pernah berpikir yang meminta arah angin untuk berubah.
Kinerja Anda luar biasa cemerlang. Target penjualan tercapai. Tidak ada tunggakan pembayaran yang tak tertagih. Tapi, promosi untuk area manager yang Anda yakini hanya masalah waktu, ternyata jatuh ke rekan lain. Anda frustrasi? Pasti. Tapi jangan salahkan boss Anda. Pasti ada alasan mengapa bukan Anda yang dipilih. Mungkin ada pertimbangan lain. Tanyakan pada boss mengenai kekurangan Anda sehingga tidak dipromosikan. Jangan minta boss untuk mengubah kriteria pengambilan keputusan, tetapi pahami kriterianya, dan refleksikan pada diri sendiri, kriteria apa yang belum Anda penuhi.
Akhirnya, ketika promosi tak juga Anda raih, ada dua pilihan, pindah kerja, atau coba baca nasehat berikut:
“Kami tidak sempurna (tidak berhasil promosi) bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka (yang kariernya melejit), tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri ...”[2]
[1] What Smart People Do When Dumb Things Happen at Work, Charles E. Watson
[2] Dikutip dari Rumah kehidupan Penuh Keberuntungan, tulisan Gede Prama. Gede Prama sendiri mengutip dari novelnya Seno Gumira, Biola Tak Berdawai. Kalimat dalam kurung saya tambahkan untuk menyesuaikan dengan konteks bahasan di tulisan ini, tentang promosi. Aslinya, kalimat tersebut untuk menceritakan pemahaman tentang anak-anak cacat. Mereka tidak sempurna bila dibandingkan manusia lain, tetapi mereka sempurna dengan keberadaannya. Dalam konteks tulisan ini, yang dimaksud sempurna adalah melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati.
Saturday, January 26, 2008
Kepemimpinan
Setiap hari Selasa Wage (perpaduan antara penanggalan nasional dengan penanggalan jawa), komunitas Budaya Yogya Semesta melakukan dialog budaya dengan berbagai tema. Salah satu menarik adalah diskusi pada hari Selasa Wage 22 Januari lalu yang mengangkat tema kepemimpinan. Sebenarnya tema kepemimpinan selalu mewarnai diskusi, tetapi Selasa lalu, khusus dikupas bagaimana kepemimpinan yang seharusnya di Indonesia. Salah satu simpulan pokok yang sangat mengesankan adalah leadership di Indonesia telah berubah arah menjadi dealership. Ini plesetan khas Yogyakarta. Ketika kepemimpinan tidak lagi ditujukan untuk mensejahterakan umat, tetapi lebih untuk mengumpulkan kekayaan, maka pemimpin adalah pedagang, yang dengan wajah dingin akan menjual apa saja yang dimiliki kekayaan bangsa, untuk kepentingan pribadinya. Pemimpin bukan lagi menjadi leader, tetapi dealer dari aset bangsa.
Selain itu, ada satu hal yang sangat menarik. Dari tiga pembicara, semua mengutip kepemimpinan masa lalu sebagai contoh. Berarti, saat ini manusia memang telah kehilangan panutan. Panutan adalah seseorang yang kita ikuti (bahasa jawa, manut berarti menurut). Dan yang paling menarik, tak ada satupun dari pembicara yang mengangkat contoh bagaimana seorang pemimpin harus mengahiri kepemimpinannya, menyerahkan tahta kepada orang lain yang lebih sesuai dengan kondisi dan situasi terkini. Bukan berarti pemimpin lama adalah pemimpin yang jelek, tetapi lingkungan yang berubah menuntut perubahan cara pandang serta gagasan baru yang relevan. Persiapan pemimpin yang tersulit bukanlah menyiapkan pengganti, tetapi menyiapkan diri sendiri untuk menerima kenyataan bahwa eranya telah lewat. Dirinya sudah waktunya untuk diganti. Inilah inti kepemimpinan.
Pada tulisan ini, saya ingin mengutip utuh pengantar diskusi, yang ditulis oleh Hari Dendi. Tulisan yang cukup panjang, tetapi saya tidak berhak untuk meringkasnya, karena, sebagaimana pengantar suatu diskusi, pemotongan satu kalimat dapat merusak keseluruhan pemahaman. Selamat menikmati.
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-9:
Kepemimpinan Bangsa yang Kuat
DALAM wawancara dengan Oriana Fallaci tahun 1972, Henry Kissinger mengatakan bahwa untuk menjadi Kepala Negara tidak perlu keintelektualan, tetapi kekuatan, keberanian, dan kecerdikan. Cerdik membutuhkan kecerdasan pragmatik, selain harus tetap dalam alur paradigmatik (Jakob Sumardjo, Kompas, 29/12/2007).
Kerinduan Hadirnya Negara yang Kuat
Sekarang ini dan ke depan memang Indonesia memerlukan pemimpin dan kepemimpinan yang kuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Pemimpin yang kuat, menurut Pimpinan Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL), adalah pemimpin yang paling rendah resistensinya dalam masyarakat. Pemimpin yang kuat berarti juga memiliki konsistensi –satya wacana: satunya kata dengan perbuatan—tegas dan tidak ambivalen sebagai wujud kontrak sosial dengan rakyat.
Transisi politik dari sebuah negara mengandung berbagai ketidakpastian. Transisi tidak selalu menuju demokrasi, meskipun instrumen demokrasi itulah yang diidealkan dan dipilih. Transisi politik bisa saja malah menimbulkan disintegrasi bangsa, jika para pelakunya gagal mengkonsolidasikan demokrasi. Setelah kekuasaan otoriter ditumbangkan, maka dituntut kemampuan untuk menata kembali negara ini. Dari negara yang sekarang belum efektif –belum memiliki kewibawaan dan kekuatan memadai untuk melakukan penegakan hukum dan melindungi warga negara-- menjadi negara yang kuat dan demokratis.
Konsolidasi negara juga tidak akan berhasil tanpa diikuti konsolidasi lembaga politik dan perubahan kultur politik. Serta juga, konsolidasi civil society yang justru pada masa reformasi mengalami kemandegan. Mencoba merefleksi kondisi saat ini, Indonesia sedang mengalami disfungsi sistemik. Lembaga-lembaga negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Presiden berkali-kali menegaskan perlunya korupsi diberantas, tetapi Kejaksaan Agung atau KPK justru kompromis terhadap koruptor, atau setidaknya masih cenderung “tebang-pilih”.
Kerinduan hadirnya negara yang kuat bukanlah negara otoriter dan totaliter, tetapi sebuah negara yang efektif dalam menjalankan pemerintahannya, mempunyai legitimasi yang kuat, dan akuntabel. Demokrasi hanya bisa tegak dan berkembang baik, jika negara dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik, kredibel, dan akuntabel di mata masyarakat. Termasuk konsolidasi negara adalah konsolidasi sistem dan kelembagaan hukum yang memungkinkan negara berjalan berdasarkan rule of law. Penegakan hukum otomatis harus didukung lembaga penegak hukum yang kredibel, akuntabel, dan profesional pula.
Namun, ide negara kuat bukan berarti civil society harus lemah. Civil society yang kuat akan mampu menjalankan perannya sebagai jembatan antara rakyat dengan negara. Civil society yang mampu mencegah agar otoritas negara tidak memasuki domain society secara berlebihan. Civil society yang mampu menjalankan peran sebagai suplemen dan komplemen dari negara.
Hal inilah yang tampaknya sedang dibutuhkan oleh negara dan bangsa kita saat ini. Agaknya kita telah lupa tentang apa tujuan bersama dalam sebuah negara-bangsa. Kalau pun ingat tujuan bangsa —mewujudkan masyarakat adil dan makmur, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia—itu pun miskin implementasi dengan diiringi kurangnya trust antarsesama kelompok sosial di masyarakat dengan para penyelenggara negara [1].
Berkaca pada Kepemimpinan Negara Lain
Mencari rujukan tentang Pemimpin yang Kuat kita bisa berkaca pada Margaret Thatcher, “Wanita Besi” yang menjadi Perdana Menteri Wanita Pertama yang paling lama dalam kurun waktu lebih dari 150 tahun sejarah Inggris. Ia tidak pernah putus asa jika tanda-tanda kemenangan belum dilihatnya, ia tidak begitu saja langsung memenangkan pertarungan di dunia politik. Beberapa kali Thatcher menelan kekalahan, tetapi terus maju, hingga dipercaya sebagai Menteri Pendidikan, dan akhirnya menjadi Perdana Menteri sepuluh tahun kemudian. “You may have to fight a battle more than once in order to win it”, adalah pernyataannya yang menunjukkan kemauan kuat Thatcher [2].
Singapura di bawah Lee Kuan Yew, berkembang dari sebuah pulau kecil yang miskin sumberdaya hingga menjadi negara makmur. Profesor Charles Schell dari Manchester Business School, Singapura, menyebutkan, kunci keberhasilan Lee adalah kepiawaiannya mengelola Arms of Leadership, yakni “kepanjangan tangan” yang memungkinkan pemimpin secara efektif menjalankan sebuah organisasi.
Tidak peduli sebagus apa pun pemimpinnya, tanpa adanya “arms” atau “lengan” kepemimpinan, organisasi tersebut tidak akan dapat berkembang dengan semestinya. Charles Schell menyebutkan dua alternatif lengan kepemimpinan. Tipe I, yaitu melalui penciptaan pemimpin-pemimpin baru (leader creates leaders) yang mempunyai visi dan kemampuan mendekati pemimpin puncak. Tipe II, menciptakan sistem dan prosedur yang dikontrol ketat dan dikompensasi melalui reward and punishment yang konsisten. Sebuah organisasi yang efektif biasanya memiliki salah satu atau keduanya.
Profesor Schell, yang juga konsultan transformasi perusahaan dalam urusan pengembangan negara-negara dunia ketiga itu, menyebutkan adanya perbedaan yang mendasar dalam gaya pengelolaan Arms of Leadership model Lee dengan Pak Harto, walaupun mereka sama-sama keras dalam sikap politiknya. Seperti Indonesia pada waktu itu, partai oposisi di Singapura juga relatif lemah. Walaupun orang berani mempertanyakan kebijakan pemerintah, tetapi tetap saja mereka tidak dapat berbuat banyak. Lee sendiri pernah menuntut lawan politiknya sampai bangkrut, karena menyebut dirinya sebagai orang yang korup dan tidak jujur.
Perbedaannya terletak pada bagaimana pemerintahan tangan besi Lee Kuan Yew juga diimbangi dengan sistem yang kuat dan penegakan hukum yang baik. Etika dan cara hidup parlemen ditetapkan dengan standar yang tinggi --anggota parlemen dilarang mengunjungi bar untuk minum atau pun sekadar bersosialisasi, apalagi berani menerima “hadiah” tanpa sepengetahuan Lee. Standar yang sama diberlakukan di jajaran pemerintahan: tanpa ampun bagi mereka yang ketahuan berjudi, korupsi, atau pun main wanita. Selain itu, sistem birokrasi yang ketat tetapi tetap terkontrol, sehingga bagi mereka yang mengikuti prosedur dengan benar akan dapat menyelesaikan kepentingannya secara cepat dan efisien.
Sementara Indonesia, meski banyak kesamaan dalam situasi politik, tetapi berbeda jauh dalam law enforcement dan etos kerja. Selain korupsi yang merajalela, kita juga malah tidak akan mendapatkan apa-apa kalau mengikuti prosedur atau birokrasi yang berlaku! Visi seorang pemimpin yang pintar tidak akan terlaksana berdasarkan imbauan atau arahan semata. Seorang pemimpin juga harus cakap dalam membentangkan lengan kepemimpinan dan keteladanannya.
Pemimpin yang Kuat: Konsisten, Tegas & Tidak Ambivalen
Jikalau saja kita bisa menemukan seorang pemimpin kuat yang akan memimpin bangsa dan negara ini, niscaya ia akan menjadi orang besar, setelah krisis mampu diatasinya. Orang kuat ini berkualitas transenden, menembus dimensi temporal dan spasial, mengatasi karakter-karakter pemimpin yang selama ini kita kenal. Jenis orang kuat ini harus “berjodoh” dengan impian masyarakat Indonesia sekarang.
Kita tidak bisa lagi meniru orang kuat bangsa-bangsa lain. Orang kuat itu kontekstual. Orang kuat kita di masa lampau, belum tentu cocok dengan konteks kebutuhan sekarang. Orang kuat yang kita cari kini, belum tentu akan menjadi kuat sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Apalagi menjiplak orang kuat dalam sejarah bangsa-bangsa lain, karena mereka memiliki orang kuatnya masing-masing. Setiap zaman melahirkan kualitas orang kuatnya sendiri.
Sesungguhnya rakyat menginginkan pemimpin yang tegas, berani karena benar, benar karena menurut hukum. Rakyat tidak butuh pameran kelicinan berdebat, tetapi buah dari keintelektualan mereka yang menunjukkan kualitas perbuatan nyata. Tidak terlalu peduli tentang IQ, yang penting berani bertindak tegas sesuai kontrak sosial, jujur, tanpa pamrih, mengutamakan kepentingan bersama, jauh dari aji mumpung, berani tidak populer demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat.
Karakter pemimpin yang demikian itu mungkin banyak kita miliki. Tetapi, pemimpin bangsa adalah juga pemimpin transenden. Ia tidak bisa memunculkan dirinya dengan usahanya sendiri, lebih-lebih di masa-masa krisis besar bangsa ini. Orang yang terlalu percaya pada kerja rasionya, bahwa pemimpin itu dapat diperjuangkan, patut dicurigai kejujuran dan otentitas kepemimpinannya. Ia bukan lagi pemimpin transenden. Karena orang kuat adalah orang panggilan. Siapa yang memanggil? Hati nurani dan jeritan kebutuhan rakyat sendiri. Pemimpin sejati tidak berambisi menjadi pemimpin.
Bila kualitas pemimpin yang demikian itu terpilih menjadi orang kuat, maka kebesarannya akan diuji. Kualitas pemimpin yang demikian itu akan ada di tengah-tengah dualisme yang plural ini. Ia akan “terjepit” antara yang kanan dan kiri, antara mayoritas dan minoritas, antara yang keras dan yang lunak. Kreativitas dan kepekaannya diuji. Di saat-saat inilah keberanian dan ketegasannya terhadap kebenaran mendapatkan tantangannya. Krisis-krisis besar kepemimpinan semacam ini, tidak jarang memakan korban dirinya sendiri.
Tarik-menarik kepentingan dualistik yang plural inilah ciri khas Indonesia. Orang kuat Amerika mungkin hanya menghadapi dualisme dua partai. Tetapi, di Indonesia masih menggejala bagaikan api dalam sekam, dualisme partai-partai, dualisme kepercayaan, dualisme rasial, dualisme Bagian Barat dan Timur. Sesungguhnya yang dualistik itu bisa menjadi pasangan komplementer. Karena itu, api di bawah sekam ini akan mudah dipadamkan bila tidak datang tiupan. Belajar dari pengalaman sejarah, orang Indonesia dasarnya terbuka, toleran, mudah diatur, mudah patuh, tidak banyak menuntut, suka mengakurkan hal-hal dualistik, siap menerima yang asing, tidak menyukai sesuatu yang ekstrem [3].
Orang kuat Indonesia adalah pemimpin yang memenuhi kebutuhan “dunia tengah” manusia Indonesia, di tengah-tengah krisis ini. Dunia tengah itu menyeimbangkan kembali gerak ekstremitas ketidaksukaan terhadap karakter pemimpin-pemimpinnya yang sekarang. Gerak pendulum yang terlalu ke kanan ini, harus ditarik kembali ke arah kiri.
Mungkin pernyataan Kissinger itu ada benarnya, yang didasarkan pengalamannya sebagai tokoh yang dekat dengan beberapa Presiden Amerika. Bahwa keintelektualan tidak diperlukan dalam jabatan Kepala Negara dapat dibuktikan oleh sejarah Indonesia sendiri. Para pemimpin yang memilih hidup intelektual daripada dalam kecerdikan, seperti Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka, tak pernah populer di mata rakyat. Semua itu disapu bersih oleh Bung Karno yang lebih cerdik, populis dan selebriti.
Demikian juga, Soeharto lebih kuat, berani, dan cerdik. Semua itu didukung kekuatan, meski bukan massa tetapi bersenjata. Karena kuat, ia lebih berani dan tegas. Untuk mempertahankan itu semua ia perlu kecerdikan. Jika Soeharto tidak cerdas dan cerdik, tentu tidak akan menguasai Indonesia selama 32 tahun. Menyadari kekurangintelektualannya, Soeharto mengangkat kaum intelektual sebagai pembantu-pembantunya.
Pemimpin Indonesia ke depan hanya dapat dilakukan oleh orang kuat, yang berkarakter sederhana, jujur, tulus, memikirkan rakyat kecil, seperti Bung Hatta. Kharismatik dan patriotik seperti Bung Karno. Berani dan blak-blakan seperti Gus Dur. Kosmopolit seperti Bung Sjahrir. Transenden seperti Mangunwijaya atau Nurcholish Madjid [4].
Keteladanan Pemimpin
Segala formula kepemimpinan tidaklah bermakna bila faktor keteladanan diabaikan. Seorang pemimpin wajib mengedepankan keteladanan dengan menjalankan leadership by example. Bukankah saripati kepemimpinan adalah “memandu jalan dan membawa orang lain ke tujuan bersama?”
Apakah seorang pemimpin dapat memandu, manakala ia sendiri berjalan dalam kegelapan visi, melangkah dengan kelemahan karakter, dan bergerak maju tanpa kacamata strategi yang tepat? Bagaimana membawa orang lain ke tujuan bersama, jika ia sendiri pun tidak mampu memberikan contoh dan keteladanan yang bisa ditiru? Daya keteladanan merupakan kriteria pokok menjadi pemimpin nasional atau bagian dari kepemimpinan nasional.
Agar dapat menjadi Pemimpin-Peneladan, seseorang harus memiliki integritas dan komitmen yang kuat untuk memimpin secara benar, jujur dan arif. Dalam hubungan ini T Richard Chase menulis:
“If a leader demonstrates competency, genuine concern for others, and admirable character, people will follow”.
Menurut Booker T. Washington, “Karakter adalah kekuasaan“. Kepercayaan dan keterlibatan pengikut pada akhirnya akan paralel dengan level karakter pemimpin. Karakter adalah hasil pembiasaan dari sebuah gagasan dan perbuatan, seperti dikemukakan oleh Stephen R. Covey:
“Taburlah gagasan, tuailah perbuatan. Taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, tuailah karakter. Taburlah karakter, tuailah nasib“.
Selanjutnya T. Richard Chase menegaskan:
“Hanya jika pemimpin menunjukkan kecakapan, perhatian kepada orang lain secara tulus, dan karakter yang terpuji, maka rakyat akan mengikuti”.
Sementara pakar kepemimpinan John C Maxwell mengatakan:
“The most effective leadership is by example, not edict”.
Menurut dia, 90 persen manusia belajar secara visual, sembilan persen secara verbal, sisanya satu persen dengan indra lainnya. Orang belajar dan mengikuti dari apa yang dilihatnya, sehingga kata Maxwell lebih lanjut:
“A leader’s credibility and his right to be followed are based on his life”.
Dalam tradisi militer dikenal filosofi kepemimpinan yang diringkas-padat dalam formula “Follow me!” Komandan batalyon akan berkata kepada komandan kompi agar mengikutinya, seterusnya ke bawah. Filosofi “follow me!” menuntut sang komandan berperilaku, bersikap dan bertindak benar di mata anak buahnya [5]. Meski keteladanan, kata yang mudah diucapkan, tetapi bukan “cara hidup” yang mudah diwujudkan. Namun, setidaknya hal itu menjadi rambu moral-etis dan acuan bagi setiap pemimpin. Mudah-mudahan kerinduan rakyat Indonesia untuk memperoleh pemimpin yang patut dijadikan suri teladan dapat terwujud melalui Pemilu 2009 nanti.
Pada akhirnya, “Trilogi Kepemimpinan: keteladanan, kemauan (political will) dan kompetensi” menjadi syarat mutlak bagi kepemimpinan nasional yang kuat dan berwibawa itu, agar mampu menghantarkan bangsa ini menuju pemulihan kehidupan bangsa yang lebih bermutu.
Dialog Budaya & Gelar Seni
Dalam kerangka pikir seperti itu, guna membuka lembaran baru tahun 2008, maka Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-9 akan mengangkat tema “Kepemimpinan Bangsa”, yang akan dicermati dan digali oleh para narasumber Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt., Bupati Sleman, Prof. Dr. dr. Sutarjo, SpAK, Ketua Senat Akademik UGM, Drs. Bambang Purwoko, MA, Staf Pengajar Fisipol UGM/Anggota Tim RUUK DIY.
Dialog dipandu oleh Drs. Octo Lampito, Pemimpin Redaksi “KR”, bersama Hari Dendi. Gelar Seni berupa dialog & tembang Prajnaparamita-Sang Amurwabumi arahan Bondan Nusantara & Drs. Sumaryono, MA, diiringi “gamelan ringkes” gabungan ISI-SMKI Yogyakarta asuhan Drs. Sunardi. Digelar di Bangsal Kepatihan, pada malam Slasa Wage, 22 Januari 2008, jam 19.00-22.00.
Yogyakarta, 10 Januari 2008
Komunitas Budaya
“YogyaSemesta”,
Hari Dendi
[1] Sri Sultan HB X, “Sosok Pemimpin Nasional Visioner yang Kuat, Konsisten, Tegas, dan Tidak Ambivalen”, Konvensi Nasional II Tahun 2004, IKAL, Yogyakarta, 31 Januari 2004.
[2] Roy Sembel, “Margaret Thatcher, Pemimpin yang Membawa Perubahan”, Sinar Harapan, 2002.
[3] Jakob Soemardjo, “Siapa yang Bisa Dipercaya?”, Rubrik Opini Kompas, 23 Januari 1999.
[4] Jakob Sumardjo, “Dicari, Orang Kuat Indonesia”, Kompas, 7 September 2002.
[5] Kiki Syahnakri, “(Krisis) Kenegarawanan dan Keteladanan”, Rubrik Opini Kompas, 7 Januari 2004.
Selain itu, ada satu hal yang sangat menarik. Dari tiga pembicara, semua mengutip kepemimpinan masa lalu sebagai contoh. Berarti, saat ini manusia memang telah kehilangan panutan. Panutan adalah seseorang yang kita ikuti (bahasa jawa, manut berarti menurut). Dan yang paling menarik, tak ada satupun dari pembicara yang mengangkat contoh bagaimana seorang pemimpin harus mengahiri kepemimpinannya, menyerahkan tahta kepada orang lain yang lebih sesuai dengan kondisi dan situasi terkini. Bukan berarti pemimpin lama adalah pemimpin yang jelek, tetapi lingkungan yang berubah menuntut perubahan cara pandang serta gagasan baru yang relevan. Persiapan pemimpin yang tersulit bukanlah menyiapkan pengganti, tetapi menyiapkan diri sendiri untuk menerima kenyataan bahwa eranya telah lewat. Dirinya sudah waktunya untuk diganti. Inilah inti kepemimpinan.
Pada tulisan ini, saya ingin mengutip utuh pengantar diskusi, yang ditulis oleh Hari Dendi. Tulisan yang cukup panjang, tetapi saya tidak berhak untuk meringkasnya, karena, sebagaimana pengantar suatu diskusi, pemotongan satu kalimat dapat merusak keseluruhan pemahaman. Selamat menikmati.
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-9:
Kepemimpinan Bangsa yang Kuat
DALAM wawancara dengan Oriana Fallaci tahun 1972, Henry Kissinger mengatakan bahwa untuk menjadi Kepala Negara tidak perlu keintelektualan, tetapi kekuatan, keberanian, dan kecerdikan. Cerdik membutuhkan kecerdasan pragmatik, selain harus tetap dalam alur paradigmatik (Jakob Sumardjo, Kompas, 29/12/2007).
Kerinduan Hadirnya Negara yang Kuat
Sekarang ini dan ke depan memang Indonesia memerlukan pemimpin dan kepemimpinan yang kuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Pemimpin yang kuat, menurut Pimpinan Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL), adalah pemimpin yang paling rendah resistensinya dalam masyarakat. Pemimpin yang kuat berarti juga memiliki konsistensi –satya wacana: satunya kata dengan perbuatan—tegas dan tidak ambivalen sebagai wujud kontrak sosial dengan rakyat.
Transisi politik dari sebuah negara mengandung berbagai ketidakpastian. Transisi tidak selalu menuju demokrasi, meskipun instrumen demokrasi itulah yang diidealkan dan dipilih. Transisi politik bisa saja malah menimbulkan disintegrasi bangsa, jika para pelakunya gagal mengkonsolidasikan demokrasi. Setelah kekuasaan otoriter ditumbangkan, maka dituntut kemampuan untuk menata kembali negara ini. Dari negara yang sekarang belum efektif –belum memiliki kewibawaan dan kekuatan memadai untuk melakukan penegakan hukum dan melindungi warga negara-- menjadi negara yang kuat dan demokratis.
Konsolidasi negara juga tidak akan berhasil tanpa diikuti konsolidasi lembaga politik dan perubahan kultur politik. Serta juga, konsolidasi civil society yang justru pada masa reformasi mengalami kemandegan. Mencoba merefleksi kondisi saat ini, Indonesia sedang mengalami disfungsi sistemik. Lembaga-lembaga negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Presiden berkali-kali menegaskan perlunya korupsi diberantas, tetapi Kejaksaan Agung atau KPK justru kompromis terhadap koruptor, atau setidaknya masih cenderung “tebang-pilih”.
Kerinduan hadirnya negara yang kuat bukanlah negara otoriter dan totaliter, tetapi sebuah negara yang efektif dalam menjalankan pemerintahannya, mempunyai legitimasi yang kuat, dan akuntabel. Demokrasi hanya bisa tegak dan berkembang baik, jika negara dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik, kredibel, dan akuntabel di mata masyarakat. Termasuk konsolidasi negara adalah konsolidasi sistem dan kelembagaan hukum yang memungkinkan negara berjalan berdasarkan rule of law. Penegakan hukum otomatis harus didukung lembaga penegak hukum yang kredibel, akuntabel, dan profesional pula.
Namun, ide negara kuat bukan berarti civil society harus lemah. Civil society yang kuat akan mampu menjalankan perannya sebagai jembatan antara rakyat dengan negara. Civil society yang mampu mencegah agar otoritas negara tidak memasuki domain society secara berlebihan. Civil society yang mampu menjalankan peran sebagai suplemen dan komplemen dari negara.
Hal inilah yang tampaknya sedang dibutuhkan oleh negara dan bangsa kita saat ini. Agaknya kita telah lupa tentang apa tujuan bersama dalam sebuah negara-bangsa. Kalau pun ingat tujuan bangsa —mewujudkan masyarakat adil dan makmur, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia—itu pun miskin implementasi dengan diiringi kurangnya trust antarsesama kelompok sosial di masyarakat dengan para penyelenggara negara [1].
Berkaca pada Kepemimpinan Negara Lain
Mencari rujukan tentang Pemimpin yang Kuat kita bisa berkaca pada Margaret Thatcher, “Wanita Besi” yang menjadi Perdana Menteri Wanita Pertama yang paling lama dalam kurun waktu lebih dari 150 tahun sejarah Inggris. Ia tidak pernah putus asa jika tanda-tanda kemenangan belum dilihatnya, ia tidak begitu saja langsung memenangkan pertarungan di dunia politik. Beberapa kali Thatcher menelan kekalahan, tetapi terus maju, hingga dipercaya sebagai Menteri Pendidikan, dan akhirnya menjadi Perdana Menteri sepuluh tahun kemudian. “You may have to fight a battle more than once in order to win it”, adalah pernyataannya yang menunjukkan kemauan kuat Thatcher [2].
Singapura di bawah Lee Kuan Yew, berkembang dari sebuah pulau kecil yang miskin sumberdaya hingga menjadi negara makmur. Profesor Charles Schell dari Manchester Business School, Singapura, menyebutkan, kunci keberhasilan Lee adalah kepiawaiannya mengelola Arms of Leadership, yakni “kepanjangan tangan” yang memungkinkan pemimpin secara efektif menjalankan sebuah organisasi.
Tidak peduli sebagus apa pun pemimpinnya, tanpa adanya “arms” atau “lengan” kepemimpinan, organisasi tersebut tidak akan dapat berkembang dengan semestinya. Charles Schell menyebutkan dua alternatif lengan kepemimpinan. Tipe I, yaitu melalui penciptaan pemimpin-pemimpin baru (leader creates leaders) yang mempunyai visi dan kemampuan mendekati pemimpin puncak. Tipe II, menciptakan sistem dan prosedur yang dikontrol ketat dan dikompensasi melalui reward and punishment yang konsisten. Sebuah organisasi yang efektif biasanya memiliki salah satu atau keduanya.
Profesor Schell, yang juga konsultan transformasi perusahaan dalam urusan pengembangan negara-negara dunia ketiga itu, menyebutkan adanya perbedaan yang mendasar dalam gaya pengelolaan Arms of Leadership model Lee dengan Pak Harto, walaupun mereka sama-sama keras dalam sikap politiknya. Seperti Indonesia pada waktu itu, partai oposisi di Singapura juga relatif lemah. Walaupun orang berani mempertanyakan kebijakan pemerintah, tetapi tetap saja mereka tidak dapat berbuat banyak. Lee sendiri pernah menuntut lawan politiknya sampai bangkrut, karena menyebut dirinya sebagai orang yang korup dan tidak jujur.
Perbedaannya terletak pada bagaimana pemerintahan tangan besi Lee Kuan Yew juga diimbangi dengan sistem yang kuat dan penegakan hukum yang baik. Etika dan cara hidup parlemen ditetapkan dengan standar yang tinggi --anggota parlemen dilarang mengunjungi bar untuk minum atau pun sekadar bersosialisasi, apalagi berani menerima “hadiah” tanpa sepengetahuan Lee. Standar yang sama diberlakukan di jajaran pemerintahan: tanpa ampun bagi mereka yang ketahuan berjudi, korupsi, atau pun main wanita. Selain itu, sistem birokrasi yang ketat tetapi tetap terkontrol, sehingga bagi mereka yang mengikuti prosedur dengan benar akan dapat menyelesaikan kepentingannya secara cepat dan efisien.
Sementara Indonesia, meski banyak kesamaan dalam situasi politik, tetapi berbeda jauh dalam law enforcement dan etos kerja. Selain korupsi yang merajalela, kita juga malah tidak akan mendapatkan apa-apa kalau mengikuti prosedur atau birokrasi yang berlaku! Visi seorang pemimpin yang pintar tidak akan terlaksana berdasarkan imbauan atau arahan semata. Seorang pemimpin juga harus cakap dalam membentangkan lengan kepemimpinan dan keteladanannya.
Pemimpin yang Kuat: Konsisten, Tegas & Tidak Ambivalen
Jikalau saja kita bisa menemukan seorang pemimpin kuat yang akan memimpin bangsa dan negara ini, niscaya ia akan menjadi orang besar, setelah krisis mampu diatasinya. Orang kuat ini berkualitas transenden, menembus dimensi temporal dan spasial, mengatasi karakter-karakter pemimpin yang selama ini kita kenal. Jenis orang kuat ini harus “berjodoh” dengan impian masyarakat Indonesia sekarang.
Kita tidak bisa lagi meniru orang kuat bangsa-bangsa lain. Orang kuat itu kontekstual. Orang kuat kita di masa lampau, belum tentu cocok dengan konteks kebutuhan sekarang. Orang kuat yang kita cari kini, belum tentu akan menjadi kuat sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Apalagi menjiplak orang kuat dalam sejarah bangsa-bangsa lain, karena mereka memiliki orang kuatnya masing-masing. Setiap zaman melahirkan kualitas orang kuatnya sendiri.
Sesungguhnya rakyat menginginkan pemimpin yang tegas, berani karena benar, benar karena menurut hukum. Rakyat tidak butuh pameran kelicinan berdebat, tetapi buah dari keintelektualan mereka yang menunjukkan kualitas perbuatan nyata. Tidak terlalu peduli tentang IQ, yang penting berani bertindak tegas sesuai kontrak sosial, jujur, tanpa pamrih, mengutamakan kepentingan bersama, jauh dari aji mumpung, berani tidak populer demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat.
Karakter pemimpin yang demikian itu mungkin banyak kita miliki. Tetapi, pemimpin bangsa adalah juga pemimpin transenden. Ia tidak bisa memunculkan dirinya dengan usahanya sendiri, lebih-lebih di masa-masa krisis besar bangsa ini. Orang yang terlalu percaya pada kerja rasionya, bahwa pemimpin itu dapat diperjuangkan, patut dicurigai kejujuran dan otentitas kepemimpinannya. Ia bukan lagi pemimpin transenden. Karena orang kuat adalah orang panggilan. Siapa yang memanggil? Hati nurani dan jeritan kebutuhan rakyat sendiri. Pemimpin sejati tidak berambisi menjadi pemimpin.
Bila kualitas pemimpin yang demikian itu terpilih menjadi orang kuat, maka kebesarannya akan diuji. Kualitas pemimpin yang demikian itu akan ada di tengah-tengah dualisme yang plural ini. Ia akan “terjepit” antara yang kanan dan kiri, antara mayoritas dan minoritas, antara yang keras dan yang lunak. Kreativitas dan kepekaannya diuji. Di saat-saat inilah keberanian dan ketegasannya terhadap kebenaran mendapatkan tantangannya. Krisis-krisis besar kepemimpinan semacam ini, tidak jarang memakan korban dirinya sendiri.
Tarik-menarik kepentingan dualistik yang plural inilah ciri khas Indonesia. Orang kuat Amerika mungkin hanya menghadapi dualisme dua partai. Tetapi, di Indonesia masih menggejala bagaikan api dalam sekam, dualisme partai-partai, dualisme kepercayaan, dualisme rasial, dualisme Bagian Barat dan Timur. Sesungguhnya yang dualistik itu bisa menjadi pasangan komplementer. Karena itu, api di bawah sekam ini akan mudah dipadamkan bila tidak datang tiupan. Belajar dari pengalaman sejarah, orang Indonesia dasarnya terbuka, toleran, mudah diatur, mudah patuh, tidak banyak menuntut, suka mengakurkan hal-hal dualistik, siap menerima yang asing, tidak menyukai sesuatu yang ekstrem [3].
Orang kuat Indonesia adalah pemimpin yang memenuhi kebutuhan “dunia tengah” manusia Indonesia, di tengah-tengah krisis ini. Dunia tengah itu menyeimbangkan kembali gerak ekstremitas ketidaksukaan terhadap karakter pemimpin-pemimpinnya yang sekarang. Gerak pendulum yang terlalu ke kanan ini, harus ditarik kembali ke arah kiri.
Mungkin pernyataan Kissinger itu ada benarnya, yang didasarkan pengalamannya sebagai tokoh yang dekat dengan beberapa Presiden Amerika. Bahwa keintelektualan tidak diperlukan dalam jabatan Kepala Negara dapat dibuktikan oleh sejarah Indonesia sendiri. Para pemimpin yang memilih hidup intelektual daripada dalam kecerdikan, seperti Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka, tak pernah populer di mata rakyat. Semua itu disapu bersih oleh Bung Karno yang lebih cerdik, populis dan selebriti.
Demikian juga, Soeharto lebih kuat, berani, dan cerdik. Semua itu didukung kekuatan, meski bukan massa tetapi bersenjata. Karena kuat, ia lebih berani dan tegas. Untuk mempertahankan itu semua ia perlu kecerdikan. Jika Soeharto tidak cerdas dan cerdik, tentu tidak akan menguasai Indonesia selama 32 tahun. Menyadari kekurangintelektualannya, Soeharto mengangkat kaum intelektual sebagai pembantu-pembantunya.
Pemimpin Indonesia ke depan hanya dapat dilakukan oleh orang kuat, yang berkarakter sederhana, jujur, tulus, memikirkan rakyat kecil, seperti Bung Hatta. Kharismatik dan patriotik seperti Bung Karno. Berani dan blak-blakan seperti Gus Dur. Kosmopolit seperti Bung Sjahrir. Transenden seperti Mangunwijaya atau Nurcholish Madjid [4].
Keteladanan Pemimpin
Segala formula kepemimpinan tidaklah bermakna bila faktor keteladanan diabaikan. Seorang pemimpin wajib mengedepankan keteladanan dengan menjalankan leadership by example. Bukankah saripati kepemimpinan adalah “memandu jalan dan membawa orang lain ke tujuan bersama?”
Apakah seorang pemimpin dapat memandu, manakala ia sendiri berjalan dalam kegelapan visi, melangkah dengan kelemahan karakter, dan bergerak maju tanpa kacamata strategi yang tepat? Bagaimana membawa orang lain ke tujuan bersama, jika ia sendiri pun tidak mampu memberikan contoh dan keteladanan yang bisa ditiru? Daya keteladanan merupakan kriteria pokok menjadi pemimpin nasional atau bagian dari kepemimpinan nasional.
Agar dapat menjadi Pemimpin-Peneladan, seseorang harus memiliki integritas dan komitmen yang kuat untuk memimpin secara benar, jujur dan arif. Dalam hubungan ini T Richard Chase menulis:
“If a leader demonstrates competency, genuine concern for others, and admirable character, people will follow”.
Menurut Booker T. Washington, “Karakter adalah kekuasaan“. Kepercayaan dan keterlibatan pengikut pada akhirnya akan paralel dengan level karakter pemimpin. Karakter adalah hasil pembiasaan dari sebuah gagasan dan perbuatan, seperti dikemukakan oleh Stephen R. Covey:
“Taburlah gagasan, tuailah perbuatan. Taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, tuailah karakter. Taburlah karakter, tuailah nasib“.
Selanjutnya T. Richard Chase menegaskan:
“Hanya jika pemimpin menunjukkan kecakapan, perhatian kepada orang lain secara tulus, dan karakter yang terpuji, maka rakyat akan mengikuti”.
Sementara pakar kepemimpinan John C Maxwell mengatakan:
“The most effective leadership is by example, not edict”.
Menurut dia, 90 persen manusia belajar secara visual, sembilan persen secara verbal, sisanya satu persen dengan indra lainnya. Orang belajar dan mengikuti dari apa yang dilihatnya, sehingga kata Maxwell lebih lanjut:
“A leader’s credibility and his right to be followed are based on his life”.
Dalam tradisi militer dikenal filosofi kepemimpinan yang diringkas-padat dalam formula “Follow me!” Komandan batalyon akan berkata kepada komandan kompi agar mengikutinya, seterusnya ke bawah. Filosofi “follow me!” menuntut sang komandan berperilaku, bersikap dan bertindak benar di mata anak buahnya [5]. Meski keteladanan, kata yang mudah diucapkan, tetapi bukan “cara hidup” yang mudah diwujudkan. Namun, setidaknya hal itu menjadi rambu moral-etis dan acuan bagi setiap pemimpin. Mudah-mudahan kerinduan rakyat Indonesia untuk memperoleh pemimpin yang patut dijadikan suri teladan dapat terwujud melalui Pemilu 2009 nanti.
Pada akhirnya, “Trilogi Kepemimpinan: keteladanan, kemauan (political will) dan kompetensi” menjadi syarat mutlak bagi kepemimpinan nasional yang kuat dan berwibawa itu, agar mampu menghantarkan bangsa ini menuju pemulihan kehidupan bangsa yang lebih bermutu.
Dialog Budaya & Gelar Seni
Dalam kerangka pikir seperti itu, guna membuka lembaran baru tahun 2008, maka Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-9 akan mengangkat tema “Kepemimpinan Bangsa”, yang akan dicermati dan digali oleh para narasumber Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt., Bupati Sleman, Prof. Dr. dr. Sutarjo, SpAK, Ketua Senat Akademik UGM, Drs. Bambang Purwoko, MA, Staf Pengajar Fisipol UGM/Anggota Tim RUUK DIY.
Dialog dipandu oleh Drs. Octo Lampito, Pemimpin Redaksi “KR”, bersama Hari Dendi. Gelar Seni berupa dialog & tembang Prajnaparamita-Sang Amurwabumi arahan Bondan Nusantara & Drs. Sumaryono, MA, diiringi “gamelan ringkes” gabungan ISI-SMKI Yogyakarta asuhan Drs. Sunardi. Digelar di Bangsal Kepatihan, pada malam Slasa Wage, 22 Januari 2008, jam 19.00-22.00.
Yogyakarta, 10 Januari 2008
Komunitas Budaya
“YogyaSemesta”,
Hari Dendi
[1] Sri Sultan HB X, “Sosok Pemimpin Nasional Visioner yang Kuat, Konsisten, Tegas, dan Tidak Ambivalen”, Konvensi Nasional II Tahun 2004, IKAL, Yogyakarta, 31 Januari 2004.
[2] Roy Sembel, “Margaret Thatcher, Pemimpin yang Membawa Perubahan”, Sinar Harapan, 2002.
[3] Jakob Soemardjo, “Siapa yang Bisa Dipercaya?”, Rubrik Opini Kompas, 23 Januari 1999.
[4] Jakob Sumardjo, “Dicari, Orang Kuat Indonesia”, Kompas, 7 September 2002.
[5] Kiki Syahnakri, “(Krisis) Kenegarawanan dan Keteladanan”, Rubrik Opini Kompas, 7 Januari 2004.
Sunday, December 09, 2007
Sajak SDD: untuk seorang sahabat
Ini adalah puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, yang saya pilih untuk mengantar perjalanan panjang seorang sahabat. Banyak sekali yang ingin dituliskan di sini. Ada beberapa alasan, pertama untuk menyalurkan apa yang menjadi pemicu “emosi”. Kedua, setidaknya banyak hal yang bisa kita petik dari sebuah perjalanan panjang seorang sahabat, apalagi bila kita sedikit merenungkan apa yang ditulis dalam bait-bait puisinya SDD
Buat Ning, saya pilih sebagai pembuka, untuk mengingatkan kita semua, bahwa betapa segala sesuatu menjadi sangat singkat, datang dan pergi begitu saja tanpa sempat kita menghitungnya.
Pada malam itu beberapa teman menghubungi memberi kabar yang menyesakkan dada. Tak ada yang bisa saya katakan, selain pergilah, sudah tiba saatnya, berdukalah...
Menyekap beribu kata di antara karangan bunga. Tak ada yang mampu saya keluarkan, kecuali bercakap denganmu dalam senyap. Sore itu memang mendung, angin mereda. Semua merunduk, melapangkan jalan buatmu
Sebagai penutup saya ingin menyampaikan puisi SDD yang sangat terkenal, aku ingin. Dalam setiap diri kita, pastilah terdapat kecintaan yang melampaui dimensi ruang dan waktu. Kecintaan yang sangat sederhana, tetapi tak berbatas oleh nilai-nilai duniawi. Kecintaan seperti ini, tentu saja tak akan muncul bila kita hanya bicara tentang ukuran dunia. Kecintaan yang dilandasi kerinduan untuk bertemu sang Pencipta.
Buat Ning
Pasti datangkah semua yang ditunggu
Detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
Barang kali tanpa salam terlebih dahulu
Januari mengeras di tembok itu juga lalu Desember
Musimpun masak sebelum menyala cakrawala
Tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu
Sajak
Pergilah kerna malam sudah reda. Kau menolehku
Ke padang mana lagi, ke laut
(mencapai sunyi)
tapi sudah tiba saatnya, berdukalah
Saat sebelum berangkat
mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama
sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para penggiring jenazah menanti
Berjalan di belakang jenazah
berjalan di belakang jenazah anginpun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengembang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
Sehabis mengantar jenazah
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujanpun belum selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak ada habisnya
bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kemballi bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya
masih adakah? Alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
Aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Buat Ning, saya pilih sebagai pembuka, untuk mengingatkan kita semua, bahwa betapa segala sesuatu menjadi sangat singkat, datang dan pergi begitu saja tanpa sempat kita menghitungnya.
Pada malam itu beberapa teman menghubungi memberi kabar yang menyesakkan dada. Tak ada yang bisa saya katakan, selain pergilah, sudah tiba saatnya, berdukalah...
Menyekap beribu kata di antara karangan bunga. Tak ada yang mampu saya keluarkan, kecuali bercakap denganmu dalam senyap. Sore itu memang mendung, angin mereda. Semua merunduk, melapangkan jalan buatmu
Sebagai penutup saya ingin menyampaikan puisi SDD yang sangat terkenal, aku ingin. Dalam setiap diri kita, pastilah terdapat kecintaan yang melampaui dimensi ruang dan waktu. Kecintaan yang sangat sederhana, tetapi tak berbatas oleh nilai-nilai duniawi. Kecintaan seperti ini, tentu saja tak akan muncul bila kita hanya bicara tentang ukuran dunia. Kecintaan yang dilandasi kerinduan untuk bertemu sang Pencipta.
Buat Ning
Pasti datangkah semua yang ditunggu
Detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
Barang kali tanpa salam terlebih dahulu
Januari mengeras di tembok itu juga lalu Desember
Musimpun masak sebelum menyala cakrawala
Tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu
Sajak
Pergilah kerna malam sudah reda. Kau menolehku
Ke padang mana lagi, ke laut
(mencapai sunyi)
tapi sudah tiba saatnya, berdukalah
Saat sebelum berangkat
mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama
sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para penggiring jenazah menanti
Berjalan di belakang jenazah
berjalan di belakang jenazah anginpun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengembang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
Sehabis mengantar jenazah
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujanpun belum selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak ada habisnya
bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kemballi bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya
masih adakah? Alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
Aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Monday, December 03, 2007
Selamat Jalan
Apa yang terasa di hati, ketika seorang yang kita kasihi meneruskan perjalanan panjangnya dengan begitu tiba-tiba? Meninggalkan kita dengan rasa tak percaya.
Datang dan pergi adalah bagian dari “ada”. Seperti juga mendapatkan dan kehilangan. Saat kita mendapatkan, kita harus siap untuk kehilangan. Saat sesuatu datang, kita harus siap untuk kepergian. Ketiadaan adalah bagian dari ada.
Seorang sahabat yang pernah datang dalam kehidupan kita, suatu saat pasti akan pergi.
Sedih? Setiap orang yang kehilangan pasti bersedih. Tapi, ada satu hal yang harus selalu kita ingat. Ketika kau melambaikan tanganmu pada seseorang yang mengayuh perahunya di tepian danau, tersenyumlah, karena di seberang danau itu pasti ada orang lain yang melambaikan tangan menyambut kedatangannya.
Seorang sahabat mungkin telah pergi dari kita. Bumi yang damai, mendung, sedikit gerimis dan angin yang sejuk mengiringinya. Tapi, bukan untuk menjadikan kita sedih. Sahabat kita tak ingin kita bersedih, karena dia tak pernah pergi, kecuali kita sendiri yang tak menginginkan hadirnya di hati kita masing-masing.
Selamat jalan sahabat.
Datang dan pergi adalah bagian dari “ada”. Seperti juga mendapatkan dan kehilangan. Saat kita mendapatkan, kita harus siap untuk kehilangan. Saat sesuatu datang, kita harus siap untuk kepergian. Ketiadaan adalah bagian dari ada.
Seorang sahabat yang pernah datang dalam kehidupan kita, suatu saat pasti akan pergi.
Sedih? Setiap orang yang kehilangan pasti bersedih. Tapi, ada satu hal yang harus selalu kita ingat. Ketika kau melambaikan tanganmu pada seseorang yang mengayuh perahunya di tepian danau, tersenyumlah, karena di seberang danau itu pasti ada orang lain yang melambaikan tangan menyambut kedatangannya.
Seorang sahabat mungkin telah pergi dari kita. Bumi yang damai, mendung, sedikit gerimis dan angin yang sejuk mengiringinya. Tapi, bukan untuk menjadikan kita sedih. Sahabat kita tak ingin kita bersedih, karena dia tak pernah pergi, kecuali kita sendiri yang tak menginginkan hadirnya di hati kita masing-masing.
Selamat jalan sahabat.
Friday, November 23, 2007
Promosi
Sekali lagi tentang promosi. Sebenarnya apakah yang dicari kebanyakan kita dalam bekerja? Karir yang meningkat, penghasilan yang layak, dan tentu saja lingkungan kerja yang nyaman. Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda terhadap tiga hal di atas. Beberapa orang lebih menyukai punya banyak teman dengan lingkungan kerja yang nyaman meskipun tidak berlimpah uang. Beberapa orang lagi menyukai uang yang melimpah meskipun kerja kurang nyaman. Tidak ada yang salah, karena ini menyangkut pilihan hidup.
Persoalan biasanya akan muncul justru ketika kita ingin mempromosikan seseorang. Ada orang yang lebih nyaman tidak dipromosikan. Apabila orang-orang yang memilih seperti ini adalah orang dengan kualitas yang standar, tentu saja tidak menjadi masalah bagi perusahaan. Tetapi ketika orang-orang yang memiliki kompetensi, kompatibilitas, dan potensi yang tinggi lebih memilih tidak promosi (karena sudah berada pada zona nyaman kemapanan), perusahaan akan dirugikan.
Persoalan lain yang labih pelik adalah adanya beberapa orang yang merasa sangat pantas untuk dipromosikan, padahal berdasarkan penilaian termasuk kelompok mereka yang kompetensinya biasa-biasa saja, kompatibilitas dan potensinya rendah. Kelompok ini seringkali menjadi destruktif dengan membuat gerakan-gerakan menghasut, menyebar isu-isu negatif, tentu saja mengancam keteraturan dalam perusahaan.
Menentukan siapa yang berhak promosi bukan pekerjaan sederhana. Dalam kondisi normal kita akan mengatakan, pilih saja mereka yang senior dan memenuhi persyaratan. Masalahnya, ketika para senior tidak memenuhi persyaratan potensi, komptabilitas, dan kompetensi, akankah suatu posisi jabatan dibiarkan kosong menunggu yang muda menjadi senior, ataukah biarkan yang muda meloncati yang tua? Bila mengacu pada buku teks manajemen, tentu saja tidak ada masalah dengan loncatan-loncatan dalam promosi. Tetapi, buku teks adalah dunia laboratorium. Dalam buku teks tidak akan ada orang yang berdemo, tidak ada surat kaleng. Tidak ada protes. Dalam dunia nyata, ketidak-puasan akan secara sadar atau tidak akan diwujudkan dalam protes, entah itu melalui penurunan etos kerja, surat kaleng, hasutan, pengelompokan pegawai yang tidak konstruktif, dan berbagai hal lain yang pasti membahayakan kelangsungan hidup perusahaan.
Pengambilan keputusan adalah hak prerogatif manajemen. Apakah manajemen akan menurunkan standar yang mungkin dapat berdampak pada makin tersisihnya perusahaan dalam peta bisnis persaingan, atau membiarkan jabatan kosong dengan konsekuensi terjadi ketidakadilan dalam pembebanan tugas dan produktifitas yang mungkin menurun (satu kapasitas harus menarik lebih dari satu beban), atau pilihan lain, mengakomodasi terjadinya loncatan-loncatan promosi dengan konsekuensi berbagai bentuk protes.
Apapun pilihan manajemen, tugas pejabata eksekutif adalah mengamankan putusan tersebut, bukan sebaliknya, terlibat dalam kelompok-kelompok pegawai yang tidak puas dan turut merusak stabilitas perusahaan.
Thursday, November 22, 2007
Memandang Dengan Hati
Keindahan, baik-buruk, bagus-jelek, tidak akan pernah menjadi realitas. Seorang anak umur menjelang 5 tahun memandang dengan caranya sendiri, dan jadilah gambar-gambar di atas. Baguskah gambar-gambar itu? Apakah makna sebuah foto sepatu yang harus parkir sebelum masuk ruang kelas? Apakah arti gambar sebuah sepeda yang diparkir di dalam rumah di depan pintu? Seorang anak memandang dengan caranya sendiri, dan karena kepolosan pikirannya, mungkin sekali dia mendapatkan realitas dalam gambar tersebut. Orang-orang dewasa memandang dengan racun-racun yang sudah mengendap dalam pikirannya, maka kita, yang mengaku sebagai manusia dewasa, tak pernah lagi memperoleh realitas.
Monday, July 16, 2007
Gelas Yang Kosong
Manakah yang memberikan manfaat, gelas yang masih kosong, atau gelas yang telah berisi penuh?
Manakala kita bicara tentang manfaat sebuah gelas, sebagai tempat air sebelum diminum, maka kita tak akan dapat menggunakan gelas yang telah terisi penuh. Bis kota yang telah penuh sesak dengan penumpang tidak memberikan manfaat bagi calon penumpang yang antri di halte. Kereta api yang telah penuh sesak tidak memberikan manfaat bagi calon penumpang. Komputer yang memorinya telah penuh tak lagi dapat digunakan untuk menyimpan data.
Demikianlah, sesuatu yang kosong memberikan manfaat untuk digunakan. Ketika kita masuk ke ruang kerja di pagi haru, maka akan terasa lebih nyaman bila pikiran kita serupa dengan gelas yang masih kosong, yang siap untuk diisi dengan minuman apa saja, sesuai dengan kebutuhan hari itu. Bila kita masuk ruang kerja dengan pikiran yang penuh – katakanlah kecurigaan terhadap rekan-rekan kerja, maka dunia kerja hari itu akan sangat tidak nyaman. Otak kita akan segera lelah, karena kita harus menjejalkan berbagai hal ke dalam otak yang telah penuh. Apalagi bila otak telah dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif, seperti buruk sangka, ketakutan, atau amarah. Pikiran negatif seperti tembok keras yang tak dapat disingkirkan.
Tetapi, kekosongan yang bagaimana yang bermanfaat? Kekosongan berbeda dengan ketiadaan. Adanya gelas yang kosong, berbeda dengan tak ada gelas. Tak ada gelas, berarti tak ada yang bisa dimanfaatkan. Pikiran yang kosong bukan berarti kita tidak memiliki kerangka berpikir. Pikiran yang kosong adalah sebuah langkah awal untuk memecahkan suatu masalah atau mengambil suatu keputusan. Pikiran yang kosong ini memungkinkan kita untuk mendengarkan orang lain, melihat dengan berbagai sudut pandang, dan merumuskan berbagai alternatif yang mungkin untuk memecahkan masalah. Pikiran yang kosong tidak berarti kita menjadi manusia yang hanya mengatakan “ya” kepada setiap manusia lain. Bukan pula berarti kita dapat dibentuk menjadi apa saja oleh orang lain. Pikiran yang kosong adalah kemauan kita untuk diisi berbagai pendapat, dan menetapkan suatu pandangan kita sendiri sesuai dengan idealisme kita. Seperti juga gelas yang kosong, dia bermanfaat untuk diisi air minum, tetapi air yang dituangkan ke dalamnya akan terbentuk serupa dengan gelas, bukan gelasnya yang menyesuaikan diri dengan keinginan air.
Manakala kita bicara tentang manfaat sebuah gelas, sebagai tempat air sebelum diminum, maka kita tak akan dapat menggunakan gelas yang telah terisi penuh. Bis kota yang telah penuh sesak dengan penumpang tidak memberikan manfaat bagi calon penumpang yang antri di halte. Kereta api yang telah penuh sesak tidak memberikan manfaat bagi calon penumpang. Komputer yang memorinya telah penuh tak lagi dapat digunakan untuk menyimpan data.
Demikianlah, sesuatu yang kosong memberikan manfaat untuk digunakan. Ketika kita masuk ke ruang kerja di pagi haru, maka akan terasa lebih nyaman bila pikiran kita serupa dengan gelas yang masih kosong, yang siap untuk diisi dengan minuman apa saja, sesuai dengan kebutuhan hari itu. Bila kita masuk ruang kerja dengan pikiran yang penuh – katakanlah kecurigaan terhadap rekan-rekan kerja, maka dunia kerja hari itu akan sangat tidak nyaman. Otak kita akan segera lelah, karena kita harus menjejalkan berbagai hal ke dalam otak yang telah penuh. Apalagi bila otak telah dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif, seperti buruk sangka, ketakutan, atau amarah. Pikiran negatif seperti tembok keras yang tak dapat disingkirkan.
Tetapi, kekosongan yang bagaimana yang bermanfaat? Kekosongan berbeda dengan ketiadaan. Adanya gelas yang kosong, berbeda dengan tak ada gelas. Tak ada gelas, berarti tak ada yang bisa dimanfaatkan. Pikiran yang kosong bukan berarti kita tidak memiliki kerangka berpikir. Pikiran yang kosong adalah sebuah langkah awal untuk memecahkan suatu masalah atau mengambil suatu keputusan. Pikiran yang kosong ini memungkinkan kita untuk mendengarkan orang lain, melihat dengan berbagai sudut pandang, dan merumuskan berbagai alternatif yang mungkin untuk memecahkan masalah. Pikiran yang kosong tidak berarti kita menjadi manusia yang hanya mengatakan “ya” kepada setiap manusia lain. Bukan pula berarti kita dapat dibentuk menjadi apa saja oleh orang lain. Pikiran yang kosong adalah kemauan kita untuk diisi berbagai pendapat, dan menetapkan suatu pandangan kita sendiri sesuai dengan idealisme kita. Seperti juga gelas yang kosong, dia bermanfaat untuk diisi air minum, tetapi air yang dituangkan ke dalamnya akan terbentuk serupa dengan gelas, bukan gelasnya yang menyesuaikan diri dengan keinginan air.
Thursday, July 12, 2007
Menuju Puncak Karir dan Kehormatan
Siapakah yang tidak ingin karirnya melejit serupa bintang? Anak-anak baru yang memiliki perfromance bagus, biasanya akan segera didekati oleh para penyelian dan manajer, untuk dilihat apakah memiliki potensi dikembangkan lebih lanjut. Mereka akan mendapat tugas-tugas khusus yang di luar pekerjaan utamanya. Bahkan mungkin tugas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kelompok ini akan disebut calon bintang. Para penyelia dan manajer menengah yang kelihatan cemerlang akan diamati satu persatu oleh eksekutif. Terkadang diberi tugas yang nampaknya mustahil diselesaikan. Mereka diarahkan untuk menjadi pejabat-pejabat eksekutif. Kelompok penyelia dan manajer menengah yang cemerlang ini dinamakan "the rising star".
Situasi ini menyebabkan kelompok rising star berlomba-lomba untuk memoles wajah, menampakkan kecemerlangan, dan menyembunyikan setiap kerut kecil di wajah yang pasti ada (karena manusia sungguh amat sangat sempurna). Kerut kecil dan jerawat tentu saja (dalam anggapan kelompok ini) akan mengganggu penampilan, menyebabkan sinar tidak terpantulkan dengan baik sehingga mereka tak nampak cemerlang.
Salahkah? Tentu saja tidak. Setiap orang berhak untuk menyajikan yang terbaik menurut mereka dan menyembunyikan yang jelek. Bukankah kita semua berlaku demikian? Lihatlah iklan-iklan yang kita buat untuk perusahaan kita (kecuali iklan rokok - yang dengan jujur mengatakan bahaya merokok, meskipun regulasi yang mengaturnya memang mengharuskan demikian).
Tak ada yang salah, ketika staf ingin menunjukkan pada atasannya bahwa dia pegawai terbaik dan pantas untuk promosi lebih lanjut. Tak ada yang salah, ketika staf mencoba menjalin jaringan emosional dengan teman-teman untuk mendukung penampilannya.
Tetapi, ketika hubungan-hubungan emosional ini digunakan sebagai kosmetik untuk menunjang performance, ketika hubungan-hubungan tersebut dimanfaatkan untuk batu loncatan, atau ketika seseorang menonjolkan kelemahan orang lain bukan menunjukkan kelebihan dirinya (yang mungkin hanya biasa-biasa saja), maka kita memasuki wilayah etika. Etika tidak bicara benar dan salah. Etika bicara tentang kepatutan perbuatan.
Etika kekawanan berbicara tentang perbuatan yang pantas dan tidak pantas kita lakukan pada orang-orang di sekitar kita. Tidak ada yang melarang orang untuk memanfaatkan teman untuk mendorong karir. Tetapi etiskah bila kekawanan hanya ditujukan untuk itu? Etiskah bila hubungan kekawanan segera beralih manakala kepentingan pribadi sudah tak terpenuhi lagi?
Puncak karir adalah kehormatan. Tetapi menjadi orang terhormat adalah sesuatu yang berbeda.
Situasi ini menyebabkan kelompok rising star berlomba-lomba untuk memoles wajah, menampakkan kecemerlangan, dan menyembunyikan setiap kerut kecil di wajah yang pasti ada (karena manusia sungguh amat sangat sempurna). Kerut kecil dan jerawat tentu saja (dalam anggapan kelompok ini) akan mengganggu penampilan, menyebabkan sinar tidak terpantulkan dengan baik sehingga mereka tak nampak cemerlang.
Salahkah? Tentu saja tidak. Setiap orang berhak untuk menyajikan yang terbaik menurut mereka dan menyembunyikan yang jelek. Bukankah kita semua berlaku demikian? Lihatlah iklan-iklan yang kita buat untuk perusahaan kita (kecuali iklan rokok - yang dengan jujur mengatakan bahaya merokok, meskipun regulasi yang mengaturnya memang mengharuskan demikian).
Tak ada yang salah, ketika staf ingin menunjukkan pada atasannya bahwa dia pegawai terbaik dan pantas untuk promosi lebih lanjut. Tak ada yang salah, ketika staf mencoba menjalin jaringan emosional dengan teman-teman untuk mendukung penampilannya.
Tetapi, ketika hubungan-hubungan emosional ini digunakan sebagai kosmetik untuk menunjang performance, ketika hubungan-hubungan tersebut dimanfaatkan untuk batu loncatan, atau ketika seseorang menonjolkan kelemahan orang lain bukan menunjukkan kelebihan dirinya (yang mungkin hanya biasa-biasa saja), maka kita memasuki wilayah etika. Etika tidak bicara benar dan salah. Etika bicara tentang kepatutan perbuatan.
Etika kekawanan berbicara tentang perbuatan yang pantas dan tidak pantas kita lakukan pada orang-orang di sekitar kita. Tidak ada yang melarang orang untuk memanfaatkan teman untuk mendorong karir. Tetapi etiskah bila kekawanan hanya ditujukan untuk itu? Etiskah bila hubungan kekawanan segera beralih manakala kepentingan pribadi sudah tak terpenuhi lagi?
Puncak karir adalah kehormatan. Tetapi menjadi orang terhormat adalah sesuatu yang berbeda.
Thursday, June 21, 2007
Regenerasi
Ada yang menggelitik ketika salah satu produk rokok diiklankan dengan tema Yang Muda Yang Tidak Dipercaya. Ketika seseorang yang masih dianggap junior dalam perusahaan dipaksa untuk menggunakan pakaian seorang senior, sekalipun pakaian itu tidak pas, bukankah di situ telah terjadi pemerkosaan hak-hak untuk berpikir dan berkreasi?
Kepercayaan adalah stimulator untuk berkreasi. Tak ada kreasi ketika seseorang tidak dipercaya. Ketika salah satu dari dua orang yang berinteraksi memaksakan kehendaknya, maka itu tak ubahnya dengan tak ada interaksi. Hasil dari proses ini hanyalah ide tunggal dari satu pihak. Tetapi ketika setiap orang membuka diri untuk menerima orang lain dengan pakaiannya masing-masing, maka interaksi yang seperti ini akan menghasilkan ide dengan berbagai warna.
Seperti juga ketika kita menutup diri terhadap interaksi dunia luar, maka kita menjadi serupa dengan katak, yang hanya tahu luasan tempat tinggalnya. Si Katak tak pernah tahu bahwa ada binatang lain di seberang jalan yang besarnya setara dengan seribu katak.
Kekerdilan akan melahirkan kekerdilan, kecuali si kerdil meluaskan pikirannya. Seperti kita selalu berpikir tentang keberadaan empat orang ketika membaca atau mendengar kalimat “dua orang ayah dengan dua orang anaknya.” Dengan pikiran yang sempit ketika bicara dua ditambah dengan dua, maka hasilnya haruslah empat. Pikiran sempit ini ditanamkan oleh lingkungan sejak kecil dan mengendap di benak kita, tanpa sadar membentuk kekerdilan berpikir. Pernahkah terlintas oleh kita bahwa dua orang ayah dengan dua orang anak bisa jadi hanya terdiri dari tiga orang, yaitu kakek, bapak, dan anak?
Kekerdilan berpikir muncul ketika kita sebagai orang yang merasa lebih tua memaksakan pemikiran kita kepada orang lain yang kita anggap lebih muda. Senioritas seringkali memunculkan kesombongan, seolah hanya kita yang senior yang benar. Seseorang tak akan mampu menjadi pemimpin yang baik bila tidak pernah dipercaya untuk memimpin.
Iklan tadi boleh jadi merupakan sindiran bagi kita, yang sering kali menggunakan norma-norma dan ukuran kita untuk menilai orang lain. Mengatakan sesuatu sebagai benar atau salah dengan ukuran yang tidak baku seperti selera. Lagu yang tidak sesuai dengan selera dikatakan salah atau jelek. Staf yang mengetik sambil mendengar musik dianggap tidak bekerja dengan benar tanpa melihat hasil kerjanya. Staf yang berpikir dengan cara berbeda dianggap tidak dewasa tanpa melihat bagaimana staf ini menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tugas seorang pemimpin adalah menyiapkan pengganti. Masalahnya adalah bukan pada sudah siapkah pengganti kita, tetapi, sudah siapkah kita untuk digantikan. Pikiran yang sempit selalu mengatakan bahwa pengganti kita belum siap, tetapi kita sering lupa dengan pertanyaan apakah kita sudah siap untuk digantikan.
Kepercayaan adalah stimulator untuk berkreasi. Tak ada kreasi ketika seseorang tidak dipercaya. Ketika salah satu dari dua orang yang berinteraksi memaksakan kehendaknya, maka itu tak ubahnya dengan tak ada interaksi. Hasil dari proses ini hanyalah ide tunggal dari satu pihak. Tetapi ketika setiap orang membuka diri untuk menerima orang lain dengan pakaiannya masing-masing, maka interaksi yang seperti ini akan menghasilkan ide dengan berbagai warna.
Seperti juga ketika kita menutup diri terhadap interaksi dunia luar, maka kita menjadi serupa dengan katak, yang hanya tahu luasan tempat tinggalnya. Si Katak tak pernah tahu bahwa ada binatang lain di seberang jalan yang besarnya setara dengan seribu katak.
Kekerdilan akan melahirkan kekerdilan, kecuali si kerdil meluaskan pikirannya. Seperti kita selalu berpikir tentang keberadaan empat orang ketika membaca atau mendengar kalimat “dua orang ayah dengan dua orang anaknya.” Dengan pikiran yang sempit ketika bicara dua ditambah dengan dua, maka hasilnya haruslah empat. Pikiran sempit ini ditanamkan oleh lingkungan sejak kecil dan mengendap di benak kita, tanpa sadar membentuk kekerdilan berpikir. Pernahkah terlintas oleh kita bahwa dua orang ayah dengan dua orang anak bisa jadi hanya terdiri dari tiga orang, yaitu kakek, bapak, dan anak?
Kekerdilan berpikir muncul ketika kita sebagai orang yang merasa lebih tua memaksakan pemikiran kita kepada orang lain yang kita anggap lebih muda. Senioritas seringkali memunculkan kesombongan, seolah hanya kita yang senior yang benar. Seseorang tak akan mampu menjadi pemimpin yang baik bila tidak pernah dipercaya untuk memimpin.
Iklan tadi boleh jadi merupakan sindiran bagi kita, yang sering kali menggunakan norma-norma dan ukuran kita untuk menilai orang lain. Mengatakan sesuatu sebagai benar atau salah dengan ukuran yang tidak baku seperti selera. Lagu yang tidak sesuai dengan selera dikatakan salah atau jelek. Staf yang mengetik sambil mendengar musik dianggap tidak bekerja dengan benar tanpa melihat hasil kerjanya. Staf yang berpikir dengan cara berbeda dianggap tidak dewasa tanpa melihat bagaimana staf ini menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tugas seorang pemimpin adalah menyiapkan pengganti. Masalahnya adalah bukan pada sudah siapkah pengganti kita, tetapi, sudah siapkah kita untuk digantikan. Pikiran yang sempit selalu mengatakan bahwa pengganti kita belum siap, tetapi kita sering lupa dengan pertanyaan apakah kita sudah siap untuk digantikan.
Tuesday, June 05, 2007
Tentang Kebenaran
Ketika negeri binatang dilanda bencana, semua mengungsikan diri. Kura-kura adalah mahluk yang paling lambat, sehingga jiwanya menjadi sangat terancam. Beruntung, terdapat burung yang masih ingat akan kasih dan kebaikan.
“Kau akan kubawa terbang, tetapi aku harus menggigitmu dengan paruhku sepanjang perjalanan agar kau tak jatuh.”
“Oh... tidak, aku telah diajari ilmu manajemen risiko. Apa yang bisa memastikan aku bahwa engkau tidak akan membuka paruhmu saat perjalanan? Kalau kau lakukan itu sekali saja, aku pasti jatuh.”
“Well, terserahlah, aku hanya ingin berbuat baik, tapi, memang tidak semua mahluk percaya adanya kebaikan. Bukankah begitu? Nampaknya engkaupun tak percaya pada niat baikku.”
Oh... teman, engkau tak perlu tersinggung, aku hanya menjalankan prinsip kehati-hatian. Aku punya ide, bagaimana kalau aku yang menggigit kakimu selama perjalanan.”
“Tak masalah, meskipun itu mungkin membuat kakiku sakit, tapi aku ingin menolongmu, berbuat kebaikan bagi sesama mahlukNya. Ayo, gigitlah kakiku, Ingat jangan kau lepas gigitan ini selama kita terbang.”
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan burung lain yang terkagum-kagum dengan ide cemerlang tentang penyelamatan kura-kura.
“Hai burung sahabatku, engkau sungguh mulia. Perbuatanmu menunjukkan kasihmu pada sesama umatNya. Idemu sangat cemerlang. Aku akan mencoba mengikuti jejakmu mencari kura-kura lain.” Sang burung menyapa mereka.
Kura-kura merasa sangat tersinggung, bukankah menggigit kaki burung adalah idenya? Mengapa si burung yang dipuji. Egonya mendorong untuk menyuarakan kebenaran.
“Hai bur........”
Kalimatnya tak terselesaikan, yang ada hanyalah ketakutan melayang dari ketinggian........
Kala kita menyatakan kebenaran, apakah yang mendorongnya? Ego untuk aktualisasi diri, ataukah murni mewartakan tugas kita sebagai umatNya? Dalam banyak hal, hanya ada batasan yang sangat tipis antara ego dengan tugas hidup kita. Ketika kita meneriakkan tentang betapa buruknya pemerintah menangani tranpostasi dengan lalu lintas kota yang selalu macet, apakah kita bicara tentang puluhan juta jiwa lainnya yang mungkin harus berjalan kaki di tengah jalan setapak yang licin untuk menuju sekolahnya? Atau kita sekedar berteriak betapa tidak nyamannya lalu lintas yang macet ini, meskipun kita duduk di sebuah mobil berpendingin udara dengan musik lembut yang tak berhenti?
Ketika kita bicara tentang pemerintahan yang bersih dan berwibawa, apakah kita berpikir tentang pemimpin dari lebih dari 200 juta umat manusia dengan segala penderitaannya, atau kita bicara tentang peluang pribadi untuk turut merasakan nikmatnya kursi kepemimpinan?
Ketika kita bicara tentang hak-hak masyarakat sipil dan kebebasan berbicara, apakah kita bicara tentang pembungkaman lebih dari 200 juta jiwa yang tertekan, atau kita bicara tentang peluang bisnis?
Ketika engkau menerangi dunia, apakah karena engkau ingin setiap manusia memperoleh cahayaNya, atau alam bawah sadarmu menginginkan agar setiap orang melihatmu sebagai gembala yang memiliki dan mampu memberikan terang? Apa bedanya? Yang pertama menggambarkan ilahiah sebagai pusat dari gerakanmu, sedangkan yang kedua menggambarkan engkau memanfaatkan ilahiah sebagai pemuas nafsumu.
“Kau akan kubawa terbang, tetapi aku harus menggigitmu dengan paruhku sepanjang perjalanan agar kau tak jatuh.”
“Oh... tidak, aku telah diajari ilmu manajemen risiko. Apa yang bisa memastikan aku bahwa engkau tidak akan membuka paruhmu saat perjalanan? Kalau kau lakukan itu sekali saja, aku pasti jatuh.”
“Well, terserahlah, aku hanya ingin berbuat baik, tapi, memang tidak semua mahluk percaya adanya kebaikan. Bukankah begitu? Nampaknya engkaupun tak percaya pada niat baikku.”
Oh... teman, engkau tak perlu tersinggung, aku hanya menjalankan prinsip kehati-hatian. Aku punya ide, bagaimana kalau aku yang menggigit kakimu selama perjalanan.”
“Tak masalah, meskipun itu mungkin membuat kakiku sakit, tapi aku ingin menolongmu, berbuat kebaikan bagi sesama mahlukNya. Ayo, gigitlah kakiku, Ingat jangan kau lepas gigitan ini selama kita terbang.”
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan burung lain yang terkagum-kagum dengan ide cemerlang tentang penyelamatan kura-kura.
“Hai burung sahabatku, engkau sungguh mulia. Perbuatanmu menunjukkan kasihmu pada sesama umatNya. Idemu sangat cemerlang. Aku akan mencoba mengikuti jejakmu mencari kura-kura lain.” Sang burung menyapa mereka.
Kura-kura merasa sangat tersinggung, bukankah menggigit kaki burung adalah idenya? Mengapa si burung yang dipuji. Egonya mendorong untuk menyuarakan kebenaran.
“Hai bur........”
Kalimatnya tak terselesaikan, yang ada hanyalah ketakutan melayang dari ketinggian........
Kala kita menyatakan kebenaran, apakah yang mendorongnya? Ego untuk aktualisasi diri, ataukah murni mewartakan tugas kita sebagai umatNya? Dalam banyak hal, hanya ada batasan yang sangat tipis antara ego dengan tugas hidup kita. Ketika kita meneriakkan tentang betapa buruknya pemerintah menangani tranpostasi dengan lalu lintas kota yang selalu macet, apakah kita bicara tentang puluhan juta jiwa lainnya yang mungkin harus berjalan kaki di tengah jalan setapak yang licin untuk menuju sekolahnya? Atau kita sekedar berteriak betapa tidak nyamannya lalu lintas yang macet ini, meskipun kita duduk di sebuah mobil berpendingin udara dengan musik lembut yang tak berhenti?
Ketika kita bicara tentang pemerintahan yang bersih dan berwibawa, apakah kita berpikir tentang pemimpin dari lebih dari 200 juta umat manusia dengan segala penderitaannya, atau kita bicara tentang peluang pribadi untuk turut merasakan nikmatnya kursi kepemimpinan?
Ketika kita bicara tentang hak-hak masyarakat sipil dan kebebasan berbicara, apakah kita bicara tentang pembungkaman lebih dari 200 juta jiwa yang tertekan, atau kita bicara tentang peluang bisnis?
Ketika engkau menerangi dunia, apakah karena engkau ingin setiap manusia memperoleh cahayaNya, atau alam bawah sadarmu menginginkan agar setiap orang melihatmu sebagai gembala yang memiliki dan mampu memberikan terang? Apa bedanya? Yang pertama menggambarkan ilahiah sebagai pusat dari gerakanmu, sedangkan yang kedua menggambarkan engkau memanfaatkan ilahiah sebagai pemuas nafsumu.
Friday, March 30, 2007
Stiglitz
Apakah yang ada dalam pikiran Joseph Stiglitz ketika mengatakan bahwa globalisasi tidak berpihak pada kaum miskin? Laporan Bank Dunia menunjukkan, tahun 1990 jumlah penduduk dunia yang hidup hanya dengan uang di bawah $2 per hari sebanyak 2,718 milyar orang dan bertambah menjadi 2,801 milyar orang pada tahun 1998. Angka ini menunjukkan dengan jelas bahwa tata ekonomi kapitalis yang saat ini diagungkan sebagai penyelesaian masalah kesejateraan dengan selogan tentang efisiensi dan efektivitas sebuah pasar yang bebas tidaklah menyelesaikan masalah distribusi pendapatan.
Kalau kita ingin sedikit matematis dan sedikit berupaya mencari data, kita dapat menghitung persentase jumlah penduduk Indonesia yang menikmati 20% pendapatan. Saya akan meletakkan taruhan saya pada angka di bawah 20% [koreksi: harusnya di atas 80% , Mei 2007]. Artinya, 80% penduduk hanya menikmati 20% dari kue yang ada. Bagaimana kelompok ini dapat bangkit dan bersaing? Bagaimana industri kecil dapat hidup kalau daya beli masyarakat kecil?
Saya ingin mengutip Stiglitz:
"Apa yang dibutuhkan adalah kebijakan-kebijakan untuk pertumbuhan yang terus menerus, merata, dan demokratis. Inilah alasan adanya pembangunan. Pembangunan bukan hanya membantu beberapa orang menjadi kaya atau menciptakan banyak industri tak bermanfaat yang dilindungi yang hanya menguntungkan kalangan elit di negara tersebut. Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan. Bisa membeli tas Gucci di sebuah tempat belanja di Moskow bukan berarti bahwa negara itu telah menjadi suatu ekonomi pasar. Pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil, dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan ......”
Stiglitz sangat benar, dan kita mungkin hanya terperangah ketika melihat keserakahan kita untuk menjadi konsumen barang-barang berkelas dan mahal. Kita menjadi bingung ketika seorang pejabat negara menyimpan uang di dalam ember di kamar mandi. Kita menjadi sedih, ketika melihat anak-anak yang terpinggirkan tanpa kesempatan untuk mewujudkan masa depannya.
Dan akhirnya kita menjadi bingung harus dimulai dari mana.
Kalau kita ingin sedikit matematis dan sedikit berupaya mencari data, kita dapat menghitung persentase jumlah penduduk Indonesia yang menikmati 20% pendapatan. Saya akan meletakkan taruhan saya pada angka di bawah 20% [koreksi: harusnya di atas 80% , Mei 2007]. Artinya, 80% penduduk hanya menikmati 20% dari kue yang ada. Bagaimana kelompok ini dapat bangkit dan bersaing? Bagaimana industri kecil dapat hidup kalau daya beli masyarakat kecil?
Saya ingin mengutip Stiglitz:
"Apa yang dibutuhkan adalah kebijakan-kebijakan untuk pertumbuhan yang terus menerus, merata, dan demokratis. Inilah alasan adanya pembangunan. Pembangunan bukan hanya membantu beberapa orang menjadi kaya atau menciptakan banyak industri tak bermanfaat yang dilindungi yang hanya menguntungkan kalangan elit di negara tersebut. Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan. Bisa membeli tas Gucci di sebuah tempat belanja di Moskow bukan berarti bahwa negara itu telah menjadi suatu ekonomi pasar. Pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil, dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan ......”
Stiglitz sangat benar, dan kita mungkin hanya terperangah ketika melihat keserakahan kita untuk menjadi konsumen barang-barang berkelas dan mahal. Kita menjadi bingung ketika seorang pejabat negara menyimpan uang di dalam ember di kamar mandi. Kita menjadi sedih, ketika melihat anak-anak yang terpinggirkan tanpa kesempatan untuk mewujudkan masa depannya.
Dan akhirnya kita menjadi bingung harus dimulai dari mana.
Friday, March 02, 2007
Kupu-kupu pagi
Keindahan seringkali memang terabaikan begitu saja.
Saturday, February 10, 2007
Tentang Kesepian
Hari ini sekali lagi seorang teman berkata, bahwa dirinya baru saja merasakan kehilangan. Perasaannya menjadi sangat sensitif.
Ah, mengapa selalu seperti ini? Siapapun pernah kehilangan. Siapapun pernah merasakan sangat sensitif. Kadang kita merasakan kesendirian, yang sangat membuat kita sedih. Rasa tersingkirkan. Perasaan telah menjadi orang yang kalah. Perasaan menjadi orang yang tak berguna.
Akan selalu begitu, selama manusia punya perasaan, cerita seperti ini tak akan pernah hilang. Pada tingkat kehidupan seperti saat ini, ketika hidup manusia sudah tidak lagi sekedar mempertahankan hidup dan kelangsungan generasi, maka yang bicara adalah kebutuhan hati. Maslow mungkin benar ketika menyajikan teori hirarki kebutuhan, tetapi teori itu harus dipahami dalam konteks yang sangat luas. Basic need muncul ketika kehidupan manusia masih dalam tataran mempertahankan generasinya. Ketika manusia berburu hanya untuk makan. Tetapi, pada saat itupun sebenarnya manusia telah berpikir tentang status sosial, siapa yang terkuat, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang boleh menikmati fasilitas yang lebih dibandingkan anggota kelompok. Bahkan pada tataran kehidupan yang lebih rendah lagi, kelompok hewan, merekapun mengenal status sosial. Pada kelompok unggas, pejantan yang memiliki warna bulu terbaik, penjantan yang memenangkan pertarungan dengan pejantan lainnya, pejantan yang mampu membangun sangkar lebih baik dari lainnya berhak untuk memperoleh induk yang paling subur. Semua ini adalah cerita tentang naluri untuk mempertahankan kelangsungan generasi. Yang terbaik, yang terkuat akan bertahan. Bibit yang lemah akan tersingkir.
Arti dari semua ini adalah, kebutuhan sosial tak akan hilang dari kehidupan karena merupakan salah satu naluri mahkluk hidup untuk mempertahankan generasinya. Selama kebutuhan sosial itu ada, maka rasa kalah, kesepian, tersingkirkan dan sebagainya akan selalu ada. Menjadi pihak yang kalah, kesepian, tersingkirkan adalah sebuah keniscayaan, karena itu adalah hukum alam. Masalahnya adalah bagaimana kita mengubah setiap perasaan tidak nyaman tersebut menjadi cambuk untuk memperbaiki diri.
(Untuk seorang teman, yang kali ini sedang bersedih dan merasa sangat sensitif)
Ah, mengapa selalu seperti ini? Siapapun pernah kehilangan. Siapapun pernah merasakan sangat sensitif. Kadang kita merasakan kesendirian, yang sangat membuat kita sedih. Rasa tersingkirkan. Perasaan telah menjadi orang yang kalah. Perasaan menjadi orang yang tak berguna.
Akan selalu begitu, selama manusia punya perasaan, cerita seperti ini tak akan pernah hilang. Pada tingkat kehidupan seperti saat ini, ketika hidup manusia sudah tidak lagi sekedar mempertahankan hidup dan kelangsungan generasi, maka yang bicara adalah kebutuhan hati. Maslow mungkin benar ketika menyajikan teori hirarki kebutuhan, tetapi teori itu harus dipahami dalam konteks yang sangat luas. Basic need muncul ketika kehidupan manusia masih dalam tataran mempertahankan generasinya. Ketika manusia berburu hanya untuk makan. Tetapi, pada saat itupun sebenarnya manusia telah berpikir tentang status sosial, siapa yang terkuat, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang boleh menikmati fasilitas yang lebih dibandingkan anggota kelompok. Bahkan pada tataran kehidupan yang lebih rendah lagi, kelompok hewan, merekapun mengenal status sosial. Pada kelompok unggas, pejantan yang memiliki warna bulu terbaik, penjantan yang memenangkan pertarungan dengan pejantan lainnya, pejantan yang mampu membangun sangkar lebih baik dari lainnya berhak untuk memperoleh induk yang paling subur. Semua ini adalah cerita tentang naluri untuk mempertahankan kelangsungan generasi. Yang terbaik, yang terkuat akan bertahan. Bibit yang lemah akan tersingkir.
Arti dari semua ini adalah, kebutuhan sosial tak akan hilang dari kehidupan karena merupakan salah satu naluri mahkluk hidup untuk mempertahankan generasinya. Selama kebutuhan sosial itu ada, maka rasa kalah, kesepian, tersingkirkan dan sebagainya akan selalu ada. Menjadi pihak yang kalah, kesepian, tersingkirkan adalah sebuah keniscayaan, karena itu adalah hukum alam. Masalahnya adalah bagaimana kita mengubah setiap perasaan tidak nyaman tersebut menjadi cambuk untuk memperbaiki diri.
(Untuk seorang teman, yang kali ini sedang bersedih dan merasa sangat sensitif)
Tuesday, October 31, 2006
Kedatangan dan Kepergian
Seorang teman sedang menikmati masa-masa penuh keajaiban sebagai seorang ibu yang menantikan kelahiran putra kedua.
Kebanyakan kita menyambut setiap kedatangan dengan kebahagiaan dan menangisi setiap perpisahan. Bagaimanapun, kehidupan di dunia tak dapat lepas dari dua sisi yang selalu bertentangan. Kedatangan - kepergian, malam - siang, terang - gelap, susah - senang, panas - dingin dan seterusnya. Secara matematis, apabila seluruh yang ada didunia ini dijumlahkan, maka kita akan mendapatkan angka nol. Itulah titik keseimbangan. Orang-orang ekonomi mengatakan, manusia akan selalu menambah "kekayaannya" selama tambahan itu masih memberikan manfaat, dengan sedikit bahasa teknis, orang yang haus akan terus minum sampai marginal utility dari air yang diminum itu sama dengan nol. Artinya dia berhenti minum ketika tidak merasakan tambahan manfaat lagi.
Titik nol adalah hakekat kehidupan. Ketika manusia merasa tidak menjadi apa-apa, ketika manusia menghilangkan "akunya" dan menjadikan dirinya sebagai "Aku", yaitu wujud fisik keberadaan Sang Pencipta di atas dunia, maka disitulah hakekat.
Datang dan pergi tak dapat lepas dari hidup manusia, seperti juga tawa dan tangis serta gembira dan sedih. Tetapi menjadi terlalu gembira menyebabkan kita lupa akan adanya sedih. Menjadi terlalu sedih menyebabkan kita lupa akan kegembiraan.
Sambutlah setiap kedatangan seperti itu pula kita menyiapkan setiap kepergian.
Kebanyakan kita menyambut setiap kedatangan dengan kebahagiaan dan menangisi setiap perpisahan. Bagaimanapun, kehidupan di dunia tak dapat lepas dari dua sisi yang selalu bertentangan. Kedatangan - kepergian, malam - siang, terang - gelap, susah - senang, panas - dingin dan seterusnya. Secara matematis, apabila seluruh yang ada didunia ini dijumlahkan, maka kita akan mendapatkan angka nol. Itulah titik keseimbangan. Orang-orang ekonomi mengatakan, manusia akan selalu menambah "kekayaannya" selama tambahan itu masih memberikan manfaat, dengan sedikit bahasa teknis, orang yang haus akan terus minum sampai marginal utility dari air yang diminum itu sama dengan nol. Artinya dia berhenti minum ketika tidak merasakan tambahan manfaat lagi.
Titik nol adalah hakekat kehidupan. Ketika manusia merasa tidak menjadi apa-apa, ketika manusia menghilangkan "akunya" dan menjadikan dirinya sebagai "Aku", yaitu wujud fisik keberadaan Sang Pencipta di atas dunia, maka disitulah hakekat.
Datang dan pergi tak dapat lepas dari hidup manusia, seperti juga tawa dan tangis serta gembira dan sedih. Tetapi menjadi terlalu gembira menyebabkan kita lupa akan adanya sedih. Menjadi terlalu sedih menyebabkan kita lupa akan kegembiraan.
Sambutlah setiap kedatangan seperti itu pula kita menyiapkan setiap kepergian.
Wednesday, September 13, 2006
Negeri Angin
Ini adalah sebuah cerita tentang negeri angin. Lebih tepatnya, ini hanyalah sebuah omong kosong yang muncul dari kegelisahan. Tak ada arti apapun dalam cerita ini, kecuali pembaca ingin memberikan arti sendiri.
Ini bulan ke enam sejak pengembaraannya di negeri angin dimulai. Negeri angin adalah negeri yang tiada terlihat, tapi terasakan. Tiada bunyi yang terdengarkan, kecuali angin yang menembus dari balik sunyi keca jendela hati[1]. Ini bulan keenam pengembaraannya di negeri angin. Dia jadi ingat negeri-negeri lain tempat dia pernah mengembara. Negeri abu-abu. Tempat semuanya tanpa warna untungnya adalah seorang penyihir si cemerlang yang menemukan kristal kacanya, sehingga cahaya yang selama ini nampak abu-abu berhasil dipendarkan menjadi warna-warna serupa pelangi yang kita kenal saat ini[2]. Dia pernah juga mengunjungi negeri senja dengan kereta yang berangkat penuh orang, tetapi selalu kembali kosong [3]. Dia tidak tahu, bagaimana caranya, ketika tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah tidak lagi berada di negeri senja. Harusnya setelah negeri senja, dia berada di negeri malam, tapi tidak. Saat tertidur di negeri senja, ketika bangun, dia telah berada di negeri asalnya. Sebuah negeri yang aman dan damai, pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa.[4]
Ke negeri angin, enam bulan yang lalu dia menguatkan tekadnya. Dia tak perlu berpamitan pada anak-anaknya, karena memang belum memiliki anak. Dia juga tidak perlu berpamitan dengan suaminya, karena memang belum juga memiliki suami. Satu-satunya tempat dia harus pamit adalah pada kehidupannya sendiri. Kehidupan yang sangat mapan, dengan status profesional muda dan karir yang sangat baik. Berpamitan pada kehidupannya yang memberikan gaji tak berhingga dan beberapa mobil mewah dan tentu saja sebuah tempat tinggal yang super asri. Ke negeri Angin. Dia ingin melarikan diri dari kehidupan yang mapan. Seperti juga pada saat dia mengunjungi negeri abu-abu, atau menuju negeri senja. Tadinya dia ingin menuju negeri di awan. Ide negeri di awan muncul ketika dia mendengar sebuah kata-kata puitis dari seorang penyanyi, “Kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan”[5]. Tapi dia berubah pikiran karena negeri di awan terlalu dekat dengan tanah yang dipijaknya. Tentu saja teman-temannya akan menemuinya pada saat mereka terbang di pesawat.
“Negeri di awan terlalu dekat”, pikirnya. “Aku memerlukan sesuatu yang baru, sesuatu yang jauh dari kehidupanku saat ini. Nampaknya negeri angin paling cocok”.
Bulan ke enam dia di negeri angin. Tempat yang hanya dapat dirasakan, tetapi tak dapat dilihat. Tempat yang di dalamnya tanpa bunyi, kecuali desir angin.
“Inikah mimpiku?” Dia merenungi enam bulan yang berlalu.
“Mimpi yang didorong oleh kebosanan dan kemuakan melihat negeri dunia.”
Di negeri angin, dia tidak melihat apapun, tetapi merasakannya. Dia merasakan kehadiran orang-orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Dia merasakan kenyamanan yang tak pernah terasakan sebelumnya.
“Inilah tempatku berlabuh....”
[1] Sunyi Kaca Jendela, kalau tidak salah puisi Gunawan Mohamad.
[2] Lihat Belgeduel si Cemerlang, sebuah buku dongeng anak-anak yang penuh fantasi dan edukasi..
[3] Seno Gumira, Negeri Senja.
[4] Rayuan Pulau Kelapa, masih adakah anak sekolah dasar yang dapat menngingat dengan baik lagu ini? Kalau ada, berarti kita telah mengajarkan kebohongan. Membuai anak bangsa dengan mimpi indah. Bukankah sekarang tak ada lagi pulau kelapa yang subur, karena penggundulan hutan telah memicu banjir. Banjir telah mengikis habis bagian subur yang ada di permukaan tanah.
[5] Katon Bagaskara, Negeri di Awan”
Ini bulan ke enam sejak pengembaraannya di negeri angin dimulai. Negeri angin adalah negeri yang tiada terlihat, tapi terasakan. Tiada bunyi yang terdengarkan, kecuali angin yang menembus dari balik sunyi keca jendela hati[1]. Ini bulan keenam pengembaraannya di negeri angin. Dia jadi ingat negeri-negeri lain tempat dia pernah mengembara. Negeri abu-abu. Tempat semuanya tanpa warna untungnya adalah seorang penyihir si cemerlang yang menemukan kristal kacanya, sehingga cahaya yang selama ini nampak abu-abu berhasil dipendarkan menjadi warna-warna serupa pelangi yang kita kenal saat ini[2]. Dia pernah juga mengunjungi negeri senja dengan kereta yang berangkat penuh orang, tetapi selalu kembali kosong [3]. Dia tidak tahu, bagaimana caranya, ketika tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah tidak lagi berada di negeri senja. Harusnya setelah negeri senja, dia berada di negeri malam, tapi tidak. Saat tertidur di negeri senja, ketika bangun, dia telah berada di negeri asalnya. Sebuah negeri yang aman dan damai, pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa.[4]
Ke negeri angin, enam bulan yang lalu dia menguatkan tekadnya. Dia tak perlu berpamitan pada anak-anaknya, karena memang belum memiliki anak. Dia juga tidak perlu berpamitan dengan suaminya, karena memang belum juga memiliki suami. Satu-satunya tempat dia harus pamit adalah pada kehidupannya sendiri. Kehidupan yang sangat mapan, dengan status profesional muda dan karir yang sangat baik. Berpamitan pada kehidupannya yang memberikan gaji tak berhingga dan beberapa mobil mewah dan tentu saja sebuah tempat tinggal yang super asri. Ke negeri Angin. Dia ingin melarikan diri dari kehidupan yang mapan. Seperti juga pada saat dia mengunjungi negeri abu-abu, atau menuju negeri senja. Tadinya dia ingin menuju negeri di awan. Ide negeri di awan muncul ketika dia mendengar sebuah kata-kata puitis dari seorang penyanyi, “Kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan”[5]. Tapi dia berubah pikiran karena negeri di awan terlalu dekat dengan tanah yang dipijaknya. Tentu saja teman-temannya akan menemuinya pada saat mereka terbang di pesawat.
“Negeri di awan terlalu dekat”, pikirnya. “Aku memerlukan sesuatu yang baru, sesuatu yang jauh dari kehidupanku saat ini. Nampaknya negeri angin paling cocok”.
Bulan ke enam dia di negeri angin. Tempat yang hanya dapat dirasakan, tetapi tak dapat dilihat. Tempat yang di dalamnya tanpa bunyi, kecuali desir angin.
“Inikah mimpiku?” Dia merenungi enam bulan yang berlalu.
“Mimpi yang didorong oleh kebosanan dan kemuakan melihat negeri dunia.”
Di negeri angin, dia tidak melihat apapun, tetapi merasakannya. Dia merasakan kehadiran orang-orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Dia merasakan kenyamanan yang tak pernah terasakan sebelumnya.
“Inilah tempatku berlabuh....”
[1] Sunyi Kaca Jendela, kalau tidak salah puisi Gunawan Mohamad.
[2] Lihat Belgeduel si Cemerlang, sebuah buku dongeng anak-anak yang penuh fantasi dan edukasi..
[3] Seno Gumira, Negeri Senja.
[4] Rayuan Pulau Kelapa, masih adakah anak sekolah dasar yang dapat menngingat dengan baik lagu ini? Kalau ada, berarti kita telah mengajarkan kebohongan. Membuai anak bangsa dengan mimpi indah. Bukankah sekarang tak ada lagi pulau kelapa yang subur, karena penggundulan hutan telah memicu banjir. Banjir telah mengikis habis bagian subur yang ada di permukaan tanah.
[5] Katon Bagaskara, Negeri di Awan”
Perubahan
Ada nada yang sedih, ketika seseorang mengatakan temannya telah berubah.
Ah, mengapa kita takut akan perubahan? Bukankah perubahan itu jadi bagian dari keseharian kita. Apakah yang tidak berubah? Bukankah setiap kemajuan yang kita nikmati saat ini merupakan buah dari perubahan (demikian pula dengan kemunduran yang terjadi). Dahulu, manusia tidak mengenal penyakit kanker, tetapi kemajuan ilmu pengetahun mengubah pengetahuan kita tentang penyakit.
Apakah hati juga mengalami perubahan? Ada waktunya, ketika kita harus membuat jarak untuk melihat sesuatu dengan lebih utuh. Ada waktu lain, ketika kita mendekatkan jarak, untuk melihat detail dengan lebih jelas. Itukah perubahan? Bila memang demikian, bukankah kita akan melihat perubahan itu sebagai sumber pemikiran, sumber inspirasi, dan sumber dalam proses kreatif.
Apakah yang kita takutkan dari perubahan? Banyak hal menakutkan dari perubahan, tetapi semua bermula dari satu titik ketakutan manusia yang paling dasar, takut kehilangan. Perubahan membuat kita taku kehilangan lingkungan yang kita telah sangat menyatu di dalamnya. Perubahan juga membawa ketakutan akan hilangnya teman-teman dan rasa nyaman yang dinikmati selama ini. Perubahan mengharuskan kita menyesuaikan diri untuk hal-hal baru, yang tentu saja tidak mudah.
Mungkin (sekali lagi mungkin), hidup akan terasa lebih nyaman bila perubahan berhenti mengalir pada saat kita merasakan keindahannya.
(Tapi bukankah itu akan menimbulkan kebosanan?)
(Untuk seorang teman yang sedang merasakan adanya perubahan)
Ah, mengapa kita takut akan perubahan? Bukankah perubahan itu jadi bagian dari keseharian kita. Apakah yang tidak berubah? Bukankah setiap kemajuan yang kita nikmati saat ini merupakan buah dari perubahan (demikian pula dengan kemunduran yang terjadi). Dahulu, manusia tidak mengenal penyakit kanker, tetapi kemajuan ilmu pengetahun mengubah pengetahuan kita tentang penyakit.
Apakah hati juga mengalami perubahan? Ada waktunya, ketika kita harus membuat jarak untuk melihat sesuatu dengan lebih utuh. Ada waktu lain, ketika kita mendekatkan jarak, untuk melihat detail dengan lebih jelas. Itukah perubahan? Bila memang demikian, bukankah kita akan melihat perubahan itu sebagai sumber pemikiran, sumber inspirasi, dan sumber dalam proses kreatif.
Apakah yang kita takutkan dari perubahan? Banyak hal menakutkan dari perubahan, tetapi semua bermula dari satu titik ketakutan manusia yang paling dasar, takut kehilangan. Perubahan membuat kita taku kehilangan lingkungan yang kita telah sangat menyatu di dalamnya. Perubahan juga membawa ketakutan akan hilangnya teman-teman dan rasa nyaman yang dinikmati selama ini. Perubahan mengharuskan kita menyesuaikan diri untuk hal-hal baru, yang tentu saja tidak mudah.
Mungkin (sekali lagi mungkin), hidup akan terasa lebih nyaman bila perubahan berhenti mengalir pada saat kita merasakan keindahannya.
(Tapi bukankah itu akan menimbulkan kebosanan?)
(Untuk seorang teman yang sedang merasakan adanya perubahan)
Friday, August 25, 2006
Pencarian

Hari ini gelisah
Mungkin pagi tak hendak memberikan matahari pada kita. Mungkin matahari tak hendak memberikan hangat. Tak ada yang tahu
Keluhan yang membosankan muncul di setiap pagi, "pekerjaan menumpuk, waktu yang segera lalu"
"Selamat Ulang tahun..." serangkaian mawar itu dikirim oleh seorang teman (mungkin juga lawan), yang tak menerakan seberkas jejakpun. Itu hanya sebuah ritual tentang tanggal kelahiran dari jalan kehidupan yang tak pernah jelas.
Ada kebahagiaan , yang hadir dari telepon dan pesan pendek. Setidaknya aku masih punya teman yang peduli
Wednesday, August 02, 2006
Orientasi
Ketika masuk dalam suatu lingkungan baru, seseorang diperkenalkan pada lingkungannya. Seperti orang tua mengenalkan lingkungan pada anaknya yang baru menjadi penghuni dunia. Di tempat kerja, pegawai baru mengalami masa orientasi dengan waktu yang bervariasi mulai dari 3 hari, ada yang sampai 6 bulan bahkan lebih. Memasuki sekolahpun demikian.Yang paling sering menjadi berita adalah orientasi yang dilakukan untuk memasuk dunia pendidikan lanjutan (SLTA) serta orientasi untuk menjadi siswa yang maha (bukan siswa biasa).

Seringkali jatuh korban, karena "gemblengan" senior. Senior beralasan, seorang yang akan menjasi siswa yang maha, harus berbeda dengan siswa yang biasa. Harus pandai mengambil keputusan dalam kondisi terdesak (sehingga ada tugas yang tidak masuk akal, seperti mencari 7 jenis serangga berikut nama-namanya dalam waktu satu malam ...., sangat luar biasa). Siswa yang tidak mampu dianggap belum memiliki mental siswa yang maha, sehingga harus di"didik" (baca: didikan melalui hukuman yang menimbulkan derita fisik).
Saya sendiri termasuk beruntung, karena satu-satunya orientasi yang menyulitkan hanyalah mencari tanda tangan guru dan senior saat masuk SLTA. Ketika hendak menjadi siswa yang maha, era orientasi diganti dengan kuliah Pancasila dengan pola 100 jam. Tak ada derita fisik, kecuali duduk mengantuk dan bosan.
Pertanyaannya adalah, apakah orientasi yang hanya beberapa hari tersebut akan mampu membentuk mental seorang siswa yang biasa menjadi siswa yang maha? Kalau seperti itu, bukankah hidup ini menjadi teramat mudah? Ada yang salah dengan kita, yang telah membiarkan pemahaman ini. Ketika kita dibiasakan dengan sesuatu yang instan dan sekejap, ketika kita tak lagi menilai proses sebagai bagian dari prestasi maka kita telah menjadi manusia yang tidak memiliki kemanusiaan.
Friday, July 28, 2006
Air

Masuru Emoto, mungkin termasuk orang yang aneh, ketika beride meneliti air dan pola kristalnya. Apakah air menyembuhkan? Apakah kata-kata dan tulisan mempengaruhi air? Apakah musik mempengaruhi air?
Ketika kita memandang air sebagai pemuas hasrat dahaga, dan ketika biaya yang kita keluarkan untuk tagihan akan air yang berkualitas makin hari makin membengkak, maka kita melihat air sebagai barang ekonomi. Saat pertama kali memahami pelajaran ekonomi puluhan tahun yang lalu, air termasuk kelompok barang bebas, yang dapat diperoleh di mana-mana. Air bersih tersedia dari berbagai sumber, termasuk sumur. Tetapi, tidak untuk saat ini.
Kembali pada Emoto (The True Power of Water atau The secret life of Water), saya tidak sepenuhnya percaya, bahwa air dapat dipengaruhi oleh kata-kata atau musik. Tetapi, saya percaya bahwa kehidupan bermula dari air. Kota-kota awal bertumbuh di tepi sungai. Tubuh manusia lebih banyak airnya dari pada unsur lain. Air menyapu kekotoran. Tanaman menjadi layu tanpa air. Sehingga saya percaya bahwa air yang sehat dapat menyembuhkan penyakit. Karena, penyakit manusia, seringkali berasal dari keserakahan, yang menimbulkan kekotoran dalam jiwa (dan tentu saja raga yang ditempatinya). Untuk itu, kita memerlukan "air" yang akan membersihkan jiwa (dan raga) sebagai penyembuhan dari sumber penyakit.
Subscribe to:
Posts (Atom)