Saturday, January 21, 2006

Manusia

Kehidupan manusia semakin sulit untuk dipahami, karena kebanyakan kita pada saat ini mencoba memadukan dua alam yang berbeda kutub. Seorang polisi yang harus menjaga kemanan justru terlibat dalam kejahatan. Ulama yang harusnya memberi contoh keagamaan ternyata memberikan contoh kekacauan pikiran dengan memasukkan "obyek yang tidak jelas" (entah apapun namanya) ke dalam botol. Ilmuwan yang menjaga kesucian ilmu pengetahuan terlibat dalam kasus plagiat. Ijazah derajat kesarjanaan dapat "dibeli" dengan mudah. Para hakim dan jaksa terlibat secara negatif dalam proses peradilan. Pengusaha harus memberi "layanan prima" kepada para pejabat penguasa keuangan negara agar proyek-proyek lancar. Anggota Legislatif melakukan studi banding di luar negeri untuk mencari ilmu tentang perjudian.
Manusia telah menjadi mahluk yang pandai mengemas, bukan lagi sekedar homo erectus (jenis kera yang berjalan tegak) atau mahluk sosial. Ketika pemberian kepada pejabat negara dilarang, maka pengusaha memasukkan para pejabat negara sebagai bagian dari kegiatan bisnis, entah itu sebagai konsultan, penasehat, bahkan sebagai pemegang saham. Maka organisasi bisnis sekarang perlu dilengkapi dengan "staf ahli", "konsultan", "Dewan Penasehat", dan banyak lagi.
Sumbangan sosial dilakukan oleh banyak pihak, baik itu pengusaha maupun individu. Karangan bunga duka cita dikirim, tetapi publikasi atas sumbangan itu mungkin lebih mahal dari nilai sumbangannya sendiri. Sumbangan sosial didasari pemikiran manfaat publikasi yang diperoleh, tidak ada yang tulus).
Mengapa demikian ini terjadi? Pertama, kebutuhan manusia makin meningkat. Kebutuhan fisik yang ditunggangi oleh kebutuhan emosi (kebanggaan atas sesuatu pemilikan tertentu), telah dimanfaatkan benar oleh ahli marketing. Mengendarai Suzuki Carry tentu berbeda dengan Toyota Camry. Kenyamanan Camry tentu juga berbeda dengan S Class, tetapi seberapakah perbedaan itu? Yang paling terasa bedanya adalah kesombongan kita yang muncul pada saat duduk di dalamnya.
Ahli marketing adalah pesulap-pesulap terhebat di dunia. Ilusi yang mereka bangun menyihir seluruh masyarakat dunia. Pesulap terkenal dunia hanya mampu menyihir sejumlah penonton saja. Ahli marketing menyulap umat manusia menjadi kaum hedonis, yang memuja kenikmatan dan kesombongan.
Pada saat ini, kita telah mencapai taraf ketika antrian untuk memperoleh izin mengemudi sebagai sebuah ketidaknikmatan (karena memang dibuat tidak nyaman dengan berbagai alasan yang tidak jelas), karenanya, keluarkan sedikit uang, dan kitapun memperoleh banyak kemudahan yang menyenangkan.
Materi menjadi tuntutan utama, jiwa-jiwa telah menjadi kosong. Sebuah rumah mewah dibangun dengan taman yang sangat indah, tetapi pemiliknya memandang dengan penuh takut akan kehilangan nikmat dunia tersebut.
Sebagian yang tersadar mungkin hanya mampu berdoa, semoga ini semua tidak menjadi tanda-tanda akhir zaman dari bangsa kita.

Saturday, December 17, 2005

Dinda Bestari Posted by Picasa
Bestari adalah kematangan jiwa. Ketika engkau menjadikan jalan ilmu pengetahuan dan jalan kebijakan dalam satu langkah. Bestari adalah kematangan berpikir, ketika engkau menyatakan dirimu dalam suatu langkah yang telah engkau tahu pengaruhnya bagi lingkunganmu.

Saturday, November 26, 2005

Pertemuan

sebuah pertemuan terjadi tidak begitu saja, meskipun semua bermula dari ketidaksengajaan ketika perjalanan tersesat pada sebuah taman yang terindah. Sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga, dan di dalamnya mengalir sungai yang jernih. Sungai yang bening, dan sebuah perahu layar menyusuri sungai itu, mengalir begitu saja. Perahu layar itu terkadang tetirah sejenak di air yang bening saat lelah kata pemiliknya.
Di tempatku, tetirah memiliki makna yang sangat dalam. Tetirah adalah istirahat ketika hati dan jiwa mengalami kelelahan. Aku berpikir, bagaimana mungkin pemilik taman yang seindah ini mengalami kelelahan. Tetirah adalah menjernihkan hati, membuang kekalutan dan kegelana jiwa, dan memandang jauh ke depan. Karenanya, aku lebih suka mengatakannya tetirah di air yang hening.
Sebuah pertemuan terjadi dengan tidak begitu saja. Banyak cerita yang ingin kudengar, Aku ingin mendengar sejarah perahu layar. Aku ingin mendengar cerita tentang taman yang indah dipenuhi bunga dan sungai bening yang mengalir di dalamnya. Aku ingin mendengar cerita tentang bintang yang kemilau. Aku juga ingin mendengar cerita tentang kebahagiaan kecil yang muncul setiap pagi.
Seribu angan menghilang, ketika kebahagiaan muncul dengan mengejutkan.
Seribu penyesalan muncul, ketika pemilik taman melirik pada jam tangan, waktunya untuk bergegas. Sebuah penyesalan, ketika pertemuan itu hanya diisi dengan omong kosong tentang negara yang carut marut dengan penduduk yang makin kehilangan taman hatinya.

Monday, May 23, 2005

Kuntum dan Mekar

Posted by Hello
Mengapa ada mekar? Karena ada kuntum. Mengapa ada kuntum? Karena ada mekar. Merah ada karena hadirnya hijau. Adanya gelap karena ada terang.
Pada saat aku mengatakan keberadannku, maka aku mengatakan keberadaan orang-orang lain.
Tak ada yang mutlak di dunia ini. Kemutlakan hanyalah milik Yang Esa.
Ketika engkau bersuci, menenangkan hatimu, mencari keesaan Yang Esa, engkau harus menyatu denganNya, tetapi bukan berarti engkau adalah Dia.
Karena itu, manusia tidak boleh mengaku sebagai Aku, karena Aku yang mutlak, hanyalah hak Yang Esa.

Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah ....

Posted by Hello
Sebuah kerinduan pada masa kecil sering muncul, tak mengenal waktu dan tempat. Ada yang terasa hilang, ketika kita dewasa. Namun ada lagi yang hilang dan menimbulkan keprihatinan. Anak-anak sekarang sudah tidak lagi mengenal pendidikan budi pekerti lewat lagu-lagu yang indah. Berapa kali dalam sebulan kita mendengar lagu seperti ini?

- pelukismu agung - siapa gerangan?
- pelangi-pelangi - ciptaan Tuhan

Mungkin dalam setahun hanya dua atau tiga kali, atau bahkan tak pernah.....
Nampaknya kita terjebak, ketika melihat modernisasi kehidupan hanya sebagai sebuah peradaban baru, yang dipenuhi oleh makanan instan atau hiburan kosong lewat film kartun. Anak-anak tak lagi kita beri kesempatan untuk berpikir dan berimajinasi. Alam tak lagi sebagai laboratorium raksasa yang tak pernah selesai untuk dieksplorasi.

Menjelang Panen

Posted by Hello


Kerja keras dan berkarya, itulah takdir manusia. Pernahkah kita merenungkan apa yang kita lakukan? Bekerja, meninggalkan rumah setiap pagi hari, dimulai sejak kita mengenal sekolah. Untuk apa? Sekolah, belajar agar menjadi orang yang terpelajar, agar kelak memperoleh pekerjaan yang layak, agar kelak memperoleh penghasilan yang cukup. Pertanyaannya adalah, seberpa cukup?
Seorang ayah bekerja pagi sampai malam, demikian juga bunda? Apa yang kita cari? Bekal untuk anak kita? Bekal seperti apa? Karena, pada saat yang sama, kita telah merampas bekal yang lain yang harusnya milik mereka. Waktu untuk bercanda, waktu untuk mendampingi, waktu untuk mengajarkan etika dan budi pekerti yang baik, semua itu telah kita (para orang tua) habiskan di tempat kerja, hanya karena kita ketakutan tak mampu membekali anak-anak kita dengan bekal duniawi.
Pekerja yang bijak mengatur jadwal waktunya dengan baik, seperti yang dilakukan petani-petani yang "belum modern". Mereka tahu, kapan harus bekerja, kapan harus beraktivitas sosial. Mereka mengikuti jam alam, bukan dalam satuan 24 jam dalam sehari, tetapi dengan aturan yang sangat fleksibel. Ada subuh, ada tengah hari, ada sore hari, ada malam hari. Tak ada satuan yang eksak, karena mereka tak ingin diperbudak oleh waktu.
Menjelang panen, mereka tersenyum, karena telah memberi bekal yang utuh untuk anak-anak mereka

Jika musin bunga tiba

Jika musim bunga tiba ...... Posted by Hello


Menanti musim, daun-daun luruh ke bumi, kemudian semaian kuntum bunga merekah.
Begitulah kehidupan, semua mengalir, berproses sesuai dengan perannya. Hari ini daun yang gugur dan bunga bermekaran. Hanya sesaat, setelah itu, kelopak mulai layu, bergantikan buah.
Begitu saja, mengalir dan lalu. Seringkali, tanpa sempat kita (manusia) rasakan kehadirannya. Dan pada sebuah akhir senja, dengan rasa sedih, kita mengingat-ingat lagi warna-warna yang hadir di pagi hari.
Hidup mengalir seperti air. Kita terombang ambing dalam perahu. Seorang teman menamakannya sebagai Perahu Kertas ........ yang mengalir begitu saja

Saturday, April 02, 2005

Kekawanan

Berapa banyak kawan-kawan di sekitar kita? Jumlahnya sangat bervariasi, tergantung bagaimana kita mendefinisikan kekawanan serta bagaimana penerimaan kita terhadap orang-orang baru di sekitar kita.
Ada orang-orang yang sangat mudah memperoleh kawan-kawan baru, tanpa kehilangan kawan-kawan lama. Orang seperti ini biasanya dianggap sebagai orang yang mudah bergaul.
Ada orang yang memiliki banyak teman, tetapi dalam suasana kekawanan yang terbatas.
Ada orang yang hanya dapat menerima segelintir kawan, tetapi sangat dengan intensitas yang dalam.
Dalam kehidupan bisnis, jumlah kawan yang banyak merupakan keunggulan tersendiri, karena bisnis saat ini tidak dapat dilepaskan dari jaringan pertemanan yang luas. Tetapi, tentu saja bisnis tidak dapat berjalan semata-mata dengan mengandalkan kekawanan. Banyak kasus memberi contoh bisnis yang gagal karena hubungan kekawanan yang terlalu erat, atau sebaliknya, bisnis menyebabkan hubungan kekawanan menjadi rusak.
Di kehidupan sehari-hari, kita membutuhkan teman untuk berbagi. Teman yang akan mendengar keluh kesah serta kegembiraan kita.
Apakah pertemanan memerlukan pertemuan secara fisik? Dunia maya sekarang menjadi begitu populer, kekawanan dapat dengan mudah didapat pada dunia maya. Ruang menjadi tak berbatas. Tetapi, dunia maya saja tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan manusia akan pertemanan. Di dunia maya, manusia dapat hidup dengan kebohongan. Seseorang dapat saja mengaku sebagai orang lain. Ekspresi emosi dapat dibuat sedemikian rupa, sehingga dunia maya serupa dengan panggung drama. Masing-masing pelaku sekaligus menjadi penonton bagi yang lain. Di dunia nyata, manusia memiliki instink untuk mengetahui apakah sesuatu merupakan kebenaran ataukah kebohongan. Biasanya hati kita memberi peringatan dengan melihat ekspresi wajah dan, yang paling tak dapat dimanipulasi, adalah ekspresi kejiwaan yang memancar dari wadah fisik (raga) kita. Dunia maya tidak memungkinkan itu.
Kesimpulannya, apabila kita membutuhkan teman yang intens, maka kita perlu bertemu, berkomunikasi langsung, dan kita akan merasakan kekawanan yang sesungguhnya.

Wednesday, February 23, 2005

Nusa Kinasih


Posted by Hello

Kinasih, adalah yang dikasihi. Apabila engkau menjadi juru mudi sebuah perahu, maka, jadikanlah penumpangmu sebagai orang-orang yang selalu dikasihi. Untuk itu, lebih dulu engkau harus menjadikan orang-orang di sekitarmu sebagai orang-orang yang engkau kasihi. Dan untuk memberikan kasih, kita tidak perlu membelinya lebih dulu. Hati yang lapang adalah sumber kasih yang tak bertepi.

Buah Hati

Bunga Pertiwi, bidadariku, seberapa jauh engkau akan melangkahkan kakimu? Semua adalah milikmu. Hanya saja, aku ingin, kelak engkau akan menjadi bunga yang mengharumi pertiwi kita. Apakah aku meminta terlalu banyak? Apakah buah hatiku adalah milikku? Seorang teman pernah berkata, kita tidak hanya berdoa agar buah hati kita menjadi orang yang berbakti, tetapi setidaknya, kita pernah berdoa, agar kita menjadi orang yang berbakti bagi buah hati kita. Menjadi orang tua yang baik, betapa sulitnya itu.
buah hati Bunda Posted by Hello

Friday, February 11, 2005

Kehilangan

Seorang Bunda merasakan betapa repotnya menjaga anak yang masih di bawah 5 tahun, karena sang Anak yang sehat, akan mengeksplorasi lingkungannya sebagai proses belajar yang alami. Setiap hari Bunda mengeluh, tetapi, tentu saja bahagia dan bangga karena Bunda dan Anak saling mengasihi. Mereka diikat dalam hubungan kejiwaan yang sangat kuat.
Ketika Anak mulai mandiri, kerepotan Bunda berkurang, tetapi, apakah Bunda senang? Mungkin tidak. Ada yang hilang ketika sang Anak mulai menemukan dunianya. Ada yang hilang ketika Anak tidak lagi merasa bagian dari kehidupan Bunda. Ada kesepian di hati Bunda.
Ketika Bunda membutuhkan teman untuk berpergian, ketika Bunda membutuhkan teman untuk berbagi kebahagiaan, ketika Bunda membutuhkan teman untuk berbagi kesedihan, sang Anak sudah bukan lagi bagian dari kehidupannya.Sang Anak telah memiliki dunianya sendiri.
Hidup adalah proses kehilangan. Setiap orang ditakdirkan untuk saling bertemu, saling memperoleh, tetapi tentu juga saling kehilangan. Pada saat kehilangan, kita akan bersedih, betapa beratnya hidup ini.
Bencana alam mendatangkan banyak kehilangan, harta benda, sanak saudara, bahkan yang paling menyedihkan, kehilangan harapan hidup. Apa yang kita miliki sebelumnya, menjadi tiada hanya dalam sesaat.
Seorang pengemudi truk berangkat dengan niat mencari nafkah bagi anak istri dalam keadaan sehat, tetapi pagi hari, keluarga di rumah merasakan kehilangan sang pecari nafkah karena kecelakaan.
Betapa dekatnya kehilangan itu dengan diri kita.
Pada saat kehilangan kita menangis, pada saat memperoleh kita (seringkali) lupa untuk menyiapkan diri menghadapi kehilangan.
Pada saat kehilangan, Bunda, dengan sangat sedih berkata, betapa tak adilnya, ketika dahulu engkau kutimang-timang dan kubesarkan, sekarang bahkan engkau tak memandang pada kesedihan yang aku miliki. Kemudian, Bunda, dengan segala kepasrahannya berkata,
“Anakku, jiwaku sakit, karena aku selalu membutuhkanmu untuk mendampingiku, tetapi nampaknya engkau bahkan sedikitpun tak memerlukan aku”.
Sang Anak berkata:
“Bunda, maafkan aku, tetapi aku sangat sibuk. Bukankah kesibukan ini semua juga berasal dari Bunda? Bukankah Bunda yang menginginkan aku untuk sekolah? Bukankah Bunda yang menginginkan aku untuk selalu menjaga nama baik Bunda?”

Hidup adalah kehilangan. Mereka yang tidak pernah menyiapkan diri untuk kehilangan, akan merasakan sakit di jiwanya kemudian tenggelam dalam penderitaan serta keputus-asaan.
Mereka yang menyiapkan diri untuk kehilangan, juga akan merasakan sakit yang sama, tetapi, rasa sakit itu adalah bagian dari pengasahan jiwa yang menjadikannya kuat.

Ketika aku sakit hati, aku menerima rasa sakit itu sebagai bagian dari ujian kehidupanku, dan aku berharap menjadikan aku sebagai orang yang makin kuat. Sakit hati adalah bagian dari pengasahan jiwaku.

Sapardi Djoko Damono menulis kata-kata yang sangat indah untuk memaknai sebuah kehilangan pada hubungan yang penuh kasih:

Aku ingin mencintaimu, dengan sederhana
dengan kata-kata yang tak pernah diucapkan kayu kepada api,
yang menjadikannya abu.

Wednesday, January 26, 2005

Yang Tulus

Kekayaan apakah yang terbesar di kehidupan dunia ini? Uang bukanlah ukuran segalanya. Uang dapat membeli apapun yang kita butuhkan dalam hidup ini, bahkan uang dapat membeli senyuman dan keramah tamahan, tetapi, uang tak pernah dapat membeli salam yang tulus.
Ketika kita menjadi supervisor dari seorang staf, maka pegawai akan menghormati kita, tetapi apabila hormat itu muncul dari sebuah kepura-puraan, maka kita akan merasakan sesuatu yang hilang pada saat tidak lagi menjadi supervisor.
Seorang guru, mungkin memiliki kekayaan terbesar, karena, hampir setiap orang akan mengingat kebaikan yang diberikan oleh sang guru.
Tetapi, kekayaan yang terbesar adalah memiliki keluarga yang berbakti, dan teman-teman yang tulus. Di dalamnya, kita tidak akan pernah merasa kehilangan, sekalipun jarak memisahkan, dan kita telah menjadi pensiunan, yang tak lagi memiliki kekuasaan.
Hari ini mungkin aku merasakan kehilangan, Inilah bagian dari hidup yang harus aku lalui, dan jiwaku akan terasah karenanya.
Setidaknya, hari ini aku mencoba untuk belajar mengenali wajah yang tulus, dan membedakannya dengan senyuman cantik yang dibalut kosmetik tebal.
(Meskipun, aku masih selalu berharap bahwa apa yang aku dapatkan selama ini adalah sebuah ketulusan)

Tuesday, January 18, 2005

Kehilangan Orientasi

Beban yang berat terkadang membuat kita kehilangan percaya diri. Ketika rasa percaya diri hilang, maka kita kehilangan fokus. Konsentrasi terhadap permasalahan yang dihadapi menjadi pecah. Hidup menjadi makin rumit.
Mengapa ini terjadi?
Manusia dikarunia sejumlah sistem alarm yang sangat baik. Sinyal-sinyal dikirim untuk memberikan peringatan akan adanya sesuatu yang tidak semestinya. Ketika menghadapi kenyataan yang sulit, kita merasa tak berdaya. Rasa tak berdaya tersebut menimbulkan kekalutan, karena situasi yang kita hadapi sangat berbeda dengan yang sebelumnya, dan diri kita memberikan peringatan dini, untuk menghindari situasi tersebut. Memaksakan diri untuk menghadapinya hanya menimbulkan ketakutan yang tak berkesudahan dan kita mulai tidak fokus, bahkan sangat mungkin kehilangan orientasi.
Apakah yang harus dilakukan?
Pada saat mulai kehilangan orientasi, berarti waktunya bagi kita untuk meminta pertolongan orang lain. Menghadapi segala sesuatu dengan sendiri, meskipun kita tahu tak akan mampu, adalah tindakan yang tidak bijaksana. Masalahnya adalah apakah kita selalu ingin meminta bantuan?
Mengasah jiwa, melatih diri untuk kuat, meningkatkan ambang batas kemampuan adalah sesuatu yang dapat dilakukan. Mencoba tetap fokus dimulai dari masalah-masalah kecil, dan menyelesaikan masalah-masalah besar, lama kelamaan akan menjadikan jiwa kita kuat.
Kehilangan staff handal di tempat kerja pada saat beban kerja sangat besar mungkin sebuah masalah besar, tetapi mencoba untuk bertahan, adalah cara lain untuk melatih kekuatan jiwa. Meminta pertolongan orang lain pada saat mulai kehilangan orientasi, bukanlah sesuatu hal yang memalukan tetapi tentu saja ada batasnya, karena setiap orang tentu punya permasalahannya sendiri.
Ketika bangsa dilanda bencana, mencoba untuk berteriak dan bangkit dengan kekuatan sendiri adalah sebuah cara untuk menguatkan jiwa. Tetapi, ketika menyadari kapasitas yang dimiliki tidak sebanding dengan masalah yang dihadapi, dan kita tidak meminta pertolongan, maka itu bukan sebuah keputusan yang bijaksana.

Thursday, January 06, 2005

Jiwa Yang (tak pernah) Resah

Setiap kita, pasti pernah merasakan kegelisahan, keresahan. kegalauan, apapun istilahnya, intinya adalah rasa tak nyaman yang membuat dada terasa penuh sesak. Seorang teman menulis di blognya tentang kegelisahan yang membuat dia tidak fokus. Kegelisahan, rasa yang selalu datang dengan tiba-tiba, tanpa diharapkan.
Mengapa kegelisahan muncul? Mengapa jiwa menjadi resah? Mengapa hidup harus melalui situasi-situasi yang tidak menyenangkan?
Kegelisahan adalah instink mahluk hidup, yang menyatakan adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan yang semestinya, entah itu baik ataupun buruk. Hewan-hewan gelisah ketika bencana alam akan datang, dan kegelisahan tersebut mendorong migrasi hewan secara besar-besaran. Ribuan burung berwarna putih terbang beberapa saat sebelum bencana alam, mereka menyelamatkan diri.
Kegelisahan muncul dari jiwa-jiwa yang terasah. Jiwa yang dapat merasakan "sakitnya" mahluk lain. Jiwa yang dapat mendengarkan dalam kesenyapan. Jiwa yang dapat melihat dalam kegelapan. Jiwa yang belum dipenuhi dengan keserakahan. Kegelisahan akan mendorong manusia untuk mengenangkan Sang Pencipta, dan mengadahkan tangan untuk, paling tidak, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat.
Kegelisahan akan menghasilkan ketakutan apabila muncul dari jiwa yang kosong, jiwa yang tidak pernah mendengar suara hatinya atau jiwa yang hanya memikirkan kenikmatan sesaat.
Ribuan jiwa menjadi resah karena bencana alam, ribuan hati menangis, tapi apakah kita pernah merasakan kegelisahan itu?
Seorang budayawan menulis dialog imajiner dengan Kyai Sudrun, dan memprotes, mengapa bencana harus diturunkan di tempat orang-orang yang beribadah dengan khusuk, bukan di tengah keserakahan yang tak berhenti. Kyai Sudrun bertutur, "Tuhan memberkati mereka yang menjadi korban, dengan menyelamatkan mereka ke kehidupan kekal yang indah." Apakah ini berarti, kita yang tersisa, adalah manusia yang dimurkai Sang Pencipta? Diberkati usia yang lebih, agar, setidaknya, pernah berdoa untuk mohon ampun, dan sedikit janji untuk tidak mengulangi kenistaan yang selama ini diperbuat.
Tetapi, kenyataan hidup selalu bicara lain. Diberbagai tempat manusia hiruk pikuk memberikan bantuan, dengan pemberitaan yang mencolok. Nothing to loss atau nothing tu - lus. Karena kita hanya memiliki jiwa yang takut, bukan jiwa yang gelisah. Karena kita tak pernah mengasah jiwa. Karena kita belum mampu melihat dalam kegelapan, mendengar dalam kesenyapan, dan merasakan dalam ketiadaan.
Tuhan, berkatilah kami, berikanlah sedikit kepekaan pada kami, jadikanlah kami dengan jiwa yang dipenuhi kegelisahan bukan ketakutan.

Tuesday, November 23, 2004

Idul Fitri

Apakah yang ada di angan kita, ketika menghadapi Idul Fitri?
Hari raya (apapun agama yang dianut seseorang) adalah kebutuhan manusia untuk sekedar melepaskan beban kehidupan yang kian hari kian terasa menyesakkan. Pada Idul Fitri, kita saling berbagi maaf. Menjadikan kelegaan di dalam batin. Saya tidak tahu, apakah di negara lain terdapat tradisi untuk saling memaafkan pada saat Idul Fitri, tetapi adalah menarik untuk mencerna makna ritual saling saling memaafkan pada saat idul fitri.
Idul fitri adalah waktu untuk saling memaafkan. Bagi orang-orang yang sangat menjaga harga dirinya (jiwa yang diliputi keangkuhan), idul fitri adalah saat tepat untuk saling meminta maaf, tanpa harus kehilangan harga dirinya, karena setiap orang akan saling memaafkan, entah itu tulus atau tidak. Setelah shalat Idul Fitri, masyarakat akan menjalankan ritual saling bertemu, setiap orang akan tersenyum (sekali lagi entah itu tulus ataupun tidak), dan saling berjabat tangan untuk meminta maaf. Apabila pada hari-hari biasa, keangkuhan telah mengekang seseorang untuk meminta maaf, tapi saat idul fitri, orang tidak perlu merasa malu, karena setiap orang melakukan hal yang sama.
Apakah budaya saling memaafkan saat idul fitri hanya ada di Indonesia? Apabila itu benar, maka, penganjur tradisi untuk saling memaafkan ini pastilah seorang sosiolog yang sangat paham dengan karakter masyarakat kita, sombong dan sulit untuk menerima kesalahan, sehingga sulit untuk meminta maaf. Pada suku bangsa yang memiliki tradisi permintaan maaf setiap kali seseorang melakukan kesalahan (tanpa perlu merasa malu karena jiwa yang dibungkus keangkuhan), maka ritual saling memaafkan tidak perlu dibuat. Jiwa yang terbuka, hati yang sederhana, akan menerima setiap kesalahan dengan lapang disertai dengan permintaan maaf pada saat itu juga. Kita tidak perlu menunggu datangnya Idul Fitri, hanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan. Bukalah hati, lapangkan jiwa, berikanlah maaf setiap saat, sehingga kepenatan jiwa terlepaskan.

Tuesday, October 05, 2004

Menjadi Pemimpin

(Mereka yang terpilih untuk menjadi pemimpin pada saat ini adalah orang-orang yang membuat kontrak moral bagi generasi berikutnya)

Mengapa banyak orang terobsesi untuk menjadi pemimpin? Ada banyak jawaban di situ. Menjadi pemimpin dapat diartikan sebagai upaya kita untuk menerapkan idealisme (subyektif menurut si calon pemimpin). Menjadi pemimpin adalah akses untuk meraih keuntungan (pemikiran kapitalis, mereka yang menguasai sumber daya akan memiliki keunggulan komptitif). Menjadi pemimpin adalah kebanggaan karena akan memanen begitu banyak hormat dari orang yang dipimpin (aktualisasi diri, bagian dari teori motivasi Maslow).
Terlepas dari semua itu, keinginan untuk menjadi pemimpin adalah karunia Yang Kuasa, agar manusia termotivasi untuk maju.
Pada mahluk hidup kelompok yang lebih rendah dari manusia, mereka yang terkuat akan menjadi pemimpin (melalui serangkaian perkelahian). Pemimpin kelompok binatang memperoleh hak untuk mendapatkan pasangan yang juga terbaik. Artinya, yang kuat adalah yang menang. Hukum alam ini membuat mahluk hidup bertahan melalui sistem regenerasi yang tertata untuk menghasilkan mahluk-mahluk yang kuat, yang mampu bertahan dalam kerasnya alam.
Naluri primitif manusia pada dasarnya sama dengan mahluk hidup lain, yaitu mempertahankan kehidupan manusia dengan menciptakan keturunan-keturunan yang terbaik. Tetapi manusia dikaruniai lebih dengan akal budi. Menjadi pemimpin manusia berarti bertanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi siapapun yang ada pada saat ini maupun bagi generasi berikutnya. Mereka yang hanya berpikir tentang kesejahteraan sesaat, dengan menjual hutan, menghabiskan sumber daya alam, meningkatkan kualitas hidup melalui hutang yang tak terkendali, bukanlah seorang pemimpin. Pemimpin yang baik memandang jauh ke depan, menyiapkan penggantinya.
Gajah Mada bukanlah pemimpin yang baik, karena Majapahit mulai runtuh ketika beliau telah tiada.
Banyak CEO perusahaan multinasional sukses sesaat, tetapi perusahaan mengalami penurunan ketika ditinggalkan. Steve Job membawa keberhasilan pada Apple Computer, tetapi perusahaan segera mengalami penurunan ketika Steve mengembangkan Next Computer (yang ternyata juga tidak begitu berhasil).
Gaya manajemen jepang, dengan kepemimpinan kolektif biasanya lebih berhasil dalam meneruskan kepemimpinan. Di Indonesia, PT Astra, yang kental dengan manajemen gaya Toyota, berhasil mempertahankan eksistensinya sekalipun William Suryajaya tidak lagi bergabung. Sony Corp tetap eksis meskipun Akio Morita tidak terlibat langsung. Kondisi ini sangat berbeda dengan perusahaan dengan gaya manajemen barat yang menekankan pada kemampuan individu.
Pelajaran apa yang dapat kita tarik di sini? Pertama, memimpin adalah menyiapkan satu generasi ke depan. Kedua, kepemimpinan individual dapat memberikan hasil sesaat yang sangat mengagumkan, tetapi biasanya akan gagal bertahan pada saat sang pemimpin kehilangan enersinya atau pada saat terjadi pergantian kepemimpinan.
Bagi pribadi kita masing-masing, kesimpualan yang dapat kita ambil adalah kepemimpinan tidak dapat dinilai dari apa yang didapat pada saat ini, tetapi dari apa yang didapat dari generasi berikutnya.

Ekonomi Kapitalis dan Pulau Dewata

(Bali adalah tempat tinggal para dewa, karenanya sering dinamakan pulau dewata.........)
Tapi, cobalah untuk melihat Bali saat ini dengan mata hati kita?
Pernahkah kita meresapkan spirit dewata yang mulai pudar, tergantikan oleh keserakahan kapitalis. Mungkin ada yang salah di sana. Ketika keserakahan kapitalis mengajarkan kita untuk mengejar tumpukan uang, ketika hotel-hotel berbintang dibangun, ketika seribu turis mengejar seribu “kenikmatan”, dan ketika itulah sejuta makna kedewataan telah menghilang.
Disebuah kampung yang katanya mempertahankan bentuk asli rumah dan adat Bali, kopi bubuk dengan kualitas yang sangat diragukan, terbungkus dalam plastik berdebu ukuran 250 gram, ditempatkan lagi dalam sebuah wadah tempurung kelapa dengan buatan yang sangat kasar, dihargai Rp60.000,00 (dari $6?). Siapakah yang mengajarkan ini?
Kapitalisme telah hidup subur di sebuah desa adat. Di mana para dewa tersisa?
Kapitalisme telah mengajarkan masyarakat untuk menjual apa saja, demi setumpukan uang, bahkan harga diri sekalipun.
Suatu saat kelak, kita akan merenungi sebuah kenyataan, kemanakah para dewa berpindah?

Tuesday, September 28, 2004

Tentang Karir

Ada orang yang karirnya melesat serupa bintang jatuh, mereka adalah orang-orang yang benar-benar memperoleh bintang jatuh. Tapi sebagian orang lain (kebanyakan) karirnya berjalan sangat pelan.
Mengapa demikian? Karir seseorang tergantung pada atasannya. Mereka yang karirnya cepat adalah orang-orang yang sadar bagaimana memasarkan diri. Pasarnya adalah para pengambil keputusan bidang sumber daya manusia. Siapakah mereka? Pertama adalah supervisor kita, kedua, atasan dari supervisor kita, ketiga adalah atasan dari atasan supervisor kita .... dan seterusnya. Karir adalah pekerjaan untuk meyakinkan para pengambil keputusan bahwa memilih kita merupakan keputusan yang tepat.
Bagaimana keputusan tersebut dapat kita pengaruhi?. Terapkan prinsip ABS (Arahkan Boss untuk Senang) dilengkapi dengan EBD (Emang Bossnya Dia). Buat kinerja kita bagus, tunjukkan pada boss, kita bekerja keras untuk meraih kinerja tersebut, dan yakinkan boss bahwa kita akan terus mempertahankan kinerja. Resep ini akan mengangkat kita dari pegawai biasa menjadi first line supervisor. Setelah setahun jadi penyelia, dengan resep yang sama, ditambah kemampuan mengelola staff (termasuk di dalamnya menyiapkan calon penyelia pengganti kita), maka langkah promosi kedua akan segera kita nikmati. Lakukan terus, terus, terus, dan terus ..... Sampai pada satu titik, tanpa disadari kita telah menjadi pejabat eksekutif perusahaan. Langkah terakhir adalah menjadikan diri kita CEO. Pada tahap ini, biarkan waktu yang mengatur segalanya.
Kesulitan terbesar dari resep di atas adalah menjaga konsistensi kinerja. Memotivasi diri sendiri untuk selalu menjadi yang terbaik. Sedikit seminar atau pelatihan motivasi diri mungkin akan membantu ketika kejenuhan mencapai puncaknya.
Kalau kita sudah mengupayakan itu semua, tetapi karir kita tetap tersendat-sendat, berarti waktunya untuk bercermin. Kitakah yang salah, atau Boss yang salah? Bila kita yang salah, cobalah perbaiki diri, tetapi bila boss yang salah, tak perlu kecil hati, emang bossnya dia ......... Tapi tidak perlu khawatir, karena kita masih bisa untuk memilih, pindah ke perusahaan lain.
Di atas segalanya, percayakan diri kita pada Yang Kuasa, karena tak ada manusia yang mampu melawan takdir, dan tak ada takdir yang akan diubah tanpa usaha.
Ketika semua ini telah kita lakukan, maka kita telah melaksanakan langkah untuk menjadi orang besar. Mereka yang telah melangkah dengan sungguh sungguh tetapi tidak berhasil bukanlah orang yang gagal, tetapi kegagalan adalah milik mereka yang tidak pernah mencoba.

Friday, September 03, 2004

Keberhasilan

Apakah Keberhasilan itu?
Mario Teguh, seorang konsultan bisnis, menjawab, orang dikatakan berhasil apabila orang tersebut bertambah kaya. Tetapi tentu saja kekayaan dalam pengertian ini dimaknai secara sangat luas. Bagi orang yang mendambakan uang, keberhasilan adalah apabila dia berhasil mengumpulkan uang sedemikian rupa banyaknya, sehingga dia merasa tidak perlu uang lagi. Bagi seorang guru, keberhasilan ialah bertambahnya pengetahuan yang dimiliki, dan makin banyaknya murid yang dibesarkan. Ukuran kekayaan setiap orang berbeda-beda.
Dalam teori ekonomi, mungkin, keberhasilan dapat dianalogikan dengan nilai tambahan manfaat yang sama dengan nol atau negatif, apabila seseorang mengkonsumsi sesuatu. Seorang yang haus, akan merasakan manfaat yang sangat besar pada tegukan minum yang pertama, pada tegukan kedua, dia masih merasakan manfaat, ketika dia minum satu gelas, rasa haus mulai hilang. Inilah titik keberhasilan, sebab, ketika dia diminta untuk meminum satu gelas lagi, maka yang didapatnya bukanlah pemuas dahaga, tetapi perut yang mual dan kembung.
Bagaimana kita meraih keberhasilan?
Keberhasilan hanya dapat diraih apabila keserakahan dihilangkan. Orang yang serakah tidak akan berhasil, karena dia tidak akan pernah merasa kaya. Koruptor akan terus korupsi, meskipun jumlah mobil mewah yang dimiliki lebih banyak dari pada jumlah anggota keluarganya. Hutan akan terus ditebang habis, meskipun laba perusahaan telah memenuhi untuk menghidupi negara selama satu tahun, dan pegawai rendahan tak pernah merasakan bonus yang pantas.
Keberhasilan hanya dapat diraih apabila seseorang mengetahui apa yang dicarinya dalam hidup. Kalau manusia belum mengetahui tujuan hidupnya, maka dia tidak dapt mengukur apa yang telah dicapainya.
Keberhasilan hanya dapat dicapai apabila manusia telah menggunakan semua kapasitas yang dimilikinya untuk mencapai tujuan. Karenanya, orang-orang yang tidak mencapai tujuan hidupnya, tetapi telah menggunakan semua kapasitas yang dimilikinya, adalah orang-orang yang berhasil, sebab di atas manusia, masih ada Yang Maha Kuasa, yang mengatur setiap kehidupan di dunia ini. Kita menamakannya takdir.

Wednesday, September 01, 2004

Ketika Jiwa Harus Diasah

Masyarakat kita sungguh telah menjadi masyarakat yang sakit. Setiap hari kita melihat orang berdoa, yang khusuk, yang menangis, yang berteriak, ..... yang menyesal, yang bertoba..... Tetapi, setiap hari kita melihat di jalan-jalan, orang yang saling memaki, orang yang saling berebut kekuasaan, orang yang saling membunuh, orang yang korupsi, orang yang .........
Siapakah yang bersalah? Apakah agama sudah tidak lagi mampu menjaga perilaku manusia? Ketika orang-orang terhormat berdoa, tetapi tetap menjaga keserakahannya.
Hari ini, banyak proyek atas nama pembangunan diresmikan, tetapi, hari ini juga, sejumlah orang tersisihkan hak-haknya, karena ketidak tahuan, karena ketidak berdayaan.
Di jalan, pemilik mobil mewah memaki pengemudi becak, karena menghambat jalannya. Pernahkan mereka berpikir, betapa panasnya di luar mobil yang dingin itu. Berapa banyak jumlah asap knalpot yang dihisap. Betapa beratnya mengayuh kendaraan yang dinamakan becak.
Ketika hidup makin berat, jiwa kita makin perlu untuk diasah.