Monday, July 09, 2012

Kesaksian

Diskusi lebih dari tiga jam dengan seorang sahabat lama sungguh menarik. Karenanya, sayang bila materi diskusi itu tidak disebarkan kepada teman-teman. Ini sekedar gagasan yang mungkin bisa saja tidak sejalan dengan pemikiran teman-teman lain, tetapi, setidaknya ini akan menambah wawasan akan adanya sudut pandang yang berbeda dalam memahami sesuatu. Ini diskusi tentang syahadat.

Apakah syahadat itu? Teman saya mengajukan pertanyaan retoris, tapi tetap saja saya ingin menjawabnya. Saya mengucapkan syahadat sebagai persaksian bahwa saya meyakini keberadaan Allah, yang menciptakan langit dan bumi serta Muhammad sebagai sang rasul. Begitu jawab saya.
Teman saya, lantas bertanya kembali, mengapa engkau berani bersaksi tentang keberadaan Allah dan Muhammad, padahal engkau tak pernah bertemu dengan Muhammad, apalagi Allah?

Terus terang, saya tak dapat menjawab pertanyaan ini. Masalah kesaksian ini, bagi saya hanya sebuah kebenaran mutlak yang harus saya terima tanpa pertanyaan, begitulah yang diajarkan orang tua dan guru-guru saya.
Teman saya kemudian mencoba menguraikan kebingungan saya. Kesaksian tanpa menyaksikan pastilah sangat lemah. Seperti di pengadilan, seorang saksi sering diragukan kesaksiannya, karena jarak pandang yang jauh. Semakin dekat jarak pandang, maka makin pasti seseorang akan kesaksiaannya. Makin jauh jarak pandang, makin mudah pihak lain mengintimidasinya dengan keragu-raguan atas kesaksian yang dibuat. Begitulah hukumnya.

Kesaksian seseorang akan Allah dan Muhammad tentu saja sangat berbeda antara satu dengan yang lain, uraian sang teman ini dilanjutkan. Bagi Muhammad yang telah mengalami pertemuan langsung maupun tidak langsung dengan Allah, maka pastilah kesaksiannya akan sempurna. Atau kesaksian sabahat-sahabat Muhammad, yang berdiskusi langsung dengan Sang Rasul, tentulah mendekati sempurna. Tapi, kesaksian kita yang tidak mengalami interaksi langsung dengan Sang Rasul apalagi Sang Pencipta, tentu saja sulit untuk mendekati sempurna.
“Lantas, bagaimana agar aku bisa setidaknya makin menyempurnakan kesaksianku?”, tanyaku pada sang sahabat ini.

Sang sahabat menunjukkan sebuah batu berwarna putih cemerlang, tetapi tidak bening. Dia mengatakan serupa itulah hati kita [maksudnya tentu saja akal pikiran yang ada pada otak kita]. Kalau engkau terbiasa menjernihkan hati [pikiranmu], maka setiap pancaran sinar akan menembusnya, serupa kebeningan tanpa ada penghalang apapun. Kalau kebeningan itu telah engkau dapatkan, maka, engkau akan mampu memandang apapun dengan mata hatimu. Apapun yang kau pandang dengan mata hatimu itulah yang akan membawa perjumpaanmu pada Sang Pencipta. Ketika engkau memandang seekor semut, mengamati bakteri dengan mikroskop, memandang gunung, menikmati bintang, bahkan, memandang pada dirimu sendiri, apapun yang kau pandang, bila mata hati yang kau gunakan, maka engkau akan bertemu Allah.
Jadi, engkau bisa meningkatkan kesaksianmu dengan pasti bila mata hatimu digunakan dan dibersihkan secara terus menerus.

Setelah menyampaikan uraiannya, sahabat ini menyerahkan batu putih cemerlang tadi, sambil berpesan bahwa batu ini akan menguatkan kesaksianmu. Aku bertanya-tanya, bagaimana sebuah batu akan menguatkan kesaksianku akan Allah dan Muhammad? Seperti membaca pikiranku, sahabat ini menjelaskan bahwa batu itu tidak memiliki kesaktian apapun, kecuali, bila engkau ingin memandangnya dan memahaminya sebagaimana yang dia jelaskan sebelumnya. Batu itu hanya akan mengajakku untuk mengingat, bahwa hati yang bersih akan memendarkan cahaya ke setiap wujud yang ingin dilihat, sebagaimana Allah melihat dan mengetahui. Jadi, ketika engkau memandang batu itu, atau menggunakannya sebagai sebuah cincin, pandanglah dengan hatimu, bahwa sang batu diciptakan Allah untuk mengingatkan kita akan kebeningan, dengan demikian engkau akan menjernihkan pikiranmu. Dari situ, engkau akan semakin yakin dengan kesaksianmu. Itulah kekuatan sang batu

Danau Pisang

“Kau pergilah ke danau pisang, di sana ada banyakg makanan, pisang yang ranum berlipat dua dibandingkan apa yang kau lihat di sini,” kata raja kera kepada kera pejantan lain yang menjadi pesaingnya.

“Tapi, ingat, kau harus memetik yang di dalam danau terlebih dahulu, sebab, kalau engkau memetik yang di daratan lebih dulu, maka tanaman pisang yang di dalam danau akan melihatmu kemudian bersembunyi. Dia tak ingin dimakan oleh kera,” demikian lanjut raja kera.

Kera pejantan itupun dengan riang gembira menuju danau pisang. Benar-benar menakjubkan. Sekeliling danau dipenuhi tanaman pisang dengan buah yang ranum. Bukan hanya di daratan, tetapi juga di dalam danau.

Penasaran ingin membuktikan pesan sang raja, kera pejantan itupun mencoba meraih satu tandan pisang dari daratan. Setelah pisang dimakannya habis, dia melihat ke dalam danau. Benar sekali, buah pisang yang tadinya ada di dalam danau ikut menghilang. Alangkah bijaksana dan baik hatinya sang raja, pikir si kera. Beliau benar-benar tulus memberi informasi tentang danau ini. Kalau begitu, aku tak akan menyia-nyiakan kesempetan yang diberikannya padaku. Akan kuambil semua pisang yang ada di dalam danau lebih dulu, akan kubawa untuk sahabat-sahabatku di kerajaan kera.

Kera pejantan lantas menceburkan diri ke dalam danau dan tenggelam.....

Tuesday, June 12, 2012

Tentang Hujan

Beberapa angan-angan muncul saat mengikuti outbond di Baliwoso camp, Bali, saat api unggun dinyalakan dan tari-tarian bali disajikan. Sepulangnya, di Yogya, barulah rekaman-rekaman ini dituangkan dalam bentuk catatan. Tulisan ini, mungkin dinamakan orang puisi, tapi rasanya bukan, entahlah, saya bukan ahlinya. Ini catatan perasaan yang muncul saat itu.
Selamat menikmati, bila ini bisa dinikmati......


1
Ada yang berkhianat pada hujan, kataku.
Begitu hujan menuruni tangga dan melalui jalang yang lenggang itu, di atas awan mereka tertawa sambil membawa hadiah untukku, sebuah jarum, seuntai benang.
"Hatimu sobek, jahitlah dahulu agar kau bisa tersenyum."
Tidak, bukan hatiku. Senyumku untuk bunga-bunga yang hari ini bermekaran dan daun-daun yang hari ini hijau, juga ranting-ranting yang hari ini patah terlindas jejakku. Ada juga daun yang kering jatuh dan tersenyum tersapu bekasku. Aku pernah bertanya, dulu sekali, mengapa tersenyum? Karena aku akan menjadi sesembahan untuk kehidupan yang kelak, meskipun bukan yang kekal, begitu jawabnya.
Ada yang berkhianat pada hujan, kataku.
Begitu hujan menuruni tangga dan melalui jalan yang lenggang itu, di atas awan mereka tertawa sambil membawa hadiah untukku, sebuah daun yang kering. Ini daun, sebuah isyarat, kau akan kekal, mungkin kelak.

2.
Katakanlah ini kemarau yang panjang, karena jarum-jarum gerimis belum pernah runtuh meskipun ini sudah delapan kali purnama sejak terkahir dia menyirami kita.
Untuk apa menunggu? Mungkin tak pernah datang, kalaupun itu sekedar sebuah tanda.
Tapi aku berharap, karena pagi ini aku ingin menebar benih. Lihat ada awan, itulah pertanda. Percuma saja, katamu, karena angin akan meniupnya lagi.
Tapi, pagi ini aku ingin menebar benih di ladangku. Ada anak-anak yang membutuhkan tikar dan selimut. Percuma saja, karena ada yang telah menghianati hujan, dia tak akan hadir.
Aku Hujan akan datang, bukan karena kau atau mereka yang mengkhianati, tapi karena anak-anak yang ingin lelap dalam buaian Ibu...

3
Tak mengapalah engkau mengeluh, karena tak ada yang mendengar keluhan atau lenguhan, itu sama saja; sama seperti anyaman dan menganyam nyaman.
Tak mengapalah engkau mengeluh, karena, desahan ataupun resapan itu sama saja; sama seperti titik mata air dan air mata titik.
Sudah itu akan berakhir, ketika kering, karena mata air dan air mata serupa ketika menuju titik. Mungkin sebuah desah nafas panjang, atau sebuah lenguhan lepas.
Pada satu titik, dia akan menjadi keluhan. Maka hapuslah air matamu, saat hujan turun menggantikannya, membasahi.


Tentang Bulan dan Bintang

1
Bawakan aku bulan, pintanya. Mengapa bulan? Kau telah menghanguskan jagung bakar yang kutitipkan padamu untuk menjaganya, kau malah pergi dengan penari tanpa sedikitpun mengingat pesanku.
Bawakan aku bulan.
Tapi, malam itu bulan segaris alis, juga ada kabut karena kita di bukit; aku hanya punya sekarung mimpi yang berbaris di atas api.

2
Menarilah, dan kaupun menari; katakan padaku rahasia tarimu.
Adalah bulan turun dengan kipas, yang bergegas, dengan bintang-bintang yang mengawal.
Di tempatku, bintang adalah kuasa seperti itukah di tarimu?
Bukan, di tariku, bintang adalah senyum yang memberi jalan kepada siapapun untuk menganyam cahaya kuning .
Di tempatku, cahaya kuning adalah sejarah tirani, begitukah di tarimu?
Bukan, di tariku, cahaya kuning adalah kemilau yang mengantarkan engkau ke belaian ibu
Kalau begitu mainkanlah nina bobo, jangan beri aku xanax lagi.

3
Ke bintang, ke bintang, suara lantang melagukan dentang
Di mana itu? Sebuah tempat engkau bertapa menanti senja
Siapakah di situ? Aku suara, membawakanmu doa dalam satu mantra
Turunlah. Tidak, engkau tak akan kuat, bahkan bukit sinaipun merunduk
aku ingin mendengarMu kalau begitu.
Percuma saja, engkau menyebut namaKu, kalau kau tak pernah mendengar suaraKu.
Ke bintang, ke bintang aku turut karena aku rinduMu

 4.
Aku bintang, engkau siapa? Apakah kita pernah bertemu? Rasa-rasanya engkau pernah hadir dalam kehidupanku di masa lalu
Aku bintang, engkau siapa? Bulan? Mengapa tak ada warna kuning? Sepertinya engkau memang bulan, karena meskipun tak ada warna kuning, engkau masih membawa tanda yang dulu kita ikatkan di balik rusukmu.
Aku bintang, engkau siapa? Ragu.

5
Di lidah api itu mereka membawakan pucat. Punya siapakah ini? Di lidah api itu mereka membakar bulan dan bintang. Hujan tak jadi datang,. Jadi? Mungkin engkau perlu teman yang menggantikan hujan. Tak perlu, aku punya awan. Terima kasih.
Lidah apipun menari dalam lagu malam tanpa hujan yang datang.
ambilkan bulan Bu, ambilkan bulan Bu.....

Monday, January 02, 2012

Berbuat Baik

Kami bertemu di sebuah tempat terapi alternatif untuk penyakit-penyakit yang tak kunjung sembuh dengan pendekatan ilmu kesehatan standar. Sebuah rumah sangat sederhana yang dijadikan tempat praktek. Kami duduk di teras sebuah rumah


Saat tiba, di ruang dalam nampak penuh tak ada kursi tersisa. Di teras, seorang Ibu yang tak dapat dikatakan muda, dengan pakaian yang agak norak kaos hitam ketat tanpa lengan, duduk di bangku yang tak terlalu panjang. Melihatku kebingungan mencari tempat duduk si Ibu berbaik hati menawarkan berbagi. Namanya Bu Yayuk. Dengan alis yang digambar dan pulasan kosmetik yang memudar karena keringat, si Ibu nampak bukan orang baik-baik, menurut persepsi manusia kebanyakan. Kami mengobrol. Si Ibu mengantarkan seorang temannya yang sedang sakit dan tak kunjung sembuh setelah bertahun-tahun.

“Saya bekerja apa saja Mas. Kalau siang mengumpulkan rosok, kadang saya mengamen, kalau malam saya memijat tetangga,” begitulah si Ibu memulai ceritanya, setelah kami berbasa-basi saling bertanya.

“Suami saya kerja sebagai tukang parkir di Terminal Jombor”, katanya lebih lanjut. “Usianya sudah lebih dari 70 tahun, tetapi suami saya orang yang baik hati. Seluruh penghasilannya selalu diberikan pada saya. Beginilah saya, kalau sudah bercerita saya sulit untuk berhenti. Tapi, saya hanya bercerita pada orang-orang yang mau mendengarkan. Saya tahu, Bapak dengan tulus mendengarkan cerita saya. Kalau Bapak hanya berbasa-basi, saya bisa merasakannya, dan saya tak akan banyak cerita.”

Dia bercerita banyak, saya mendengarkan dengan terheran-heran. Antrian saya nomor empat belas, seroang pasien di terapi sekitar 15 – 20 menit. Bukan waktu yang singkat.

“Saya terimakasih sekali Pak, ada yang mau bicara dengan saya. Kebanyakan mereka hanya memberikan uang dari balik teralis pagar. Ada seorang ibu yang saya lihat jalan terpincang-pincang, saat ngamen, kemudian saya tawarkan diri untuk memijat. Hanya di teras rumah Pak, saya tak ingin masuk, khawatir kalau ada barang-barang hilang dan juga khawatir dianggap tak tahu diri. Saya pijat 2 jam Pak. Selesai pijat, si Ibu merasa baikan, dan meminta alamat saya untuk pijak lagi. Dua jam itu, Pak, saya hanya diberi uang lima ribu rupiah. Tapi, saya ikhlas Pak, meskipun rasanya sedih.”

“Saya muslim Pak, tapi saya belum shalat. Tiap malam saya berdoa. Saya hafal Al Fatihah, hanya itu yang saya hafal. Setiap hari saya berdoa pada Gusti Allah, menyebut namanya sepanjang jalan. Saya juga mengikuti ajaran kejawen Pak. Kadang malam saya tak tidur dan duduk di makam-makam tua.”

“Dulu, payudara saya pernah besar membengkak Pak, sangat besar. Saya hanya bisa merintih kesakitan. Tak ada biaya untuk berobat, saya hanya pasrah pada Tuhan yang memberi saya hidup. Berbulan-bulan merintih Pak, tak bisa apa-apa. Kemudian saya bertemu seorang kyai dari Banten. Katanya, saya hamil dan yang menghamili saya adalah bangsa jin.”

“Ini benar-benar terjadi Pak, Bapak pasti tak percaya cerita saya”, tegas perempuan itu ketika pikiran normal saya mulai bereaksi atas cerita yang seperti ini.

“Suatu hari, oleh kyai dari Banten itu, saya disuruh berbaring dan diberi tahu, jin yang saya kandung akan segera lahir, tepat jam 12 malam. Saya menurut saja Pak. Rasanya saat itu saya sudah tak hidup lagi. Para santri membaca berbagai doa yang saya tidak tahu. Kemudian kesadaran saya hilang, seperti tertidur yang lelap. Saya merasa seperti mimpi berpisah dengan seseorang. Perpisahan yang sangat berat. Kami berpegangan tangan seperti tak ingin saling melepaskan. Kalau Bapak muda dulu ingin berpisah dengan pacar, seperti itulah, tangan seolah tak ingin lepas sampai lepasnya sentuhan ujung jari. Kemudian tangan saya menggapai-gapai ingin meraih tangannya kembali. Dalam mimpi itu, sang laki-laki seperti pamit pada saya, dan meninggalkan sesuatu agar saya gunakan untuk membantu setiap orang yang memerlukan.”

“Saya tersadar Pak, dikelilingi para santri. Seorang murid Pak Kyai berteriak ketika melihat saya sudah sadar. Rasanya aneh sekali Pak. Saya pikir saya sudah meniggal, karena sekian bulan menahan sakit yang tak terhingga. Payudara saya tiba-tiba mengempis, hanya tersisa bekas goresan sedikit. Rasa sakit menghilang dalam beberapa hari.”

“Ini kejadian benar Pak, saya mengalaminya, memang aneh. Sejak itu, saya selalu ingin menolong orang. Mungkin saya hanya punya sedikit harta, tapi saya dikaruniai kelebihan, niat untuk selalu menolong orang. Ada tetangga kelaparan belum makan, saya hanya punya beras sedikit, saya bagi setengahnya untuk tetangga. Ada orang kelelahan, saya pijat dengan tanpa mengharap bayaran. Ada orang sakit, saya coba sembuhkan. Kalau saya tidak mampu sembuhkan, saya bawa ke tempat lain yang bisa membantu kesembuhannya. Kalau tidak mampu membayar, saya berikan harta saya untuk membayarnya. Tentu saja, saya hanya mampu mengantarkan ke tempat seperti ini Pak, yang tidak menentapkan tarif bagi pasiennya. Di sini, setiap pasien bebas untuk berderma.”

“Hidup saya penuh kotoran Pak, saya bukan orang yang bersih, tapi saya selalu ingin menolong orang. “

“Saya muslim Pak, meskipun saya tidak shalat.” Kalimat itu diulanginya lagi.
“Maaf, mengapa Ibu tidak shalat?”
“Mungkin saya belum sadar ya Pak...”. Suaranya mulai bergetar, dan makin lirih.
“Apa saja yang saya minta pada Gusti Allah, selalu dikabulkan, tetapi saya belum shalat Pak. Terimakasih Pak, mengingatkan saya .Saya janji, akan shalat Pak, Kalau ada yang memberi saya rukuh, saya segera shalat...”..

Giliran pasien yang diantar Ibu tersebut untuk terapi. Obrolan kami terhenti. Kemudian giliran saya tiba.

Keluar dari ruang terapi, si Ibu dan pasien yang diantarnya masih duduk di pinggir jalan, menunggu taksi katanya. Aku pamit mendahului. Mendoakannya semoga pasiennya segera sembuh dan si Ibu selalu mendapat kasih sayangNya...

Begitu saja. Kemudian angan-anganku berkecamuk di benakku. Mengapa tak membelikannya rukuh? Sempat terpikirkan tadi, saat dia mengatakannya. Mengapa pula membiarkan mereka berdua duduk menderita di pinggir jalan dan tak mengantarkan mereka pulang? Lihat, mereka mungkin menjalani kehidupan yang sangat termarginalkan, tapi, tak sedikitpun mereka mengeluh dan meminta bantuan orang. Apakah susahnya bagiku untuk meminta supirku membelikan rukuh dan mengantar mereka pulang? Mengapa sering muncul pikiran jahat dan ketidakpedulian pada hatiku? Mungkin dia diutus oleh Sang Kuasa untuk mengingatkanku, bahwa ibadahku masih sebatas upacara, belum menjadi bagian dari kehidupanku.....

Thursday, June 16, 2011

Reda

Bukti Cinta

Suaminya bilang itu tanda cinta:
Pipi biru legam, hidung retak, bibir sobek.
Suaminya bilang, itu harus dilakukan:
supaya ia tahu diri, tidak besar kepala dan sombong.
Malam ini, di tangannya ada sebilah pisau,
berkilat terkena sinar televisi.
Kepada suaminya, yang lelap tidur,
ia ingin menunjukkan cintanya.
Yang amat sangat


Cerita di atas adalah salah satu cerita yang di tulis Reda dalam bukunya "Pengantin Baru dan cerita pengantar tidur lainnya".
Buku yang sangat menarik dan penuh dengan cerita keseharian yang kadang terlewatkan begitu saja oleh kita. Saya menganggapnya serupa daun yang jatuh, yang kita semua tak pernah peduli pada kejadian tersebut, tetapi, ketika kita pikirkan lebih dalam, betapa daun jatuh merupakan sebuah proses yang sangat luar biasa. Daun yang selalu tulus ikhlas menerima hadirnya generasi baru [tersingkirkan], kemudian menggugurkan diri dan memberi pupuk bagi tanaman untuk hadirnya daun-daun baru....

Begitulah Reda, menuliskan hal-hal yang luput dari perhatian kita, padahal itu merupakan peristiwa besar, dan memberikan pencerahan, asal saja kita mau merenungkannya. Reda seperti menyadarkan kita, bagi mereka yang berpikir, sekalipun itu sebuah daun yang gugur seolah tak berarti, tapi itu adalah sebuah peristiwa penting.

Pada bagian sampul belakang, Reda menulis: "..... dengan harapan bisa jadi bahan mimpi dan membawa manfaat ketika bangun esok pagi." Jelas sekali, sebuah pesan agar kita merenungkan setiap cerita yang ditulis dari kisah nyata yang sehari-hari terjadi di sekitar kita.

Bagi teman-teman yang ingin membaca cerita-cerita lainnya, buku ini diterbitkan oleh Editum atau bisa dipesan lewat: www.inibuku.com telp 021-4212057 atau 4229857

Tuesday, June 07, 2011

Matahariku.....

Kadang kita memang terlalu sentimentil memandang kepada yang muda merasakan detik yang lewat.
Lihatlah mereka yang berpegangan erat dengan sepeda motor, mungkin hendak berangkat kuliah sambil merencanakan kegiatan nanti sore, mungkin juga membayangkan sepiring nasi goreng di depan Purna Budaya, ketika pulang dari perpustakaan.

Bukankah sudah aku katakan, nasi goreng di depan Purna Budaya itu sekarang sudah tak ada lagi. Tapi racikan bumbu bawang putih yang keras dan udang-udang kecil yang lembut serta potongan bakso di sela-sela nasi itu masih ada dalam ingatanku, begitu jawabmu
Dulu, jalan itu begitu senyap. Hanya beberapa pedagang hingga kau temukan selokan yang lebar itu. Ada hutan, yang ketika engkau melaluinya di malam hari, akan kau rasakan beda temperatur yang jelas sekali. Engkau akan menarik kerah jaketmu lebih ke atas dan menyilangkan tangan di dada, hendak mengusir dingin. Bukan dingin yang sedih tentu saja, karena sekalipun itu ada gerimis dan bahkan hujanpun, engkau akan tetap tertawa meriah.

Kemudian, pada suatu ketika yang kita masing-masing tak saling tahu, engkau memutuskan jalanmu, dan akupun memutuskan jalanku. Membatasi hati kita pada sebuah ikatan yang kita buat. Untuk masa depan yang lebih baik, begitulah kata mereka menasehati kita.

Monday, June 06, 2011

Marginal Utility

Salah satu konsep penting yang diajarkan pada mahasiswa jurusan ekonomi adalah “marginal utility”. Secara sederhana, ini berarti penurunan nilai manfaat, karena terpenuhinya kebutuhan. Contoh yang paling mudah adalah rasa haus atau lapar. Ketika tenggorokan berasa kering dahaga, tegukkan pertama minuman terasa sangat bermanfaat. Pada tegukan kedua, manfaatnya mulai kurang, ketika rasa haus sudah terobati, orang tak lagi mau minum, karena akan menimbulkan rasa tak nyaman pada perut.
Orang-orang ekonomi mempelajari tentang kebutuhan, bukan keinginan. Ada perbedaan yang sangat besar dalam pemahamannya. Kebutuhan manusia berbatas, tetapi keinginan manusia tak ada habisnya. Tuhan menyebutkan, bila kau jadikan seluruh samudra sebagai tinta untuk menulis nikmat yang Aku berikan pada manusia, tinta itu tak akan cukup. Itu kalau manusia berbicara tentang kebutuhan. Namun, yang muncul adalah keinginan, maka berlakulah yang sebaliknya, jika seluruh samudra dijadikan tinta tak akan cukup untuk menulis seluruh keinginan manusia...
Orang ekonomi juga memperkenalkan konsep kelangkaan. Semua barang dan jasa menjadi berharga karena kelangkaannya. Konsep kelangkaan mengubah nilai barang menjadi berharga secara ekonomi. Puluhan tahun yang lalu, air tidak termasuk barang yang langka, maka dalam pelajaran ekonomi di sekolah, air dan udara merupakan contoh barang bebas. Tapi, orang-orang dari disiplin ilmu manajemen memanfaatkan konsepsi kelangkaan ini untuk meraih keuntungan yang di atas normal. Bagaimana caranya? Ahli manajemen pemasaran mengubah pola pikir manusia dari fase kebutuhan meningkat menjadi keinginan. Penambahan merk tertentu dan kemasan tertentu telah mengubah fungsi air minum dari kebutuhan menjadi keinginan. Obat-obat generik sama baiknya dengan obat bermerk, namun, orang lebih percaya pada obat dengan merk tertentu dan bersedia membayar mahal untuk itu.
Manusia membutuhkan mobil untuk sarana transportasi agar tidak kehujanan atau kepanasan, agar dapat mengangkut seluruh keluarga dengan satu kali perjalanan. Tetapi kebutuhan akan mobil telah diubah menjadi keinginan akan merk dan jenis mobil tertentu. Kemasan mobil dan merknya telah menjadikan konsepsi marginal utility tak berlaku lagi. Selalu ingin mobil yang terbaru dengan berbagai tambahan fitur mewahnya sejalan dengan peningkatan penghasilan. Banyak orang menjadi bangga dengan koleksi mobil yang dimilikinya.
Manusia membutuhkan tas kerja untuk mengangkat berkas-berkas pekerjaan, tetapi, bagi sebagian banyak orang, tas kerja harus memiliki merk tertentu. Tak mudah membayangkan seorang eksekutif sebuah bank akan membawa ransel seharga seratus ribuan untuk membawa berkas pekerjaan, notebook, serta beberapa potong pakaian ganti ketika bertugas keluar kota. Mereka mungkin memakai ransel, tetapi ada sepotong merk dagang yang menunjukkan asal ransel itu dari sebuah rumah mode terkenal dan pastilah mahal.
Wakil rakyat kita butuh sarana komunikasi, tetapi, apakah kebutuhan biaya komunikasi itu mencapai belasan juta rupiah per bulan? Apakah ini kebutuhan atau hanya sebuah keinginan? Demikian pula dengan gedung ruang kerja mereka. Apakah kolam renang merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan?
Di tempat kerja, kadang-kadang kita mengajukan anggaran berbasis keinginan bukan kebutuhan. Bagian kehumasan dan dokumentasi mengajukan anggaran pembelian kamera mengacu pada kamera canggih keluaran terakhir yang mahal. Padahal keperluan dokumentasi tersebut dapat terpenuhi hanya dengan kamera saku digital. Keinginan mendominasi penyusunan belanja perusahaan, bukan kebutuhan.
Orang-orang periklanan yang biasanya berlatar belakang ilmu manajemen, komunikasi, dan psikologi sangat paham bagaimana menggeser kebutuhan menjadi keinginan, atau lebih tepatnya, menghilangkan kesadaran dalam diri sehingga keinginan seolah-olah menjadi sebuah kebutuhan. Para jenius pembuat iklan telah menyihir kita. "Anda membutuhkan Prada, atau Louis Vuitton, karena begitulah seharusnya Anda", demikian bahasa iklan yang mereka pakai.
Ilmu ekonomi dan manajemen telah disalahgunakan untuk meraup laba sebesar-besarnya. Banyak orang terjebak dalam perangkap hutang karena mengkonsumsi “kebutuhan” yang tak ada habisnya dengan kemudahan fasilitas kartu kredit. Pada wajah yang lain, kita melihat masyarakat yang mengais sampah, yang tidur di rumah kardus, yang mengkonsumsi makanan tak layak, yang tak mendapat kesempatan bersekolah, bahkan yang sama sekali tak punya harapan hari esok. Seperti inikah yang dibayangkan para pemikir ekonomi? Rasanya tidak. Konsep marginal utility jelas-jelas mengajarkan kita untuk memenuhi kebutuhan, bukan keinginan. Ada makna keadilan dalam konsep tersebut. Dalam agama, bukankah kita juga selau diajarkan untuk “tidak berlebih-lebihan”.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Stiglitz, kutipan yang selalu saya pakai ketika bicara tentang pembangunan yang berkeadilan. Begini: “Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan.”

Monday, May 23, 2011

Berbuat Besar

Ada sebuah monolog menarik dari seoang seniman yang saya lupa namanya. Sambil bermain gitar ia bercerita tentang diskusinya dengan salah seorang sahabat tentang perbuatan besar dari orang-orang besar.
Ada orang-orang besar yg telah berbuat besar kepada negaranya, mereka adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk perbuatan yang besar. Soekarno telah berbuat besar untuk membakar semangat kemerdekaan. Ada RA Kartini, yang telah berbuat besar dengan memberi pencerahan luar biasa akan pentingnya pendidikan bagi kaum wanita. Ada Ki Hadjar Dewantara, yang berbuat besar bagi pendidikan bangsa melalui pendirian Taman Siswa. Ada sederet nama lain. Lantas, bagaimana orang-orang kecil yang tertindas dan tidak memiliki kesempatan dapat bermanfaat bagi masyarakat?

Seniman ini sambil tetap bernyanyi menjawab:
“Tak perlu berkecil hati, karena tidaklah Yang Maha Kuasa menciptakan manusia hanya untuk kesia-siaan. Kita bisa berbuat, dari yang mungkin paling kecil yang dilihat orang, tetapi luar biasa besar nilainya. Setidaknya kita bisa berkata jujur dan mengajarkan tentang kejujuran...”

Pertanyaan yang tersisa pada saya adalah apakah artinya berbuat besar? Memimpin negara, memimpin perusahaan besar, memberikan kontribusi pada kekayaan negara? Cukupkah itu?
Beberapa tahun yang lalu saya pernah memiliki pengalaman luar biasa dengan seorang perempuan tua (mungkin di atas 70 tahun), yang berjualan rokok dan korek api di sebuah pinggiran jalan. Ibu ini, dengan sebuah kotak kayu kusam, hanya membawa tak lebih dari 10 bungkus rokok dan beberapa korek api (ditambah cahaya malam yang gelap menjadikan suasan yang makin muram). Dengan rasa iba, saya membeli sebuah korek api seharga seratus rupiah dan memberinya uang seribu rupiah dan agar uang kembalian disimpan saja untuknya. Niat saya memang ingin memberinya sesuatu. Apa yang terjadi sungguh diluar dugaan saya. Si Ibu tampak tak senang dan mengatakan dirinya berjualan bukan pengemis. Saya terenyuh dan menyadari betapa angkuhnya diri saya.
Inilah perbuatan besar. Menjaga harga diri. Menjaga kehormatan. Menjaga agar tangan kita tidak tengadah memohon balas kasihan orang lain. Inilah kejujuran hati nurani, ketika seseorang tidak menghiba-hiba dengan menjual perasaan sedih yang dihadapinya.

Monday, February 15, 2010

Buah Karet [catatan masa kecil]

Ada permainan musiman yang sering kami lakukan, yaitu mengadu buah para, buah pohon karet. Secara bergantian buah para di letakkan saling menindih kemudian dipukul dengan bagian bawah telapak tangan sebelah dalam sekeras-kerasnya. Yang tidak pecah adalah pemenangnya. Bila musimnya telah tiba, sepanjang pagar luar halaman sekolah akan dipenuhi penjual para. Harganya bervariasi tergantung pada kualitas. Ada yang dinamakan para kancil, dengan lima rupiah kami bisa meperoleh 5 buah. Ada yang namanya macan, warnanya loreng-loreng kuning coklat, harganya 5 rupiah untuk 2 biji. Yang terbaik dan paling keras dinamakan kingkong, harganya bisa 5 rupiah per biji. Selain itu, ada lagi yang paling murah yang bisa diperoleh 10 sampai 15 biji dengan harga 5 rupiah. Uang lima rupiah rasanya sangat banyak, sehingga aku hampir tak pernah membeli kingkong. Paling sering aku membeli kancil atau macan. Pernah juga aku membeli kingkong. Dan ketika diadu dengan milik teman lain, kingkongku pecah. Sejak itu aku tak mau lagi membeli kingkong, karena waktu bermainku menjadi sangat singkat.
Suatu hari Jeffrey memberitahu sebuah rahasia, katanya ada buah para yang sangat kuat, tetapi kami harus memetiknya sendiri. Jefrey yang tahu tempatnya, dan seperti biasa, tugas panjat memanjat adalah bagianku. Berdua, aku dengan sepeda jengki tua dan Jefrey dengan sepeda mininya yang bagus, menelusuri jalan Bukit Besar, menuju daerah Padang Selasa, dan terus masuk ke arah Lorok Pakjo, menuju ladang karet. Tak ada jalan aspal, hanyalah jalan stapak dan tanah tanah merah. Kami tiba di sana saat mendung sangat tebal, tapi belum hujan.
Memanjat pohon karet tidaklah mudah. Pohon bagian bawah biasanya lurus sepanjang tiga sampai lima meter. Cabang pohonnya getas dan mudah patah, jadi harus hati-hati. Buahnyapun berada di ujung-ujung pohon. Aku berhasil meraih beberapa gerombol buah. Menjatuhkannya, dan Jefrey menunggu di bawah, mengupas kulitnya yang keras dengan batu.
Buah-buah karet itu sangat memukau. Warnanya coklat dengan sedikit gores kuning keemasan. Bentuknyapun menarik, bagian punggung buah agak meruncing, tidak datar sebagaimana yang dijual di depan sekolah. Kami penuh keyakinan, buah ini istimewa dan sangat kuat. Punggungnya yang runcing tentu saja akan menyulitkan lawan pada saat diadu. Aku membayangkan keramaian yang akan terjadi ketika teman-teman besok melihat buah para yang kami miliki.
Hujan mulai turun. Bergegas kami bereskan buah-buah itu, menyimpannya sebaik mungkin agar tidak tercecer di jalan. Semakin deras. Jalan mulai berlumpur. Kayuhan sepeda menjadi sangat berat. Berkali-kali aku terperosok dalam kubangan lumpur. Berkali-kali tanah lempung melekat di ban sepeda, sehingga tak dapat dikayuh. Susah payah kami saling membersihkan sepeda.
Setiba di rumah, sepeda langsung aku tuntun ke sumur di halaman belakang. Kubersihkan sepeda dan juga baju yang penuh lumpur. Tak boleh ada bekasnya. Bermain sepedaku terlalu jauh, lumpur-lumpur akan menjadi pertanyaan. Dan, yang pasti aku tak akan pernah bisa berbohong ataupun mengarang alasan.
Aku yang pertama tiba di sekolah esok paginya. Rasanya tak sabar ingin memamerkan buah para terbaik yang kami miliki. Tak sabar ingin melihat dan mendengar decak kagum. Sekolah mulai ramai. Teman-teman bermain mulai datang. Aku memperlihatkan buah paraku, dan beberapa decak kagum sempat terdengar. Mereka belum pernah melihat yang seperti ini.
Permainan dimulai. Dan..., dalam sekejap decak kagum hilang, buah para kebanggaan satu demi satu pecah setiap kali di adu. Tak bersisa......


Catatan: kebun karet itu sekarang mungkin berada di sekitar istana gubernur Sumatera Selatan, Jalan Demang Lebar Daun. Dulu hanya ada jalan tanah menuju lokasi tersebut, setelah belokan dari jalan Bukit Besar dekat SMEA Negeri.

Friday, February 12, 2010

Bankir

Apa yang nampak dari pertemuan sekelompok bankir? Jas mahal, pastilah itu. Ada lagi, jam tangan dan perangkat tulis bermerk kelas atas.
Suara apa yang terdengar dalam pertemuan sekelompok bankir? Yang sangat jelas adalah tawa yang lepas. Ha..ha...ha... dan hi...hi....hi... akan mendominasi gelombang suara yang dapat ditangkap telinga. Ada lagi, prospek bisnis dan tukar informasi mengenai nasabah kakap dan isu transaksi derivatif, tapi, itu tak begitu pentinglah, nanti saja dibahas di ruang rapat sambil sedikit mengantuk dan bisa juga sambil memantau email laporan dari bawahan di masing-masing kantor. Terus apa yang penting? Lapangan golf tentu saja. Sudah coba lapangan golf sana belum? Rumputnya tak rata. Lapangan golf yang di situ, luar biasa sulit dipahami. Dimana main golf? Kalau itu bankir lokal, yang terdengan mungkin sekedar Nusa Dua atau tempat golf lainnya di dalam negeri. Kalau yang kumpul bankir nasional papan atas, suara yang terdengar adalah lapangan golf di suatu negeri di seberang benua....
Kapan mereka bekerja? Oh, jangan naif begitu. Mereka dibayar mahal karena kemampuannya untuk memandang jauh ke depan. Coba bayangkan tarif kita untuk bertransaksi dengan peramal terkenal, mahal sekali bukan. Apalagi ini, para futurist yang menentukan masa depan perekonomian bangsa. Kalau pekerjaan teknis rutin, itu bukan cakupan tugas mereka.
Aroma apa yang tercium dalam pertemuan para bankir? Parfum lembut dan mahal, itu pastilah. Apalagi kalau di antara para bankir itu ada kaum per-empu-an. Tapi, yang lebih pasti lagi, di situ bisa dirasakan aroma makanan yang maha lezat. Tentu saja bukan makanan angkringan yang seratus ribu bisa untuk makan 15 orang. Kalau mereka bankir papan atas, setidaknya tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah perorang, tapi kalau hanya bankir kelas lokal, mungkin berkisar seratus sampai tiga ratus ribu rupiah, untuk sekali makan.
Pakai jas di negara tropis, apakah tidak panas dan gerah? Panas dan gerah, itu di luar sana. Di dalam ruang pertemuan, tentu saja sangat dingin. Dalam kendaraan, mobil sedan itu dilengkapi dengan pengatur suhu udara yang terbaik. Bankir lokal maupun nasional, tak akan mampu memikirkan masa depan keuangan perusahaan apalagi keuangan negara apabila udara panas dan gerah.
Jadi, nyaman sekali hidup bankir? Oh.. itu hanya kelihatannya saja. Orang bilang rumput tetangga lebih hijau. Coba, lihat, kadang mereka iri melihat para buruh tani dan buruh bangunan yang bisa dengan lelapnya tidur siang antara saat istirahat mereka. Kadang mereka makan di angkringan pinggir jalan, karena iri dengan kenikmatan makan sambil berkeringat dan sambal yang pedas, bumbu masak yang bertumpuk, dan tempat makan yang kumuh.
Dan, mungkin di antara mereka ada yang menangis, membaca berita seseorang yang diadili karena dituduh mencuri kaos yang telah dibuang di pinggir jalan. Atau menangis saat membaca berita anak sekolah mengakhiri hidupnya karena malu menunggak uang sekolah. Atau mungkin mereka menangis, melihat satu keluarga suami istri dan dua anak kecil berboncengan penuh tawa dengan sebuah vespa tua, sambil membawa kail.
Yang pasti, ada diantara mereka yang kerap menangis, melihat kenyataan ketidakadilan ekonomi di negaranya, tapi hanya mampu merasakan, tanpa mampu berbuat apapun.

Monday, December 14, 2009

Pohon Rahasia


Sungguh, dia telah menanti lebih dari 30 tahun untuk bertemu dan mengatakan yang seharusnya dia katakan. Tapi, itu tak mudah. Tiga puluh tahun, bukan waktu yang singkat memang, karena itu dimulainya sejak pertama kali mengeja nama itu, mengenali wajah dengan rambut lurus sebahu dengan sedikit poni di atas matanya. Dia masih sangat ingat, ada beberapa waktu ketika perempuan yang dikenalinya sejak kecil itu mengubah tampilannya dengan sedikit mengombakkan rambut. Sebenarnya itu sangat tak indah. Tapi tak dikatakannya, tak pernah berani untuk berkata-kata ketika itu, selain menatap mata. Pernah juga dia melihatnya memotong rambutnya sangat pendek. Kelihatan sangat lebih cantik. Kelihatan sangat cerdas. Dia sangat menyukai perempuan yang cerdas dengan rambut terpotong pendek.

Dia telah menantikan lebih dari 30 tahun sejak pertama kali menyebutkan nama perempuan itu dengan keraguan yang luar biasa, dan akhirnya dibatalkannya memanggil nama itu, menunggu besok hari, yang mungkin datang membawa keberanian lebih banyak. Tiga puluh tahun lebih, itu dulu, ketika dia bersekolah masih bercelana pendek dan baju dekil yang penuh bekas getah buah hutan dan debu halaman sekolah berbaur bau keringat menempel.

Tiga puluh tahun lebih, dia biarkan tumbuh, mengakar, berdaun, tumbuh rindang di padang hatinya, karena setiap hari disiraminya dengan kata yang tak pernah terucapkan itu. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menyampaikan kabar itu kepadanya suatu hari kelak nanti, entah kapan dan dimana, tetapi dia yakin pasti akan bertemu.

Ternyata hari ini datang sama saja dengan kemarin dan lebih dari tigapuluh kali tiga ratus enam puluh lima hari yang terlalui, dia tak juga berani mengabarkan berita tentang pohon rindang itu, dan sekarang diapun menjadi ragu-ragu untuk mengabarkan berita itu. Karena apapun juga, masihkah ada gunanya?.

Monday, October 12, 2009

Reuni



Idul fitri, saling memaafkan, saling berkunjung. Bagian dari tradisi hidup. Sangat menarik, apalagi ketika teman-teman lama saling berjanji untuk ketemu. Ada yang sudah menjadi guru besar. Ada yang meninggalkan negara tercinta mencari kehidupan di negeri yang jauh. Ada yang sukses besar, ada yang menikmati hidup yang mengalir begitu saja. Setiap orang memliki takdirnya sendiri-sendiri, seperti garis tangan, tak ada yang pernah sama. Tetapi ada yang selalu sama sejak dulu, kekawanan.....

Tuesday, June 23, 2009

GOLF

Ada surat dari asosiasi. Terbungkus amplop dan ketikan tipe huruf resmi. Ditutup rapat dengan perekat yang tak mudah di buka pula. Saya berpikir ini acara formal yang serius. Ternyata konfirmasi kesertaan pada turnamen golf.
Mengapa golf? Mengapa bukan bedah buku, atau klub fotografi, atau acara sosial lainnya?
Entah bagaimana sejarahnya, tetapi golf saat ini adalah sebuah status sosial. Kata para golfer juga, tidak ada kontrak bisnis tanpa lapangan golf. Untuk status sosial, saya akan sepakat, tetapi untuk ”tak ada kontrak bisnis tanpa golf”, saya akan berpikir kembali.
Mari sedikit berhitung, berapakah nilai investasi untuk sebuah lapangan golf? Bukan jumlah yang sedikit, dan tentu saja investasi lapangan golf bukan milik UMKM sebagaimana membangun lapangan futsal. Karenanya, untuk bermain golfpun kita harus membayar mahal. Bukankah itu prestisius? Tentu saja, harga sarana pendukung golf tak boleh murah. Kalau murah, pasti tak laku. Setidaknya membutuhkan 7 digit angka untuk mendapatkan tongkat pemukul yang termurah. Di lapangan? Jangan berharap teh panas seharga dua ribu rupiah seperti di lapangan bulutungkis di balai RT. Belum lagi kalau dilihat merk yang melekat di tubuh, mulai dari kepala (topi, kacamata), turun ke badan (pakaian, sarung tangan), kemudian bagian kaki (kaos kaki dan sepatu). Golf adalah sebuah aktualisasi diri sukses finansial.
Bandingkan dengan ucapan seorang teman di facebook, ”Lumayan, bulutangkis di depan rumah setengah jam...”
Bulutangkis di depan rumah, berkeringat, bersosial, cukup dengan raket seratus atau dua ratus ribu rupiah bahkan ada yang hanya puluhan ribu rupiah. Asal ada sedikit tanah kosong, buat garis tali plastik atau pakai kapur putih. Kalau kas RT/RW sedikit berlebih atau kalau ada warga yang sedikit berkelebihan, buat tiang bambu dan belikan net. Beli sedikit kabel dan lampu. Maka semua orang bisa berolah raga. Pagi hari diisi oleh para ibu, sore hari anak-anak. Malam hari para bapak. Tapi, itu murah meriah, dan yang murah tentu saja tidak meningkatkan status sosial....
Sepakat, golf adalah simbol status, silahkan saja bagi yang berminat dan dapat menikmatinya...
Apakah golf tempat memperoleh kontrak bisnis? Benar. Lapangan golf adalah tempat kumpulnya kelompok masyarakat yang secara ekonomi telah mapan. Tentu saja berkumpul dengan mereka membuka peluang untuk memperoleh kontrak bisnis. Tapi, akan berbeda ceritanya apabila kontrak bisnis baru didapat setelah menjamu bermain golf. Bisa lihat perbedaannya? Bertemu dan bersosial dengan banyak orang sukses (ekonomi), tentu saja membuka peluang untuk saling berinteraksi dan membuka peluang untuk bisnis baru. Tapi, menjamu pejabat tertentu bermain golf dengan harapan mendapatkan kontrak bisnis, nampaknya bukanlah hal yang bijaksana. Selain mengeluarkan uang perusahaan yang tidak sedikit, cara ini hanya akan menimbulkan lomba perjamuan. Kompetitor tentu saja akan memberi jamuan di lapangan lain, yang lebih prestisius. Pada ujungnya, yang terjadi adalah biaya proyek menjadi mahal, karena apapun juga, uang perusahaan yang telah dikeluarkan harus bisa diperoleh kembali. Kalaupun harga kontrak tidak dinaikkan, mungkin standar kualitas yang diturunkan.
Selamat menikmati golf bagi mereka yang menikmatinya. Saya sangat yakin, golf seperti juga setiap olahraga yang bertujuan mengalahkan diri sendiri, akan menimbulkan kecanduan. Jadi, saya meskipun tidak bermain golf, sangat bisa memahami adanya orang yang sangat mencintai permainan ini. Seperti pemancing yang selalu melamunkan ikan besar pada saat melempar kailnya, golfer pun pasti memimpikan keajaiban hole in one.
Bagi mereka, para eksekutif yang tidak bermain golf, tidak perlu cemas bila ingin menunjukkan sukses ekonominya. Ada banyak cara lain. Menjadi penyantun tetap di sekolah-sekolah pinggiran, menjadi ayah asuh bagi anak-anak yang kecerdasan dan kemampuan ekonominya terbatas, atau memberikan waktu dan sumberdaya yang dimilikinya untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan ekonomi kelompok yang termarginalkan, mungkin bisa menjadi alternatif. Melihat mata anak-anak yang kembali berbinar menatap masa depannya mungkin akan terasa lebih indah daripada memandang hijaunya lapangan golf. Mungkin. Saya tidak tahu, karena saya tidak bermain golf.

Friday, June 19, 2009

Jejak

Seperti jejak-jejak air di pasir itu yang coba dihapuskan oleh angin atau terkadang jejak angin di air yang coba dihapuskan
tak akan hilang.
Itu juga setiap garis yang dibuat oleh kaki kaki kita
atau tangan-tangan kita
atau mata-mata kita
atau telinga-telinga kita
atau hidung-hidung kita
atau bibir-bibir kita
atau lidah-lidah kita.
Dan kita coba hapus dengan hati yang kita miliki. Tak akan pudar, karena setiap hapusannya telah menjadikan jejak baru yang makin dalam
Tak ada yang pernah tahu mengapa dan dimana atau akan kemana. Semuanya seperti telah digariskan dalam setiap angin yang melaluinya

Friday, March 27, 2009

Taman Kasih

Ada sebuah taman, kata penutur cerita itu memulai. Taman itu sangat indah, didalamnya mengalir sungai-sungai yang jernih.
“Itu surga”, seorang pendengar memecah keheningan.
“Bukan, itu Indonesia” orang lain menimpali. “Tapi itu Indonesia yang dulu, waktu manusianya tidak sebanyak dan serakus sekarang.”
“Sstt, diamlah, biarkan ceritanya,”

“Taman itu adalah taman yang sangat indah. Di dalamnya mengalir sungai yang jernih. Bukan itu saja, ada satu perahu yang selalu lewat. Perahu Kertas”.
Tukang cerita itu kemudian melantunkan sebuah puisi:
“Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.....” [1]

Perahu itu setiap pagi menelusuri tepian sungai. Di dalamnya, pemilik taman, mengemudikan sendiri perahu itu. Pemilik taman itu sesungguhnya adalah wanita yang tidak terlalu cantik. Tidak, tak ada bintang film cantik di ceritaku ini, karena ini hanyalah cerita tentang taman kasih.”
“Teruskan saja ceritamu kami juga tak peduli apakah ada perempuan cantik atau tidak..,” sebuah suara menyela.
“Sshh, diamlah, biarkan dia bercerita,” yang lain menimpali.
“Pemilik taman itu selalu mengemudi sendiri perahu kertasnya. Dia akan menghampiri siapa saja yang ada ditepian sungai, menyapa mereka penuh semangat dan tentu saja memberikan senyum yang hangat. Sesungguhnya pemilik taman itu bukan seorang perempuan yang cantik dan tak pernah muncul di layar televisi dalam cerita selebritis. Dia hanya perempuan biasa saja, yang memiliki taman yang didalamnya mengalir sungai-sungai yang jernih. Dia hanya perempuan yang ingin berbagi kebahagiaan kecil setiap hari dengan siapa saja yang dia temui di pinggiran sungai yang mengalir di tamannya.”
“Mengapa dia membangun taman seperti itu?”. Sebuah suara bertanya.
“Sshh, diamlah, biarkan ceritanya mengalir.” Suara lain memotongnya.
“Benar,” jawab si pencerita. “Aku pernah bertemu dengannya dan bertanya mengapa dia membangun taman seperti itu. Aku dulu juga belum paham mengapa harus membangun taman dan menyapa setiap orang dan berbagi kebahagiaan kecil di setiap pagi. Tapi, sungguh, tak mudah untuk melupakan jawabannya. Perempuan yang tidak cantik itu hanya ingin melakukannya begitu saja, tanpa harus memiliki alasan apapun. Inilah yang kira-kira dikatakannya – karena aku tak mampu mengingat dengan pasti kata demi kata:"
“Mengapa harus ada alasan? Bukankah lebih banyak kehadiran kita yang tanpa alasan dan ada begitu saja. Mengapa sekedar untuk berbagi kebahagiaan kita harus memiliki alasan? Mungkin aku bisa membuat berbagai alasan yang menarik, yang membuat decak kagum orang banyak atau mungkin aku bisa beralasan yang berbau politis, sehingga ada petinggi partai yang akan membacanya kemudian tertarik untuk mengikutkan aku sebagai calon anggota legislatif di partainya. Bila itu yang aku lakukan, berarti tujuanku membuat taman bukanlah berbagi kebahagiaan, tetapi mencari jalur untuk meningkatkan derajat kehidupanku. Jadi, aku pikir, tak perlu ada alasan. Biarkan segalanya menjadi ada atau tak ada tanpa harus bertanya apa dan mengapa. Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.”[2]

“Itu kesombongan,” bisik sebuah suara, “Dia menunjukkan kesombongannya dengan merendahkan diri, seperti sombongnya pohon padi yang buahnya penuh, badannya seolah membungkuk, tapi yang ditampakkan bukanlah kerendahan melainkan pamer bulir-bulir yang padat berisi” lanjut bisikan suara tadi.
“Shhh, diamlah, aku ingin mendengar ceritanya”, orang lain disampingnya menimpali.

Demikianlah tukang cerita itu berkisah tentang sebuah taman yang terindah dengan pemiliknya yang setiap pagi berkunjung dengan perahu kertas ke rumah-rumah tetangganya dan menyapa siapa saja yang ditemui sepanjang sungai itu, sekedar menyampaikan salam dengan kebahagiaan kecil di hari itu.
Tukang cerita itu sangat memukau, sehingga semua orang menjadi terpesona dan tak ingin memalingkan dirinya sejenakpun dari rangkaian kisah yang disampaikan. Pagi berubah menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam menjadi pagi lagi, tukang cerita itu tak juga menghentikan kisahnya. Tak ada yang beringsut, Semua mendengar takjub. Anak-anak kecil sekalipun larut
Seisi perkampungan itupun tak ada yang ingat dengan ladang dan ternak miliknya. Anak-anak lupa dengan sekolahnya. Perut mereka serasa telah terisi penuh tanpa perlu makanan lagi. Demikian pula meraka tak perlu memikirkan bagaimana membuang ampas makanan yang ada dalam perut, karena ampas itu hilang sirna dengan sendirinya.

Pada sebuah siang yang mendung dan lembab dengan udara yang tak nyaman, akhirnya cerita itu diselesaikan.
“Dulu, aku termasuk sering beristirahat di sana, tetapi sekarang tak lagi. Taman itu tetap terbuka, tetapi perempuan itu tak pernah lagi hadir dengan perahu kertasnya. Entah kemana. Mungkin juga terlalu lelah untuk selalu berbagi. Mungkin juga sekarang harus mengurusi anak-anaknya yang semakin besar dan menuntut banyak perhatian. Tapi, yang jelas pemilik taman itu tak pernah lagi menyapa pengunjungnya. Mungkin juga pemilik taman itu sekarang masih sering mengunjungi tetangganya, tetapi memasang sihir agar aku tak dapat memandangnya dan memasuki taman itu, entahlah." Wajah tukang cerita itupun tiba-tiba berubah menjadi murung.

Setelah cerita ditutup, pendudukpun bubar, memasuki ke dunia yang pengap dan sesak. Bau selokan tercium kembali. Lapar mulai terasa. Teriakan penjaja makanan berwarna-warni terdengar nyaring, bersahutan dengan teriakan penjual sayur dan air minum. Umpatan dan kata kotor mulai terdengar di tengah suara serak teriakan tangis anak kecil.

[1] Perahu Kertas, Puisinya Sapardi Djoko Damono
[2] Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa, diambil dari puisinya Goenawan Mohamad berjudul “Pada Sebuah Pantai: Interlude

Wednesday, January 28, 2009

Bulan

Tadi malam mendung tipis, mungkin bukan mendung, hanya sekedar kabut yang agak tebal. Menyelimuti sawah-sawah. Menutupi cahaya bintang. Tapi, ada rembulan yang mencoba bertahan. Mungkin ingin memberikan sedikit kecerahan kepada manusia yang hari-hari belakangan ini kehidupannya semakin susah. Cahaya kuningnya memudar pucat, tapi masih mampu menembus tirai kabut itu. Dia seperti malu-malu untuk menampakkan dirinya sendiri.
Mungkinkah Bulan malu untuk menampakkan diri? Bukankah dia bersama bintang kemilau selalu menjadikan sumber cahaya dan petunjuk arah dalam kegelapan?
Bulan memang terkadang aneh. Pernah suatu pagi yang cerah, dia bertahan tak mau hengkang, padahal matahari sudah datang. Seolah dia hendak menantang matahari.
”Oh.. itu bukan bulan yang tahu diri,” bisikku dalam hati. Bukankah Bulan selalu hadir sebagai bayangan matahari, karena sesungguhnya kuningmu itu hanyalah milik matahari semata? Tapi Bulan kadang memang keterlaluan. Pernah suatu ketika dia mengelabui anak-anak kecil dengan logika aneh yang dibuat jungkir balik, tetapi banyak yang mempercayainya. Mungkin itu karena keindahan yang selalu ditampilkan Bulan – yang selalu membius para penikmatnya.

Begini. Suatu ketika Bulan bertanya pada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumput mereka
”Hai.. selamat pagi anak-anak, pagi ini aku punya pertanyaan untuk kalian,” sapa Rembulan (nama lengkapnya Bulan).
”Seellaammaaaattt Paaaaggiiiiii Bulannnnn...., pertanyaan apakah itu?” teriak anak-anak sambil kegirangan. Anak-anak memang tak pernah sedih.
”Tahukah kalian, manakah yang lebih bermanfaat, Matahari atau dirikukah?” tanya Bulan.
Anak-anak tak mampu menjawab, sebaliknya mereka terpesona pada kemilau kuning Bulan.
Melihat hal tersebut, Bulan dengan lantang (dan ehm.. tentu saja sedikit kesombongan – jangan terlalu ditampakkan, agar tetap nampak mempesona), berkata
”Siapakah yang datang ketika kalian menghadapi gelap?”
”Siapakah yang hadir ketika bintang tak cukup menerangi kalian?”
”Siapakah yang selalu diminta hadir untuk menemani tidur kalian yang lelap di malam gelap?”[1]
”Apakah kalian tidak melihat, aku selalu datang di malam hari saat kegelapan hadir, sedangkan matahari hadir ketika siang saat terang?”

Bulan memang aneh, dia akan membius anak-anak dengan logika anehnya , dan membius orang dewasa dengan sihir indahnya. Bahkan, seorang penyair pernah menuliskan lagu

Juwita malam, siapakah gerangan tuan
Juwita malam, dari bulankah tuan
[2]

Malam ini bulan itu muncul dengan malu-malu, dari balik kabut tipis. Seperti selapis sutera menjadi cadar juwita malam. Sungguh mempesona. Dan, manusiapun seperti terbius, kehilangan nalar pikiran, kehilangan akal budi, kehilangan jati dirinya, kecuali mereka yang memandanginya dengan hati yang bersih, dan memikirkan sumber cahaya yang sesungguhnya. Mereka yang benar-benar memahami bahasa rembulan, yang sering berteka-teki dan menyesatkan hati yang tak bersih.

[1] Ambilkan Bulan, sebuah lagu anak-anak
[2] Juwita Malam, Ismail Marzuki

Tuesday, January 20, 2009

Kesendirian dan Kesedihan

Ada kalanya, hidup rasanya begitu sepi. Teman-teman seolah lenyap begitu saja dari hati kita. keberadaan teman di sekitar kita tak lagi terasakan. Sepi yang seperti itu rasanya seperti memasuki ruang kosong yang senyap – tapi dipenuhi kegelisahan. Di tengah hiruk pikuk pekerjaan yang mengalir, di tengah arus lalu lalang pegawai lain, dan mungkin di tengah tumpukan pekerjaan yang tak terjamah, dan di tengah kompetisi untuk jenjang karir yang lebih tinggi kita, merasakan kesendirian, karena ditinggal oleh teman-teman lain.
Ada orang-orang yang begitu mudah mengusir kesendirian ini dan menemukan banyak aktivitas dan kekawanan baru. Tapi, mungkin lebih banyak yang tidak menyukai kesendirian, karena sepi yang ditimbulkannya.

Namun, pada tulisan ringkas ini, saya ingin menyampaikan pesan yang pernah ditulis oleh Gede Prama, ”bila masih ada orang yang bisa membuat kita bahagia atau menderita, itu tandanya saklar kebahagiaan masih dipegang oleh orang lain.

Saya ingin menafsirkan kalimat di atas dalam konteks kesendirian, bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kesendirian dan merasakan sepinya ruang hati yang kosong, tetapi, tidak perlu mengalami kesengsaraan karenanya, sebab, dia sendirilah pemegang kunci kebahagiaan itu, bukan orang lain.

Monday, January 12, 2009

Menyalip di Tikungan

Menyalip di tikungan merupakan atraksi yang sangat menarik pada sebuah balapan, entah itu untuk roda dua maupun roda empat. Tetapi tentu saja atraksi itu menarik di arena balap, bukan di jalan raya. Di jalan raya biasanya antrian lampu lalu lintas untuk berbelok lebih panjang dari pada mereka yang harus jalan lurus. Dan, kesempatan ini sering dimanfaatkan oleh pengemudi yang tidak sabar dalam antrian panjang untuk mengambil jalur lurus dan ketika lampu menyala hijau, tiba-tiba membelokan kendaraannya. Tentu saja mereka menutup antrian kendaraan lain yang hendak berbelok. Ini juga menyalip di tikungan, tapi, maaf, ini bukan atraksi yang menarik, tapi ini, sekali lagi maaf, adalah bentuk ketidak sopanan di jalanan.
Di lingkungan kerjapun kadang kita temukan hal seperti ini. Ketika harus bersaing dengan kandidat lain, kadang kita terlupa dengan berbagai etika perilaku. Kadang ambisi membutakan kita dengan menutup jalur orang lain untuk menampakkan kinerjanya. Bahkan, kadang kita terlupa dan mengangkat diri kita sendiri dengan berdiri di atas kepala orang lain. Sebenarnya mungkin kita tidak bermaksud untuk menjatuhkan atau merendahkan kandidat lain, tetapi karena keinginan untuk dilihat oleh pengambil keputusan, maka kita berupaya menonjolkan diri, dan cara yang paling mudah untuk menonjol adalah dengan membuat yang lain terlihat merunduk. Menyampaikan ide cemerlang atau jejak sejarah keberhasilan pada atasan kadang memang perlu dilakukan. Tetapi, menambah bumbu laporan dengan kisah kegagalan pihak lain bukanlah sesuatu yang bijaksana.
Seperti katak yang berenang, selalu menjejakkan kaki untuk menekan air. Semoga kita tidak menjadi serupa dengan katak, menjejak kepala teman kita hanya karena sebuah ambisi untuk berkarir lebih tinggi.
Di arena balapan, menyalip di tikungan menjadi daya tarik. Di jalanan, menyalip di tikungan dan menutup jalur kendaraan lain akan membahayakan dan tentu saja mungkin menimbulkan sumpah serapah. Di tempat kerja, menyalip di tikungan dan menutup akses orang lain bukanlah gambaran calon pemimpin yang baik.

Tuesday, December 09, 2008

Gerimis

Kesibukan seringkali membutakan kita pada keindahan kecil yang dianugrahkan Tuhan melalui alam. Ruang kerja yang kebanyakan tak lagi terhubungkan dengan dunia luar menyebabkan kita tak dapat menikmati bagaimana indahnya jarum-jarum gerimis menyeruak di biasan sinar matahari pagi.
Dulu, ada sebuah blog yang seringkali menulis keindahan-keindahan kecil seperti ini dan aku selalu menikmatinya. Tetapi, sahabat maya ini seperti menghilang entah kemana. Hari ini aku mencoba untuk menggambarkan keindahan seperti itu, dengan bahasa ala kadarnya – setidaknya aku mencoba.
Di gerimis pagi, ada jarum-jarum kecil menyeruak biasan sinar matahari. Mendung putih terkadang menyilaukan mata, tetapi ketika kita lelapkan hati kita ke dalamnya, ada ketenangan yang luar biasa, yang membawa rasa tentram. Terkadang muncul pula pelangi melengkung di kaki langit. Hadirnya seolah mewartakan surgawi yang kekal di atas sana. Saat kecil sering diceritakan, pelangi adalah tangga menuju surga, dan malaikat yang penuh kasih turun menyampaikan kebahagiaan tentang sebuah tempat di langit yang berisikan keindahan. Dengan nalar anak berusia empat tahun, aku sangat mempercayainya dan beberapa kali aku bertanya, dimanakah tempat asal pelangi itu? Aku ingin sekali mendakinya.
Setelah gerimis reda, biasanya beberapa serangga mulai aktif. Capung mulai menjelajahi kawat-kawat pagar. Kupu-kupu kecil berwarna kuning akan bergerombol terbang bersama. Burung-burung mulai menampakkan dirinya sambil meregangkan sayap mengibaskan bulunya. Mungkin sekedar menghadirkan kehangatan. Daun-daun meneteskan sisa hujan, satu demi satu, jatuh. Manakala suasana sedang senyap kita bisa mendengarkan suara dan irama tetesan air dari dedaunan yang menyihirkan keabadian. Waktu seolah berhenti.
Pagi ini gerimis. Aku menyempatkan diri menghampiri jendela, memandangi gerimis dan melarutkan diriku menjadi bagian dari kegerimisan itu. Meskipun kali ini pelangi tak hadir, tetapi, sungguh gerimis itu memberi kenyamanan bagi jiwaku.

Monday, December 01, 2008

Lalu Desember...

Berapa Desember yang lalu dalam ingatan? Tak membekas keharuman bumi yang terhiaskan bunga-bunga putih, itu layu tanpa pernah sempat terengkuhkan
Mungkin itu bukan bunga yang putih, karena seandainya putih datang, bukankah kita bisa memandangnya dalam sunyi yang suci?
Hanya sepotong bunga hutan yang dipetik oleh sekumpulan peri di tengah malam, yang kemudian meninggalkannya begitu saja, tanpa pernah berpikir untuk apa dan mengapa.
Lalu Adampun datanglah bersama perempuannya, melihat potongan bunga hutan – apapun namanya, itu lebih suci dari pada tebaran melati yang telah dipegang oleh tangan-tangan kotor dibungkus mantera para dewa.
Ada yang melengkingkan kalimat yang tak henti memukuli gendang di telinga, ”Januari mengeras di tembok itu juga, lalu Desember..”[1]
Entah berapa Desember lagi, mungkin peri itu akan datang nanti malam, mengambil kembali bunga hutannya yang tergeletak – maka ambillah sekarang.
Sembunyikanlah di dalam jiwamu yang paling dalam, karena bunga itu mungkin kelak akan menjadi lebih putih dari kuntuman melati yang ditebar dan diinjak-injak oleh para tamu. Tak akan ada yang pernah tahu.

[1] Sapardi Djoko Damono, Buat Ning, musikalisasi puisi oleh Dua Ibu