Ada yang menggelitik ketika salah satu produk rokok diiklankan dengan tema Yang Muda Yang Tidak Dipercaya. Ketika seseorang yang masih dianggap junior dalam perusahaan dipaksa untuk menggunakan pakaian seorang senior, sekalipun pakaian itu tidak pas, bukankah di situ telah terjadi pemerkosaan hak-hak untuk berpikir dan berkreasi?
Kepercayaan adalah stimulator untuk berkreasi. Tak ada kreasi ketika seseorang tidak dipercaya. Ketika salah satu dari dua orang yang berinteraksi memaksakan kehendaknya, maka itu tak ubahnya dengan tak ada interaksi. Hasil dari proses ini hanyalah ide tunggal dari satu pihak. Tetapi ketika setiap orang membuka diri untuk menerima orang lain dengan pakaiannya masing-masing, maka interaksi yang seperti ini akan menghasilkan ide dengan berbagai warna.
Seperti juga ketika kita menutup diri terhadap interaksi dunia luar, maka kita menjadi serupa dengan katak, yang hanya tahu luasan tempat tinggalnya. Si Katak tak pernah tahu bahwa ada binatang lain di seberang jalan yang besarnya setara dengan seribu katak.
Kekerdilan akan melahirkan kekerdilan, kecuali si kerdil meluaskan pikirannya. Seperti kita selalu berpikir tentang keberadaan empat orang ketika membaca atau mendengar kalimat “dua orang ayah dengan dua orang anaknya.” Dengan pikiran yang sempit ketika bicara dua ditambah dengan dua, maka hasilnya haruslah empat. Pikiran sempit ini ditanamkan oleh lingkungan sejak kecil dan mengendap di benak kita, tanpa sadar membentuk kekerdilan berpikir. Pernahkah terlintas oleh kita bahwa dua orang ayah dengan dua orang anak bisa jadi hanya terdiri dari tiga orang, yaitu kakek, bapak, dan anak?
Kekerdilan berpikir muncul ketika kita sebagai orang yang merasa lebih tua memaksakan pemikiran kita kepada orang lain yang kita anggap lebih muda. Senioritas seringkali memunculkan kesombongan, seolah hanya kita yang senior yang benar. Seseorang tak akan mampu menjadi pemimpin yang baik bila tidak pernah dipercaya untuk memimpin.
Iklan tadi boleh jadi merupakan sindiran bagi kita, yang sering kali menggunakan norma-norma dan ukuran kita untuk menilai orang lain. Mengatakan sesuatu sebagai benar atau salah dengan ukuran yang tidak baku seperti selera. Lagu yang tidak sesuai dengan selera dikatakan salah atau jelek. Staf yang mengetik sambil mendengar musik dianggap tidak bekerja dengan benar tanpa melihat hasil kerjanya. Staf yang berpikir dengan cara berbeda dianggap tidak dewasa tanpa melihat bagaimana staf ini menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tugas seorang pemimpin adalah menyiapkan pengganti. Masalahnya adalah bukan pada sudah siapkah pengganti kita, tetapi, sudah siapkah kita untuk digantikan. Pikiran yang sempit selalu mengatakan bahwa pengganti kita belum siap, tetapi kita sering lupa dengan pertanyaan apakah kita sudah siap untuk digantikan.
Thursday, June 21, 2007
Tuesday, June 05, 2007
Tentang Kebenaran
Ketika negeri binatang dilanda bencana, semua mengungsikan diri. Kura-kura adalah mahluk yang paling lambat, sehingga jiwanya menjadi sangat terancam. Beruntung, terdapat burung yang masih ingat akan kasih dan kebaikan.
“Kau akan kubawa terbang, tetapi aku harus menggigitmu dengan paruhku sepanjang perjalanan agar kau tak jatuh.”
“Oh... tidak, aku telah diajari ilmu manajemen risiko. Apa yang bisa memastikan aku bahwa engkau tidak akan membuka paruhmu saat perjalanan? Kalau kau lakukan itu sekali saja, aku pasti jatuh.”
“Well, terserahlah, aku hanya ingin berbuat baik, tapi, memang tidak semua mahluk percaya adanya kebaikan. Bukankah begitu? Nampaknya engkaupun tak percaya pada niat baikku.”
Oh... teman, engkau tak perlu tersinggung, aku hanya menjalankan prinsip kehati-hatian. Aku punya ide, bagaimana kalau aku yang menggigit kakimu selama perjalanan.”
“Tak masalah, meskipun itu mungkin membuat kakiku sakit, tapi aku ingin menolongmu, berbuat kebaikan bagi sesama mahlukNya. Ayo, gigitlah kakiku, Ingat jangan kau lepas gigitan ini selama kita terbang.”
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan burung lain yang terkagum-kagum dengan ide cemerlang tentang penyelamatan kura-kura.
“Hai burung sahabatku, engkau sungguh mulia. Perbuatanmu menunjukkan kasihmu pada sesama umatNya. Idemu sangat cemerlang. Aku akan mencoba mengikuti jejakmu mencari kura-kura lain.” Sang burung menyapa mereka.
Kura-kura merasa sangat tersinggung, bukankah menggigit kaki burung adalah idenya? Mengapa si burung yang dipuji. Egonya mendorong untuk menyuarakan kebenaran.
“Hai bur........”
Kalimatnya tak terselesaikan, yang ada hanyalah ketakutan melayang dari ketinggian........
Kala kita menyatakan kebenaran, apakah yang mendorongnya? Ego untuk aktualisasi diri, ataukah murni mewartakan tugas kita sebagai umatNya? Dalam banyak hal, hanya ada batasan yang sangat tipis antara ego dengan tugas hidup kita. Ketika kita meneriakkan tentang betapa buruknya pemerintah menangani tranpostasi dengan lalu lintas kota yang selalu macet, apakah kita bicara tentang puluhan juta jiwa lainnya yang mungkin harus berjalan kaki di tengah jalan setapak yang licin untuk menuju sekolahnya? Atau kita sekedar berteriak betapa tidak nyamannya lalu lintas yang macet ini, meskipun kita duduk di sebuah mobil berpendingin udara dengan musik lembut yang tak berhenti?
Ketika kita bicara tentang pemerintahan yang bersih dan berwibawa, apakah kita berpikir tentang pemimpin dari lebih dari 200 juta umat manusia dengan segala penderitaannya, atau kita bicara tentang peluang pribadi untuk turut merasakan nikmatnya kursi kepemimpinan?
Ketika kita bicara tentang hak-hak masyarakat sipil dan kebebasan berbicara, apakah kita bicara tentang pembungkaman lebih dari 200 juta jiwa yang tertekan, atau kita bicara tentang peluang bisnis?
Ketika engkau menerangi dunia, apakah karena engkau ingin setiap manusia memperoleh cahayaNya, atau alam bawah sadarmu menginginkan agar setiap orang melihatmu sebagai gembala yang memiliki dan mampu memberikan terang? Apa bedanya? Yang pertama menggambarkan ilahiah sebagai pusat dari gerakanmu, sedangkan yang kedua menggambarkan engkau memanfaatkan ilahiah sebagai pemuas nafsumu.
“Kau akan kubawa terbang, tetapi aku harus menggigitmu dengan paruhku sepanjang perjalanan agar kau tak jatuh.”
“Oh... tidak, aku telah diajari ilmu manajemen risiko. Apa yang bisa memastikan aku bahwa engkau tidak akan membuka paruhmu saat perjalanan? Kalau kau lakukan itu sekali saja, aku pasti jatuh.”
“Well, terserahlah, aku hanya ingin berbuat baik, tapi, memang tidak semua mahluk percaya adanya kebaikan. Bukankah begitu? Nampaknya engkaupun tak percaya pada niat baikku.”
Oh... teman, engkau tak perlu tersinggung, aku hanya menjalankan prinsip kehati-hatian. Aku punya ide, bagaimana kalau aku yang menggigit kakimu selama perjalanan.”
“Tak masalah, meskipun itu mungkin membuat kakiku sakit, tapi aku ingin menolongmu, berbuat kebaikan bagi sesama mahlukNya. Ayo, gigitlah kakiku, Ingat jangan kau lepas gigitan ini selama kita terbang.”
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan burung lain yang terkagum-kagum dengan ide cemerlang tentang penyelamatan kura-kura.
“Hai burung sahabatku, engkau sungguh mulia. Perbuatanmu menunjukkan kasihmu pada sesama umatNya. Idemu sangat cemerlang. Aku akan mencoba mengikuti jejakmu mencari kura-kura lain.” Sang burung menyapa mereka.
Kura-kura merasa sangat tersinggung, bukankah menggigit kaki burung adalah idenya? Mengapa si burung yang dipuji. Egonya mendorong untuk menyuarakan kebenaran.
“Hai bur........”
Kalimatnya tak terselesaikan, yang ada hanyalah ketakutan melayang dari ketinggian........
Kala kita menyatakan kebenaran, apakah yang mendorongnya? Ego untuk aktualisasi diri, ataukah murni mewartakan tugas kita sebagai umatNya? Dalam banyak hal, hanya ada batasan yang sangat tipis antara ego dengan tugas hidup kita. Ketika kita meneriakkan tentang betapa buruknya pemerintah menangani tranpostasi dengan lalu lintas kota yang selalu macet, apakah kita bicara tentang puluhan juta jiwa lainnya yang mungkin harus berjalan kaki di tengah jalan setapak yang licin untuk menuju sekolahnya? Atau kita sekedar berteriak betapa tidak nyamannya lalu lintas yang macet ini, meskipun kita duduk di sebuah mobil berpendingin udara dengan musik lembut yang tak berhenti?
Ketika kita bicara tentang pemerintahan yang bersih dan berwibawa, apakah kita berpikir tentang pemimpin dari lebih dari 200 juta umat manusia dengan segala penderitaannya, atau kita bicara tentang peluang pribadi untuk turut merasakan nikmatnya kursi kepemimpinan?
Ketika kita bicara tentang hak-hak masyarakat sipil dan kebebasan berbicara, apakah kita bicara tentang pembungkaman lebih dari 200 juta jiwa yang tertekan, atau kita bicara tentang peluang bisnis?
Ketika engkau menerangi dunia, apakah karena engkau ingin setiap manusia memperoleh cahayaNya, atau alam bawah sadarmu menginginkan agar setiap orang melihatmu sebagai gembala yang memiliki dan mampu memberikan terang? Apa bedanya? Yang pertama menggambarkan ilahiah sebagai pusat dari gerakanmu, sedangkan yang kedua menggambarkan engkau memanfaatkan ilahiah sebagai pemuas nafsumu.
Friday, March 30, 2007
Stiglitz
Apakah yang ada dalam pikiran Joseph Stiglitz ketika mengatakan bahwa globalisasi tidak berpihak pada kaum miskin? Laporan Bank Dunia menunjukkan, tahun 1990 jumlah penduduk dunia yang hidup hanya dengan uang di bawah $2 per hari sebanyak 2,718 milyar orang dan bertambah menjadi 2,801 milyar orang pada tahun 1998. Angka ini menunjukkan dengan jelas bahwa tata ekonomi kapitalis yang saat ini diagungkan sebagai penyelesaian masalah kesejateraan dengan selogan tentang efisiensi dan efektivitas sebuah pasar yang bebas tidaklah menyelesaikan masalah distribusi pendapatan.
Kalau kita ingin sedikit matematis dan sedikit berupaya mencari data, kita dapat menghitung persentase jumlah penduduk Indonesia yang menikmati 20% pendapatan. Saya akan meletakkan taruhan saya pada angka di bawah 20% [koreksi: harusnya di atas 80% , Mei 2007]. Artinya, 80% penduduk hanya menikmati 20% dari kue yang ada. Bagaimana kelompok ini dapat bangkit dan bersaing? Bagaimana industri kecil dapat hidup kalau daya beli masyarakat kecil?
Saya ingin mengutip Stiglitz:
"Apa yang dibutuhkan adalah kebijakan-kebijakan untuk pertumbuhan yang terus menerus, merata, dan demokratis. Inilah alasan adanya pembangunan. Pembangunan bukan hanya membantu beberapa orang menjadi kaya atau menciptakan banyak industri tak bermanfaat yang dilindungi yang hanya menguntungkan kalangan elit di negara tersebut. Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan. Bisa membeli tas Gucci di sebuah tempat belanja di Moskow bukan berarti bahwa negara itu telah menjadi suatu ekonomi pasar. Pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil, dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan ......”
Stiglitz sangat benar, dan kita mungkin hanya terperangah ketika melihat keserakahan kita untuk menjadi konsumen barang-barang berkelas dan mahal. Kita menjadi bingung ketika seorang pejabat negara menyimpan uang di dalam ember di kamar mandi. Kita menjadi sedih, ketika melihat anak-anak yang terpinggirkan tanpa kesempatan untuk mewujudkan masa depannya.
Dan akhirnya kita menjadi bingung harus dimulai dari mana.
Kalau kita ingin sedikit matematis dan sedikit berupaya mencari data, kita dapat menghitung persentase jumlah penduduk Indonesia yang menikmati 20% pendapatan. Saya akan meletakkan taruhan saya pada angka di bawah 20% [koreksi: harusnya di atas 80% , Mei 2007]. Artinya, 80% penduduk hanya menikmati 20% dari kue yang ada. Bagaimana kelompok ini dapat bangkit dan bersaing? Bagaimana industri kecil dapat hidup kalau daya beli masyarakat kecil?
Saya ingin mengutip Stiglitz:
"Apa yang dibutuhkan adalah kebijakan-kebijakan untuk pertumbuhan yang terus menerus, merata, dan demokratis. Inilah alasan adanya pembangunan. Pembangunan bukan hanya membantu beberapa orang menjadi kaya atau menciptakan banyak industri tak bermanfaat yang dilindungi yang hanya menguntungkan kalangan elit di negara tersebut. Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan. Bisa membeli tas Gucci di sebuah tempat belanja di Moskow bukan berarti bahwa negara itu telah menjadi suatu ekonomi pasar. Pembangunan adalah tentang bagaimana mentransformasi masyarakat, meningkatkan kehidupan kaum miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar berhasil, dan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan ......”
Stiglitz sangat benar, dan kita mungkin hanya terperangah ketika melihat keserakahan kita untuk menjadi konsumen barang-barang berkelas dan mahal. Kita menjadi bingung ketika seorang pejabat negara menyimpan uang di dalam ember di kamar mandi. Kita menjadi sedih, ketika melihat anak-anak yang terpinggirkan tanpa kesempatan untuk mewujudkan masa depannya.
Dan akhirnya kita menjadi bingung harus dimulai dari mana.
Friday, March 02, 2007
Kupu-kupu pagi
Keindahan seringkali memang terabaikan begitu saja.
Saturday, February 10, 2007
Tentang Kesepian
Hari ini sekali lagi seorang teman berkata, bahwa dirinya baru saja merasakan kehilangan. Perasaannya menjadi sangat sensitif.
Ah, mengapa selalu seperti ini? Siapapun pernah kehilangan. Siapapun pernah merasakan sangat sensitif. Kadang kita merasakan kesendirian, yang sangat membuat kita sedih. Rasa tersingkirkan. Perasaan telah menjadi orang yang kalah. Perasaan menjadi orang yang tak berguna.
Akan selalu begitu, selama manusia punya perasaan, cerita seperti ini tak akan pernah hilang. Pada tingkat kehidupan seperti saat ini, ketika hidup manusia sudah tidak lagi sekedar mempertahankan hidup dan kelangsungan generasi, maka yang bicara adalah kebutuhan hati. Maslow mungkin benar ketika menyajikan teori hirarki kebutuhan, tetapi teori itu harus dipahami dalam konteks yang sangat luas. Basic need muncul ketika kehidupan manusia masih dalam tataran mempertahankan generasinya. Ketika manusia berburu hanya untuk makan. Tetapi, pada saat itupun sebenarnya manusia telah berpikir tentang status sosial, siapa yang terkuat, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang boleh menikmati fasilitas yang lebih dibandingkan anggota kelompok. Bahkan pada tataran kehidupan yang lebih rendah lagi, kelompok hewan, merekapun mengenal status sosial. Pada kelompok unggas, pejantan yang memiliki warna bulu terbaik, penjantan yang memenangkan pertarungan dengan pejantan lainnya, pejantan yang mampu membangun sangkar lebih baik dari lainnya berhak untuk memperoleh induk yang paling subur. Semua ini adalah cerita tentang naluri untuk mempertahankan kelangsungan generasi. Yang terbaik, yang terkuat akan bertahan. Bibit yang lemah akan tersingkir.
Arti dari semua ini adalah, kebutuhan sosial tak akan hilang dari kehidupan karena merupakan salah satu naluri mahkluk hidup untuk mempertahankan generasinya. Selama kebutuhan sosial itu ada, maka rasa kalah, kesepian, tersingkirkan dan sebagainya akan selalu ada. Menjadi pihak yang kalah, kesepian, tersingkirkan adalah sebuah keniscayaan, karena itu adalah hukum alam. Masalahnya adalah bagaimana kita mengubah setiap perasaan tidak nyaman tersebut menjadi cambuk untuk memperbaiki diri.
(Untuk seorang teman, yang kali ini sedang bersedih dan merasa sangat sensitif)
Ah, mengapa selalu seperti ini? Siapapun pernah kehilangan. Siapapun pernah merasakan sangat sensitif. Kadang kita merasakan kesendirian, yang sangat membuat kita sedih. Rasa tersingkirkan. Perasaan telah menjadi orang yang kalah. Perasaan menjadi orang yang tak berguna.
Akan selalu begitu, selama manusia punya perasaan, cerita seperti ini tak akan pernah hilang. Pada tingkat kehidupan seperti saat ini, ketika hidup manusia sudah tidak lagi sekedar mempertahankan hidup dan kelangsungan generasi, maka yang bicara adalah kebutuhan hati. Maslow mungkin benar ketika menyajikan teori hirarki kebutuhan, tetapi teori itu harus dipahami dalam konteks yang sangat luas. Basic need muncul ketika kehidupan manusia masih dalam tataran mempertahankan generasinya. Ketika manusia berburu hanya untuk makan. Tetapi, pada saat itupun sebenarnya manusia telah berpikir tentang status sosial, siapa yang terkuat, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang boleh menikmati fasilitas yang lebih dibandingkan anggota kelompok. Bahkan pada tataran kehidupan yang lebih rendah lagi, kelompok hewan, merekapun mengenal status sosial. Pada kelompok unggas, pejantan yang memiliki warna bulu terbaik, penjantan yang memenangkan pertarungan dengan pejantan lainnya, pejantan yang mampu membangun sangkar lebih baik dari lainnya berhak untuk memperoleh induk yang paling subur. Semua ini adalah cerita tentang naluri untuk mempertahankan kelangsungan generasi. Yang terbaik, yang terkuat akan bertahan. Bibit yang lemah akan tersingkir.
Arti dari semua ini adalah, kebutuhan sosial tak akan hilang dari kehidupan karena merupakan salah satu naluri mahkluk hidup untuk mempertahankan generasinya. Selama kebutuhan sosial itu ada, maka rasa kalah, kesepian, tersingkirkan dan sebagainya akan selalu ada. Menjadi pihak yang kalah, kesepian, tersingkirkan adalah sebuah keniscayaan, karena itu adalah hukum alam. Masalahnya adalah bagaimana kita mengubah setiap perasaan tidak nyaman tersebut menjadi cambuk untuk memperbaiki diri.
(Untuk seorang teman, yang kali ini sedang bersedih dan merasa sangat sensitif)
Tuesday, October 31, 2006
Kedatangan dan Kepergian
Seorang teman sedang menikmati masa-masa penuh keajaiban sebagai seorang ibu yang menantikan kelahiran putra kedua.
Kebanyakan kita menyambut setiap kedatangan dengan kebahagiaan dan menangisi setiap perpisahan. Bagaimanapun, kehidupan di dunia tak dapat lepas dari dua sisi yang selalu bertentangan. Kedatangan - kepergian, malam - siang, terang - gelap, susah - senang, panas - dingin dan seterusnya. Secara matematis, apabila seluruh yang ada didunia ini dijumlahkan, maka kita akan mendapatkan angka nol. Itulah titik keseimbangan. Orang-orang ekonomi mengatakan, manusia akan selalu menambah "kekayaannya" selama tambahan itu masih memberikan manfaat, dengan sedikit bahasa teknis, orang yang haus akan terus minum sampai marginal utility dari air yang diminum itu sama dengan nol. Artinya dia berhenti minum ketika tidak merasakan tambahan manfaat lagi.
Titik nol adalah hakekat kehidupan. Ketika manusia merasa tidak menjadi apa-apa, ketika manusia menghilangkan "akunya" dan menjadikan dirinya sebagai "Aku", yaitu wujud fisik keberadaan Sang Pencipta di atas dunia, maka disitulah hakekat.
Datang dan pergi tak dapat lepas dari hidup manusia, seperti juga tawa dan tangis serta gembira dan sedih. Tetapi menjadi terlalu gembira menyebabkan kita lupa akan adanya sedih. Menjadi terlalu sedih menyebabkan kita lupa akan kegembiraan.
Sambutlah setiap kedatangan seperti itu pula kita menyiapkan setiap kepergian.
Kebanyakan kita menyambut setiap kedatangan dengan kebahagiaan dan menangisi setiap perpisahan. Bagaimanapun, kehidupan di dunia tak dapat lepas dari dua sisi yang selalu bertentangan. Kedatangan - kepergian, malam - siang, terang - gelap, susah - senang, panas - dingin dan seterusnya. Secara matematis, apabila seluruh yang ada didunia ini dijumlahkan, maka kita akan mendapatkan angka nol. Itulah titik keseimbangan. Orang-orang ekonomi mengatakan, manusia akan selalu menambah "kekayaannya" selama tambahan itu masih memberikan manfaat, dengan sedikit bahasa teknis, orang yang haus akan terus minum sampai marginal utility dari air yang diminum itu sama dengan nol. Artinya dia berhenti minum ketika tidak merasakan tambahan manfaat lagi.
Titik nol adalah hakekat kehidupan. Ketika manusia merasa tidak menjadi apa-apa, ketika manusia menghilangkan "akunya" dan menjadikan dirinya sebagai "Aku", yaitu wujud fisik keberadaan Sang Pencipta di atas dunia, maka disitulah hakekat.
Datang dan pergi tak dapat lepas dari hidup manusia, seperti juga tawa dan tangis serta gembira dan sedih. Tetapi menjadi terlalu gembira menyebabkan kita lupa akan adanya sedih. Menjadi terlalu sedih menyebabkan kita lupa akan kegembiraan.
Sambutlah setiap kedatangan seperti itu pula kita menyiapkan setiap kepergian.
Wednesday, September 13, 2006
Negeri Angin
Ini adalah sebuah cerita tentang negeri angin. Lebih tepatnya, ini hanyalah sebuah omong kosong yang muncul dari kegelisahan. Tak ada arti apapun dalam cerita ini, kecuali pembaca ingin memberikan arti sendiri.
Ini bulan ke enam sejak pengembaraannya di negeri angin dimulai. Negeri angin adalah negeri yang tiada terlihat, tapi terasakan. Tiada bunyi yang terdengarkan, kecuali angin yang menembus dari balik sunyi keca jendela hati[1]. Ini bulan keenam pengembaraannya di negeri angin. Dia jadi ingat negeri-negeri lain tempat dia pernah mengembara. Negeri abu-abu. Tempat semuanya tanpa warna untungnya adalah seorang penyihir si cemerlang yang menemukan kristal kacanya, sehingga cahaya yang selama ini nampak abu-abu berhasil dipendarkan menjadi warna-warna serupa pelangi yang kita kenal saat ini[2]. Dia pernah juga mengunjungi negeri senja dengan kereta yang berangkat penuh orang, tetapi selalu kembali kosong [3]. Dia tidak tahu, bagaimana caranya, ketika tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah tidak lagi berada di negeri senja. Harusnya setelah negeri senja, dia berada di negeri malam, tapi tidak. Saat tertidur di negeri senja, ketika bangun, dia telah berada di negeri asalnya. Sebuah negeri yang aman dan damai, pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa.[4]
Ke negeri angin, enam bulan yang lalu dia menguatkan tekadnya. Dia tak perlu berpamitan pada anak-anaknya, karena memang belum memiliki anak. Dia juga tidak perlu berpamitan dengan suaminya, karena memang belum juga memiliki suami. Satu-satunya tempat dia harus pamit adalah pada kehidupannya sendiri. Kehidupan yang sangat mapan, dengan status profesional muda dan karir yang sangat baik. Berpamitan pada kehidupannya yang memberikan gaji tak berhingga dan beberapa mobil mewah dan tentu saja sebuah tempat tinggal yang super asri. Ke negeri Angin. Dia ingin melarikan diri dari kehidupan yang mapan. Seperti juga pada saat dia mengunjungi negeri abu-abu, atau menuju negeri senja. Tadinya dia ingin menuju negeri di awan. Ide negeri di awan muncul ketika dia mendengar sebuah kata-kata puitis dari seorang penyanyi, “Kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan”[5]. Tapi dia berubah pikiran karena negeri di awan terlalu dekat dengan tanah yang dipijaknya. Tentu saja teman-temannya akan menemuinya pada saat mereka terbang di pesawat.
“Negeri di awan terlalu dekat”, pikirnya. “Aku memerlukan sesuatu yang baru, sesuatu yang jauh dari kehidupanku saat ini. Nampaknya negeri angin paling cocok”.
Bulan ke enam dia di negeri angin. Tempat yang hanya dapat dirasakan, tetapi tak dapat dilihat. Tempat yang di dalamnya tanpa bunyi, kecuali desir angin.
“Inikah mimpiku?” Dia merenungi enam bulan yang berlalu.
“Mimpi yang didorong oleh kebosanan dan kemuakan melihat negeri dunia.”
Di negeri angin, dia tidak melihat apapun, tetapi merasakannya. Dia merasakan kehadiran orang-orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Dia merasakan kenyamanan yang tak pernah terasakan sebelumnya.
“Inilah tempatku berlabuh....”
[1] Sunyi Kaca Jendela, kalau tidak salah puisi Gunawan Mohamad.
[2] Lihat Belgeduel si Cemerlang, sebuah buku dongeng anak-anak yang penuh fantasi dan edukasi..
[3] Seno Gumira, Negeri Senja.
[4] Rayuan Pulau Kelapa, masih adakah anak sekolah dasar yang dapat menngingat dengan baik lagu ini? Kalau ada, berarti kita telah mengajarkan kebohongan. Membuai anak bangsa dengan mimpi indah. Bukankah sekarang tak ada lagi pulau kelapa yang subur, karena penggundulan hutan telah memicu banjir. Banjir telah mengikis habis bagian subur yang ada di permukaan tanah.
[5] Katon Bagaskara, Negeri di Awan”
Ini bulan ke enam sejak pengembaraannya di negeri angin dimulai. Negeri angin adalah negeri yang tiada terlihat, tapi terasakan. Tiada bunyi yang terdengarkan, kecuali angin yang menembus dari balik sunyi keca jendela hati[1]. Ini bulan keenam pengembaraannya di negeri angin. Dia jadi ingat negeri-negeri lain tempat dia pernah mengembara. Negeri abu-abu. Tempat semuanya tanpa warna untungnya adalah seorang penyihir si cemerlang yang menemukan kristal kacanya, sehingga cahaya yang selama ini nampak abu-abu berhasil dipendarkan menjadi warna-warna serupa pelangi yang kita kenal saat ini[2]. Dia pernah juga mengunjungi negeri senja dengan kereta yang berangkat penuh orang, tetapi selalu kembali kosong [3]. Dia tidak tahu, bagaimana caranya, ketika tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah tidak lagi berada di negeri senja. Harusnya setelah negeri senja, dia berada di negeri malam, tapi tidak. Saat tertidur di negeri senja, ketika bangun, dia telah berada di negeri asalnya. Sebuah negeri yang aman dan damai, pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa.[4]
Ke negeri angin, enam bulan yang lalu dia menguatkan tekadnya. Dia tak perlu berpamitan pada anak-anaknya, karena memang belum memiliki anak. Dia juga tidak perlu berpamitan dengan suaminya, karena memang belum juga memiliki suami. Satu-satunya tempat dia harus pamit adalah pada kehidupannya sendiri. Kehidupan yang sangat mapan, dengan status profesional muda dan karir yang sangat baik. Berpamitan pada kehidupannya yang memberikan gaji tak berhingga dan beberapa mobil mewah dan tentu saja sebuah tempat tinggal yang super asri. Ke negeri Angin. Dia ingin melarikan diri dari kehidupan yang mapan. Seperti juga pada saat dia mengunjungi negeri abu-abu, atau menuju negeri senja. Tadinya dia ingin menuju negeri di awan. Ide negeri di awan muncul ketika dia mendengar sebuah kata-kata puitis dari seorang penyanyi, “Kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan”[5]. Tapi dia berubah pikiran karena negeri di awan terlalu dekat dengan tanah yang dipijaknya. Tentu saja teman-temannya akan menemuinya pada saat mereka terbang di pesawat.
“Negeri di awan terlalu dekat”, pikirnya. “Aku memerlukan sesuatu yang baru, sesuatu yang jauh dari kehidupanku saat ini. Nampaknya negeri angin paling cocok”.
Bulan ke enam dia di negeri angin. Tempat yang hanya dapat dirasakan, tetapi tak dapat dilihat. Tempat yang di dalamnya tanpa bunyi, kecuali desir angin.
“Inikah mimpiku?” Dia merenungi enam bulan yang berlalu.
“Mimpi yang didorong oleh kebosanan dan kemuakan melihat negeri dunia.”
Di negeri angin, dia tidak melihat apapun, tetapi merasakannya. Dia merasakan kehadiran orang-orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Dia merasakan kenyamanan yang tak pernah terasakan sebelumnya.
“Inilah tempatku berlabuh....”
[1] Sunyi Kaca Jendela, kalau tidak salah puisi Gunawan Mohamad.
[2] Lihat Belgeduel si Cemerlang, sebuah buku dongeng anak-anak yang penuh fantasi dan edukasi..
[3] Seno Gumira, Negeri Senja.
[4] Rayuan Pulau Kelapa, masih adakah anak sekolah dasar yang dapat menngingat dengan baik lagu ini? Kalau ada, berarti kita telah mengajarkan kebohongan. Membuai anak bangsa dengan mimpi indah. Bukankah sekarang tak ada lagi pulau kelapa yang subur, karena penggundulan hutan telah memicu banjir. Banjir telah mengikis habis bagian subur yang ada di permukaan tanah.
[5] Katon Bagaskara, Negeri di Awan”
Perubahan
Ada nada yang sedih, ketika seseorang mengatakan temannya telah berubah.
Ah, mengapa kita takut akan perubahan? Bukankah perubahan itu jadi bagian dari keseharian kita. Apakah yang tidak berubah? Bukankah setiap kemajuan yang kita nikmati saat ini merupakan buah dari perubahan (demikian pula dengan kemunduran yang terjadi). Dahulu, manusia tidak mengenal penyakit kanker, tetapi kemajuan ilmu pengetahun mengubah pengetahuan kita tentang penyakit.
Apakah hati juga mengalami perubahan? Ada waktunya, ketika kita harus membuat jarak untuk melihat sesuatu dengan lebih utuh. Ada waktu lain, ketika kita mendekatkan jarak, untuk melihat detail dengan lebih jelas. Itukah perubahan? Bila memang demikian, bukankah kita akan melihat perubahan itu sebagai sumber pemikiran, sumber inspirasi, dan sumber dalam proses kreatif.
Apakah yang kita takutkan dari perubahan? Banyak hal menakutkan dari perubahan, tetapi semua bermula dari satu titik ketakutan manusia yang paling dasar, takut kehilangan. Perubahan membuat kita taku kehilangan lingkungan yang kita telah sangat menyatu di dalamnya. Perubahan juga membawa ketakutan akan hilangnya teman-teman dan rasa nyaman yang dinikmati selama ini. Perubahan mengharuskan kita menyesuaikan diri untuk hal-hal baru, yang tentu saja tidak mudah.
Mungkin (sekali lagi mungkin), hidup akan terasa lebih nyaman bila perubahan berhenti mengalir pada saat kita merasakan keindahannya.
(Tapi bukankah itu akan menimbulkan kebosanan?)
(Untuk seorang teman yang sedang merasakan adanya perubahan)
Ah, mengapa kita takut akan perubahan? Bukankah perubahan itu jadi bagian dari keseharian kita. Apakah yang tidak berubah? Bukankah setiap kemajuan yang kita nikmati saat ini merupakan buah dari perubahan (demikian pula dengan kemunduran yang terjadi). Dahulu, manusia tidak mengenal penyakit kanker, tetapi kemajuan ilmu pengetahun mengubah pengetahuan kita tentang penyakit.
Apakah hati juga mengalami perubahan? Ada waktunya, ketika kita harus membuat jarak untuk melihat sesuatu dengan lebih utuh. Ada waktu lain, ketika kita mendekatkan jarak, untuk melihat detail dengan lebih jelas. Itukah perubahan? Bila memang demikian, bukankah kita akan melihat perubahan itu sebagai sumber pemikiran, sumber inspirasi, dan sumber dalam proses kreatif.
Apakah yang kita takutkan dari perubahan? Banyak hal menakutkan dari perubahan, tetapi semua bermula dari satu titik ketakutan manusia yang paling dasar, takut kehilangan. Perubahan membuat kita taku kehilangan lingkungan yang kita telah sangat menyatu di dalamnya. Perubahan juga membawa ketakutan akan hilangnya teman-teman dan rasa nyaman yang dinikmati selama ini. Perubahan mengharuskan kita menyesuaikan diri untuk hal-hal baru, yang tentu saja tidak mudah.
Mungkin (sekali lagi mungkin), hidup akan terasa lebih nyaman bila perubahan berhenti mengalir pada saat kita merasakan keindahannya.
(Tapi bukankah itu akan menimbulkan kebosanan?)
(Untuk seorang teman yang sedang merasakan adanya perubahan)
Friday, August 25, 2006
Pencarian

Hari ini gelisah
Mungkin pagi tak hendak memberikan matahari pada kita. Mungkin matahari tak hendak memberikan hangat. Tak ada yang tahu
Keluhan yang membosankan muncul di setiap pagi, "pekerjaan menumpuk, waktu yang segera lalu"
"Selamat Ulang tahun..." serangkaian mawar itu dikirim oleh seorang teman (mungkin juga lawan), yang tak menerakan seberkas jejakpun. Itu hanya sebuah ritual tentang tanggal kelahiran dari jalan kehidupan yang tak pernah jelas.
Ada kebahagiaan , yang hadir dari telepon dan pesan pendek. Setidaknya aku masih punya teman yang peduli
Wednesday, August 02, 2006
Orientasi
Ketika masuk dalam suatu lingkungan baru, seseorang diperkenalkan pada lingkungannya. Seperti orang tua mengenalkan lingkungan pada anaknya yang baru menjadi penghuni dunia. Di tempat kerja, pegawai baru mengalami masa orientasi dengan waktu yang bervariasi mulai dari 3 hari, ada yang sampai 6 bulan bahkan lebih. Memasuki sekolahpun demikian.Yang paling sering menjadi berita adalah orientasi yang dilakukan untuk memasuk dunia pendidikan lanjutan (SLTA) serta orientasi untuk menjadi siswa yang maha (bukan siswa biasa).

Seringkali jatuh korban, karena "gemblengan" senior. Senior beralasan, seorang yang akan menjasi siswa yang maha, harus berbeda dengan siswa yang biasa. Harus pandai mengambil keputusan dalam kondisi terdesak (sehingga ada tugas yang tidak masuk akal, seperti mencari 7 jenis serangga berikut nama-namanya dalam waktu satu malam ...., sangat luar biasa). Siswa yang tidak mampu dianggap belum memiliki mental siswa yang maha, sehingga harus di"didik" (baca: didikan melalui hukuman yang menimbulkan derita fisik).
Saya sendiri termasuk beruntung, karena satu-satunya orientasi yang menyulitkan hanyalah mencari tanda tangan guru dan senior saat masuk SLTA. Ketika hendak menjadi siswa yang maha, era orientasi diganti dengan kuliah Pancasila dengan pola 100 jam. Tak ada derita fisik, kecuali duduk mengantuk dan bosan.
Pertanyaannya adalah, apakah orientasi yang hanya beberapa hari tersebut akan mampu membentuk mental seorang siswa yang biasa menjadi siswa yang maha? Kalau seperti itu, bukankah hidup ini menjadi teramat mudah? Ada yang salah dengan kita, yang telah membiarkan pemahaman ini. Ketika kita dibiasakan dengan sesuatu yang instan dan sekejap, ketika kita tak lagi menilai proses sebagai bagian dari prestasi maka kita telah menjadi manusia yang tidak memiliki kemanusiaan.
Friday, July 28, 2006
Air

Masuru Emoto, mungkin termasuk orang yang aneh, ketika beride meneliti air dan pola kristalnya. Apakah air menyembuhkan? Apakah kata-kata dan tulisan mempengaruhi air? Apakah musik mempengaruhi air?
Ketika kita memandang air sebagai pemuas hasrat dahaga, dan ketika biaya yang kita keluarkan untuk tagihan akan air yang berkualitas makin hari makin membengkak, maka kita melihat air sebagai barang ekonomi. Saat pertama kali memahami pelajaran ekonomi puluhan tahun yang lalu, air termasuk kelompok barang bebas, yang dapat diperoleh di mana-mana. Air bersih tersedia dari berbagai sumber, termasuk sumur. Tetapi, tidak untuk saat ini.
Kembali pada Emoto (The True Power of Water atau The secret life of Water), saya tidak sepenuhnya percaya, bahwa air dapat dipengaruhi oleh kata-kata atau musik. Tetapi, saya percaya bahwa kehidupan bermula dari air. Kota-kota awal bertumbuh di tepi sungai. Tubuh manusia lebih banyak airnya dari pada unsur lain. Air menyapu kekotoran. Tanaman menjadi layu tanpa air. Sehingga saya percaya bahwa air yang sehat dapat menyembuhkan penyakit. Karena, penyakit manusia, seringkali berasal dari keserakahan, yang menimbulkan kekotoran dalam jiwa (dan tentu saja raga yang ditempatinya). Untuk itu, kita memerlukan "air" yang akan membersihkan jiwa (dan raga) sebagai penyembuhan dari sumber penyakit.
Thursday, July 27, 2006
Wednesday, April 26, 2006
Mpu Djeno

Seorang Mpu masih berkarya, di usia senjanya. Menempa besi, mempertahankan semangat mencipta.
Setidaknya, kita dapat bercermin pada loyalitas profesi, semangat berkarya, dan semangat menyiapkan generasi pengganti.(terima kasih kepada Edial Rusli, yang dengan dedikasinya pula telah menghasilkan foto-foto ini)
Saturday, March 04, 2006
Daun Berserakan
Seorang teman mengirimkan paket "Daun Berserakan", buku yang ditulis oleh Palgunadi T. Setyawan. Teman ini seperti mengingatkan, betapa tidak pedulinya kita dengan apa yang kita alami.
Seperti dalam keseharian hidup kita yang selalu melewati daun-daun berserakan (dan kita tidak pernah peduli dengan daun itu-kecuali untuk segera menyapunya), demikian pula peristiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan sering kali hanya sebagai daun-daun berserakan yang tak pernah kita pedulikan untuk mengambil manfaat darinya.
Seorang ayah menyerahkan anaknya kepada siapa saja yang mau merawatnya karena ayah tak mampu lagi untuk menghidupi anak, anak sekolah dasar mencoba bunuh diri karena malu belum membayar biaya sekolah, dan seribu informasi menyedihkan lain. Seperti melalui padang yang penuh daun berserakan, semua informasi tersebut masuk dan keluar begitu saja dalam pemikiran kita.
Padahal, bila kita ingin sedikit saja memikirkan segalanya dengan lebih sungguh-sungguh, maka betapa banyak yang dapat hikmah yang kita dapatkan, dan betapa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama manusia. Seperti yang ditulis oleh Palgunadi,
"daun, daun yang menua akan berguguran. Jatuh di atas tanah. Keindahan yang tadinya menyala takala berada di pohon berubah manfaatnya. Daun yang berserakan di tanah lama kelamaan akan berubah menjadi humus. Ia memberikan manfaat bagi tanah meskipun tidak lagi berupa keindahan, tapi berupa kesuburan."
Terima kasih, untuk seorang temah yang telah mengingatkan hal-hal yang sering terabaikan begitu saja dalam hidup ini.
Seperti dalam keseharian hidup kita yang selalu melewati daun-daun berserakan (dan kita tidak pernah peduli dengan daun itu-kecuali untuk segera menyapunya), demikian pula peristiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan sering kali hanya sebagai daun-daun berserakan yang tak pernah kita pedulikan untuk mengambil manfaat darinya.
Seorang ayah menyerahkan anaknya kepada siapa saja yang mau merawatnya karena ayah tak mampu lagi untuk menghidupi anak, anak sekolah dasar mencoba bunuh diri karena malu belum membayar biaya sekolah, dan seribu informasi menyedihkan lain. Seperti melalui padang yang penuh daun berserakan, semua informasi tersebut masuk dan keluar begitu saja dalam pemikiran kita.
Padahal, bila kita ingin sedikit saja memikirkan segalanya dengan lebih sungguh-sungguh, maka betapa banyak yang dapat hikmah yang kita dapatkan, dan betapa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama manusia. Seperti yang ditulis oleh Palgunadi,
"daun, daun yang menua akan berguguran. Jatuh di atas tanah. Keindahan yang tadinya menyala takala berada di pohon berubah manfaatnya. Daun yang berserakan di tanah lama kelamaan akan berubah menjadi humus. Ia memberikan manfaat bagi tanah meskipun tidak lagi berupa keindahan, tapi berupa kesuburan."
Terima kasih, untuk seorang temah yang telah mengingatkan hal-hal yang sering terabaikan begitu saja dalam hidup ini.
Saturday, January 21, 2006
Manusia
Kehidupan manusia semakin sulit untuk dipahami, karena kebanyakan kita pada saat ini mencoba memadukan dua alam yang berbeda kutub. Seorang polisi yang harus menjaga kemanan justru terlibat dalam kejahatan. Ulama yang harusnya memberi contoh keagamaan ternyata memberikan contoh kekacauan pikiran dengan memasukkan "obyek yang tidak jelas" (entah apapun namanya) ke dalam botol. Ilmuwan yang menjaga kesucian ilmu pengetahuan terlibat dalam kasus plagiat. Ijazah derajat kesarjanaan dapat "dibeli" dengan mudah. Para hakim dan jaksa terlibat secara negatif dalam proses peradilan. Pengusaha harus memberi "layanan prima" kepada para pejabat penguasa keuangan negara agar proyek-proyek lancar. Anggota Legislatif melakukan studi banding di luar negeri untuk mencari ilmu tentang perjudian.
Manusia telah menjadi mahluk yang pandai mengemas, bukan lagi sekedar homo erectus (jenis kera yang berjalan tegak) atau mahluk sosial. Ketika pemberian kepada pejabat negara dilarang, maka pengusaha memasukkan para pejabat negara sebagai bagian dari kegiatan bisnis, entah itu sebagai konsultan, penasehat, bahkan sebagai pemegang saham. Maka organisasi bisnis sekarang perlu dilengkapi dengan "staf ahli", "konsultan", "Dewan Penasehat", dan banyak lagi.
Sumbangan sosial dilakukan oleh banyak pihak, baik itu pengusaha maupun individu. Karangan bunga duka cita dikirim, tetapi publikasi atas sumbangan itu mungkin lebih mahal dari nilai sumbangannya sendiri. Sumbangan sosial didasari pemikiran manfaat publikasi yang diperoleh, tidak ada yang tulus).
Mengapa demikian ini terjadi? Pertama, kebutuhan manusia makin meningkat. Kebutuhan fisik yang ditunggangi oleh kebutuhan emosi (kebanggaan atas sesuatu pemilikan tertentu), telah dimanfaatkan benar oleh ahli marketing. Mengendarai Suzuki Carry tentu berbeda dengan Toyota Camry. Kenyamanan Camry tentu juga berbeda dengan S Class, tetapi seberapakah perbedaan itu? Yang paling terasa bedanya adalah kesombongan kita yang muncul pada saat duduk di dalamnya.
Ahli marketing adalah pesulap-pesulap terhebat di dunia. Ilusi yang mereka bangun menyihir seluruh masyarakat dunia. Pesulap terkenal dunia hanya mampu menyihir sejumlah penonton saja. Ahli marketing menyulap umat manusia menjadi kaum hedonis, yang memuja kenikmatan dan kesombongan.
Pada saat ini, kita telah mencapai taraf ketika antrian untuk memperoleh izin mengemudi sebagai sebuah ketidaknikmatan (karena memang dibuat tidak nyaman dengan berbagai alasan yang tidak jelas), karenanya, keluarkan sedikit uang, dan kitapun memperoleh banyak kemudahan yang menyenangkan.
Materi menjadi tuntutan utama, jiwa-jiwa telah menjadi kosong. Sebuah rumah mewah dibangun dengan taman yang sangat indah, tetapi pemiliknya memandang dengan penuh takut akan kehilangan nikmat dunia tersebut.
Sebagian yang tersadar mungkin hanya mampu berdoa, semoga ini semua tidak menjadi tanda-tanda akhir zaman dari bangsa kita.
Manusia telah menjadi mahluk yang pandai mengemas, bukan lagi sekedar homo erectus (jenis kera yang berjalan tegak) atau mahluk sosial. Ketika pemberian kepada pejabat negara dilarang, maka pengusaha memasukkan para pejabat negara sebagai bagian dari kegiatan bisnis, entah itu sebagai konsultan, penasehat, bahkan sebagai pemegang saham. Maka organisasi bisnis sekarang perlu dilengkapi dengan "staf ahli", "konsultan", "Dewan Penasehat", dan banyak lagi.
Sumbangan sosial dilakukan oleh banyak pihak, baik itu pengusaha maupun individu. Karangan bunga duka cita dikirim, tetapi publikasi atas sumbangan itu mungkin lebih mahal dari nilai sumbangannya sendiri. Sumbangan sosial didasari pemikiran manfaat publikasi yang diperoleh, tidak ada yang tulus).
Mengapa demikian ini terjadi? Pertama, kebutuhan manusia makin meningkat. Kebutuhan fisik yang ditunggangi oleh kebutuhan emosi (kebanggaan atas sesuatu pemilikan tertentu), telah dimanfaatkan benar oleh ahli marketing. Mengendarai Suzuki Carry tentu berbeda dengan Toyota Camry. Kenyamanan Camry tentu juga berbeda dengan S Class, tetapi seberapakah perbedaan itu? Yang paling terasa bedanya adalah kesombongan kita yang muncul pada saat duduk di dalamnya.
Ahli marketing adalah pesulap-pesulap terhebat di dunia. Ilusi yang mereka bangun menyihir seluruh masyarakat dunia. Pesulap terkenal dunia hanya mampu menyihir sejumlah penonton saja. Ahli marketing menyulap umat manusia menjadi kaum hedonis, yang memuja kenikmatan dan kesombongan.
Pada saat ini, kita telah mencapai taraf ketika antrian untuk memperoleh izin mengemudi sebagai sebuah ketidaknikmatan (karena memang dibuat tidak nyaman dengan berbagai alasan yang tidak jelas), karenanya, keluarkan sedikit uang, dan kitapun memperoleh banyak kemudahan yang menyenangkan.
Materi menjadi tuntutan utama, jiwa-jiwa telah menjadi kosong. Sebuah rumah mewah dibangun dengan taman yang sangat indah, tetapi pemiliknya memandang dengan penuh takut akan kehilangan nikmat dunia tersebut.
Sebagian yang tersadar mungkin hanya mampu berdoa, semoga ini semua tidak menjadi tanda-tanda akhir zaman dari bangsa kita.
Saturday, December 17, 2005
Saturday, November 26, 2005
Pertemuan
sebuah pertemuan terjadi tidak begitu saja, meskipun semua bermula dari ketidaksengajaan ketika perjalanan tersesat pada sebuah taman yang terindah. Sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga, dan di dalamnya mengalir sungai yang jernih. Sungai yang bening, dan sebuah perahu layar menyusuri sungai itu, mengalir begitu saja. Perahu layar itu terkadang tetirah sejenak di air yang bening saat lelah kata pemiliknya.
Di tempatku, tetirah memiliki makna yang sangat dalam. Tetirah adalah istirahat ketika hati dan jiwa mengalami kelelahan. Aku berpikir, bagaimana mungkin pemilik taman yang seindah ini mengalami kelelahan. Tetirah adalah menjernihkan hati, membuang kekalutan dan kegelana jiwa, dan memandang jauh ke depan. Karenanya, aku lebih suka mengatakannya tetirah di air yang hening.
Sebuah pertemuan terjadi dengan tidak begitu saja. Banyak cerita yang ingin kudengar, Aku ingin mendengar sejarah perahu layar. Aku ingin mendengar cerita tentang taman yang indah dipenuhi bunga dan sungai bening yang mengalir di dalamnya. Aku ingin mendengar cerita tentang bintang yang kemilau. Aku juga ingin mendengar cerita tentang kebahagiaan kecil yang muncul setiap pagi.
Seribu angan menghilang, ketika kebahagiaan muncul dengan mengejutkan.
Seribu penyesalan muncul, ketika pemilik taman melirik pada jam tangan, waktunya untuk bergegas. Sebuah penyesalan, ketika pertemuan itu hanya diisi dengan omong kosong tentang negara yang carut marut dengan penduduk yang makin kehilangan taman hatinya.
Di tempatku, tetirah memiliki makna yang sangat dalam. Tetirah adalah istirahat ketika hati dan jiwa mengalami kelelahan. Aku berpikir, bagaimana mungkin pemilik taman yang seindah ini mengalami kelelahan. Tetirah adalah menjernihkan hati, membuang kekalutan dan kegelana jiwa, dan memandang jauh ke depan. Karenanya, aku lebih suka mengatakannya tetirah di air yang hening.
Sebuah pertemuan terjadi dengan tidak begitu saja. Banyak cerita yang ingin kudengar, Aku ingin mendengar sejarah perahu layar. Aku ingin mendengar cerita tentang taman yang indah dipenuhi bunga dan sungai bening yang mengalir di dalamnya. Aku ingin mendengar cerita tentang bintang yang kemilau. Aku juga ingin mendengar cerita tentang kebahagiaan kecil yang muncul setiap pagi.
Seribu angan menghilang, ketika kebahagiaan muncul dengan mengejutkan.
Seribu penyesalan muncul, ketika pemilik taman melirik pada jam tangan, waktunya untuk bergegas. Sebuah penyesalan, ketika pertemuan itu hanya diisi dengan omong kosong tentang negara yang carut marut dengan penduduk yang makin kehilangan taman hatinya.
Monday, May 23, 2005
Kuntum dan Mekar

Mengapa ada mekar? Karena ada kuntum. Mengapa ada kuntum? Karena ada mekar. Merah ada karena hadirnya hijau. Adanya gelap karena ada terang.Pada saat aku mengatakan keberadannku, maka aku mengatakan keberadaan orang-orang lain.
Tak ada yang mutlak di dunia ini. Kemutlakan hanyalah milik Yang Esa.
Ketika engkau bersuci, menenangkan hatimu, mencari keesaan Yang Esa, engkau harus menyatu denganNya, tetapi bukan berarti engkau adalah Dia.
Karena itu, manusia tidak boleh mengaku sebagai Aku, karena Aku yang mutlak, hanyalah hak Yang Esa.
Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah ....

Sebuah kerinduan pada masa kecil sering muncul, tak mengenal waktu dan tempat. Ada yang terasa hilang, ketika kita dewasa. Namun ada lagi yang hilang dan menimbulkan keprihatinan. Anak-anak sekarang sudah tidak lagi mengenal pendidikan budi pekerti lewat lagu-lagu yang indah. Berapa kali dalam sebulan kita mendengar lagu seperti ini?- pelukismu agung - siapa gerangan?
- pelangi-pelangi - ciptaan Tuhan
Mungkin dalam setahun hanya dua atau tiga kali, atau bahkan tak pernah.....
Nampaknya kita terjebak, ketika melihat modernisasi kehidupan hanya sebagai sebuah peradaban baru, yang dipenuhi oleh makanan instan atau hiburan kosong lewat film kartun. Anak-anak tak lagi kita beri kesempatan untuk berpikir dan berimajinasi. Alam tak lagi sebagai laboratorium raksasa yang tak pernah selesai untuk dieksplorasi.
Menjelang Panen


Kerja keras dan berkarya, itulah takdir manusia. Pernahkah kita merenungkan apa yang kita lakukan? Bekerja, meninggalkan rumah setiap pagi hari, dimulai sejak kita mengenal sekolah. Untuk apa? Sekolah, belajar agar menjadi orang yang terpelajar, agar kelak memperoleh pekerjaan yang layak, agar kelak memperoleh penghasilan yang cukup. Pertanyaannya adalah, seberpa cukup?
Seorang ayah bekerja pagi sampai malam, demikian juga bunda? Apa yang kita cari? Bekal untuk anak kita? Bekal seperti apa? Karena, pada saat yang sama, kita telah merampas bekal yang lain yang harusnya milik mereka. Waktu untuk bercanda, waktu untuk mendampingi, waktu untuk mengajarkan etika dan budi pekerti yang baik, semua itu telah kita (para orang tua) habiskan di tempat kerja, hanya karena kita ketakutan tak mampu membekali anak-anak kita dengan bekal duniawi.
Pekerja yang bijak mengatur jadwal waktunya dengan baik, seperti yang dilakukan petani-petani yang "belum modern". Mereka tahu, kapan harus bekerja, kapan harus beraktivitas sosial. Mereka mengikuti jam alam, bukan dalam satuan 24 jam dalam sehari, tetapi dengan aturan yang sangat fleksibel. Ada subuh, ada tengah hari, ada sore hari, ada malam hari. Tak ada satuan yang eksak, karena mereka tak ingin diperbudak oleh waktu.
Menjelang panen, mereka tersenyum, karena telah memberi bekal yang utuh untuk anak-anak mereka
Subscribe to:
Posts (Atom)


