Monday, June 06, 2011
Marginal Utility
Orang-orang ekonomi mempelajari tentang kebutuhan, bukan keinginan. Ada perbedaan yang sangat besar dalam pemahamannya. Kebutuhan manusia berbatas, tetapi keinginan manusia tak ada habisnya. Tuhan menyebutkan, bila kau jadikan seluruh samudra sebagai tinta untuk menulis nikmat yang Aku berikan pada manusia, tinta itu tak akan cukup. Itu kalau manusia berbicara tentang kebutuhan. Namun, yang muncul adalah keinginan, maka berlakulah yang sebaliknya, jika seluruh samudra dijadikan tinta tak akan cukup untuk menulis seluruh keinginan manusia...
Orang ekonomi juga memperkenalkan konsep kelangkaan. Semua barang dan jasa menjadi berharga karena kelangkaannya. Konsep kelangkaan mengubah nilai barang menjadi berharga secara ekonomi. Puluhan tahun yang lalu, air tidak termasuk barang yang langka, maka dalam pelajaran ekonomi di sekolah, air dan udara merupakan contoh barang bebas. Tapi, orang-orang dari disiplin ilmu manajemen memanfaatkan konsepsi kelangkaan ini untuk meraih keuntungan yang di atas normal. Bagaimana caranya? Ahli manajemen pemasaran mengubah pola pikir manusia dari fase kebutuhan meningkat menjadi keinginan. Penambahan merk tertentu dan kemasan tertentu telah mengubah fungsi air minum dari kebutuhan menjadi keinginan. Obat-obat generik sama baiknya dengan obat bermerk, namun, orang lebih percaya pada obat dengan merk tertentu dan bersedia membayar mahal untuk itu.
Manusia membutuhkan mobil untuk sarana transportasi agar tidak kehujanan atau kepanasan, agar dapat mengangkut seluruh keluarga dengan satu kali perjalanan. Tetapi kebutuhan akan mobil telah diubah menjadi keinginan akan merk dan jenis mobil tertentu. Kemasan mobil dan merknya telah menjadikan konsepsi marginal utility tak berlaku lagi. Selalu ingin mobil yang terbaru dengan berbagai tambahan fitur mewahnya sejalan dengan peningkatan penghasilan. Banyak orang menjadi bangga dengan koleksi mobil yang dimilikinya.
Manusia membutuhkan tas kerja untuk mengangkat berkas-berkas pekerjaan, tetapi, bagi sebagian banyak orang, tas kerja harus memiliki merk tertentu. Tak mudah membayangkan seorang eksekutif sebuah bank akan membawa ransel seharga seratus ribuan untuk membawa berkas pekerjaan, notebook, serta beberapa potong pakaian ganti ketika bertugas keluar kota. Mereka mungkin memakai ransel, tetapi ada sepotong merk dagang yang menunjukkan asal ransel itu dari sebuah rumah mode terkenal dan pastilah mahal.
Wakil rakyat kita butuh sarana komunikasi, tetapi, apakah kebutuhan biaya komunikasi itu mencapai belasan juta rupiah per bulan? Apakah ini kebutuhan atau hanya sebuah keinginan? Demikian pula dengan gedung ruang kerja mereka. Apakah kolam renang merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan?
Di tempat kerja, kadang-kadang kita mengajukan anggaran berbasis keinginan bukan kebutuhan. Bagian kehumasan dan dokumentasi mengajukan anggaran pembelian kamera mengacu pada kamera canggih keluaran terakhir yang mahal. Padahal keperluan dokumentasi tersebut dapat terpenuhi hanya dengan kamera saku digital. Keinginan mendominasi penyusunan belanja perusahaan, bukan kebutuhan.
Orang-orang periklanan yang biasanya berlatar belakang ilmu manajemen, komunikasi, dan psikologi sangat paham bagaimana menggeser kebutuhan menjadi keinginan, atau lebih tepatnya, menghilangkan kesadaran dalam diri sehingga keinginan seolah-olah menjadi sebuah kebutuhan. Para jenius pembuat iklan telah menyihir kita. "Anda membutuhkan Prada, atau Louis Vuitton, karena begitulah seharusnya Anda", demikian bahasa iklan yang mereka pakai.
Ilmu ekonomi dan manajemen telah disalahgunakan untuk meraup laba sebesar-besarnya. Banyak orang terjebak dalam perangkap hutang karena mengkonsumsi “kebutuhan” yang tak ada habisnya dengan kemudahan fasilitas kartu kredit. Pada wajah yang lain, kita melihat masyarakat yang mengais sampah, yang tidur di rumah kardus, yang mengkonsumsi makanan tak layak, yang tak mendapat kesempatan bersekolah, bahkan yang sama sekali tak punya harapan hari esok. Seperti inikah yang dibayangkan para pemikir ekonomi? Rasanya tidak. Konsep marginal utility jelas-jelas mengajarkan kita untuk memenuhi kebutuhan, bukan keinginan. Ada makna keadilan dalam konsep tersebut. Dalam agama, bukankah kita juga selau diajarkan untuk “tidak berlebih-lebihan”.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Stiglitz, kutipan yang selalu saya pakai ketika bicara tentang pembangunan yang berkeadilan. Begini: “Pembangunan bukanlah membawa masuk Prada dan Benetton, Ralph Lauren, atau Louis Vuitton untuk masyarakat kota yang kaya dan membiarkan kaum miskin di pedesaan tetap dalam penderitaan.”
Monday, May 23, 2011
Berbuat Besar
Ada orang-orang besar yg telah berbuat besar kepada negaranya, mereka adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk perbuatan yang besar. Soekarno telah berbuat besar untuk membakar semangat kemerdekaan. Ada RA Kartini, yang telah berbuat besar dengan memberi pencerahan luar biasa akan pentingnya pendidikan bagi kaum wanita. Ada Ki Hadjar Dewantara, yang berbuat besar bagi pendidikan bangsa melalui pendirian Taman Siswa. Ada sederet nama lain. Lantas, bagaimana orang-orang kecil yang tertindas dan tidak memiliki kesempatan dapat bermanfaat bagi masyarakat?
Seniman ini sambil tetap bernyanyi menjawab:
“Tak perlu berkecil hati, karena tidaklah Yang Maha Kuasa menciptakan manusia hanya untuk kesia-siaan. Kita bisa berbuat, dari yang mungkin paling kecil yang dilihat orang, tetapi luar biasa besar nilainya. Setidaknya kita bisa berkata jujur dan mengajarkan tentang kejujuran...”
Pertanyaan yang tersisa pada saya adalah apakah artinya berbuat besar? Memimpin negara, memimpin perusahaan besar, memberikan kontribusi pada kekayaan negara? Cukupkah itu?
Beberapa tahun yang lalu saya pernah memiliki pengalaman luar biasa dengan seorang perempuan tua (mungkin di atas 70 tahun), yang berjualan rokok dan korek api di sebuah pinggiran jalan. Ibu ini, dengan sebuah kotak kayu kusam, hanya membawa tak lebih dari 10 bungkus rokok dan beberapa korek api (ditambah cahaya malam yang gelap menjadikan suasan yang makin muram). Dengan rasa iba, saya membeli sebuah korek api seharga seratus rupiah dan memberinya uang seribu rupiah dan agar uang kembalian disimpan saja untuknya. Niat saya memang ingin memberinya sesuatu. Apa yang terjadi sungguh diluar dugaan saya. Si Ibu tampak tak senang dan mengatakan dirinya berjualan bukan pengemis. Saya terenyuh dan menyadari betapa angkuhnya diri saya.
Inilah perbuatan besar. Menjaga harga diri. Menjaga kehormatan. Menjaga agar tangan kita tidak tengadah memohon balas kasihan orang lain. Inilah kejujuran hati nurani, ketika seseorang tidak menghiba-hiba dengan menjual perasaan sedih yang dihadapinya.
Monday, February 15, 2010
Buah Karet [catatan masa kecil]
Suatu hari Jeffrey memberitahu sebuah rahasia, katanya ada buah para yang sangat kuat, tetapi kami harus memetiknya sendiri. Jefrey yang tahu tempatnya, dan seperti biasa, tugas panjat memanjat adalah bagianku. Berdua, aku dengan sepeda jengki tua dan Jefrey dengan sepeda mininya yang bagus, menelusuri jalan Bukit Besar, menuju daerah Padang Selasa, dan terus masuk ke arah Lorok Pakjo, menuju ladang karet. Tak ada jalan aspal, hanyalah jalan stapak dan tanah tanah merah. Kami tiba di sana saat mendung sangat tebal, tapi belum hujan.
Memanjat pohon karet tidaklah mudah. Pohon bagian bawah biasanya lurus sepanjang tiga sampai lima meter. Cabang pohonnya getas dan mudah patah, jadi harus hati-hati. Buahnyapun berada di ujung-ujung pohon. Aku berhasil meraih beberapa gerombol buah. Menjatuhkannya, dan Jefrey menunggu di bawah, mengupas kulitnya yang keras dengan batu.
Buah-buah karet itu sangat memukau. Warnanya coklat dengan sedikit gores kuning keemasan. Bentuknyapun menarik, bagian punggung buah agak meruncing, tidak datar sebagaimana yang dijual di depan sekolah. Kami penuh keyakinan, buah ini istimewa dan sangat kuat. Punggungnya yang runcing tentu saja akan menyulitkan lawan pada saat diadu. Aku membayangkan keramaian yang akan terjadi ketika teman-teman besok melihat buah para yang kami miliki.
Hujan mulai turun. Bergegas kami bereskan buah-buah itu, menyimpannya sebaik mungkin agar tidak tercecer di jalan. Semakin deras. Jalan mulai berlumpur. Kayuhan sepeda menjadi sangat berat. Berkali-kali aku terperosok dalam kubangan lumpur. Berkali-kali tanah lempung melekat di ban sepeda, sehingga tak dapat dikayuh. Susah payah kami saling membersihkan sepeda.
Setiba di rumah, sepeda langsung aku tuntun ke sumur di halaman belakang. Kubersihkan sepeda dan juga baju yang penuh lumpur. Tak boleh ada bekasnya. Bermain sepedaku terlalu jauh, lumpur-lumpur akan menjadi pertanyaan. Dan, yang pasti aku tak akan pernah bisa berbohong ataupun mengarang alasan.
Aku yang pertama tiba di sekolah esok paginya. Rasanya tak sabar ingin memamerkan buah para terbaik yang kami miliki. Tak sabar ingin melihat dan mendengar decak kagum. Sekolah mulai ramai. Teman-teman bermain mulai datang. Aku memperlihatkan buah paraku, dan beberapa decak kagum sempat terdengar. Mereka belum pernah melihat yang seperti ini.
Permainan dimulai. Dan..., dalam sekejap decak kagum hilang, buah para kebanggaan satu demi satu pecah setiap kali di adu. Tak bersisa......
Catatan: kebun karet itu sekarang mungkin berada di sekitar istana gubernur Sumatera Selatan, Jalan Demang Lebar Daun. Dulu hanya ada jalan tanah menuju lokasi tersebut, setelah belokan dari jalan Bukit Besar dekat SMEA Negeri.
Friday, February 12, 2010
Bankir
Suara apa yang terdengar dalam pertemuan sekelompok bankir? Yang sangat jelas adalah tawa yang lepas. Ha..ha...ha... dan hi...hi....hi... akan mendominasi gelombang suara yang dapat ditangkap telinga. Ada lagi, prospek bisnis dan tukar informasi mengenai nasabah kakap dan isu transaksi derivatif, tapi, itu tak begitu pentinglah, nanti saja dibahas di ruang rapat sambil sedikit mengantuk dan bisa juga sambil memantau email laporan dari bawahan di masing-masing kantor. Terus apa yang penting? Lapangan golf tentu saja. Sudah coba lapangan golf sana belum? Rumputnya tak rata. Lapangan golf yang di situ, luar biasa sulit dipahami. Dimana main golf? Kalau itu bankir lokal, yang terdengan mungkin sekedar Nusa Dua atau tempat golf lainnya di dalam negeri. Kalau yang kumpul bankir nasional papan atas, suara yang terdengar adalah lapangan golf di suatu negeri di seberang benua....
Kapan mereka bekerja? Oh, jangan naif begitu. Mereka dibayar mahal karena kemampuannya untuk memandang jauh ke depan. Coba bayangkan tarif kita untuk bertransaksi dengan peramal terkenal, mahal sekali bukan. Apalagi ini, para futurist yang menentukan masa depan perekonomian bangsa. Kalau pekerjaan teknis rutin, itu bukan cakupan tugas mereka.
Aroma apa yang tercium dalam pertemuan para bankir? Parfum lembut dan mahal, itu pastilah. Apalagi kalau di antara para bankir itu ada kaum per-empu-an. Tapi, yang lebih pasti lagi, di situ bisa dirasakan aroma makanan yang maha lezat. Tentu saja bukan makanan angkringan yang seratus ribu bisa untuk makan 15 orang. Kalau mereka bankir papan atas, setidaknya tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah perorang, tapi kalau hanya bankir kelas lokal, mungkin berkisar seratus sampai tiga ratus ribu rupiah, untuk sekali makan.
Pakai jas di negara tropis, apakah tidak panas dan gerah? Panas dan gerah, itu di luar sana. Di dalam ruang pertemuan, tentu saja sangat dingin. Dalam kendaraan, mobil sedan itu dilengkapi dengan pengatur suhu udara yang terbaik. Bankir lokal maupun nasional, tak akan mampu memikirkan masa depan keuangan perusahaan apalagi keuangan negara apabila udara panas dan gerah.
Jadi, nyaman sekali hidup bankir? Oh.. itu hanya kelihatannya saja. Orang bilang rumput tetangga lebih hijau. Coba, lihat, kadang mereka iri melihat para buruh tani dan buruh bangunan yang bisa dengan lelapnya tidur siang antara saat istirahat mereka. Kadang mereka makan di angkringan pinggir jalan, karena iri dengan kenikmatan makan sambil berkeringat dan sambal yang pedas, bumbu masak yang bertumpuk, dan tempat makan yang kumuh.
Dan, mungkin di antara mereka ada yang menangis, membaca berita seseorang yang diadili karena dituduh mencuri kaos yang telah dibuang di pinggir jalan. Atau menangis saat membaca berita anak sekolah mengakhiri hidupnya karena malu menunggak uang sekolah. Atau mungkin mereka menangis, melihat satu keluarga suami istri dan dua anak kecil berboncengan penuh tawa dengan sebuah vespa tua, sambil membawa kail.
Yang pasti, ada diantara mereka yang kerap menangis, melihat kenyataan ketidakadilan ekonomi di negaranya, tapi hanya mampu merasakan, tanpa mampu berbuat apapun.
Monday, December 14, 2009
Pohon Rahasia
Sungguh, dia telah menanti lebih dari 30 tahun untuk bertemu dan mengatakan yang seharusnya dia katakan. Tapi, itu tak mudah. Tiga puluh tahun, bukan waktu yang singkat memang, karena itu dimulainya sejak pertama kali mengeja nama itu, mengenali wajah dengan rambut lurus sebahu dengan sedikit poni di atas matanya. Dia masih sangat ingat, ada beberapa waktu ketika perempuan yang dikenalinya sejak kecil itu mengubah tampilannya dengan sedikit mengombakkan rambut. Sebenarnya itu sangat tak indah. Tapi tak dikatakannya, tak pernah berani untuk berkata-kata ketika itu, selain menatap mata. Pernah juga dia melihatnya memotong rambutnya sangat pendek. Kelihatan sangat lebih cantik. Kelihatan sangat cerdas. Dia sangat menyukai perempuan yang cerdas dengan rambut terpotong pendek.
Dia telah menantikan lebih dari 30 tahun sejak pertama kali menyebutkan nama perempuan itu dengan keraguan yang luar biasa, dan akhirnya dibatalkannya memanggil nama itu, menunggu besok hari, yang mungkin datang membawa keberanian lebih banyak. Tiga puluh tahun lebih, itu dulu, ketika dia bersekolah masih bercelana pendek dan baju dekil yang penuh bekas getah buah hutan dan debu halaman sekolah berbaur bau keringat menempel.
Tiga puluh tahun lebih, dia biarkan tumbuh, mengakar, berdaun, tumbuh rindang di padang hatinya, karena setiap hari disiraminya dengan kata yang tak pernah terucapkan itu. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menyampaikan kabar itu kepadanya suatu hari kelak nanti, entah kapan dan dimana, tetapi dia yakin pasti akan bertemu.
Ternyata hari ini datang sama saja dengan kemarin dan lebih dari tigapuluh kali tiga ratus enam puluh lima hari yang terlalui, dia tak juga berani mengabarkan berita tentang pohon rindang itu, dan sekarang diapun menjadi ragu-ragu untuk mengabarkan berita itu. Karena apapun juga, masihkah ada gunanya?.Monday, October 12, 2009
Reuni
Idul fitri, saling memaafkan, saling berkunjung. Bagian dari tradisi hidup. Sangat menarik, apalagi ketika teman-teman lama saling berjanji untuk ketemu. Ada yang sudah menjadi guru besar. Ada yang meninggalkan negara tercinta mencari kehidupan di negeri yang jauh. Ada yang sukses besar, ada yang menikmati hidup yang mengalir begitu saja. Setiap orang memliki takdirnya sendiri-sendiri, seperti garis tangan, tak ada yang pernah sama. Tetapi ada yang selalu sama sejak dulu, kekawanan.....
Tuesday, June 23, 2009
GOLF
Mengapa golf? Mengapa bukan bedah buku, atau klub fotografi, atau acara sosial lainnya?
Entah bagaimana sejarahnya, tetapi golf saat ini adalah sebuah status sosial. Kata para golfer juga, tidak ada kontrak bisnis tanpa lapangan golf. Untuk status sosial, saya akan sepakat, tetapi untuk ”tak ada kontrak bisnis tanpa golf”, saya akan berpikir kembali.
Mari sedikit berhitung, berapakah nilai investasi untuk sebuah lapangan golf? Bukan jumlah yang sedikit, dan tentu saja investasi lapangan golf bukan milik UMKM sebagaimana membangun lapangan futsal. Karenanya, untuk bermain golfpun kita harus membayar mahal. Bukankah itu prestisius? Tentu saja, harga sarana pendukung golf tak boleh murah. Kalau murah, pasti tak laku. Setidaknya membutuhkan 7 digit angka untuk mendapatkan tongkat pemukul yang termurah. Di lapangan? Jangan berharap teh panas seharga dua ribu rupiah seperti di lapangan bulutungkis di balai RT. Belum lagi kalau dilihat merk yang melekat di tubuh, mulai dari kepala (topi, kacamata), turun ke badan (pakaian, sarung tangan), kemudian bagian kaki (kaos kaki dan sepatu). Golf adalah sebuah aktualisasi diri sukses finansial.
Bandingkan dengan ucapan seorang teman di facebook, ”Lumayan, bulutangkis di depan rumah setengah jam...”
Bulutangkis di depan rumah, berkeringat, bersosial, cukup dengan raket seratus atau dua ratus ribu rupiah bahkan ada yang hanya puluhan ribu rupiah. Asal ada sedikit tanah kosong, buat garis tali plastik atau pakai kapur putih. Kalau kas RT/RW sedikit berlebih atau kalau ada warga yang sedikit berkelebihan, buat tiang bambu dan belikan net. Beli sedikit kabel dan lampu. Maka semua orang bisa berolah raga. Pagi hari diisi oleh para ibu, sore hari anak-anak. Malam hari para bapak. Tapi, itu murah meriah, dan yang murah tentu saja tidak meningkatkan status sosial....
Sepakat, golf adalah simbol status, silahkan saja bagi yang berminat dan dapat menikmatinya...
Apakah golf tempat memperoleh kontrak bisnis? Benar. Lapangan golf adalah tempat kumpulnya kelompok masyarakat yang secara ekonomi telah mapan. Tentu saja berkumpul dengan mereka membuka peluang untuk memperoleh kontrak bisnis. Tapi, akan berbeda ceritanya apabila kontrak bisnis baru didapat setelah menjamu bermain golf. Bisa lihat perbedaannya? Bertemu dan bersosial dengan banyak orang sukses (ekonomi), tentu saja membuka peluang untuk saling berinteraksi dan membuka peluang untuk bisnis baru. Tapi, menjamu pejabat tertentu bermain golf dengan harapan mendapatkan kontrak bisnis, nampaknya bukanlah hal yang bijaksana. Selain mengeluarkan uang perusahaan yang tidak sedikit, cara ini hanya akan menimbulkan lomba perjamuan. Kompetitor tentu saja akan memberi jamuan di lapangan lain, yang lebih prestisius. Pada ujungnya, yang terjadi adalah biaya proyek menjadi mahal, karena apapun juga, uang perusahaan yang telah dikeluarkan harus bisa diperoleh kembali. Kalaupun harga kontrak tidak dinaikkan, mungkin standar kualitas yang diturunkan.
Selamat menikmati golf bagi mereka yang menikmatinya. Saya sangat yakin, golf seperti juga setiap olahraga yang bertujuan mengalahkan diri sendiri, akan menimbulkan kecanduan. Jadi, saya meskipun tidak bermain golf, sangat bisa memahami adanya orang yang sangat mencintai permainan ini. Seperti pemancing yang selalu melamunkan ikan besar pada saat melempar kailnya, golfer pun pasti memimpikan keajaiban hole in one.
Bagi mereka, para eksekutif yang tidak bermain golf, tidak perlu cemas bila ingin menunjukkan sukses ekonominya. Ada banyak cara lain. Menjadi penyantun tetap di sekolah-sekolah pinggiran, menjadi ayah asuh bagi anak-anak yang kecerdasan dan kemampuan ekonominya terbatas, atau memberikan waktu dan sumberdaya yang dimilikinya untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan ekonomi kelompok yang termarginalkan, mungkin bisa menjadi alternatif. Melihat mata anak-anak yang kembali berbinar menatap masa depannya mungkin akan terasa lebih indah daripada memandang hijaunya lapangan golf. Mungkin. Saya tidak tahu, karena saya tidak bermain golf.
Friday, June 19, 2009
Jejak
tak akan hilang.
Itu juga setiap garis yang dibuat oleh kaki kaki kita
atau tangan-tangan kita
atau mata-mata kita
atau telinga-telinga kita
atau hidung-hidung kita
atau bibir-bibir kita
atau lidah-lidah kita.
Dan kita coba hapus dengan hati yang kita miliki. Tak akan pudar, karena setiap hapusannya telah menjadikan jejak baru yang makin dalam
Tak ada yang pernah tahu mengapa dan dimana atau akan kemana. Semuanya seperti telah digariskan dalam setiap angin yang melaluinya
Friday, March 27, 2009
Taman Kasih
“Itu surga”, seorang pendengar memecah keheningan.
“Bukan, itu Indonesia” orang lain menimpali. “Tapi itu Indonesia yang dulu, waktu manusianya tidak sebanyak dan serakus sekarang.”
“Sstt, diamlah, biarkan ceritanya,”
“Taman itu adalah taman yang sangat indah. Di dalamnya mengalir sungai yang jernih. Bukan itu saja, ada satu perahu yang selalu lewat. Perahu Kertas”.
Tukang cerita itu kemudian melantunkan sebuah puisi:
“Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.....” [1]
Perahu itu setiap pagi menelusuri tepian sungai. Di dalamnya, pemilik taman, mengemudikan sendiri perahu itu. Pemilik taman itu sesungguhnya adalah wanita yang tidak terlalu cantik. Tidak, tak ada bintang film cantik di ceritaku ini, karena ini hanyalah cerita tentang taman kasih.”
“Teruskan saja ceritamu kami juga tak peduli apakah ada perempuan cantik atau tidak..,” sebuah suara menyela.
“Sshh, diamlah, biarkan dia bercerita,” yang lain menimpali.
“Pemilik taman itu selalu mengemudi sendiri perahu kertasnya. Dia akan menghampiri siapa saja yang ada ditepian sungai, menyapa mereka penuh semangat dan tentu saja memberikan senyum yang hangat. Sesungguhnya pemilik taman itu bukan seorang perempuan yang cantik dan tak pernah muncul di layar televisi dalam cerita selebritis. Dia hanya perempuan biasa saja, yang memiliki taman yang didalamnya mengalir sungai-sungai yang jernih. Dia hanya perempuan yang ingin berbagi kebahagiaan kecil setiap hari dengan siapa saja yang dia temui di pinggiran sungai yang mengalir di tamannya.”
“Mengapa dia membangun taman seperti itu?”. Sebuah suara bertanya.
“Sshh, diamlah, biarkan ceritanya mengalir.” Suara lain memotongnya.
“Benar,” jawab si pencerita. “Aku pernah bertemu dengannya dan bertanya mengapa dia membangun taman seperti itu. Aku dulu juga belum paham mengapa harus membangun taman dan menyapa setiap orang dan berbagi kebahagiaan kecil di setiap pagi. Tapi, sungguh, tak mudah untuk melupakan jawabannya. Perempuan yang tidak cantik itu hanya ingin melakukannya begitu saja, tanpa harus memiliki alasan apapun. Inilah yang kira-kira dikatakannya – karena aku tak mampu mengingat dengan pasti kata demi kata:"
“Mengapa harus ada alasan? Bukankah lebih banyak kehadiran kita yang tanpa alasan dan ada begitu saja. Mengapa sekedar untuk berbagi kebahagiaan kita harus memiliki alasan? Mungkin aku bisa membuat berbagai alasan yang menarik, yang membuat decak kagum orang banyak atau mungkin aku bisa beralasan yang berbau politis, sehingga ada petinggi partai yang akan membacanya kemudian tertarik untuk mengikutkan aku sebagai calon anggota legislatif di partainya. Bila itu yang aku lakukan, berarti tujuanku membuat taman bukanlah berbagi kebahagiaan, tetapi mencari jalur untuk meningkatkan derajat kehidupanku. Jadi, aku pikir, tak perlu ada alasan. Biarkan segalanya menjadi ada atau tak ada tanpa harus bertanya apa dan mengapa. Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.”[2]
“Itu kesombongan,” bisik sebuah suara, “Dia menunjukkan kesombongannya dengan merendahkan diri, seperti sombongnya pohon padi yang buahnya penuh, badannya seolah membungkuk, tapi yang ditampakkan bukanlah kerendahan melainkan pamer bulir-bulir yang padat berisi” lanjut bisikan suara tadi.
“Shhh, diamlah, aku ingin mendengar ceritanya”, orang lain disampingnya menimpali.
Demikianlah tukang cerita itu berkisah tentang sebuah taman yang terindah dengan pemiliknya yang setiap pagi berkunjung dengan perahu kertas ke rumah-rumah tetangganya dan menyapa siapa saja yang ditemui sepanjang sungai itu, sekedar menyampaikan salam dengan kebahagiaan kecil di hari itu.
Tukang cerita itu sangat memukau, sehingga semua orang menjadi terpesona dan tak ingin memalingkan dirinya sejenakpun dari rangkaian kisah yang disampaikan. Pagi berubah menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam menjadi pagi lagi, tukang cerita itu tak juga menghentikan kisahnya. Tak ada yang beringsut, Semua mendengar takjub. Anak-anak kecil sekalipun larut
Seisi perkampungan itupun tak ada yang ingat dengan ladang dan ternak miliknya. Anak-anak lupa dengan sekolahnya. Perut mereka serasa telah terisi penuh tanpa perlu makanan lagi. Demikian pula meraka tak perlu memikirkan bagaimana membuang ampas makanan yang ada dalam perut, karena ampas itu hilang sirna dengan sendirinya.
Pada sebuah siang yang mendung dan lembab dengan udara yang tak nyaman, akhirnya cerita itu diselesaikan.
“Dulu, aku termasuk sering beristirahat di sana, tetapi sekarang tak lagi. Taman itu tetap terbuka, tetapi perempuan itu tak pernah lagi hadir dengan perahu kertasnya. Entah kemana. Mungkin juga terlalu lelah untuk selalu berbagi. Mungkin juga sekarang harus mengurusi anak-anaknya yang semakin besar dan menuntut banyak perhatian. Tapi, yang jelas pemilik taman itu tak pernah lagi menyapa pengunjungnya. Mungkin juga pemilik taman itu sekarang masih sering mengunjungi tetangganya, tetapi memasang sihir agar aku tak dapat memandangnya dan memasuki taman itu, entahlah." Wajah tukang cerita itupun tiba-tiba berubah menjadi murung.
Setelah cerita ditutup, pendudukpun bubar, memasuki ke dunia yang pengap dan sesak. Bau selokan tercium kembali. Lapar mulai terasa. Teriakan penjaja makanan berwarna-warni terdengar nyaring, bersahutan dengan teriakan penjual sayur dan air minum. Umpatan dan kata kotor mulai terdengar di tengah suara serak teriakan tangis anak kecil.
[1] Perahu Kertas, Puisinya Sapardi Djoko Damono
[2] Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa, diambil dari puisinya Goenawan Mohamad berjudul “Pada Sebuah Pantai: Interlude
Wednesday, January 28, 2009
Bulan
Mungkinkah Bulan malu untuk menampakkan diri? Bukankah dia bersama bintang kemilau selalu menjadikan sumber cahaya dan petunjuk arah dalam kegelapan?
Bulan memang terkadang aneh. Pernah suatu pagi yang cerah, dia bertahan tak mau hengkang, padahal matahari sudah datang. Seolah dia hendak menantang matahari.
”Oh.. itu bukan bulan yang tahu diri,” bisikku dalam hati. Bukankah Bulan selalu hadir sebagai bayangan matahari, karena sesungguhnya kuningmu itu hanyalah milik matahari semata? Tapi Bulan kadang memang keterlaluan. Pernah suatu ketika dia mengelabui anak-anak kecil dengan logika aneh yang dibuat jungkir balik, tetapi banyak yang mempercayainya. Mungkin itu karena keindahan yang selalu ditampilkan Bulan – yang selalu membius para penikmatnya.
Begini. Suatu ketika Bulan bertanya pada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumput mereka
”Hai.. selamat pagi anak-anak, pagi ini aku punya pertanyaan untuk kalian,” sapa Rembulan (nama lengkapnya Bulan).
”Seellaammaaaattt Paaaaggiiiiii Bulannnnn...., pertanyaan apakah itu?” teriak anak-anak sambil kegirangan. Anak-anak memang tak pernah sedih.
”Tahukah kalian, manakah yang lebih bermanfaat, Matahari atau dirikukah?” tanya Bulan.
Anak-anak tak mampu menjawab, sebaliknya mereka terpesona pada kemilau kuning Bulan.
Melihat hal tersebut, Bulan dengan lantang (dan ehm.. tentu saja sedikit kesombongan – jangan terlalu ditampakkan, agar tetap nampak mempesona), berkata
”Siapakah yang datang ketika kalian menghadapi gelap?”
”Siapakah yang hadir ketika bintang tak cukup menerangi kalian?”
”Siapakah yang selalu diminta hadir untuk menemani tidur kalian yang lelap di malam gelap?”[1]
”Apakah kalian tidak melihat, aku selalu datang di malam hari saat kegelapan hadir, sedangkan matahari hadir ketika siang saat terang?”
Bulan memang aneh, dia akan membius anak-anak dengan logika anehnya , dan membius orang dewasa dengan sihir indahnya. Bahkan, seorang penyair pernah menuliskan lagu
Juwita malam, siapakah gerangan tuan
Juwita malam, dari bulankah tuan[2]
Malam ini bulan itu muncul dengan malu-malu, dari balik kabut tipis. Seperti selapis sutera menjadi cadar juwita malam. Sungguh mempesona. Dan, manusiapun seperti terbius, kehilangan nalar pikiran, kehilangan akal budi, kehilangan jati dirinya, kecuali mereka yang memandanginya dengan hati yang bersih, dan memikirkan sumber cahaya yang sesungguhnya. Mereka yang benar-benar memahami bahasa rembulan, yang sering berteka-teki dan menyesatkan hati yang tak bersih.
[1] Ambilkan Bulan, sebuah lagu anak-anak
[2] Juwita Malam, Ismail Marzuki
Tuesday, January 20, 2009
Kesendirian dan Kesedihan
Ada orang-orang yang begitu mudah mengusir kesendirian ini dan menemukan banyak aktivitas dan kekawanan baru. Tapi, mungkin lebih banyak yang tidak menyukai kesendirian, karena sepi yang ditimbulkannya.
Namun, pada tulisan ringkas ini, saya ingin menyampaikan pesan yang pernah ditulis oleh Gede Prama, ”bila masih ada orang yang bisa membuat kita bahagia atau menderita, itu tandanya saklar kebahagiaan masih dipegang oleh orang lain.”
Saya ingin menafsirkan kalimat di atas dalam konteks kesendirian, bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kesendirian dan merasakan sepinya ruang hati yang kosong, tetapi, tidak perlu mengalami kesengsaraan karenanya, sebab, dia sendirilah pemegang kunci kebahagiaan itu, bukan orang lain.
Monday, January 12, 2009
Menyalip di Tikungan
Di lingkungan kerjapun kadang kita temukan hal seperti ini. Ketika harus bersaing dengan kandidat lain, kadang kita terlupa dengan berbagai etika perilaku. Kadang ambisi membutakan kita dengan menutup jalur orang lain untuk menampakkan kinerjanya. Bahkan, kadang kita terlupa dan mengangkat diri kita sendiri dengan berdiri di atas kepala orang lain. Sebenarnya mungkin kita tidak bermaksud untuk menjatuhkan atau merendahkan kandidat lain, tetapi karena keinginan untuk dilihat oleh pengambil keputusan, maka kita berupaya menonjolkan diri, dan cara yang paling mudah untuk menonjol adalah dengan membuat yang lain terlihat merunduk. Menyampaikan ide cemerlang atau jejak sejarah keberhasilan pada atasan kadang memang perlu dilakukan. Tetapi, menambah bumbu laporan dengan kisah kegagalan pihak lain bukanlah sesuatu yang bijaksana.
Seperti katak yang berenang, selalu menjejakkan kaki untuk menekan air. Semoga kita tidak menjadi serupa dengan katak, menjejak kepala teman kita hanya karena sebuah ambisi untuk berkarir lebih tinggi.
Di arena balapan, menyalip di tikungan menjadi daya tarik. Di jalanan, menyalip di tikungan dan menutup jalur kendaraan lain akan membahayakan dan tentu saja mungkin menimbulkan sumpah serapah. Di tempat kerja, menyalip di tikungan dan menutup akses orang lain bukanlah gambaran calon pemimpin yang baik.
Tuesday, December 09, 2008
Gerimis
Dulu, ada sebuah blog yang seringkali menulis keindahan-keindahan kecil seperti ini dan aku selalu menikmatinya. Tetapi, sahabat maya ini seperti menghilang entah kemana. Hari ini aku mencoba untuk menggambarkan keindahan seperti itu, dengan bahasa ala kadarnya – setidaknya aku mencoba.
Di gerimis pagi, ada jarum-jarum kecil menyeruak biasan sinar matahari. Mendung putih terkadang menyilaukan mata, tetapi ketika kita lelapkan hati kita ke dalamnya, ada ketenangan yang luar biasa, yang membawa rasa tentram. Terkadang muncul pula pelangi melengkung di kaki langit. Hadirnya seolah mewartakan surgawi yang kekal di atas sana. Saat kecil sering diceritakan, pelangi adalah tangga menuju surga, dan malaikat yang penuh kasih turun menyampaikan kebahagiaan tentang sebuah tempat di langit yang berisikan keindahan. Dengan nalar anak berusia empat tahun, aku sangat mempercayainya dan beberapa kali aku bertanya, dimanakah tempat asal pelangi itu? Aku ingin sekali mendakinya.
Setelah gerimis reda, biasanya beberapa serangga mulai aktif. Capung mulai menjelajahi kawat-kawat pagar. Kupu-kupu kecil berwarna kuning akan bergerombol terbang bersama. Burung-burung mulai menampakkan dirinya sambil meregangkan sayap mengibaskan bulunya. Mungkin sekedar menghadirkan kehangatan. Daun-daun meneteskan sisa hujan, satu demi satu, jatuh. Manakala suasana sedang senyap kita bisa mendengarkan suara dan irama tetesan air dari dedaunan yang menyihirkan keabadian. Waktu seolah berhenti.
Pagi ini gerimis. Aku menyempatkan diri menghampiri jendela, memandangi gerimis dan melarutkan diriku menjadi bagian dari kegerimisan itu. Meskipun kali ini pelangi tak hadir, tetapi, sungguh gerimis itu memberi kenyamanan bagi jiwaku.
Monday, December 01, 2008
Lalu Desember...
Mungkin itu bukan bunga yang putih, karena seandainya putih datang, bukankah kita bisa memandangnya dalam sunyi yang suci?
Hanya sepotong bunga hutan yang dipetik oleh sekumpulan peri di tengah malam, yang kemudian meninggalkannya begitu saja, tanpa pernah berpikir untuk apa dan mengapa.
Lalu Adampun datanglah bersama perempuannya, melihat potongan bunga hutan – apapun namanya, itu lebih suci dari pada tebaran melati yang telah dipegang oleh tangan-tangan kotor dibungkus mantera para dewa.
Ada yang melengkingkan kalimat yang tak henti memukuli gendang di telinga, ”Januari mengeras di tembok itu juga, lalu Desember..”[1]
Entah berapa Desember lagi, mungkin peri itu akan datang nanti malam, mengambil kembali bunga hutannya yang tergeletak – maka ambillah sekarang.
Sembunyikanlah di dalam jiwamu yang paling dalam, karena bunga itu mungkin kelak akan menjadi lebih putih dari kuntuman melati yang ditebar dan diinjak-injak oleh para tamu. Tak akan ada yang pernah tahu.
[1] Sapardi Djoko Damono, Buat Ning, musikalisasi puisi oleh Dua Ibu
Saturday, November 29, 2008
Hanya Ada Yang Tak Ada
Ini sisa kemarin sore yang tak hengkang meskipun separuh samudera telah menorehkan jejaknya yang baru di atas pasir dan meskipun kita juga telah menghapusnya dengan seribu bunga yang kita beli dalam tidur kita yang tak nyenyak itu.
Percuma saja, karena kita memang tak ingin ada jejak yang terhapus,
Karena pada akhirnya, setiap hidup menyajikan kisahnya sendiri entah itu berharga ataupun sekedarnya. Itupun hanya permainan kata-kata, apakah itu bermakna atau tidak bukanlah karena memiliki atau tidak, karena, tak ada siapapun yang pernah memiliki apapun
Statistik
Angka-angka statistik adalah kumpulan masa lalu yang dibawa ke masa kini, dan kita mencoba memahami apa yang terjadi di masa terjadinya peristiwa itu. Bukankah sejarah juga demikian?
Statistik menunjukkan angka kematian ibu melahirkan di negara ini masih tinggi. Apalah arti angka ini bagi mereka yang tak paham akan makna kematian seorang ibu? Statistik kematian ibu menggambarkan pada kita sebuah kepedihan, ketakutan, ketidakjelasan masa depan bahkan mungkin sekali sebuah keluarga yang di dalamnya tanpa kehangatan.
Angka statistik tentang pengangguran menunjukkan peningkatan. Kita tak akan mampu memahami angka ini apabila kita tak mampu memaknai (dengan jiwa kita) arti sebuah pengangguran. Statistik angka pengangguran membukakan hati kita tentang sebuah keterpurukan ekonomi, ketidakberdayaan hidup, anak-anak yang tidak cukup gizi dan pendidikan, rasa lapar, kedinginan, kesuraman masa depan, bahkan punahnya suatu generasi karena kemorosotan moral.
Karenanya, cobalah untuk memandang statistik dan sejarah adalah suatu disiplin kembar, yang membantu kita memahami peristiwa. Seperti kita mencoba memaknai setiap peristiwa sejarah sebagai sebuah proses dan peristiwa budaya, seperti itulah juga kita harus memaknai angka statistik. Tanpa pemaknaan tersebut, angka statistik dan sebuah batu candi, tak lebih dari kebisuan tanpa makna, dan sudah pasti, kita tak akan pernah peduli.
Wednesday, November 26, 2008
Tersisih
Tetapi, kehidupan tak akan lepas dari ketersisihan ini. Pohon-pohon muda yang lebih kokoh tumbuh baru, dan waktunya bagi pohon yang lebih tua untuk dipangkas.
Soekarno, pahlawan proklamasi bangsa ini, merupakan contoh bagaimana sebuah ketersisihan harus dihadapi, demikian pula Soeharto. Mereka adalah orang-orang yang disisihkan, mungkin meradang, mungkin menerima dengan lapang, mungkin menangis. Tersisih, karena harus berhenti pada waktu yang seharusnya belum berhenti. Terlepas dari berbagai kesalahan yang diperbuatnya, Soekarno tersisihkan bahkan menjadi tahanan di rumahnya sendiri tanpa komunikasi, tanpa boleh bertemu dengan sahabat-sahabatnya, bahkan yang paling ironis, tanpa dapat bertemu dengan rakyat yang sangat dicintainya.
Demikian pula dengan Soeharto. Bagaimana rasa tersisih itu muncul ketika orang-orang yang selama ini dekat dengan dirinya atas nama rakyat, tiba-tiba berpaling dengan juga mengatasnamakan rakyat.
Di kantor, mungkin sekali kita menghadapi ketersisihan. Ketika jalan kita mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan jalan yang diinginkan atasan, biasanya kita tersisih dengan jalan minoritas yang kita yakini kebenarannya. Atau, ketika terjadi persaingan untuk meraih tangga yang lebih tinggi, dan kita disingkirkan oleh kelompok lain yang lebih kuat, ketersisihan itu akan dirasakan. Mungkin kita menerima dengan lapang. Mungkin juga ada sakit hati. Tetapi bukankah itu bagian dari kehidupan alamiah yang harus dilalui?
Seperti itulah kehidupan. Ada malam-malam yang panjang seolah waktu enggan mengalir dan kita dibuatnya tertekan. Tapi, selalu ada matahari pagi. Di setiap hujan, akan terbit matahari, di setiap kemarau akan hadir hujan. Mereka yang hanya menyukai kemarau akan memancarkan kebencian pada hujan, Tetapi mereka yang menyadari makna kehidupannya bagi orang lain akan menyukai keduanya, karena mereka sadar, tak akan ada siang kalau tak ada malam.
Seperti juga daun, satu persatu harus mengalah untuk tumbuhnya tunas baru. Bila daun itu tumbuh bersama-sama dan berdampingan, salah satu harus mengalah untuk sempurnanya daun yang lain.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip Stan Shih, Chairman - CEO Acer, dalam bukunya Me - Too is Not My Style “....Berbagi adalah satu konsep yang sangat penting dalam menajalankan sebuah bisnis..... Barbagi kepemilikan dengan orang lain membuat kami lebih makmur ..... Berbagi membantu kami memperoleh lebih banyak”
Tersisih adalah bagian dari laku hidup yang harus dijalani. Kita bisa memandangnya dari dua sudut. Pertama, kita yakini bahwa segala sesuatu memiliki periodenya sendiri, dan menikmati keberhasilan maupun ketersisihan secara seimbang akan menjadikan hidup makin tenang. Kedua ketersisihan dipandang dengan lapang serupa keihlasan untuk memberikan kesempatan tumbuh yang sempurna bagi daun lainnya. Dan dengan berbagi, bukankah kehidupan kita akan makin kaya?
Monday, November 10, 2008
Budi Darma
Budi Darma lebih lugas. Disinilah menariknya. Budi berani menampilkan tokoh-tokoh pengecut, serakah, main kayu, lepas tanggung jawab, dan karakter gelap lainnya, yang mengakui setiap kelemahan, kepengecutan, dan keculasan yang dimilikinya. Ini seperti cermin diri kita, tetapi bedanya kita jarang mengakui kepengecutan dan keculasan kita.
Kita yang selama ini menutupi diri dengan kosmetik sopan santun dan tutur bahasa yang lembut, seolah ditelanjangi dan hanya bisa termenung membaca tulisannya.
Bulan September lalu, satu lagi kumpulan cerita pendek Budi Darma diterbitkan. Judulnya Laki-laki Lain Dalam Secarik Surat. Merupakan kumpulan cerita terbaik. Sayang sekali tidak ada pengantar penerbit mengenai pengertian kumpulan cerita terbaik tersebut, atau terbaik menurut siapa dan apa kriteria pemilihannya, siapa saja yang terlibat dalam pemilihan. Tapi itu hanyalah masalah teknis.
Terbitnya kumpulan cerita ini, mengingatkan kembali pada koleksi lama dan perenungan-perenungan lama yang mulai pudar. Seolah mengasah pisau nurani yang mulai tumpul. Coba kita simak salah satu percakapan dalam Secarik Surat berikut:
Dan sebagai layaknya seorang bawahan yang paling rendah bertemu dengan seorang atasan yang paling tinggi dan sangat dihormati dan dikagumi maka prajurit itupun memberi hormat yang berlebihan-lebihan sehingga untuk sekilas jendral tertinggi yang terlalu sering menerima sanjungan itu merasa kurang senang....
Bukankah ini cerminan kita? Pada saat menghadap atasan, berupaya membuat kesan luar biasa dengan penghormatan yang bahkan berlebihan? Atau sebaliknya, pada saat staf menghadap, kita merasa seolah tak senang dengan penghormatan yang berlebihan, meskipun, dalam hati kita ada kebanggaan sebagai atasan yang terhormat?
Atau coba kutipan berikut, masih dari cerita yang sama:
“Hai Prajurit, untuk apakah kau ikut perang?” kata jenderal.
“Tidak tahu, Jendral,” kata prajurit. “Saya kira karena dalam keadaan seperti ini mencari pekerjaan yang mudah adalah mencari pekerjaan sebagai prajurit. Lagi pula saya masih muda dan merasa senang mendapat kesempatan untuk memanggul senapan dan sekali tempo menembakkan senapan untuk menunjukkan bahwa saya betul-betul jantan.”
Budi Darma menyeruak hati kita dengan pertanyaan seberapa besarkah idealisme serorang manusia? Apakah “prajurit” selalu identik dengan patriotisme membela negara? Ada perut yang memerlukan makanan dan ada ego yang memerlukan pengakuan. Itulah manusia, dan Budi Darma mengingatkan kita akan itu.
Friday, October 31, 2008
CSR
Dr Supriyatno, MBA, Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Prop. DIY, menyampaikan bahwa bank tidak mungkin lepas dari CSR, karena CSR itu sendiri melingkupi semua organisasi bisnis. Pernyataan ini menjadi menarik, bila kita lihat fenomena krisis ekonomi yang berawal dari keserakahan manusia.
Pada tulisan ini saya ingin menggaris bawahi pandangan Dr Supriyatno tersebut. Saya ingin menjelaskannya dengan lebih sederhana melalui kasus susu bermelamin. Produk susu ini jelas sekali tidak dapat diterima. Pabrik susu telah mengabaikan masyarakat (bukan hanya konsumen) tapi satu generasi umat manusia. Bayangkan seandainya peredaran susu tidak terkendali seberapa banyak anak manusia yang tak terselamatkan dari bencana? Bukankah itu sama dengan pemusnahan suatu generasi? Meskipun mungkin perusahaan penghasil susu ini memberikan sumbangan yang luar biasa bagi masyarakat lewat bantuan sosialnya, tidak berarti perusahaan itu telah melaksanakan perannya sebagai perusahaan yang bertanggung jawab kepada lingkungannya.
CSR bukan sekedar berbaik hati membagi-bagikan modal dan membangun saluran air bersih di sebuah desa. CSR tidak dapat diartikan sekedar memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. CSR adalah jiwa dari sebuah bisnis. Karenanya, setiap keputusan, entah itu keputusan strategis, proses bisnis, maupun putusan apapun harus dilandasi dengan pertanyaan, apakah keputusan ini akan memberi manfaat bagi umat manusia, atau sebaliknya menjadikan kehidupan yang lebih kelam. Transaksi short selling di pasar uang yang sekedar mengambil keuntungan (tanpai adanya nilai tambah yang bisa dinikmati konsumen) bukanlah cermin dari kebijakan yang berlandaskan CSR. Penggelembungan harga saham yang tidak didukung dengan aset yang nyata meskipun hasil dari mekanisme pasar adalah contoh diabaikannya CSR dalam perusahaan. Pembuatan produk berbahaya seperti susu dengan melamin atau mainan anak yang mengandung bahan pewarna berbahaya adalah contoh lain lagi dari diabaikannya CSR. Di bidang perbankan, pemberian kredit yang tidak hati-hati dan hanya menuruti keinginan nasabah yang kadang kala tanpa perhitungan matang dapat menjadikan kredit tersebut macet. Ketidak hati-hatian ini juga merupakan contoh pengabaian CSR. Nasabah kredit mengalami kerugian karena salah perhitungan yang dapat berdampak dengan berhentinya kegiatan usaha atau bahkan kehilangan rumah tinggal yang dipakai sebagai agunan. Di sisi yang lain nasabah penabung dirugikan karena bila bank sampai mengalami kesulitan likuiditas, mereka akan sulit menarik kembali depositnya.
CSR pada akhirnya akan membentuk masyarakat madani. Karenanya tanggung jawab CSR bukan hanya di perusahaan, tetapi di masyarakat itu sendiri. Perusahaan hanyalah bagian kecil dari suatu sistem yang akan mengantarkan manusia menuju peradaban baru, yaitu peradaban tanggung jawab sosial. Setiap kita akan menjadi pelaku aktif.
Menurut saya, inilah konteks yang paling tepat, manakala kita membicarakan CSR dan kebudayaan. Entah itu untuk industri kreatif maupun industri apapun juga. CSR menuju masyarakat madani sebagai sebuah budaya baru.
Ilmu Ekonomi
Saya sendiri sependapat dengan pandangan seperti ini. Ilmu ekonomi pembangunan nampaknya melupakan pendekatan perilaku manusia. Apakah ini berarti ilmu ekonomi harus digabungkan dengan ilmu budaya dan disiplin psikologi? Mungkin sekali. Nampaknya ekonom memiliki pekerjaan rumah baru, yaitu mendefinisikan terminologi manusia rasional. Dulu, saat mempelajari konsep utilitas, mahasiswa ekonomi diberi contoh tentang makan dan minum yang pada suapan atau tegukkan pertama terasa sangat nikmat, sehingga nilai utilitasnya tinggi dan menimbulkan kepuasan yang tinggi. Ketika memasuki tegukkan berikutnya, nilai kepuasan makin turun, karena manusia sudah tidak sehaus sebelumnya. Perbedaan utilias dan dengan demikian berarti perbedaan kepuasan tersebut dinamakan marginal utilitas. Marginal utilitas ini makin menurun bahkan dapat mencapai negatif apabila dahaga telah hilang, tetapi kita terus minum. Yang muncul adalah rasa tidak nyaman di lambung. Puncak kepuasan manusia adalah ketika marginal utilitas mencapai titik nol. Inilah pengertian rasionalitas dalam model ekonomi yang selama ini dipelajari.
Seandainya manusia seperti ini, maka tidak akan ada krisis ekonomi. Masalahnya, manusia tidak sekedar terpuaskan secara fisik. Manusia ternyata bukan sekedar mahluk rasional yang mengkonsumsi secukupnya. Kekayaan serupa air garam, yang tak pernah memuaskan dahaga. Manusia tak pernah cukup. Keserakahan menjadi motif bertransaksi (bukan kekayaan).
Akhirnya, untuk menutup, saya ingin mengutip makalah Edy Suandi yang disajikan dalam diskusi tersebut, “ kondisi ekonomi dunia yang saat ini tengah menghadapi krisis keuangan global telah banyak menyebabkan persoalan bagi ekonomi dunia. Hal ini merupakan akibat dari fondasi dasar dan paradigma keilmuan yang mendasarinya dipraktekkan bersebarangan dengan nilai kemanusiaan dan mengingkari sejumlah ideologi dasarnya ........... Oleh karena itu meluruskan kembali ilmu ekonomi agar sesuai dengan filosofi dan realitas kehidupan manusia menjadi urgen dilakukan.......
Waktunya untuk melihat realitas keserakahan manusia, dan waktunya untuk mengembangkan pendekatan ekonomi yang mau tidak mau harus membatasi keserakahan tersebut. Itulah tugas ekonom saat ini.